
Setelah makan jeruk Risa menguap. Matanya sudah mulai memerah karena rasa kantuknya datang.
"Kamu sudah ngantuk ya sayang?" ucapnya sambil mengelus pucuk rambut Risa pelan.
"Iya sayang, padahal aku tadi baru saja sadar ya. Entah kenapa aku udah ngantuk lagi."
"Itu mungkin bawaan bayi kita sayang," ucapnya tersenyum lalu mengecup perut Risa.
"Anak Daddy udah ngantuk ya sayang? Uhh Daddy jadi gak sabar nungguin kamu lahir ke dunia, kamu sehat-sehat di dalam perut Mommy ya sayang. Daddy dan Mommy akan menunggumu," ucapnya sambil mengusap-usap perut Risa pelan.
Risa lalu berfikir sejenak. Benar apa yang dikatakan Rey, mungkin bawaan bayinya. Risa bersyukur Rey perhatian dengannya dan juga bayinya. Ia berharap tidak akan ada lagi perempuan yang merusak rumah tangganya. Cukup Luna saja, kemarin ia hampir saja kehilangan bayinya.
"Ya sudah kamu tidur duluan sayang. Kalau kamu sudah tidur aku akan tidur di sofa," ucapnya sambil mengecup kening istrinya dan menunjuk ke arah sofa.
Risa hanya mengangguk dan mulai tertidur terbawa ke alam mimpinya. Karena ruang rawat Risa VVIP jadi ada Sofa, TV, AC dan Kamar Mandi. Rey lalu menuju ke arah sofa ketika Risa sudah tidur.
Sinar matahari pagi sudah masuk ke ruang rawat Risa. Ia mengerjapkan matanya, Rey membantu Risa untuk berjalan ke kamar mandi, Rey menuntun Risa masuk ke dalam kamar mandi. Seketika Risa merasakan mual.
"Hooeeekkkk.... Hooooeeeeekkkkk......"
Risa memuntahkan semua isi yang di dalam perutnya ke wastafel. Semua makanan yang ia makan semalam ia muntah-kan. Rey langsung membenarkan anak rambut yang menutupi wajahnya dan memijit belakang lehernya. Seketika badan Risa menjadi lemas karena semua isi di perutnya sudah ia muntah-kan.
"Sayang, aku mau buang air kecil."
"Ya sudah aku tunggu disini ya? Kalau ada apa-apa panggil aku," ucap Rey yang masih berdiri di depan wastafel.
Risa hanya mengangguk dan lalu masuk ke dalam kamar mandi. Setelah selesai, Risa langsung berjalan mendekati Rey. Badannya masih terasa lemas. Seketika rasa mualnya muncul kembali.
"Hooeeekkkkk....."
"Sayang kamu mual lagi? Aku panggilkan dokter ya?" ucapnya yang sudah mulai khawatir.
"Gak usah sayang, ini udah biasa kok."
"Tapi kamu terlihat pucat sekali."
"Aku udah gak apa-apa kok. Yuk bantu aku ke kamar lagi," ucapnya menggandeng tangan suaminya dan Rey lalu menuntun istrinya.
"Sayang kamu minum teh hangat dulu nih," sambil memberikannya kepada istrinya dan Risa langsung meminumnya.
"Sayang, kamu mau makan apa? Makanan Rumah Sakit pasti kamu tidak suka kan?" ucapnya.
"Aku lagi pengen memakan ayam teriyaki buatan Mama Angel," ucapnya dengan penuh harap.
"Wah kamu lagi ngidam ya sayang? Anak kita pengen memakan masakannya Oma ya," ucapnya sambil mengelus perut Risa pelan.
"Yes Daddy," Risa menirukan ucapan anak kecil.
"Aku telepon Mama Angel dulu ya sayang," ucapnya sambil menekan tombol hijau menelepon Mama mertuanya.
"Tutt.... tuttt... tuttt....." suara telepon tersambung.
