Dijodohkan Dengan Cowok Manja

Dijodohkan Dengan Cowok Manja
BAB 43 - Nasi Goreng Spesial Bumbu Cinta


__ADS_3

DI TEMPAT LAIN


Seorang pria pun sedang meminum alkohol di apartment nya. Wajahnya pun sangat frustasi. Ini hal kedua kalinya ia meminum minuman laknat itu. Yang pertama saat dirinya menghabiskan malam panjangnya bersama pacarnya Luna Hernandez karena saat itu ia mengetahui bahwa sang pujaan hatinya telah bertunangan dengan Rey. Saat ia meminum alkohol kebetulan pas anniversary 1 tahun bersama pacarnya Luna dan ketika itu Luna datang membawa cake perayaan 1 tahun anniversary.


Evan pun tidak sadar pada malam itu bahwa yang ia lihat adalah Luna dan ia pun melakukan malam panjang itu dengannya. Jadi saat ia mabuk yang ada dibayangan Evan saat itu hanyalah Risa. Ia pun merutuki dirinya sendiri saat bangun di pagi hari Luna yang berada disampingnya bukan Risa, kejadian malam itu yang mengakibatkan Luna sampai hamil. Ia tidak menyangka melakukan hal itu karena semenjak pacaran dengan Luna ia pun hanya sebatas bergandengan tangan saja tidak lebih, karena papanya mengajarkannya untuk menghormati seorang wanita.


FLASHBACK ON


Seorang wanita cantik berkulit putih berambut pirang pun turun dari mobilnya. Ia suka bergonta-ganti gaya rambut dan berbagai warnanya. Ia pun menginjakkan kakinya di toko cake & bakery langganannya. Ia pun memesan kue black forest kesukaannya dan langsung membawanya menuju ke apartment mewahnya yang sekarang di tinggali kekasihnya.


Luna pun perlahan menekan password dan lalu membuka pintu apartment nya. Ia pun terkejut melihat sang kekasihnya meminum minuman keras di hari anniversary nya. Lalu Luna pun mendekati sang kekasihnya. Ia pun berjalan lalu meletakkan kuenya di meja dan meraih bahu kekasihnya yang sedang menundukkan kepalanya di meja makan dapur. Evan yang merasa bahunya di sentuh pun langsung membuka matanya perlahan. Yang ia lihat saat itu adalah Risa sang pujaan hatinya bukan Luna sang kekasihnya.


Lalu dengan setengah sadar Evan pun langsung menyerang Luna. Menghempaskan tubuhnya ke ranjangnya. Yang ia tahu saat itu hanya Risa yang dihadapannya dan Evan pun ingin memiliki Risa seutuhnya. Luna pun terkaget saat Evan menyerangnya karena semasa pacaran Evan pun hanya berani menggandeng tangannya. Ia pun berusaha untuk lari dari Evan. Akan tetapi Evan pun langsung menariknya kembali ke ranjang. Akhirnya malam itu terjadilah malam yang membuat Luna sekarang hamil.


FLASHBACK OFF


"Papa.. Mama... maafkan aku," ia pun berbicara dengan sendirinya di apartment nya sambil mengacak-acak rambutnya dan akhirnya ia pun tertidur.


Hari telah pagi. Waktu menunjukkan pukul 07:19. Evan pun teringat dengan nasihat dokter muda yang pernah ia jumpai di rumah sakit itu. Waktu itu ia pun juga diberi nasihat oleh sang penjual martabak. Kalau wanita hamil itu pasti mengalami nyidam dan harus dituruti.


"Meskipun aku tidak mau menikahinya. Tapi setidaknya aku menjadi papa yang baik untuk anakku," ucapnya lalu mengambil kunci mobilnya.


Ia merutuki dirinya sendiri. Seandainya malam itu ia tidak meminum minuman laknat itu pasti semuanya tidak akan terjadi seperti ini.


Evan pun lalu melajukan mobilnya ke rumah Luna. Luna pun kaget saat ia membuka pintu Evan lah yang muncul dihadapannya.


"Evan! Ngapain kamu kesini?" ucapnya bertanya kepada Evan.

__ADS_1


"Aku ingin tahu apakah kamu mengalami nyidam atau tidak?" ucapnya dengan pelan.


"Ya beberapa kali. Terus apa urusannya denganmu?" ucapnya dengan ketus.


"Aku kemarin juga nyidam makan martabak manis dan sampai habis dua bungkus. Tidak biasanya aku suka martabak manis. Apa kau ingin memakan sesuatu?" ucapnya kembali.


Luna pun mengernyitkan dahinya saat mendengar perkataan bahwa Evan juga mengalami nyidam.


"Ti.. Tidak, aku tidak ingin makan sesuatu," ucapnya terbata-bata.


Sebenarnya Luna ingin sekali makan nasi goreng buatan Evan. Namun ia begitu gengsi untuk mengatakannya. Evan pernah membuatkan nasi goreng untuknya saat pagi ia tak sempat sarapan. Evan memasak nasi goreng di apartment dan mereka pun makan bersama di lokasi pemotretan.


