
Revano masih dirundung rasa gelisah. Keinginannya untuk pergi keluar negeri karena ingin menuntaskan masalah. Justru kepergiannya kini menambah masalah baru yang semakin rumit.
"Apa aku jujur saja ya sama Kezia? Tapi jika dia tahu aku punya istri lagi bisa-bisa aku digebukin sampai babak belur," ucap Revano bergerdik ngeri saat membayangkan bahwa Kezia akan marah dan memukulinya.
Revano lalu meneguk jusnya, sesudah membayarnya Revano langsung melajukan mobilnya keluar dari restoran dan menuju ke arah rumah mertuanya. Karena Kezia ingin tinggal di rumahnya sampai waktunya melahirkan nanti.
Revano masuk ke dalam kamarnya dan terlihat istrinya masih tertidur pulas. Wajahnya terlihat sendu saat ini. Pandangan Revano saat ini melihat ke arah perut Kezia yang sudah membesar. Kandungannya sudah berjalan 8 bulan lebih 2 hari, putrinya semakin aktif menendang-nendang dalam perut Kezia. Kadang Kezia merasa geli ketika anaknya menendang perutnya. Revano berjalan mendekati Kezia, wanita yang dicintainya selama ini. Revano mengecup kening istrinya perlahan.
"Maafkan aku Kezia," ucapnya lirih dan tak terasa air matanya menetes.
"Aku tidak sengaja telah mengkhianati pernikahan kita." Batin Revano melanjutkan perkataannya dalam hati.
Kezia yang terusik tidurnya pun lalu mengerjapkan matanya. Revano langsung menghapus air matanya. Kezia lalu duduk dan menatap wajah suaminya.
"Sayang, kenapa kamu menangis?"
"Aku hanya khawatir padamu karena sebentar lagi kamu akan bertaruh nyawa melahirkan anak kita. Kandungan kamu kini semakin membesar dan sebulan lagi anak kita akan lahir. Aku terharu secepat ini akan menjadi seorang Papa." Revano sambil mengusap perut istrinya. Kezia lalu tersenyum setelah Revano berbicara seperti itu.
Revano terpaksa berbohong dan tidak ingin Kezia kepikiran. Revano akan menceritakan semuanya nanti setelah Kezia melahirkan anaknya. Jika saat ini Revano cerita, Revano takut jika kandungan istrinya kenapa-kenapa.
"Sudah kewajiban seorang istri yang melahirkan anak untuk suaminya. Jangan menangis sayang, kesedihan kamu adalah kesedihanku juga," ucap Kezia menghapus air mata Revano.
"Auwww........." Kezia merasakan perutnya tiba-tiba kram.
"Kenapa sayang?" tanya Revano panik.
"Perutku Rev. Perutku kram lagi." Kezia memegang perutnya.
"Bahkan anak kita tahu kalau aku tengah berbohong kepada Mamanya. Maafkan Papa nak. Papa janji setelah kamu lahir, Papa akan bercerita kepada Mama kamu." Batin Revano.
Revano lalu mengecup perut Kezia, mengusapnya perlahan dan mengajak anaknya bicara. Perlahan rasa sakit pada perut Kezia mulai mereda.
"Sayang apa masih sakit?"
"Masih sedikit," jawabnya singkat.
Setelah beberapa saat kemudian.
"Sayang, apa masih sakit? Kalau misalkan masih kita ke rumah sakit saja."
Kezia menggelengkan kepalanya pertanda bahwa jawabannya tidak.
__ADS_1
"Kamu Papa yang hebat, bisa meredakan sakit pada perutku."
"Mungkin dia kangen dengan perhatian Papanya sayang," ucap Revano.
Kezia tiba-tiba ingin dimanja suaminya. Kezia tidak tahu ini ngidam atau tidak namun Kezia ingin sekali Revano melakukannya.
"Sayang, aku menginginkan kamu," ucap Kezia.
"Hah?" Revano matanya terbelalak saat ini.
"Aku ingin dimanja sama kamu! Anak kita yang memintanya," tunjuk Kezia pada perut buncitnya.
"Anak kita atau Mamanya?" goda Revano terkekeh.
"Beneran Revano, aku seperti sedang ngidam dan itu harus kamu turuti. Bukankah aku belum pernah seperti ini," ucap Kezia sambil mengusap perutnya.
"Baiklah nak, Papa akan turuti keinginan kamu nak," Revano lalu mengecup perut Kezia.
"Sekaligus keinginan Mama kamu," ucapnya kembali menggoda istrinya.
"Revano......" Kezia menarik hidung suaminya.
"Kebiasaan selalu menarik hidungku sampai merah. Nanti kalau aku jadi pinokio gimana?"
Deg! Deg!
Perkataan Kezia membuat Revano merasa bersalah karena telah membohongi istrinya. Revano lalu menuruti keinginan istrinya yang sedang ngidam yang menurutnya sangat menguntungkan baginya.
