Dijodohkan Dengan Cowok Manja

Dijodohkan Dengan Cowok Manja
S2 - Adik Untuk Reva?


__ADS_3

Lova kepo kenapa Risa bisa ceroboh dan hamil lagi. Karena masalahnya mereka tidak muda lagi. Sudah berkepala empat seharusnya takut jika ada resiko kemungkinan yang bisa mengganggu dimasa kehamilan.


"Risa, kenapa kamu bisa ceroboh seperti ini?" tanya Lova.


"Entahlah, padahal seingat aku kemarin aku sudah mengkonsumsi pil pencegah kehamilan."


"Haha, mungkin Risa terlalu subur jadi tidak mempan meskipun sudah mengkonsumsi pil pencegah kehamilan," ucap Kenzo terkekeh.


"Jangan bicara keterlaluan," ucap Sonya mencubit perut suaminya.


"Aku tidak berbicara terlalu keterlaluan dan itulah kenyataannya," jawab Kenzo.


"Atau mungkin Rey yang terlalu subur," ucap Dean terkekeh.


Lova lalu menjitak suaminya.


"Auwww... Mami kenapa menjitakku?" sambil mengusap keningnya.


"Karena kamu sama saja seperti Kenzo berbicara sembarangan."


Risa dan Rey tertawa melihat para sahabatnya.


"Apa kalian tidak ingin punya anak lagi?" tanya Risa.


"Tidak!" jawab Lova dan Sonya secara bersamaan.


"Kalau aku sih mau-mau saja Risa," jawab Kenzo.


"Iya aku juga mau. Tapi Lova yang tidak mau," ucap Dean.


"Dulu waktu kita masih muda. Bahkan kita hamil anak pertama barengan. Masa sekarang tidak?" ucap Risa terkekeh.


Risa masih ingat bahwa dulu Lova duluan yang hamil dan baru dirinya dan yang terakhir Sonya karena Sonya yang menikah paling terakhir.


"Itu dulu waktu kita masih muda Risa. Sekarang kita sudah tua dan lagian sebentar lagi aku akan punya cucu dari Elena dan Keano. Cucuku sebentar lagi akan lahir," ucap Sonya.


Saat ini Elena sedang hamil 8 bulan. Keano bahagia sekali karena anaknya sebentar lagi akan lahir. Statusnya sebentar lagi akan resmi menjadi seorang ayah. Keano sekarang sedang menantikan kehadiran sang putranya.


"Wah kalian sebentar lagi akan memiliki cucu jagoan," ucap Rey.


"Iya Alhamdulilah... Cucu dari Kezia perempuan dan dari Keano laki-laki," jawab Kenzo.


"Tambahin anak dari kamu saja Kenzo biar rame rumahnya," ucap Risa.


"Nanti saja menunggu cucu kedua dari Kezia," ucap Sonya terkekeh.


"Iya sepertinya Reva sudah pantas untuk punya adik kan sekarang umurnya sudah 9 bulan. Dulu saja Kezia punya adik waktu masih berumur 4 bulan."


"Ah iya aku masih ingat saat Kezia masih berumur empat bulan aku hamil lagi," jawab Sonya.


"Apa tidak terlalu dekat jaraknya?" tanya Lova.


"Tidak sih menurutku," jawab Kenzo singkat.


"Iya menurutku juga seperti itu. Daripada Revano dengan adiknya jaraknya terlalu jauh yaitu dua puluh tahun," ucap Dean yang tak sengaja membuat seisi ruangan terbengong.


Lova lalu menatap tajam ke arah suaminya. Bisa-bisanya berbicara seperti itu disaat masih berada di rumah sakit. Lova jadi merasa tidak enak dengan Risa maupun Rey. Ya meskipun jarak Revano dengan adiknya dua puluh tahun tapi seharusnya tidak pantas untuk dibicarakan menurut Lova seperti itu. Menyadari perkataannya itu tidak enak didengar lalu Dean ingin meminta maaf. Karena bagaimanapun juga bumil sifatnya sensitif.


"Maaf, sepertinya aku salah bicara," ucap Dean.


Karena istrinya tak kunjung bicara maka Rey yang akan menjawabnya.


"Tidak apa-apa Dean," ucap Rey.


Dean sekarang merasa tidak enak terhadap Risa. Bagaimanapun juga sahabat sekaligus besannya itu saat ini sedang mengandung.


"Risa maafkan aku, tadi aku tidak bermaksud untuk berbicara seperti itu."


"Memang benar perkataan kamu Dean. Revano saja saat ini sudah berumur 20 tahun dan akan 21 tahun tidak lama lagi," ucap Risa.


"Risa, Rey, sekali lagi aku minta maaf."


"Tidak apa-apa Dean santai saja," ucap Risa.


