Dijodohkan Dengan Cowok Manja

Dijodohkan Dengan Cowok Manja
S2 - Kepergian Reva


__ADS_3

Please berikan jempol ๐Ÿ‘ kalian terlebih dahulu sebelum membaca karena jempolnya semakin menghilang akhir-akhir ini ๐Ÿ˜



Tadi Rio setelah pulang dari kantor pergi ke rumah Livia. Ia terkejut saat Livia tidak menerima buket bunga darinya. Ternyata buket bunganya salah alamat dan tidak sampai ke rumah sekretarisnya itu. Justru sampai di rumahnya sendiri. Ini bukan salah kurir karyawan dari florist tapi salahnya sendiri yang bisa lupa memberikan alamat sekretarisnya.


"Astaga, kenapa aku bodoh sekali. Buket bunganya jadi sampai salah alamat seperti ini. Apa yang harus aku bilang kepada Reva saat pulang nanti?" Batin Rio.


"Sayang, kenapa kamu melamun?"


"Eh tidak apa-apa. Kamu gimana? Apa sudah enakan?"


"Sudah tidak terlalu pusing dan mual sih. Hanya saat pagi tadi saja mualnya."


"Syukurlah, jadi kamu bisa segera cepat bekerja."


"Rio, aku hanya makan saat tadi pagi saja dan aku belum makan lagi sampai saat ini."


"Astaga, kenapa kamu ceroboh sekali? Ini bahkan sudah jam 8 malam."


"Aku ingin makan disuapin kamu, Rio."


"Baiklah..."


Livia tersenyum saat Rio perhatian kepadanya. Sekarang Rio pergi dari kamarnya dan menuju ke ruang makan.


"Pak, makanannya saya hangatkan sebentar ya?"


"Iya, boleh Bi."


Setahu Bibi, Rio adalah rekan kerjanya Livia. Bibi hanya tahu mereka menjalin hubungan dekat dan tidak tahu kalau Rio sudah punya istri.


Setelah itu Rio membawa nampan ke kamar Livia.


"Livia makanlah yang banyak dan habis itu minum obatnya."


"Hmm iya."


Rio dengan telaten menyuapi Livia sampai piringnya sudah kosong. Setelah Livia minum obat, Rio akan segera pulang.


"Aku pulang dulu ya."


"Kamu mau kemana? Di sini saja bersamaku," cegah Livia.


"Baiklah, tidurlah dan aku akan menemanimu sampai tertidur," ucapnya sambil mengusap kepala Livia.

__ADS_1


Tak lama kemudian Livia tertidur. Rio lalu pergi dari rumah sekretarisnya tersebut. Ia pergi menuju ke sebuah club. Rio bingung mau pulang dan harus berbicara apa dengan istrinya.


"Bro, kok kamu kemari? Bukannya malam ini anniversary pernikahan kalian?"


"Aku barusan ke rumah Livia dan aku salah mengirimkan buket bunga. Harusnya alamatnya aku berikan alamat Livia tapi salah dan akhirnya sampai ke rumahku sendiri."


"Astaga bro. Aku tidak bisa membayangkan perasaan istri kamu. Perasaannya pasti hancur saat ini."


"Maka dari itu aku bingung dan enggan untuk pulang malam ini."


Rio meneguk minuman beralkohol itu.


"Bro, sebaiknya kamu tinggalkan Livia dan perbaiki hubungan rumah tangga kamu dengan Reva."


"Tidak semudah itu bro. Ini semua berawal dari Papanya. Aku bisa seperti ini karena aku dendam dengan Papanya. Papa Revano dulu mengabaikan Mama Viona saat hamil. Lalu aku juga melakukannya seperti itu dengan Reva. Bukankah itu impas?" ucapnya yang diakhiri dengan tawanya.


"Bukannya kamu sangat mencintai Reva?"


"Perasaan cintaku berubah menjadi benci ketika aku tahu masa lalu Mamaku dan Papanya."


"Astaga, kamu keterlaluan Rio. Jangan sampai menyesal nanti."


"Ken, aku hanya balas dendam."


"Seharusnya kamu pulang ke rumah dan merayakan anniversary. Kamu juga harus mengakui kesalahan kamu dengan cara menjelaskan semuanya agar istri kamu tidak salah paham," ucapnya kembali.


"Kamu tahu tidak? Hari ini juga tepat ulang tahunnya. Aku akan melihat bagaimana dia akan merayakannya. Pasti dia saat ini tengah merayakannya sendirian di rumah."


"Rio kamu sudah mabuk. Aku tidak menyangka kamu bisa seperti ini dengan istrimu. Apalagi dia sedang hamil kedua anakmu. Aku hanya takut Reva terlalu kepikiran dan berdampak pada kehamilannya."


"Aku ingin lihat betapa menderitanya dia saat ini. Sakit hati sudah pasti dan itu yang dirasakan oleh Mama Viona dulu yang juga terabaikan saat sedang hamil."


