Dijodohkan Dengan Cowok Manja

Dijodohkan Dengan Cowok Manja
S2 - Lakukan Tugasmu Sebagai Istri..


__ADS_3

Rio saat ini sudah tertidur. Viona menitipkan anaknya kepada Bibi. Setelah sampai di rumah sakit Mama Vera langsung ditangani ke ruang IGD. Vino cemas dengan keadaan ibunya. Tak lama kemudian Dokter keluar dari ruangan.


"Dok, bagaimana keadaan Mama saya?" tanyanya cemas.


"Pasien mengalami serangan jantung dan sekarang keadaannya kritis."


"Apa?" tanya Viona yang tak kalah terkejutnya.


"Mama," ucap Vino lirih dan tubuhnya mulai merosot jatuh ke lantai.


Kaki Vino seperti tak berdaya untuk berdiri mengingat Mamanya yang kritis saat ini. Mama Vera sekarang sudah dipindahkan ke ruang rawat inap. Vino duduk disamping Mamanya dan meraih tangan Mamanya.


"Mama, jangan tinggalkan aku. Vino sudah tidak punya Papa," ucapnya yang tak terasa air matanya menetes.


Viona jadi kasihan sama suaminya. Perlahan Viona memegang bahu Vino.


"Vino......"


"Viona? Apa kamu masih ingin berpisah dariku? Lihatlah Mama jadi kritis seperti ini saat mendengar kita akan berpisah," ucap Vino yang semakin terisak.


Viona selama ini diperlakukan baik oleh Mama Vera layaknya seorang anak kandung.


"Mungkin perlahan-lahan aku harus membuka hatiku untuk Vino," ucap Viona dalam hati.


Viona lalu mengambil keputusan yang menurutnya tepat. Karena bagaimanapun juga anaknya selamanya akan butuh ayahnya.


"Viona, jawab aku... Apa kamu juga akan meninggalkan aku?" tanya Vino yang penuh harap istrinya itu berkata tidak.


"Aku tidak akan pernah meninggalkan kamu Vino. Kita tidak akan berpisah," ucap Viona penuh dengan keyakinan.


Vino matanya terbelalak saat mendengar perkataan Viona. Apakah dirinya sedang mimpi sehingga Viona berkata seperti itu.


"Apa itu artinya kamu mengurungkan niat kamu untuk bercerai dariku?" tanya Vino penasaran.


Viona mengangguk pelan.


"Aku sudah memutuskan untuk tidak bercerai darimu. Bagaimanapun juga Rio butuh kasih sayang dari Papanya dan aku tidak mau jika Rio sampai kekurangan kasih sayang."


Vino lega Viona tidak jadi menggugat cerai dirinya.


"Makasih sayang," ucap Vino yang lalu memeluk istrinya.


"Sama-sama Vino. Maaf, jika selama ini sikapku egois terhadap kamu."


"Tidak apa-apa sayang, aku juga mengerti kok. Memang salahku dimasa lalu yang membuatmu jadi seperti itu," ucap Vino sambil melepaskan pelukannya.


Viona tersenyum tipis saat ini. Vino bahagia bisa melihat senyuman Viona lagi dan sudah sejak lama Vino tidak melihatnya. Tak lama kemudian Mama Vera sadar dari kritisnya.


"Vino, Mama sadar," ucap Viona matanya berbinar-binar.


"Mama....." Vino menoleh dan mendekati sang ibu.

__ADS_1


"Mama bahagia kamu bisa akur lagi sama Viona. Berjanjilah sama Mama kalian tidak akan berpisah nak."


"Mama tenang saja, Viona dan Vino tidak akan berpisah karena sudah ada Rio di antara kami berdua," ucap Viona.


"Mama lega nak. Mungkin Mama bisa pergi dengan tenang setelah ini."


"Mama jangan berbicara seperti itu. Apa Mama tidak mau melihat Rio punya adik?" ucap Vino sambil melirik ke arah Viona.


Viona melongo saat suaminya berbicara seperti itu. Kata adik seperti kode untuk ingin punya anak lagi.


"Benarkan sayang? Kita akan berikan adik untuk Rio?" ucap Vino dengan nada memohon.


Viona tahu jika sekarang mertuanya butuh semangat untuk hidup makanya Vino berbicara seperti itu.


"Ah, iya benar. Mama harus melihat adik Rio sampai lahir nanti," jawab Viona.


"Apakah kalian benar-benar akan memberikan cucu lagi untuk Mama. Kalian tidak bohong kan sama Mama?" tanya Mama Vera.


"Asalkan Mama sembuh kita akan berikan Mama cucu lagi," jawab Vino.


"Mama akan semangat untuk sembuh nak. Dan Mama akan tagih janji kalian untuk berikan Mama cucu lagi."