"Iya santai saja dan jangan merasa tidak enak hati," ucap Rey.


"Astaga sayang sampai lupa kamu belum meminum obatnya. Ayo sayang minum dulu," ucap Rey.


Rey lalu membantu Risa untuk meminum obatnya. Setelah minum obat Risa lalu tertidur. Sonya, Kenzo, Dean dan Lova lalu pamit pulang.


...*****...


Saat bangun tidur Risa melihat tidak ada siapapun yang berada di ruangannya.


"Rey, Rey kamu dimana?"


Tidak ada jawaban dari suaminya dan Risa yakin suaminya sedang pergi meninggalkannya.


"Sayang jangan tinggalkan aku sendirian," ucap Risa yang tak terasa air matanya menetes.


Tak lama kemudian Rey datang. Rey padahal hanya meninggalkan Risa sebentar saja.


"Sayang, aku tadi hanya ke kamar mandi. Aku tidak akan meninggalkan kamu sendirian kok. Aku akan selalu bersama kami," ucap Rey sambil mengusap rambut istrinya dan lalu memeluk Risa.


"Janji ya tidak akan meninggalkan aku," ucap Risa.


"Iya sayang, aku berjanji tak akan meninggalkan kamu."


"Makasih sayang, kamu telah menjadi suamiku yang baik selama ini. Aku beruntung memiliki suami seperti kamu."


Rey lalu melepaskan pelukannya.


"Aku yang bahagia memiliki istri seperti kamu sayang karena kamu istri yang hebat yang menemaniku dari awal berkarir sampai akhirnya aku sukses seperti ini," ucap yang memegang kedua pipi istrinya.


"Kamu juga seorang ibu yang hebat sayang. Meskipun kita sudah tidak muda lagi tapi kamu akhirnya mau menerima kehamilan kamu. Aku bahagia akhirnya kamu mau mempertahankan kandungan kamu."


"Bagaimanapun juga dia juga darah dagingku dan aku tidak sanggup untuk menghilangkannya."


Rey lalu mengecup kening Risa.

__ADS_1


"Aku semakin bangga sama kamu sayang. Makasih ya sayang," ucap Rey yang lalu memeluk Risa kembali.


"Sama-sama suamiku," ucap Risa.


Seketika Risa merasa lapar dan Risa lalu melepaskan pelukannya.


"Sayang, aku lapar."


Rey terbengong karena tadi sebelum tidur Risa sudah makan.


"Kamu ingin makan apa sayang?"


"Rujak mangga muda, nasi goreng, sate taichan sama sate ayam. Minumannya jus jeruk."


Rey mengernyitkan dahinya saat mendengar perkataan istrinya. Permintaan istrinya kali ini sangat banyak sekali dan tidak seperti saat mengandung Reno maupun Revano.


"Apakah akan muat perutmu sayang jika kamu makan sebanyak itu?" tanya Rey terheran-heran.


"Kan makannya bertiga sayang. Aku, kamu dan bayi kita. Jadi makan makanan segitu nanti akan cepat habis."


"Baiklah aku akan belikan."


"Aku ikut sayang, karena aku ingin selalu bersama kamu," ucap Risa.


"Sayang, kamu masih dirawat dan aku tidak akan membiarkan kamu ikut."


"Tapi Rey. Aku ingin selalu ada didekat kamu," ucap Risa dengan manja.


Disaat hamil seperti ini memang seperti biasanya ibu hamil ingin selalu berada di samping suaminya. Tak lama kemudian pintu terbuka dan terlihat Revano, Kezia dan Baby Reva datang.


"Kebetulan sekali nak kamu datang."


"Emang kenapa Daddy?" tanya Revano.


"Mommy kamu sedang ngidam dan Daddy ingin membelikan semua keinginan Mommy kamu tapi dia ingin ikut."


"Biar Revano saja yang mencarinya. Memangnya Mommy ingin makan apa Daddy?" tanya Revano penasaran.


"Mommy kamu ingin rujak mangga muda, nasi goreng, sate taichan sama sate ayam. Minumannya jus jeruk," ucap Rey.


Revano melongo mendengar Daddy Rey menyebutkan permintaan Mommy Risa yang menurutnya banyak karena saat Kezia hamil paling banyak Kezia makan dua porsi.


"Hah? Banyak sekali."


"Iya nak kan Mommy makannya gak sendirian sayang. Mommy akan makan itu semua sama Daddy Rey dan adik kamu," ucap Risa sambil mengelus perutnya.


"Yuk nak, temani Daddy cari semuanya yang Mommy kamu inginkan."


"Sayang, tapi aku ingin ikut kamu."


"Lain kali boleh sayang tapi untuk saat ini aku tidak akan mengizinkan kamu untuk ikut."


