
Terdengar suara Adzan Dzuhur di ponselnya yang membangunkan kedua insan yang saling berpelukan tersebut. Mereka membuka mata bersama.
"Hah ini udah siang?" ucap Risa terkejut saat mendengar suara adzan di ponselnya.
Karena di Korea mayoritas penduduknya beragama non muslim jadi yang beragama muslim mayoritas penduduknya hanya sedikit. Jadi hanya kota tertentu saja yang ada masjidnya. Mereka sudah membersihkan dirinya masing-masing dan sholat berjamaah.
"Yang kamu gak usah masak, aku udah pesan makanan online."
"Memang disini ada kaya mitra ojek online gitu?"
"Disini gak ada. Adanya dari restorannya langsung yang antar, jadi kaya kita pesan PHD atau HokBen saat di Indonesia gitu dari restorannya langsung."
Mereka akhirnya sudah makan siang. Masih terdengar suara rintik hujan di luar.
*****
Malam pun telah tiba. Sekitar 30 menitan yang lalu hujan sudah reda. Risa dan Rey sudah melakukan sholat isya berjamaah.
"Rey keluar yuk?"
"Mau kemana yang? Habis hujan gini pasti banyak genangan air di jalanan."
"Huh kamu itu ngeselin banget ya! Tadi pagi udah aku turutin permintaan kamu. Tapi giliran aku pengen jalan-jalan malam hari, kamu gak mau nurutin aku!" ucapnya kesal amarahnya sudah mulai memuncak.
Risa bibirnya sudah mengerucut sambil melipatkan kedua tangannya di atas perutnya dan membuang muka ke arah lain.
"Eh.. Sayang jangan ngambek dong. Yuk mau jalan-jalan kemana? Aku turutin deh kemanapun kamu mau." Rayunya agar Risa tidak ngambek lagi.
Soalnya dia jauh dari Rendy, teman playboy nya yang selalu kasih solusi tentang gimana caranya meluluhkan hati seorang wanita.
"Shopping yuk, aku belum beli apa-apa loh selama di Korea. Sedangkan kita udah hampir seminggu disini."
"Yuk yang." Sambil menggandeng tangan istri tercintanya.
Mereka lalu keluar dari apartment. Berjalan menyusuri sepanjang toko-toko di Seoul. Sampai di depan toko sepatu Rey pun berhenti.
"Yang aku beli sepatu ya, buat nanti kalau kita ke pantai."
"Iya, nih ATM sama Credit Card nya kamu saja yang bawa." Sambil menyodorkan dua kartu tersebut.
"Gak yang, biar kamu aja yang bawa. Sudah tugasku kasih kamu nafkah."
Akhirnya Risa lalu memasukkan lagi dua kartunya ke dalam dompet dan Rey sudah masuk ke toko tersebut. Beli sepatu Nike yang Rey suka.
"Yang masa aku doang sih yang beli sepatunya? Kamu beli juga gih."
"Engga, aku udah punya sepatu Nike. Nih sekarang pun aku juga pakai. Nanti aku beli baju saja."
Risa pun sudah membeli beberapa baju yang ia suka. Rey sengaja memfoto Risa saat ia berjalan.
__ADS_1
"Say, apaan sih kamu kok foto aku gak bilang-bilang?"
"Habis kamu gemesin sih yang."
"Yang mau beli apa lagi? Mumpung kita masih disini," ucapnya kembali.
"Engga, udah cukup aku beli bajunya say."
"Ya udah kita makan aja yuk. Aku udah laper banget nih."
Mereka akhirnya menuju ke salah satu restoran. Rey menatap Risa dengan lama. Risa yang ditatap Rey pun akhirnya membuka suara.
"Kenapa kamu menatapku seperti itu?"
"Kamu cantik banget yang. Gak nyangka aja kamu sekarang jadi istriku. Dulu aku mengagumimu pas MOS. Pantesan aja si playboy Rendy bilang kamu itu bidadari. Tapi emang faktanya gitu sih yang kamu gak hanya cantik parasnya saja namun juga hatinya," ucapnya dengan serius.
"Hahahaha kamu jadi sudah menyukaiku sejak lama?" sambil tertawa.
"Iya, semenjak pertama kali aku bertemu kamu yang. Ingat gak waktu itu aku gendong kamu ke UKS saat kaki kamu lecet dan kamu pingsan saat itu karena belum sarapan."
Risa pun terdiam sambil flashback kejadian beberapa tahun yang lalu.
