
Kezia pulang ke apartemennya. Kezia langsung masuk ke kamarnya, Kezia menangis di dalam kamarnya.
"Kenapa aku harus bertemu dengan mereka lagi? Mereka mengingatkan aku untuk kembali mengingat ke masa lalu."
Kezia pernah ditertawakan oleh teman-temannya saat di pelaminan. Karena pada akhirnya Kezia menikah dengan Revano tidak dengan Reno. Kezia malu sekali waktu itu. Temannya mengatakan bahwa bertunangannya sama siapa, eh nikahnya sama siapa. Revano juga dituduh menikung Kakaknya sendiri. Karena berani-beraninya menikahi tunangan dari Kakaknya. Revano juga diledekin oleh teman-temannya. Saat itu kedua keluarga tidak mau menanggung malu dan Daddy Rey sempat sakit jantungnya kumat. Tak ingin terjadi apa-apa dengan Rey, maka pernikahan itu tetap dilaksanakan dengan Revano yang menggantikan sebagai mempelai prianya.
"Andai waktu bisa di ulang kembali. Aku hanya ingin bertunangan dengan Revano saja."
Kezia sambil menatap bingkai foto pernikahannya.
"Revano cepatlah pulang. Apakah kamu tidak merindukan aku? Apa kamu tidak tahu bahwa kita akan segera punya anak," ucapnya sambil memegang perutnya.
Tak terasa air matanya menetes membasahi pipinya. Kezia tidak tahu harus bagaimana lagi. Papanya juga belum bisa menemukan Revano sampai sekarang.
"Aku berjanji tidak akan berperilaku buruk padamu lagi. Karena aku kini telah mencintaimu."
Kezia semakin sedih disaat dirinya saat sedang hamil tanpa ditemani oleh suaminya. Kezia ingin seperti ibu hamil lainnya yang selalu ditemani oleh suaminya.
"Aku merindukanmu. Kumohon pulanglah," ucapnya sambil memeluk bantal yang biasa Revano gunakan.
Kezia baru ingat bahwa belum meminum vitaminnya. Kezia lalu menghapus air matanya dan mengambil vitaminnya dari dalam tasnya. Kezia lega telah meminum vitaminnya dan lalu meraih segelas air putih yang ada di meja.
"Aku tidak boleh bersedih. Nanti yang ada anakku juga akan sedih." Kezia teringat dengan perkataan Mamanya waktu itu.
...*****...
Reno masih di rumah sakit dengan Sandra. Dokter sedang memeriksa kandungan Sandra.
"Bagaimana Dok apakah jenis kelaminnya sudah terlihat? Soalnya bulan lalu belum terlihat."
"Sebentar ya, ini sedang saya lakukan pemeriksaan."
Dokter lalu tersenyum saat melihat ke arah layar monitor.
"Sudah bisa terlihat jenis kelamin bayinya. Selamat ya jagoan kalian akan segera hadir."
"Apa? Anak saya berjenis kelamin laki-laki dok?" Matanya berbinar-binar.
"Iya benar."
Dokter lalu menjelaskan yang ada di layar monitor tersebut bahwa bayi yang sedang dikandung Sandra berjenis kelamin laki-laki. Sandra terharu akan memiliki anak laki-laki. Pantas saja tendangannya kuat. Padahal baru hamil 6 bulan lebih 3 hari. Sandra begitu bahagia melihat suaminya senang akan memiliki anak laki-laki.
"Ini saya berikan resep vitaminnya dan nanti di tebus di depan ya."
"Baik dok."
"Adakah yang mau ditanyakan lagi?"
"Boleh tidak dok kalau melakukan..." Reno ragu mau bertanya dan akhirnya tidak meneruskan perkataannya.
"Tidak jadi Dokter."
__ADS_1
Dokter itu lalu tersenyum dan mengerti apa yang dimaksud dari suami dari pasien.
"Masnya sepertinya sudah tidak sabar ya?" ucap sang Dokter itu terkekeh.
"Eh? Saya kan tadi tidak jadi bertanya. Tapi kok Dokter tahu apa yang ingin saya tanyakan."
"Saya sudah menjadi Dokter sejak lama. Banyak juga yang bertanya seperti itu."
Reno lalu malu sendiri. Sandra mencubit perut suaminya.
"Kok dicubit sih honey?"
"Habis kamu bertanya aneh-aneh."
Dokter hanya geleng-geleng dengan kedua suami istri tersebut. Dokter lalu menjelaskan bahwa boleh melakukan tapi harus dengan hati-hati. Reno bahagia akhirnya dibolehkan oleh Dokter untuk melakukannya. Sedangkan Sandra terkejut dengan perkataan Dokter kandungan tersebut.
"Kalau begitu kita permisi dulu dok."
Dokter tersebut menggangguk. Reno sudah menebus vitaminnya. Reno dan Sandra kini sudah di dalam mobil.
"Honey, kita langsung pulang saja ya."
"Kok langsung pulang sih hubby?"
"Kamu masih ingat kan perkataan Dokter tadi?"
"Hmm iya..." Jawabnya singkat sambil mengangguk.