...*****...
Sebulan kemudian perut Kezia semakin membesar karena kandungannya sudah berjalan 9 bulan. Kezia melihat suaminya baru pulang dari kampus. Kezia mendekati Revano dan berjalan pelan-pelan sambil memegang perutnya. Kezia lalu mengecup punggung tangan suaminya.
"Sayang, Papa kamu sudah pulang nak," ucap Kezia yang tangan kirinya masih memegang perutnya.
"Dari tadi anak kita merindukan kamu. Dia terus saja menendang-nendang dalam perutku. Putri kita sedang ingin diperhatikan oleh Papanya," ucap Kezia.
"Kamu kangen sama Papa nak?" ucap Revano sambil mengusap perut Kezia dan anaknya merespon dengan tendangannya.
"Sayang saat anak kita menendang-nendang dalam perutmu apa yang kamu rasakan?" tanyanya penasaran.
__ADS_1
"Kadang geli, kadang juga ngilu kalau dia sedang berputar posisi. Kamu pernah lihat kan bagaimana perutku saat itu terlihat menonjol ke sebelah kanan atau kiri? Bahkan saat itu terlihat seperti telapak tangan anak kita yang sedang menyapa kamu," ucap Kezia.
Revano lalu berjongkok.
"Iya sayang, dia tahu kalau aku Papanya. Aku juga sangat menyayanginya," ucap Revano sambil mengelus perut Kezia dan mengecupnya. Tak hanya itu Revano juga memeluk perut istrinya dan sehingga wajahnya menempel pada perut Kezia.
"Nak, Papa ingin segera bertemu denganmu. Pasti kamu cantiknya seperti Mamamu," ucap Revano yang masih menempelkan wajahnya pada perut Kezia.
Kezia tersenyum dan mengusap kepala suaminya yang masih betah berada diperutnya.
"Dia pasti akan sangat menggemaskan sayang, apalagi jika dia wajahnya imutnya seperti kamu. Aku ingin sekali dia seperti kamu," ucap Kezia terkekeh sambil membayangkan wajah putrinya jika mirip dengan Revano pasti akan sangat menggemaskan.
"Pasti wajahnya akan mirip denganku sayang. Karena saat kamu hamil muda kamu membenciku," ucap Revano.
"Iya dulu saat aku masih membenci kamu Revano, maafkan aku."
"Tidak apa-apa sayang," ucap Revano.
"Aku yang seharusnya minta maaf sayang, karena telah membuatmu kecewa." Batin Revano.
Revano lalu berdiri dan sekarang Kezia dan Revano sudah duduk di sofa. Kezia dan Revano kini sedang menantikan kehadiran sang buah hatinya. Perut Kezia sudah membuncit dan anaknya lebih aktif daripada biasanya tapi tak seaktif Baby Rendra saat Kezia merasakan tendangannya dalam perut Sandra. Kezia juga sering merasakan sakit pinggang. Revano selalu memijat pinggang Kezia.
"Sayang, beberapa hari lagi anak kita akan lahir dan kamu harus temani aku nanti saat lahiran," ucap Kezia sambil mengusap perut buncitnya.
"Pasti sayang, apapun akan kulakukan semua untukmu dan jika kamu menginginkan nyawaku akan aku berikan," ucap Revano.
"Gombal kamu! Aku hanya ingin kamu selalu setia kepadaku, hanya itu saja yang aku inginkan darimu."
Kata setia membuat Revano semakin merasa bersalah karena sudah membohongi Kezia.
"Sayang, kenapa kamu melamun?" tanya Kezia.
"Seandainya aku memiliki kesalahan apa kamu akan memaafkan aku?" tanya Revano dengan hati-hati.
"Tergantung apa kesalahan kamu."
"Maksudnya sayang?"
"Jika kesalahan kamu menyangkut tentang perempuan lain misalnya kamu berselingkuh dibelakangku, aku tidak bisa memaafkan kamu. Aku benci seorang pengkhianat," beber Kezia yang membuat Revano kini semakin gelisah.
"Sayang, kamu pasti akan membenciku jika tahu aku menikahi perempuan lain. Terpaksa aku menikahi perempuan itu karena dia hamil. Aku yakin anak yang sedang dia kandung bukan anakku dan aku terjebak dalam pernikahan konyol itu. Akan aku buktikan dengan tes DNA nanti setelah anaknya lahir. Aku akan berjuang untuk bisa mempertahankan rumah tangga kita. Karena aku hanya mencintai kamu dan selamanya aku hanya ingin bersamamu." Batin Revano yang merasa semakin bersalah dengan Kezia.
__ADS_1
Revano ingin putrinya segera lahir dan agar dirinya bisa berkata jujur dengan Kezia. Revano berharap Kezia akan tetap percaya kepadanya dan rumah tangganya akan baik-baik saja.