"Aku tahu jika kamu menginginkan sesuatu. Dari raut wajahmu sepertinya sedang nyidam. Apa yang kamu inginkan? cepat katakan!" Evan pun berbicara sedikit dengan nada tinggi.


"Aku sedang ingin memakan nasi goreng," Luna pun berbicara dengan pelan.


"Baiklah aku akan buatkan untukmu! Tunggulah beberapa menit," ucapnya sambil masuk ke dalam rumah Luna. Evan pun meraih celemek yang menggantung di dapur lalu dengan cekatan menghaluskan bumbu dalam cobek dan tak lupa beberapa bawang, sosis, kubis dan tomat ia iris tipis-tipis.


Nasi goreng spesial pun sudah matang. Mata Luna berbinar saat melihat nasi goreng buatan Evan sudah ada didepannya. Ia pun langsung meniup nasi gorengnya dan memakannya selagi hangat.


"Wah Enak, Luna pun langsung memakannya dengan lahap," saat suapan demi suapan masuk ke dalam mulutnya.


"Nasi goreng spesial bumbu cinta. Eh apa-apaan ini hanya perhatian kecil Evan saja. Aku harus fokus pada Rey. Rey yang akan menjadi suamiku. Hatiku tidak boleh goyah lagi pada Evan hanya karena dia perhatian kepadaku pagi ini," batin Luna.


Baru makan sekitar 6 sendok, perut Luna terasa kram.


"Auwww," Luna pun memegang perutnya.

__ADS_1


Evan yang melihat Luna kesakitan pun lalu menghampirinya.


"Kamu kenapa? Apanya yang sakit," ucap Evan panik.


"Perutku terasa kram," ucapnya sambil meringis.


Evan pun bingung, lalu ia pun mencoba memegang perut Luna dan mengelusnya pelan beberapa menit. Luna pun terkejut saat tiba-tiba tangan Evan sudah berada diperutnya. Seketika perut Luna pun menjadi tidak kram setelah Evan pegang.


"Gimana apa masih terasa sakit?" ucap Evan yang masih mengelus perutnya sambil menatap Luna.


Luna pun bingung ketika rasa sakit yang ia rasakan diperutnya seketika menghilang saat Evan sentuh. Karena ia pun tadi membatin nama Rey dalam hatinya. Sepertinya ia tak suka nama orang lain yang disebut. Bayinya seolah-olah sepertinya mengerti siapa nama ayahnya.


"Sudah tidak sakit lagi. Apa mungkin dia tahu kalau papanya yang datang?" ucap Luna spontan.


Evan pun mengernyitkan dahinya mendengar perkataan Luna. Ia pun merasa aneh saat Luna tidak kesakitan lagi karena ia tadi hanya mengelus perutnya saja.


"Apa anakku butuh kasih sayang seorang papanya. Sepertinya anakku tahu kalau tadi papanya yang datang karena tadi perut Luna langsung tidak kram saat ku sentuh," batin Evan.


"Apa hari ini kamu mengalami mual?" Evan pun bertanya kepada Luna.


"Tidak, biasanya aku baru makan satu sendok atau dua sendok lalu mual. Tetapi entah kenapa pagi ini aku tidak merasakan mual," ucapnya sambil memakan nasi goreng.


"Apa karena ada Evan ya, hari ini aku jadi tidak mual? Malah nafsu makan ku pun bertambah. Apa bayiku kangen sama papanya?" batin Luna sambil mengelus perutnya yang masih rata namun sudah agak sedikit menonjol mengingat usia kandungannya baru menginjak 2 bulan lebih.


Lalu Luna pun melanjutkan makannya. Setelah nasi gorengnya habis tak tersisa. Ia pun lalu berjalan menuju ke dapur mau membuat susu. Evan pun melihat gerak-gerik Luna. Saat ia hendak mengambil kardus susu hamilnya, Evan pun langsung merebutnya.


"Biar aku saja yang bikin susunya, kamu duduk saja di meja makan," ucap Evan langsung membuatkan susu untuk Luna.

__ADS_1


Luna pun sebenarnya merasa bahagia saat Evan mulai perhatian kepadanya, terlebih kepada bayi yang dikandungnya. Namun papanya tetap memaksanya untuk menjalankan misinya untuk mendekati Rey. Ia pun harus menuruti perintah papanya karena ia takut akan ancaman papanya yang akan memaksanya untuk meminum obat untuk menggugurkan kandungannya dan tidak mengakuinya sebagai anak lagi.


Bibi yang sedang menyapu pun senang melihat kedekatan Evan yang perhatian dengan Nona mudanya. Apalagi saat Evan mengelus perut nona mudanya. Ia pun bersyukur bukan lelaki yang dijebak nona mudanya yang datang hari ini. Karena bibi merasa kasihan terhadap Rey yang terjebak dalam masalah ini.


__ADS_2