
Rey sudah selesai berselfie ria dengan miniaturnya. Ia pun mulai mencari keberadaan Risa. Rey membuka pintu kamarnya dan saat itu Risa terlihat sudah tertidur dengan pulas. Rey lalu membersihkan dirinya di kamar mandi dan sudah berganti pakaian tidur. Rey terus berbaring di samping istrinya. Risa sudah tertidur dengan memunggunginya. Lalu Rey memeluknya sambil mengusap perut Risa pelan-pelan agar Risa tidak terbangun.
"Aku berharap sebentar lagi disini akan ada buah hati kita sayang dan aku akan segera menjadi Daddy." Batin Rey.
Rey yang masih mengusap perut Risa sambil tersenyum membayangkan kalau Risa sudah hamil besar pastinya wajah Risa akan tambah imut dan menggemaskan. Rey pun terkekeh sendiri setelah membayangkan Risa hamil anaknya. Lalu ia akhirnya tertidur dengan posisi memeluk istri tercintanya.
...*****...
Alarm jadwal waktu sholat pun sudah berbunyi dengan suara adzan subuh yang berkumandang. Diluar terdengar suara rintik hujan yang menjadikan suasana menjadi sunyi. Risa mulai mengerjapkan matanya secara perlahan. Risa merasakan ada tangan kokoh yang melingkar di perutnya.
"Jadi dari semalam Rey memelukku?" ucapnya pelan.
Risa lalu memindahkan tangan Rey pelan-pelan agar tidak bangun. Risa lalu berbalik, sejenak memandang wajah Rey. Ia bahkan tidak menyangka bahwa adik kelasnya itu sekarang jadi suaminya. Risa baru menyadari betapa tampannya suami kecilnya itu. Risa lalu membangunkan Rey dengan menepuk-nepuk pipinya.
"Rey bangun. Ayo sholat subuh."
Tak ada jawaban dari Rey. Risa pun lalu akan beranjak berdiri dari ranjangnya. Namun dengan cepat tangannya ditarik oleh Rey dan Risa pun terhuyung jatuh tepat didada bidang milik suaminya. Rey memeluknya dengan erat.
"Rey......" Suara Risa yang sudah mulai menaik satu oktaf.
Rey tidak melepaskan pelukannya bahkan semakin mempererat pelukannya..
"Rey kamu lepasin pelukannya gak! Atau aku akan berusaha untuk melepaskannya sendiri, tapi ingat kita tidak akan jadi honeymoon tapi hanya liburan saja selama di Korea," ucapnya mengancam agar terlepas dari pelukan suaminya.
Rey yang mendapat ancaman dari istrinya pun langsung membuka matanya dan angkat bicara.
"Kalau aku melepaskan pelukannya. Kita jadi honeymoon?" tanyanya sambil menatap istrinya, meyakinkan perkataan Risa.
"Ehm Ya," ucapnya ragu.
Lalu Rey segera melepaskan pelukannya dan mendekati Risa.
__ADS_1
"Aku tagih janjimu hari ini sayang." Rey membisikkan ke telinga Risa setelah itu lalu berdiri dan berjalan menuju kamar mandi untuk berwudhu.
Risa pun ingin merutuki dirinya sendiri, saat ia tadi mengancam Rey dan sekarang menjadi boomerang untuk dirinya sendiri.
Mereka sudah sholat subuh langsung berdoa dan berdzikir. Risa pun kemudian mengecup punggung tangan suaminya dan Rey sudah mendaratkan kecupannya di keningnya sambil mengusap kepala istrinya pelan.
"Sayang aku menginginkan dirimu sekarang," ucapnya pelan di telinga Risa.
Risa terkaget mendengar perkataan Rey. Mereka pun masih duduk di sajadahnya masing-masing.
"Sa-Sayang ini terlalu kepagian bukan untuk melakukan aktivitas seperti itu? Aku belum masak apalagi mandi. Lagian kita juga belum sarapan," ucapnya dengan gugup.
"Tapi kamu tadi telah berjanji kepada ku. Sayang aku maunya sekarang," ucapnya dengan wajah sayu.
