
Dean dan Lova sudah sampai halaman rumah. Dean mengeryitkan dahinya saat melihat mobil sport terparkir di halaman rumahnya. Dean dan Lova pun sudah turun dari mobilnya.
"Beb, ayo aku pengen lihat kamu bikinin salad buat aku, setelah tadi melihat Rey mengajari kamu," sambil bergelayut manja di lengan Dean.
"Huh anak Papa sudah tidak sabar ya?" ucap Dean sambil mengelus perut Lova.
"Iya Papa," ucapnya seperti anak kecil. Mereka pun tertawa bersama.
"Ayo beb," sambil merangkul pinggang Lova dan masuk ke dalam rumah.
Mereka bahagia dan tertawa namun saat masuk ruang tamu. Dean mematung melihat siapa yang datang. Sera Herlambang orang yang akan dijodohkan dengannya anak dari Sonny Herlambang.
"Sera," ucap Dean.
"Hallo Dean. Aku baru pulang dari London dan langsung kesini. Aku kangen sama kamu," ucapnya sambil memeluk Dean.
Lova menatap tajam ke Dean. Ia ingin tahu siapa perempuan ini.
"Siapa kamu? Tolong lepaskan suamiku," ucap Lova yang menatap tajam ke arah perempuan tersebut.
"Harusnya kau yang melepaskan suamimu untukku. Sebelum menikahi kamu, kita telah dijodohkan ya gak Dean?" ucap Sera sambil melepaskan pelukannya.
Dean hanya terdiam. Lova tak percaya, kalau orang yang dijodohkan dengan suaminya akan datang dan berkata seperti itu.
"Apa mau kamu?" tanya Lova.
"Aku ingin kau kembalikan Dean kepadaku!"
"Tidak bisa, aku sudah menikah dengannya dan aku sedang mengandung anaknya."
"Tidak masalah. Setelah menikah kan bisa cerai."
"PLAKKK.........." Dean menampar pipi Sera.
Lova kaget karena Dean tak pernah semarah ini. Apalagi ia berani main tangan. Lova selalu diperlakukan seperti tuan putri saat pacaran maupun sudah menjadi istrinya.
"Dean apa yang kamu lakukan? Aku ini calon istri kamu!" ucapnya sambil memegang pipinya.
"Apa kamu tidak melihat kalau aku sudah punya istri hah??
"Sebentar lagi aku akan menjadi seorang ayah," ucapnya kembali.
"CUKUPPP..........." Tiba-tiba dua orang datang dari ruang kerja Papanya Dean.
"Jaga sikap kamu Dean!" ucap Papa Andrean.
"Pa, sebenarnya ada apa ini? Mengapa Sera kesini? Bukankah Papa sudah bilang ke keluarga sahabat Papa kalau Dean sudah menikah dengan Lova."
"Papa belum mengatakannya."
"Apa??" Dean kaget begitu juga dengan Lova.
"Beb, kamu masuk kamar duluan ya. Biar aku selesaikan masalah ini. Kamu tenang saja," ucapnya sambil memegang kedua tangannya.
"Baiklah, aku percaya padamu." Lova langsung meninggalkan ruang tamu dan menuju kamarnya.
"Apa sebenarnya mau perempuan itu? Punya motif apa dia sampai begitu ngototnya mau menikah dengan Dean?" batin Lova.
__ADS_1
"Dean, kamu harus menikahi anak saya!"
"Tidak bisa Om, saya sudah punya istri dan sebentar lagi saya akan punya anak. Saya tidak bisa menikahi Sera."
"Bukankah dalam Islam boleh mempunyai 2 istri?" tanyanya dengan nada yang sudah mulai naik.
"Iya tapi, saya tidak mau mengkhianati pernikahan saya dengan istri saya."
"Kamu harus menikahi Sera secepatnya," ucap Papa Andrean.
"Pa, kok Papa malah belain Om Sonny sih? Dean gak mau Pa nikah sama Sera."
"Pokoknya harus mau. Kalau tidak kamu tidak akan dapat warisan dari Papa," ucapnya mengancam.
"Kenapa Papa berubah setelah Om Sonny dan Sera datang?"
"Karena tidak ada pilihan lain nak. Kalau kamu tidak mau menikah dengannya Papa akan rugi Miliaran rupiah. Om Sonny akan berhenti investasi pada perusahaan kita," ucapnya.
Sonny tersenyum kecut melihat Dean yang sudah terpojok dan tidak ada pilihan lain selain menikahi anaknya.
"Kalau kamu tidak mau menikahi Sera, Papa tidak anggap kamu sebagai anak. Kamu akan Papa hapus dari daftar warisan dan Papa akan rugi Miliaran rupiah."