"Viona, kamu sanggup untuk berikan Mama cucu lagi kan nak?" ucap Mama Vera kembali.


Viona tersenyum kecut saat ini. Dia tadi hanya memberikan semangat hidup untuk mertuanya. Namun pada akhirnya ditagih cucu beneran.


"Viona apakah kamu hanya ingin memberi harapan palsu saja sama Mama nak. Kalian ternyata berbohong sama Mama," ucap Mama Vera sambil memegang dadanya yang mulai terasa sakit.


"Mungkin inilah saatnya aku memperbaiki hubunganku dengan Vino." Batin Viona.


"Tidak Mama kita janji akan berikan Mama cucu lagi jika Mama sembuh. Semangat Mama Vera," ucap Viona.


Mama Vera lega dan sakitnya jadi tidak terasa jika anak dan menantunya bisa bersama dan bahkan janji akan memberikannya cucu lagi.


...*****...


Dua hari kemudian. Mama Vera sudah dibolehkan untuk pulang ke rumah. Mama Vera akan menagih janjinya.


"Nak, malam ini Mama ingin tidur sama Rio. Kalian bisa berduaan semalaman."


Viona terkejut saat Mamanya berbicara seperti itu.


"Ini Mama," ucap Vino sambil menyerahkan anaknya.


Rio bahagia bersama Neneknya. Bayi berusia 7 bulan tersebut tertawa lepas saat digendong Neneknya.


"Nak, Mama tunggu loh cucu keduanya."


"Siap Mama, akan segera launching cucu Mama."


Viona hanya diam saja mendengar interaksi antara ibu dan anak tersebut.

__ADS_1


"Sayang, ayo kita ke kamar," ajak Vino.


Melihat istrinya melamun dengan cepat Vino menggendong Viona ala bridal style. Viona terkejut saat suaminya tiba-tiba menggendongnya.


"Vino, turunkan aku!" perintah Viona kepada suaminya.


"Tidak akan aku turunkan sebelum sampai di kamar kita."


Viona tidak bisa turun dari gendongan suaminya.


"Apa malam ini benar-benar akan terjadi seperti waktu itu?" Batin Viona.


Tak sadar bahwa mereka kini sudah sampai di kamar. Vino mengunci pintu kamarnya dan membuang kuncinya ke sembarang arah agar Viona tidak bisa kabur darinya.


"Sayang, kenapa kamu melamun? Apa kamu sudah tidak sabar ingin melakukannya denganku?" ucap Vino menggoda Viona.


"Eh? Apa yang kamu katakan?" ucap Viona sambil menoleh.


Viona membolakan matanya saat suaminya sudah tidak memakai kaos dan hanya tinggal memakai celana pendek saja. Viona memalingkan wajahnya ke arah lain. Vino mendekati istrinya, Viona pun berjalan mundur sampai terbentur tembok karena tubuhnya tidak ada jarak lagi untuk mundur.


"Sayang, kamu jangan takut. Bukankah ini bukan pertama kalinya untukmu?"


"Vino jangan bahas masa lalu."


"Viona sayang, aku tahu kamu masih mencintaiku," ucap Vino sambil menggenggam tangan Viona dan mengecupnya perlahan.


"Sikapnya manis sekali." Batin Viona.


"Viona, katakan yang sejujurnya saja. Kamu masih mencintai kan?" ucap Vino memegang kedua pipi Viona.


Pandangan mereka saling terkunci. Vino yakin kalau Viona masih mencintainya.


"Mungkin ini saatnya aku mengaku bahwa aku memang masih mencintainya." Batin Viona.


"Aku masih mencintaimu Vino Jullian," lirihnya.


Vino tersenyum bahagia akhirnya istrinya mengatakan bahwa masih mencintainya.


"Aku juga mencintaimu sayang. Makasih telah


"Sayang, ayo kita buatkan pesanan Mama," ajak Vino.


"Tapi Vino....."


"Kita sudah janji sama Mama dan itu merupakan nazar yang harus dilaksanakan."


Sejak menikah mereka belum melaksanakan kewajibannya sebagai suami istri. Karena Rio sebagai alasan utamanya. Rio sering menangis saat malam hari. Sekarang Rio sedang bersama Neneknya jadi Viona tidak bisa menjadikan Rio sebagai alasannya.


"Viona, lakukan tugasmu sebagai istri malam ini," bisik Vino.


"Baiklah," ucap Viona sambil tersenyum tipis.

__ADS_1


Viona tidak bisa menghindar lagi dari Vino malam ini. Akhirnya mereka melakukannya atas dasar saling mencintai. Bersama Vino merupakan salah satu cara untuk membuat Rio memiliki keluarga seutuhnya. Lagian Viona tidak bisa melupakan Vino dan sudah berusaha berkali-kali untuk melupakannya namun tetap saja tidak bisa.


__ADS_2