Dijodohkan Dengan Cowok Manja

Dijodohkan Dengan Cowok Manja
S2 - Berkencan Dengan Elena..


__ADS_3

Malam ini adalah malam minggu. Saat yang ditunggu-tunggu telah tiba, di mana Keano akan bertemu kembali dengan Elana. Keano sekarang tengah bingung mau berpakaian yang mana. Keano ingin berpenampilan sekeren mungkin malam ini.


"Aku pakai ini atau yang ini ya?" gumamnya sambil mengetuk-ngetuk jari pada dagunya.


"Pakai yang ini saja," ucapnya lalu meraih kaos berwarna hitam yang menurutnya terlihat lebih keren.


Keano memakai parfumnya dan tak lupa Keano memakai jaket jeans berwarna putih. Keano lalu melihat ke arah jam tangannya yang menunjukkan pukul tujuh lebih lima belas menit. Mereka janjian pukul delapan malam di sebuah cafe. Keano lalu mengambil kunci mobilnya dan bergegas turun dari kamarnya.


"Nak, mau kemana?" Tanya Kenzo.


"Mau kencan Papa. Keano pergi dulu, maaf untuk kali ini Keano tidak bisa ikut makan malam bersama. Keano berangkat dulu ya pa, da..."


"Iya nak. Hati-hati dan segera perkenalkan kepada Papa gadis pilihanmu," ucap Kenzo sambil berteriak karena anaknya main nyelonong saja pergi dari hadapannya.


"Anak itu kebiasaan! Suka pergi sebelum Papanya selesai bicara." Kenzo mendengus kesal karena perilakunya dulu, sekarang ditiru oleh Keano sang putra bungsunya.


"Kenapa Papa ngedumel sendiri?" Sonya lalu mendekati suaminya. Sonya tadi masak di dapur jadi tidak terlalu mendengar percakapan antara suami dan anaknya.


"Itu Keano main pergi saja, padahal kan aku belum selesai bicara."


"Memang Keano mau kemana Papa? Padahal Mama sudah masak loh. Gimana sih tuh anak."


"Katanya Keano mau berkencan Mama..."


"Apa berkencan? Sama siapa Papa?" Sonya terkejut sekaligus penasaran.


"Papa juga tidak tahu Ma, Keano tadi terburu-buru perginya."


"Mama jadi penasaran dengan gadis pilihan anak kita. Kira-kira cantik ga ya? Jangan-jangan Keano asal menjadikan perempuan itu sebagai pacarnya karena tidak mau dijodohkan dengan anaknya Pak Ustadz." Sonya mikirnya bahwa Keano hanya diberi waktu sedikit oleh Kenzo untuk memperkenalkan wanita pilihannya sebelum acara tujuh bulanan Kezia.


"Jangan berprasangka buruk dulu Mama. Siapa tahu beneran pacarnya."


"Sudah yuk Papa, lebih baik kita makan malam saja."


...*****...


Keano membanting stir mobilnya karena jalanan macet.


"Kenapa tidak dari tadi saja aku berangkatnya."


Keano lalu teringat sesuatu.


"Ah iya, karena aku kelamaan tadi memilih baju." Keano merasa menyesal tadi kelamaan memilih pakaian yang mau dirinya pakai untuk bertemu dengan Elena.

__ADS_1


Di cafe Elena sudah menunggu Keano. Gadis cantik itu melihat ke arah jam tangannya yang menunjukkan pukul delapan lebih sepuluh menit.


"Kok, laki-laki itu belum datang juga ya? Apa ia lupa kalau malam ini bertemu denganku?" Elena bertanya pada dirinya sendiri.


Elena lalu mengirimkan pesan WhatsApp ke Keano kalau dirinya sudah sampai tepat waktu di cafe. Elena juga menyebutkan dia berada di meja nomor delapan. Elena menanyakan keberadaan Keano sudah sampai di mana, namun Keano tidak membalas pesan WhatsApp. Keano sedang fokus menyetir mobilnya jadi ia tak melihat ada pesan WhatsApp dari Elena.


Tak lama kemudian Keano sudah sampai di cafe tempat mereka janjian. Keano lalu meraih hpnya dari kantong sakunya. Keano terkejut saat melihat ada dua pesan WhatsApp dari Elena. Keano segera masuk ke dalam cafe tersebut dan mencari Elena. Pandangan Keano tertuju pada gadis yang memakai dress berwarna hitam. Keano segera menghampiri Elena.


"Secara tidak sengaja saja baju kita samaan. Sudah seperti janjian saja." Batin Keano.


"Maaf Kak, aku terlambat datang. Tadi macet di jalanan."


"Iya tidak apa-apa. Oh iya aku hanya ingin memberikan ini sebagai permintaan maaf karena waktu itu aku menumpahkan minuman dikemeja kamu," ucapnya sambil menyodorkan satu buah amplop yang isinya lumayan tebal.