Risa lalu mengerucutkan bibirnya. Rey lalu ditemani Revano untuk membeli semua yang Risa inginkan. Kezia lalu duduk dan menemani Risa di ruangannya.


"Nak, Reva sangat cantik sekali sayang."


"Hehe iya Mommy Alhamdulillah," ucap Kezia.


"Sayang, semua pesanan kamu sudah ada."


Risa matanya berbinar-binar saat mengetahui bahwa semuanya ada.


"Ayo, kalau begitu kita makan bersama-sama. Nak kalian ikut makan yuk."


"Sayang, aku tadi beli satenya banyak. Karena kan kamu suka sate taichan," ucap Revano.


"Iya sayang makasih ya. Tapi aku tidak ingin mencampur dengan sambalnya."


Kezia masih memberikan asi untuk putrinya maka dari itu Kezia memperhatikan pola makannya.


"Apa sebaiknya kamu sudahi saja untuk memberikan asi kepada Reva?"


"Dia masih butuh asiku."


"Tapi kan sayang agar kamu bisa makan bebas dan lagian sepertinya kalah tidak salah bukannya seharusnya hanya 6 bulan saja ya?"


"Tidak usah banyak protes. Aku ingin Reva mini asi sampai umurnya satu tahun."


Revano lalu terdiam dan akhirnya mereka makan bersama-sama. Rey hanya bisa menahan tawanya saja sambil memakan sate ayam. Sedangkan Risa sedang menikmati nasi gorengnya.


...*****...


Sekarang Risa sudah keluar dari rumah sakit dan dijemput oleh Revano. Nanti sore Reno baru akan datang karena jadwal penerbangannya sore hari. Tak lama kemudian mereka sudah sampai di rumah.


"Mommy ingin apa? Biar Kezia buatkan," ucap Kezia sambil mendekati mertuanya karena biasanya ibu hamil pasti ingin memakan sesuatu.


"Mommy sedang ingin jus apel nak."


"Baiklah, Mommy duduk saja dan Kezia akan buatkan sekarang juga."


Risa menggangguk pelan dan lalu duduk di ruang keluarga. Kezia bergegas ke dapur untuk membuatkan jus apel untuk mertuanya yang sedang ngidam. Untung saja Baby Reva sedang tidur jadi bisa Kezia tinggal untuk membuatkan jus apel untuk mertuanya. Risa sekarang ditemani oleh Rey sedangkan Revano menyusul istrinya ke dapur.


Kezia sedang mencuci buah apel. Kezia akan membuat tiga gelas jus, 2 gelas untuk mertuanya dan 1 gelas untuk suaminya. Saat sedang memotong-motong buah apel tiba-tiba saja ada tangan yang melingkar diperutnya. Kezia sudah tahu siapa lagi kalau bukan suaminya.


"Sayang, jangan seperti ini. Aku ditungguin Mommy."


"Biarkan sejenak saja seperti ini. Jarang-jarang kan kita bermesraan dan aku kan tidak akan mengganggu kamu sayang."


"Hmm," ucap Kezia yang menjawab dengan deheman saja.


Kezia lalu melanjutkan untuk membuat jusnya.


"Sayang, lepaskan tanganmu! Aku gimana bawa jusnya kalau tangan kamu masih saja seperti ini."


"Tidak mau!" tolak Revano.


Kebetulan Bibi lewat.


"Bi, Bibi....."

__ADS_1


Bibi lalu mendekati anak dari majikannya itu. Bibi tersenyum saat melihat Revano masih memeluk Kezia dengan erat.


"Bi tolong antarkan jusnya ke ruang keluarga dan sisakan satu gelas untukku," ucap Revano.


Bibi mengangguk dan lalu membawa 2 jus ke dalam nampan tersebut.


"Revano, jusnya keburu gak dingin ayo kamu minum terlebih dahulu."


"Aku akan meminumnya tapi dengan syarat."


"Syarat apa?" tanya Kezia yang mulai curiga dengan syarat yang diajukan oleh suaminya.


Revano tersenyum tipis dan Kezia pasti akan menuruti keinginannya. Revano ingin sang Bibi melihatnya kalau rumah tangganya begitu harmonis.


"Peluk aku seperti aku memeluk kamu saat ini," bisik Revano kepada Kezia.


Kezia matanya terbelalak saat suaminya minta pelik di dapur.


"Enggak mau!" tolak Kezia.


"Ya sudah diganti saja syaratnya."


"Iya diganti saja. Emang kamu maunya apa sih?"


"Mau Reva punya adik," bisik Revano yang seketika membuat Kezia bergerdik ngeri.


"Eh, eh... Itu lebih tidak mungkin lagi karena Reva baru berumur 9 bulan."


"Kamu pilih yang mana sayang? Jusnya keburu gak dingin loh ini," ucap Revano.


"Aku pilih syarat yang pertama," ucap Kezia.


