Dijodohkan Dengan Cowok Manja

Dijodohkan Dengan Cowok Manja
BAB 75 - Mimpi Buruk


__ADS_3

DI KAMAR EVAN


Evan membantu Luna untuk berbaring di ranjangnya.


"Kamu tidur disini dan aku akan tidur di sofa," ucapnya sambil menunjuk ke arah sofa di kamarnya.


"Tapi kan ini kamarmu. Seharusnya aku yang tidur di sofa."


"Kamu sedang hamil anakku. Nanti punggung kami sakit kalau kamu tidur di sofa. Sudah malam, tidurlah tidak baik untuk ibu hamil malam-malam begini belum juga tidur," ucapnya sambil menaikkan selimut sampai ke perut Luna.


"Kamu beneran mau tidur di sofa? Mengapa tidak disini saja bersamaku?" tanyanya.


"Kita belum menikah. Meskipun kita pernah tidur seranjang di malam kesalahan itu saat aku dalam keadaan setengah sadar. Tapi aku akan tidur denganmu nanti setelah kita menikah," ucap Evan menjelaskan dan lalu tersenyum.


"Selamat malam dan selamat tidur," ucap Evan lalu berjalan menuju sofa.


"Iya malam dan selamat tidur juga."


Mereka lalu terlelap kedalam mimpinya masing-masing. Malam hari Luna bermimpi buruk.


"Tidak......."


Evan terkejut mendengar teriakan Luna dan langsung menghampiri Luna memberikannya air putih. Luna langsung meminumnya.


"Kamu mimpi buruk?" tanyanya.


"Iya, aku mimpi buruk. Di mimpiku Papa tetap memaksaku untuk meminum obat penggugur kandungan itu hiks.. hiks.. hiks..."


"Sudah itu hanya bunga tidur," ucap Evan sambil mengelus pucuk rambut Luna berusaha untuk menenangkannya.


"Tapi mimpi itu seperti nyata. Aku tidak mau kehilangan anak kita Evan," ucapnya sambil mengelus perutnya yang sudah membuncit.


"Tidak akan aku biarkan Papa menyakitimu dan menyakiti anak kita." Evan ikut memegang perut Luna kali ini anaknya begitu anteng di dalam perutnya.


Luna lalu menatap wajah Evan dan tidak ada kebohongan dari matanya.

__ADS_1


"Benarkah?"


"Kamu tenang saja ya. Semua akan baik-baik saja dan bahkan Papamu juga sudah merestui hubungan kita," ucapnya kembali.


Luna mengangguk dan lalu memeluk Evan dengan erat dan Evan lalu membalas pelukannya. Luna merasa tenang setelah memeluk Evan. Sesudah Luna tenang Evan kembali menyelimuti Luna dan berjalan menuju sofanya. Mereka akhirnya kembali tertidur di tempatnya masing-masing.


...*****...


DI KAMAR DEAN DAN LOVA


Sera masih tidur sendirian setelah menikah dengan Dean. Dean lebih memilih untuk tidur dengan Lova.


"Tidak mungkin.........."


Lova terbangun dari tidurnya. Dean kaget dan ikut terbangun juga. Lova bermimpi tentang Dean akan memiliki anak dari Sera.


"Beb, kamu mimpi buruk?" tanya Dean.


"Iya aku mimpi buruk."


"Kamu mimpi apa?" tanya Dean penasaran.


Mimpi Lova memang benar saat ini Sera memang sedang mengandung tapi anaknya bukan hasil dari pernikahannya melainkan dari hasil perbuatannya dengan pacarnya.


"Beb, mimpimu itu hanya bunga tidur saja. Lihat aku beb, mana mungkin tega aku mengkhianatimu dan memiliki anak darinya. Lagian aku menikahinya karena keinginan Papa dan Papanya Sera," ucapnya sambil memegang kedua pipinya.


"Kamu tenang saja. Bahkan aku belum pernah tidur sekamar kan dengannya? Aku selalu tidur bersamamu dan anak kita," ucapnya sambil mengelus perut Lova.


"Tapi bagaimana kalau sampai itu terjadi?" Bagaimanapun juga kalian pasti akan tidur bersama. Papa kamu atau Papanya Sera pasti akan memaksa kamu untuk tidur di bersamanya," ucap Lova cemas.


"Tenang saja beb, aku tidak akan melakukan apa-apa dengannya. Percayalah kepadaku."