"Hallo nak Rey, ini Mama sudah mau siap-siap berangkat untuk menjenguk Risa, tapi Mama sedang mau sarapan terlebih dahulu."
"Oh iya Ma. Risa sedang ngidam pengen makan ayam teriyaki buatan Mama. Mama Angel bisa buatkan untuk Risa sebelum ke Rumah Sakit?"
__ADS_1
"Bisa sayang, kebetulan sekali tadi Bi Ika habis beli daging ayam. Ya sudah setelah sarapan Mama akan buatkan ayam teriyaki kesukaan Risa."
"Baik Ma, terima kasih."
"Sama-sama nak."
"Sayang sabar ya, lagi dibuatkan ayam teriyaki nya sama Mama."
"Iya say," ucapnya singkat sambil menarik selimutnya sampai ke perutnya.
Setelah Risa makan ayam teriyaki buatan Mamanya. Rey pamit untuk pulang terlebih dahulu. Ia akan mandi di rumah lalu menjemput Luna.
"Sayang, aku pulang dulu ya? Mau mandi terus mau urus agar Evan mau bertanggung jawab dan menikahi Luna," ucapnya sambil membenarkan anak rambut Risa.
"Iya sayang kamu hati-hati ya?"
"Iya sayang," ucapnya sambil mengecup kening istrinya pelan."
Rey lalu berpamitan dengan kedua mertuanya, disitu ada Karin dan Yudha juga.
"Wah makin deket aja bro! Pepet terus sampai dapat," ucapnya lalu menepuk pundak Yudha.
Yudha hanya tersenyum, sedangkan Karin tersipu malu mendengar perkataan Rey.
...*****...
Rey sudah sampai rumahnya.
"Sayang Mama Angel apakah sudah datang?"
"Maksudnya?"
"Selain sama suaminya. Mama Angel menjenguk Risa dengan Karin dan Yudha."
"Alhamdulillah mereka semakin dekat. Papi kasihan sama Karin yang ditolak perjodohannya dengan Dion. Padahal kan Karin juga tidak suka dengan Dion," ucap Papi Aldi.
"Iya Pi, semoga saja jodoh Karin beneran Kak Yudha. Aku juga lebih setuju dengan Kak Yudha dari pada dengan Dion. Ya sudah Rey pamit dulu ya Mi, Pi." sambil mencium punggung tangan orang tuanya.
"Hati-hati ya nak. Papi sudah siapkan pengawal yang akan mengawasi kamu dari jauh."
"Baik Pi, terima kasih." Rey lalu keluar menaiki mobilnya.
Semenjak kuliah dan bekerja, Rey sudah tidak diantar jemput oleh Mang Ujang sopirnya dari kecil. Sekarang Mang Ujang tugasnya hanya mengantar Maminya kemana-pun ia pergi.
...*****...
Rey sudah sampai di depan halaman rumah Luna. Luna langsung keluar rumah dengan cepat.
"Ayo sudah siap?"
"Sudah Rey. Aku deg-degan saat mau bertemu dengan Evan. Seketika anakku terus menendang-nendang di dalam perutku."
"Mungkin anak kamu sudah tidak sabar untuk bertemu Papanya," ucapnya dengan senyuman.
"Makasih ya Rey. Maaf atas sikapku kemarin. Aku terlalu jahat dengan keluargamu."
__ADS_1
"Sudahlah jangan terlalu dipikirkan. Yang berlalu biarlah berlalu. Sekarang kamu harus fokus kepada anak kamu dan juga Evan. Aku akan meminta Evan agar segera menikahimu. Kamu yang tenang saja ya?"
"Makasih Rey, sungguh kamu berhati mulia. Kamu pantas bersanding dengan Risa wanita baik yang hatinya seperti malaikat."
Rey hanya mengangguk.
...*****...
Tak terasa mereka sudah sampai di rumah kediaman Keluarga Pratama.