"Baiklah, ayo peluk aku sayang," ucap Revano.


Kezia lalu memeluk suaminya dan Revano lalu meneguk jus buatan istrinya.


"Syarat yang menguntungkan." Batin Revano tersenyum bahagia.


Bibi kembali ke dapur dan membawa nampan dan sekarang melihat Kezia yang sedang memeluk Revano.


"Den Revano sama Non Kezia sangat romantis sekali."


"Makasih Bibi dan kita memang selalu romantis. Doakan saja Reva akan segera mendapatkan adik," ucap Revano terkekeh.


"Adik untuk Reva?" Kezia membolakan matanya.


"Aamiin... Saya doakan nak Reva segera punya adik."


Kezia melongo mendengar perkataan suaminya dan asisten rumah tangganya itu dengan segera Kezia melepaskan pelukannya.


"Reva masih kecil Bibi. Mungkin nanti saja setelah masuk TK atau SD akan dipikirkan lagi untuk punya adik."


"Tidak apa-apa Non. Kan jaraknya tidak terlalu dekat."


"Aku mau ke kamar melihat Reva dulu," ucap Kezia yang mengalihkan pembicaraan dan lalu meninggalkan Revano dan Bibi yang masih berada di dapur.


"Aku mau menyusul istriku dulu Bibi."


"Iya Den."


Bibi lalu meletakkan nampannya dan lapor kepada Rey dan Risa. Bibi dengan segera melangkahkan kakinya ke ruang keluarga. Terlihat Risa sedang meneguk jus buatan menantunya ditemani Rey.


"Nyonya, Tuan..."


"Ada apa Bi?" tanya Rey.


"Tidak apa-apa Tuan. Tadi saya hanya melihat Den Revano sama Non Kezia semakin romantis," ucap Bibi tersipu malu.


Bibi lalu menceritakan semuanya. Rey dan Risa lalu tersenyum bahagia mendengar cerita dari Bibi. Setelah menceritakan semuanya Bibi lalu pamit dan tidak ingin mengganggu Tuan dan Nyonya yang sedang menikmati jus berdua.


"Alhamdulillah ya sayang mereka semakin harmonis rumah tangganya. Aku jadi teringat saat dulu mereka hanya menikah secara paksa."


"Hmm iya sayang, aku jadi ingin punya cucu lagi dari mereka. Lihatlah Reva sangat cantik dan imut sekali wajahnya. Jika kita punya cucu lagi pasti akan imut juga," ucap Risa terkekeh membayangkan wajah cucu keduanya.


"Hahaha, iya benar. Rendra juga imut seperti Revano karena Sandra saat hamil mengangumi Revano."


Sandra memang saat hamil pernah mendengarkan Revano mengaji dan ingin anaknya seperti adik iparnya yang sholeh.


"Iya kamu benar sayang, mudah-mudahan anak kita juga akan seperti Kakaknya," ucap Risa sambil mengusap perutnya yang masih rata.


Rey lalu ikut mengusap perut Risa.


"Sayang aku tidak menyangka loh kita bakal punya anak lagi."


"Aku juga tidak menyangka. Tadinya aku mengira sudah monopause karena tak kunjung datang bulan. Tapi Allah memberikan anugerah untuk kita bisa punya anak lagi," ucap Risa tersenyum.


Rey bahagia karena istrinya kini sudah menerima kehamilannya.


"Makasih ya sayang," ucap Rey yang lalu mengecup pipi Risa.


"Terimakasih untuk apa?" Risa mengernyitkan dahinya.


"Karena kamu akhirnya mau mempertahankan kandungan kamu," ucap Rey lirih.


Karena sebelumnya Risa ingin menggugurkan kandungannya karena malu saat hamil diusianya yang tidak muda lagi. Risa hanya takut menjadi bahan ledekan oleh teman-teman arisannya.


"Tidak usah berbicara seperti itu. Kemarin aku hanya terkejut saja saat tahu-tahu aku sedang hamil. Sekarang aku sudah sadar bahwa bagaimanapun juga seorang anak itu adalah titipan dari Allah yang harus kita jaga."


"Istriku semakin pintar dan aku semakin sayang sama kamu," ucap Rey mencubit pipi Risa.


"Jangan mencubit aku Rey!"


"Haha, aku baru sadar bahwa pipi kamu semakin chubby sayang," ucap Rey terkekeh.


"Jangan bicara kalau aku gendutan! Aku akan diet saja kalau gitu."


"Jangan diet sayang. Ingat kamu sedang hamil dan kamu tidak boleh kamu diet karena bisa berpengaruh pada kesehatan kamu dan juga anak kita."


"Hmm, baiklah."

__ADS_1


Risa hanya bisa pasrah jika Rey sudah berbicara seperti itu.


__ADS_2