"Aku percaya denganmu. Tapi aku tidak percaya dengan Sera. Bahkan dia mau saja menjadi istri keduamu. Sebagai perempuan kan biasanya tidak mau untuk dijadikan yang kedua. Aku pun juga begitu."


"Aku akan selalu memprioritaskan kamu dari pada dia."

__ADS_1


"Kalau itu sampai benar terjadi dan Sera sampai hamil. Aku akan pergi dari rumah ini."


"Tidak akan pernah terjadi. Aku menikahinya hanya karena pernikahan bisnis ini. Yaudah kita tidur lagi aja yuk beb."


Lova terus mengangguk. Dean lalu menyelimuti Lova lalu mengecup keningnya dan memeluknya. Mereka akhirnya terlelap kembali dalam mimpinya masing-masing.


Pagi hari Sera ingin tinggal di rumahnya bersama Papanya. Sera tidak kuat jika harus menjalankan pernikahan seperti ini, meskipun pernikahan yang bersifat sementara karena setelah anaknya lahir dia akan menggugat cerai Dean dan mengambil semua hartanya. Sera selalu tidur sendirian setiap malamnya. Punya suami tapi seperti tak punya suami pikirnya. Saat mereka sedang sarapan pagi bersama di ruang makan Sera memecahkan keheningan yang ada di ruang makan.


"Pa, Sera ingin pulang saja ke rumah. Disini Sera seperti tak dianggap sebagai istri. Masa pengantin baru tapi belum pernah tidur dengan suaminya sendiri?" ucapnya dengan mengadu ke Papanya Dean.


Papanya langsung menatap tajam ke arah Dean.


"Benar-benar keterlaluan kamu Dean. Harusnya kamu tidur dengan Sera."


"Tapi kan Pa....."


"Tidak ada tapi-tapian. Mulai nanti malam kamu harus tidur dengan Sera. Bagaimanapun juga dia istrimu yang sah secara agama dan hukum."


"Lova, kamu seharusnya juga paham kalau Dean sekarang memiliki dua istri. Kalian harus saling berbagi suami."


"Apa katanya berbagi suami? Rasanya aku ingin bercerai saja kalau tidak sedang mengandung cucunya. Sampai kapan pernikahan mereka akan berakhir? Atau justru pernikahanku dengan Dean yang harus berakhir?" batin Lova sambil tangan kirinya memegang perutnya dan mengusapnya perlahan.


Lova sedih harus menjalani kehidupan rumah tangganya yang begitu rumit.


"Saya tetap mau pulang ke rumah saja Pa. Papa saya juga pasti merasa kesepian karena cuma ada Bibi di rumah," ucap Sera beralasan karena akan segera melancarkan aksinya malam ini.


"Ok kamu boleh pulang ke rumahmu. Tapi nanti Dean akan menyusulmu dan malam ini Dean akan tidur di rumahmu."


"Saya juga ingin memiliki cucu darimu. Cucu yang akan lahir dari Keluarga Herlambang," ucapnya kembali.


"Itu akan terjadi Pa kalau Dean sudah menyentuhku," ucapnya dengan tersenyum.


Sera tersenyum menyingerai karena tak sabaran ingin melancarkan aksinya dan sebentar lagi akan menguasai harta Keluarga Halim melalui anak yang sedang dikandungnya. Sera tangan kirinya sambil mengusap perutnya yang masih rata.


Dean hanya bisa pasrah jika melawan Sonny Papa Sera, bisa saja Sonny akan mencabut investasi di perusahaannya. Sedangkan Lova raut wajahnya sudah dipastikan sudah tidak tenang. Lova kepikiran dengan mimpinya semalam jika akan menjadi kenyataan.

__ADS_1


"Apa sebenarnya motif Sera yang ingin menjadi istri keduaku? Sampai saat ini aku belum bisa menyelidikinya. Tapi aku akan berusaha untuk segera menyelidikinya." batin Dean.


Lova percaya dengan suaminya, tapi disisi lain Lova takut kalau Sera berbuat macam-macam dengan Dean apalagi Mertuanya ingin memiliki cucu dari Keluarga Herlambang. Lova sekarang khawatir dengan Dean karena Lova tahu betapa liciknya Sera saat iya diam-diam memperhatikan Sera tersenyum menyingerai.


__ADS_2