"Hah apa?? Tapi kan aku sedang hamil hubby. Lihatlah bahkan perutku sudah mulai membesar." Sambil memegang perutnya.
"Tidak ada salahnya kan kita untuk mencobanya honey."
Sandra hanya terdiam. Sandra bergerdik ngeri sendiri akan melakukan hal itu saat sedang hamil. Sandra juga bingung kenapa Dokter mengizinkannya dan katanya ada segi positifnya juga. Sandra hanya geleng-geleng kepala tidak tahu harus gimana lagi. Jika menolak ajakan suaminya juga akan mendapatkan dosa.
...*****...
Tak terasa waktu begitu cepat berlalu saat ini kandungan Kezia sudah berjalan 5 bulan. Kezia bahagia anaknya tumbuh dengan sehat di dalam perutnya. Sedangkan usia kandungan Sandra sudah mau jalan 7 bulan. Mereka akan mengadakan acara 7 bulanan besok 2 hari lagi. Kezia juga diundang ke acara tujuh bulanan Sandra. Kezia bingung akan datang atau tidak.
Sonya datang pagi-pagi karena Kezia ingin dimasakin ayam bakar buatan Sonya. Kezia sedang ngidam ingin makan ayam bakar pagi ini. Sekarang Sonya sedang di dapur membuatkan ayam bakar pesanan anaknya. Kezia masih di dalam kamarnya. Keano sedang menonton TV.
"Nak, sebentar lagi kita akan makan ayam bakarnya. Sabar ya sayang, sebentar lagi akan matang ayam bakarnya," ucap Kezia sambil mengelus perutnya yang sudah mulai membesar.
Kezia bahagia perutnya semakin bertambahnya bulan semakin membesar. Jadi 4 bulanan lagi akan segera bertemu dengan sang buah hatinya. Pagi hari ini Kezia dikejutkan dengan tendangan kecil anaknya dari dalam perutnya.
"Auwww Perutku...... Ma... Mama....." Kezia berteriak dari dalam kamarnya sambil memejamkan matanya.
Tak lama kemudian anaknya berhenti menendang-nendang dalam perutnya.
"Nak, kamu sudah mulai bisa bergerak di dalam perut Mama. Wah, Mama bahagia sekali nak." Kezia menunduk sambil memegang perutnya sebentar. Kezia meneteskan air mata bahagianya hari ini bisa merasakan tendangan anaknya pertama kali dari dalam perutnya.
Keano berjalan mendekati Mama Sonya.
__ADS_1
"Mama... Kak Kezia sepertinya sakit perutnya."
"Iya Mama kesana nak."
Untung saja Sonya sudah selesai masak ayam bakarnya dan tinggal di taruh di piring.
Sonya segera ke kamar anaknya dan mendekati Kezia.
"Sayang, kamu kenapa? Apa perutmu sakit nak? Ayo kita ke rumah sakit sekarang ya nak."
"Aku tidak apa-apa Mama... Mana tangan Mama."
Kezia menarik tangan Sonya dan lalu meletakkan ke perutnya. Sonya merasakan adanya tendangan kecil dari cucunya.
"Dia sudah mulai bisa bergerak nak?" Matanya mulai berkaca-kaca.
"Iya Mama. Tadi aku berteriak memanggil Mama karena aku kaget bayiku sudah mulai bergerak-gerak dalam perutku."
"Kakak, bolehkah aku menyapa keponakanku?"
"Boleh saja adikku. Biar kamu juga nanti bisa merasakannya juga saat istrimu hamil."
Keano lalu meletakkan tangannya ke perut Kezia.
"Hallo baby, cepat keluar ya! Aku ingin mengajakmu bermain. Aku juga ingin adu mulut sama kamu jika kamu sudah besar nanti. Pasti kamu cerewetnya seperti Mama kamu."
Kezia menoyor kepala adiknya.
"Keano, kalau bicara sama anakku jangan sembarangan!"
"Kakak memang cerewet kan? Pasti anak Kakak juga akan cerewet juga. Kan biasanya buah jatuh tidak jauh dari pohonnya."
"Sudah-sudah kalian jangan bertengkar nak. Ayo kita makan ayam bakarnya sekarang. Nanti keburu dingin."
"Iya Mama. Aku juga sudah tidak sabar ingin memakannya. Anakku sejak tadi ingin memakan ayam bakar," ucap Kezia dengan senyuman.
"Aku yakin anak Kak Kezia nanti manjanya seperti Revano dan cerewetnya seperti Kak Kezia."
Kezia lalu melemparkan bantal kepada adiknya. Sedangkan Keano hanya terkekeh dan berdoa semoga ucapnya benar. Keano tidak sabar ingin melihat keponakannya lahir. Pasti akan sangat menggemaskan karena Kakaknya cantik dan Revano juga mukanya masih imut. Keano yakin keponakannya pasti akan lucu mirip keduanya.
Jangan lupa tinggalkan like 👍 rate 5 🌟 and biar author tambah semangat 🆙
tambahkan ke favorit biar saat 🆙 ada pemberitahuannya 🙂
Jangan lupa berikan hadiah dan vote. Terima kasih ❤️
Yuk baca juga novel terbaru author ❤️
__ADS_1