"Bro, sudah berhenti minumnya. Pikiran kamu semakin aneh-aneh saja."


Akhirnya Ken mengantarkan Rio pulang ke rumah. Reva mengucek matanya karena ketiduran di sofa dan lalu membuka pintu. Betapa terkejutnya melihat suaminya mabuk.


"Reva, Rio baru saja pergi ke club. Aku sudah melarangnya untuk minum lagi namun ia tetap meminumnya."


"Ah tidak apa-apa. Tolong bawa Rio ke kamar."


"Baiklah ..."


Ken membawa Rio ke kamar dan melihat buket bunga mawar berada di atas meja rias Reva. Cermin meja rias terlihat sudah tinggal sisa-sisanya yang masih ada di sana karena tadi yang sebagian sudah pecah.


"Reva aku pulang dulu ya."

__ADS_1


"Makasih Ken sudah mengantar suamiku dan hati-hati."


"Bahkan Reva sudah disakiti oleh Rio dan masih menganggap suaminya. Benar-benar istri yang sangat mulia hatinya," ucapnya dalam hati.


"Iya sama-sama."


Ken saat sudah keluar dari kamar Reva dan Rio lalu menuruni anak tangga. Ken juga melihat dua buah kue di atas meja.


"Rio benar-benar keterlaluan. Istri secantik dan sebaik Reva disia-siakan. Kamu mungkin akan menyesal jika Reva pergi dari hidupmu. Wanita manapun tidak akan kuat menghadapi suami sepertimu," ucapnya lirih dan keluar dari rumah mewah tersebut.


Ken sudah pergi dari rumah sahabatnya. Sedangkan Reva lalu mencopot dasi, membuka satu kancing baju suaminya karena sepertinya Rio terlihat kegerahan. Tak lupa Reva juga membuka sepatu dan kaos kaki suaminya. Reva mengelap dahi dan wajah suaminya dengan tisu.


"Rio kenapa kamu jadi seperti ini dimalam anniversary pernikahan kita?" ucapnya sambil memegang pipi suaminya dengan tangan kirinya.


"Kamu bahkan lebih memilih mabuk daripada mau merayakan anniversary pernikahan kita," ucapnya kembali.


Reva lalu memutuskan untuk tidur. Reva terbangun dari tidurnya saat mendengar adzan subuh. Setelah sholat subuh Reva langsung menuju ke dapur untuk masak buat sarapan suaminya. Bibi melihat majikannya itu tetap tegar meskipun suaminya menyakiti hatinya. Setelah masakannya semua matang, Reva lalu pergi ke kamarnya dan akan membangunkan suaminya. Saat akan membangunkan Rio, Reva mendengar suara hp berbunyi. Setelah menemukan hp suaminya, Reva mengernyitkan dahinya saat melihat beberapa panggilan tak terjawab dan satu sms.


Reva membolakan matanya saat melihat siapa nama yang mengirimkan suaminya sms yang tak lain adalah Livia, wanita yang seharusnya menerima sebuket bunga mawar dari suaminya.


"Rio, WhatsApp kamu ceklis. Sayang, aku hari ini sudah kembali bekerja. Makasih semalam telah perhatian dan menjagaku sampai aku tertidur. Aku sekarang sudah sembuh. Sampai bertemu di kantor nanti sayang."


Reva memegang dadanya yang semakin terasa sesak. Suaminya itu tidak perhatian selama dua bulanan ini dan betapa sakit hatinya saat suaminya itu lebih perhatian dengan perempuan lain dibandingkan dirinya dan kedua anaknya.


"Rio, kamu tega sama aku," ucap Reva yang semakin terisak dalam tangisannya.


Reva tidak kuat untuk menjalani kehidupan rumah tangga seperti ini terus-menerus. Sebagai perempuan, Reva merasakan sakit hati yang teramat dalam. Meskipun Reva kecewa dengan suaminya namun dia tetap menjalankan kewajibannya sebagai istri. Setelah tadi menyiapkan sarapan untuk suaminya, Reva tak lupa untuk menyiapkan pakaian suaminya untuk ke kantor. Setelah itu Reva meraih tasnya dan lalu turun dari kamarnya.


"Loh nak Reva mau kemana?" tanya Bibi.


Reva tidak menjawabnya dan bergegas pergi dari rumah yang dulu membuatnya selalu bahagia tapi kini hanya ada kesedihan dari rumah mewah itu.


Dukung author dengan memberikan vote gratis (tanpa mengurangi poin)


Vote hanya muncul setiap hari Senin atau seminggu sekali.



Makasih yang telah memberikan tips koin pada author ๐Ÿ˜



Readers kesayangan sambil menunggu cerita selanjutnya jangan lupa tinggalkan jejak kalian biar author semakin semangat bikin ceritanya๐Ÿค—


__ADS_1


__ADS_2