Risa pun terdiam sejenak lalu teringat dengan perkataan mamanya sebelum acara Ijab Qabul bahwa ia tidak boleh menolak ajakan suaminya.
FLASHBACK ON
"Ma, setelah nikah bolehkan Risa tinggal disini saja?" ucapnya pelan dengan wajah yang melas.
"Baik Ma." sambil mengangguk paham.
FLASHBACK OFF
Itu kata-kata mamanya yang masih terngiang-ngiang di kepalanya. Risa pun kemudian menyudahi lamunannya saat Rey masih menatapnya dengan sayu.
"Eh, Ehm ya baiklah." Sambil mengangguk pelan.
Setelah mendapat lampu hijau dari istrinya. Rey pelan membuka mukena yang dipakai istrinya.
"Biar aku saja say yang melipat mukena sama sajadahnya," ucapnya dengan senyum ke arah Rey.
__ADS_1
Rey senang akhirnya Risa sudah tidak takut lagi dengannya. Bahkan sekarang ia menjadi penurut dengannya yang usianya lebih muda dari istrinya. Rey pun lalu melepas peci dan melipat sarungnya lalu menyerahkannya ke Risa. Risa lalu menaruh ditempatnya. Rey pun lalu menggandeng Risa menuju ke ranjang king size nya itu. Mereka sudah sama-sama duduk di tepi ranjang. Setelah itu Rey membaca doa dan memulai dengan mengecup kening Risa beberapa menit. Risa pun menutup matanya.
Saat Rey mau mencoba mengecup bibirnya. Terdengar suara ponsel Risa berbunyi.
"Ting..." Suara pesan WhatsApp masuk ke handphone Risa. Risa pun lalu membuka matanya dan melihat ponselnya ada pesan WhatsApp. Ternyata mamanya yang mengirim pesan WhatsApp pagi-pagi.
📥 Mama Angel : "Pagi Sayang sudah bangun atau belum anak mama? Misalkan kamu sudah bangun mumpung masih pagi kamu coba pakai test pack nya ya? Mama baru baca artikel kalau pagi-pagi hasilnya akan lebih akurat. Mama sudah bawakan kamu 3 test pack. Nanti kabarin mama bagaimanapun hasilnya ya sayang. Mama berharap ada kabar baik darimu."
📤 Risa : "Iya ma tapi tidak sekarang, nanti akan Risa coba ya."
"Cek nya nanti sajalah saat akan pulang ke Indonesia. Kalau sekarang takut bikin Mama kecewa." Batin Risa.
"Siapa yang WhatsApp pagi-pagi sayang? Dan bilang apa?" tanyanya dengan lembut.
"Mama yang WhatsApp, mama nanyain kabar," ucapnya dengan nada yang lembut.
Risa tidak berbohong karena memang mamanya menanyakan kabar nanti setelah ia pakai test pack. Risa sudah mengatur mode senyap di ponselnya.
"Oh." jawabnya singkat.
Risa sudah menaruh ponselnya di atas nakas lalu berjalan menuju ranjangnya kembali.
"Bisa kita mulai kembali sayang?" Sambil menatap wajah cantik istrinya.
Risa menjawab dengan anggukan. Rey pun sudah mematikan lampu kamarnya karena hari sudah pagi, namun matahari belum muncul karena tertutup awan dan hujan masih turun.
"Sayang aku mencintaimu."
"Aku juga mencintaimu suamiku."
Perlahan ia membaringkan tubuh istrinya di ranjang. Kali ini Rey merasakan hal yang berbeda karena ia sadar sepenuhnya. Tidak seperti saat di rumahnya waktu itu karena pengaruh jamu yang diberikan oleh Bi Ijah atas perintah maminya. Terjadilah kegiatan olahraga pagi mereka dengan ditemani udara yang dingin bersama dengan suara rintik hujan. Ruang kamar yang tadinya terasa dingin kini menjadi panas karena kegiatan yang mereka lakukan di pagi hari ini. Waktu begitu cepat berlalu, bahkan mereka melewatkan jam sarapannya di pagi hari.
__ADS_1
"Terima kasih sayang." Sambil mengecup pucuk kepala istrinya.
"Iya sayang." Mengangguk pelan.