"Oh itu saat pertama kali kita ketemu ya?"
"Iya sayang, aku langsung jatuh cinta pada pandangan pertama," ucapnya sambil mencubit pipi Risa.
"Huh, dasar gombal kamu ya!"
"Dua??" Risa langsung membolakan matanya.
"Dua katanya? Berarti kemungkinan di hati Rey ada aku sama si pelakor itu?" batin.
"Jangan salah paham dulu sayang. 2 orang wanita yang aku sayangi itu Anastasya dan Risa Alexander," ucapnya dengan senyuman.
Risa yang mendengar nama Anastasya pun langsung bernafas lega, karena nama mami mertuanya yang disebut. Risa tadinya sudah berfikiran negatif kalau nama Luna Hernandez yang akan Rey sebutkan.
"Huh aku kira yang satu siapa."
"Memang yang kamu pikirkan nama siapa yang?"
"Enggak, bukan siapa-siapa. Udah lupakan saja!"
Mereka lalu melanjutkan makannya.
"Eh iya say besok aku mau jalan sama Karin. Kamu mau ikut gak?"
"Jalan kemana dulu nih?"
"Ya jalan-jalan aja say. Dari pada di apartment terus bosan kan."
__ADS_1
"Ya udah deh, iya mau yang."
"Seriusan mau?" tanyanya sambil menatap wajahnya.
"Iya sayang."
"Ok aku WhatsApp Karin dulu. Kalau kamu juga mau ikut."
Risa sudah bayar makanannya. Lalu ia dan Rey keluar. Risa melihat mesin capit boneka.
"Rey, kesana yuk." Sambil menunjukkan alat pencapit boneka.
"Mau main?" tanyanya.
"Enggak, kamu aja yang mainin. Mudah-mudahan dapat bonekanya."
"Yah gak dapat. Padahal tinggal sedikit lagi!" Sambil menatap Risa.
"Sabar say coba sekali lagi."
Rey lalu mencobanya lagi. Namun tetap saja hasilnya tidak ada satu pun boneka yang ia dapatkan.
"Maaf sayang bonekanya gak dapet," keluhnya dengan wajah yang kecewa.
"Sudah say gak apa-apa, kan cuma mainan hehehe," ucapnya sambil cengengesan.
"Ya udah yuk kita pulang saja."
...*****...
Risa dan Rey sudah sampai di apartment. Mereka akan membersihkan dirinya masing-masing bergantian di kamar mandi. Risa sudah membersihkan dirinya lalu masuk ke walk in closet berganti pakaian. Setelah itu Risa ingin menonton TV.
Risa sedang menonton TV di sofa. Rey sudah selesai membersihkan dirinya. Rey hanya menggunakan handuknya sampai sepinggang.
"Sayang kenapa kamu berpakaian seksi seperti itu? Apa kamu mencoba untuk menggodaku?"
"Tidak! Aku hanya merasa gerah saja, tadi kan kamu lihat aku pakai jaket tebal. Kamu kan tadi juga pakai jaket tebal sepertiku kan? Apakah kamu tidak merasa gerah?"
"Justru aku menjadi gerah saat melihat pakaianmu seperti itu. Yang kamu harus tanggungjawab!"
Risa mengeryitkan dahinya lalu menatap tajam ke arah Rey.
"Maksud kamu tanggungjawab seperti apa? Bahkan aku tidak melakukan apapun ke kamu," ucapnya yang sudah naik satu oktaf.
Risa masih bingung dengan omongan suaminya perasaannya sudah tidak karuan. Rey berjalan mendekati istrinya. Risa membolakan matanya saat Rey mengecupnya dengan penuh kasih sayang. Risa pun mendorong tubuh Rey. Nafasnya tersengal-sengal.
"Rey apa yang kamu lakukan? Aku hampir saja sesak nafas!"
Rey mendekati Risa menyentuh kedua bahunya. Risa berusaha menepisnya. Namun tangan kekar Rey masih berada di bahunya. Perlahan Rey mulai memeluknya.
__ADS_1
"Maafkan aku sayang. Tapi aku menginginkanmu."
Akhirnya Risa mengiyakan ajakan suaminya. Kalau Risa menolaknya akan mendapatkan dosa. Itulah yang dipikirkan oleh Risa saat ini. Rey lalu menggendong Risa menuju ke ranjangnya. Mereka melakukan aktivitas seperti yang mereka lakukan di pagi hari.