Keano melihat raut wajah Elena. Keano tahu bahwa Elena seumuran dengan Kakaknya.


"Kakak, tidak perlu repot-repot. Kakak mentraktir makan aku saja sudah cukup."


"Ah, aku tidak enak. Kejadian memalukan itu membuat kemeja kamu jadi basah."


"Kak, aku tidak perlu uang. Aku hanya ingin makan malam bersama kamu," ucapnya sambil tersenyum dan lalu menyodorkan amplop berwarna coklat tersebut.


"Senyumannya manis sekali. Astaga, Elana apa yang kamu pikirkan. Laki-laki yang ada dihadapan kamu ini pantasnya menjadi adikmu." Batin Elena yang yakin bahwa Keano umurnya lebih muda darinya.


Elena dan Keano jarak umurnya hanya dua tahun saja.


Mereka lalu memesan makanan. Elena memesan dua porsi steak dan satu jus jeruk dan satunya lagi jus apel. Tak lama kemudian makanannya datang. Sungguh betapa senangnya Keano bisa makan malam bersama Elena.


"Aku tertarik dengan wanita seperti Kak Elena. Tapi apa dia mau sama laki-laki yang usianya lebih muda darinya." Batin Keano sambil menatap wajah Elena.


"Keano kok melamun?" Tanya Elena.


"Eh iya Kak ini mau dimakan," ucapnya sedikit gugup.


Mereka lalu makan malam bersama. Saat sudah selesai makan Keano ingin tahu bahwa Elena punya pacar atau tidak.


"Kak, maaf. Tapi jika kita bertemu malam minggu seperti ini apa pacar Kak Elena tidak marah?"


Elena tersenyum tipis. "Kakak tidak punya pacar dan sebenarnya Kakak belum pernah berpacaran."


"Wah sama dong Kak," jawab Keano yang tengah keceplosan.


"Bibir ini kok tidak bisa direm sih." Batin Keano yang kini tengah malu.

__ADS_1


Elena mengernyitkan keningnya. Elena merasa bingung dengan arah pembicaraannya sampai ke masalah privasi.


"Maaf Kak. Tidak bermaksud apa-apa."


"Kak ada sisa saus yang menempel dibibir Kakak,"ucap Keano dengan cepat mengelap bibir Elena dengan tisu.


Seketika pandangan mereka saling bertatapan. Dengan segera Keano membersihkan sisa saus yang menempel pada bibir Elena. Keano merasakan jantungnya berdegup kencang saat mereka saling bertatapan.


"Jantungku mau copot rasanya saat berdekatan dengannya." Batin Keano.


"Makasih," ucapnya sambil tersenyum.


"Iya Kak." Jawabnya singkat.


"Oh iya, berarti kamu sudah memaafkan aku kan?"


"Aku belum memaafkanmu."


Mendengar perkataan Keano, Elena langsung mengernyitkan dahinya.


"Hah, maksudnya?" Elena tidak mengerti apa yang sebenarnya ada dipikiran Keano.


"Aku akan memaafkan kamu jika kamu mau membantuku."


"Membantu apa?" Tanyanya penasaran.


"Berpura-puralah menjadi pacarku."


Elena melongo saat mendengar perkataan Keano.


"Maaf, kalau urusan masalah pribadi Kakak tidak bisa membantu kamu." Bukannya tidak mau membantu Keano, hanya saja Elena takut kalau sampai terbawa perasaan saat berpura-pura menjadi pacar Keano. Sebab Keano laki-laki yang sangat tampan menurutnya. Wajah Keano memang 90% mirip ayahnya. Mereka bak pinang dibelah dua.


"Kak, ayolah bantu aku. Sekarang aku bingung harus bagaimana. Aku tidak mau dijodohkan dengan orang yang tidak aku cinta." Keano berjongkok sambil menggenggam tangan Elena.


Elena masih terdiam saja. Elena masih bingung apakah dia mau menjadi pacar bohongan Keano atau tidak. Elena hanya takut jika terjebak dalam cinta yang tidak pasti. Karena jika berpura-pura menjadi pacarnya setidaknya harus selalu terlihat mesra didepan orangtuanya. Elena hanya tidak ingin saat berpura-pura menjadi pacar Keano dirinya sendiri yang terjebak mempunyai perasaan dengan Keano.


"Nanti, akan aku pikirkan kembali."


Seketika raut wajah Keano jadi meredup, seperti patah semangat. Kalau dirinya tidak berhasil membujuk Elena untuk berpura-pura menjadi pacarnya maka mau tidak mau Keano harus mau untuk dijodohkan dengan anaknya Pak Ustadz yang bernama Aulia.


Visual Keano


__ADS_1


Visual Elena



__ADS_2