"Aku takut kalau Evan marah karena aku datang Rey."
"Kamu gak usah takut."
Luna langsung berjalan di belakang Rey.
"Assalamualaikum," ucap Rey.
"Wa'alaikum Salam silahkan masuk nak," ucap Ferdinan yang membukakan pintunya.
Ferdinan merasa kasihan dengan keadaan Luna yang sepertinya kurang gizi. Ferdinan senang saat ia melihat perut Luna yang sudah kelihatan membesar, sebentar lagi ia akan punya cucu. Rey masuk ke rumah Keluarga Pratama untuk pertama kalinya. Luna ikut masuk dan duduk di samping Rey.
"Evan mana Om?"
"Sebentar ya Om panggilkan."
Belum juga Ferdinan beranjak dari kursinya, Evan sudah datang.
"Mau apa kamu kemari? Bukankah kita sudah selesai? Kamu sendiri kan yang mau merawat anakmu? Aku sudah sarankan waktu itu agar kamu mau menggugurkan kandungan kamu. Tapi kamu tidak mau."
Rey yang mendengar kata itu keluar dari mulut Evan, Rey lalu membogem perut Evan.
"Kenapa kamu ikut campur dalam masalahku?"
"Aku tidak ikut campur, aku hanya ingin kamu bertanggung jawab atas apa yang kamu lakukan dengan Kak Luna. Kamu jadi laki-laki jangan pengecut dong! Ingat Evan ada anak yang harus kamu perhatikan. Dia butuh Papanya."
"Itu bukan urusanku. Nanti kalau anak itu lahir aku akan memberikan Luna uang."
"Apa kamu tidak berpikir bahwa bagaimana saat malam hari Kak Luna sedang ngidam? Ia harus mencari sendiri malam-malam. Sedangkan kandungannya kini sudah 5 bulan. Apa kamu tidak kasihan melihat ibu hamil yang perutnya sudah mulai membesar berjalan sendiri menaiki mobil dan mencari makanan yang ia ingin makan?"
Seketika hati Evan tersentuh saat ia juga pernah ngidam martabak manis di malam hari.
"Lalu apa maumu datang kemari?" tanya Evan dengan Rey.
"Aku ingin kamu segera menikahinya. Anakmu butuh ayahnya. Kalau kamu tidak sayang kepada ibunya. Anggap saja kamu memberikan kasih sayang terhadap anak kamu selama masih dalam kandungan ibunya. Sebentar lagi anak kamu lahir Evan, 4 bulan lagi kamu akan menjadi seorang ayah. Kak Luna kamu kemarilah," ucap Rey panjang lebar.
Luna lalu berjalan mendekati Evan dan Rey. Rey lalu meraih tangan kanan Evan untuk menyentuh perut Luna. Seketika anaknya menendang-nendang saat tangan Evan mulai menyentuh perut Luna. Evan langsung tersentuh hatinya saat merasakan anaknya begitu aktif menendang-nendang di dalam perut Luna. Luna bahagia akhirnya ngidamnya terkabul, perutnya bisa di elus-elus Evan. Evan cukup lama mengelus perutnya. Ada rasa bahagia di wajah Luna.
"Baiklah. Aku akan menikahinya minggu depan," ucapnya dengan mantap.
"Bayinya menendang-nendang lagi," Evan lalu mengelus perut Luna dengan tangannya kembali ada rasa bahagia saat ia direspon oleh anaknya.
"Iya dia jadi begitu aktif dan sepertinya dia kangen kamu Evan. Kangen sama Papanya," ucap Luna dengan senyuman.
"Benarkah?" tanyanya dengan serius lalu senyum mengembang di wajahnya.
__ADS_1
Luna hanya mengangguk. Papa Ferdinan dan Rey saling memandang dan lalu tersenyum. Mereka bahagia bisa menyatukan Luna dan Evan.