Dean pun bingung dan mengacak-acak rambutnya. Ia bingung disatu sisi ia tidak ingin mengkhianati istrinya tapi disisi lain ia tidak ingin tidak dianggap anak durhaka.
"Baiklah aku sudah putuskan. Aku mau menikahi Sera tapi asalkan aku tidak mau bercerai dari Lova."
"Baiklah Papa setuju. Bagaimana denganmu Sonny?"
"Ya aku setuju, asalkan anakku yang selalu diprioritaskan dalam keluarga ini dibandingkan istri pertamanya, meskipun anakku hanya istri kedua. Tapi kedudukan mereka sama bukan?"
Sera tersenyum senang Dean akan menikahinya.
Setelah kepergian Sera dan Sonny Papa Dean masuk kembali ke dalam ruang kerjanya. Dean yang melihat disampingnya ada Gucci lalu tangannya mengepal dan menghancurkan Gucci tersebut dengan tangannya.
"PRANG..........." Suara Gucci terpecah belah dan berserakan.
Darah segar menetes dari tangannya. Lova yang mendengar suara pecahan lalu turun untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi. Ia melihat suaminya tangannya sudah berlumuran darah. Lova langsung bergegas mengambil kotak P3K dan menghampiri suaminya.
"Beb, kenapa bisa seperti ini? Kamu kenapa sampai bisa emosi seperti ini? Kamu jangan siksa diri kamu beb," ucapnya sambil membersihkan darah di tangan Dean.
"Aku kesal dengan Papa yang memaksaku menikahi Sera. Mau tidak mau aku harus menikahinya," ucap Dean.
Lova sudah mengobati luka suaminya. Ketika kata itu muncul dari bibir suaminya ia pun hatinya terasa sakit.
"Apa kamu bilang kamu mau menikah lagi? Dan dengan perempuan tadi kamu akan menikah?"
"Aku tidak ada pilihan lain beb, Kalau aku tidak menikahinya aku tidak akan dianggap anak sama Papa. Aku tidak dapat warisan dan perusahaan Papa akan rugi Miliaran kalau sampai aku tidak menikahi Sera."
"Aku bukannya menginginkan harta warisan dari Papa bukan. Aku hanya ingin berbakti sebagai anak yang tidak durhaka dan menyelamatkan keluarga kita dari kebangkrutan," ucapnya kembali.
"Aku tidak sanggup menjalani pernikahan kita bila harus seperti ini."
Seketika Lova pun berjalan mundur meninggalkan Dean. Ia tak sanggup melihat suaminya menikah dengan wanita lain. Dean lalu mengejar Lova ke kamarnya.
"Ceklek..." pintu kamar terbuka.
Lova masih terisak-isak.
__ADS_1
"Beb, aku janji akan menikahinya saja. Tidak lebih, karena aku hanya mencintaimu," ucapnya sambil memegang kedua tangannya.
"Aku tidak mau di madu Dean, lebih baik kita bercerai saja!" ancamnya kepada Dean.
Dean yang mendengar kata cerai pun tidak sanggup kalau harus kehilangan Lova, satu-satunya perempuan yang dicintainya.
"Aku tidak mau berpisah denganmu beb. Jangan pernah berkata cerai lagi denganku. Istri yang sedang hamil tidak boleh untuk diceraikan," ucapnya sambil memeluk Lova.
Lova berusaha melepaskan pelukannya namun Dean semakin mengeratkan pelukannya.
"Baiklah kalau begitu ceraikan aku disaat anakku sudah lahir."
"Ti...Tidak... Aku tetap tidak ingin bercerai darimu. Aku sangat mencintaimu. Kamu satu-satunya wanita yang aku cintai."
"Baiklah tapi ada syaratnya kalau kamu tidak mau bercerai dariku."
"Apapun syaratnya pasti akan kulakukan beb," ucapnya sambil melepaskan pelukannya dan menatap wajah istri cantiknya.
"Kamu hanya boleh menikahinya. Kamu tidak boleh menyentuhnya, apalagi kalau Sera sampai hamil. Aku akan benar-benar pergi dari kehidupanmu dan aku akan menggugat cerai kamu setelah anakku sudah lahir."
"Baiklah aku akan berjanji kalau aku tidak akan menyentuhnya, apalagi sampai membuatnya hamil."
"Aku pegang janji kamu, tapi kalau benar-benar Sera hamil aku tidak akan pernah memaafkanmu karena kamu telah mengkhianati kepercayaanku. Aku akan membesarkan anakku sendiri."
"Beb, percayalah padaku. Aku tidak mungkin melakukannya. Karena aku hanya cinta sama kamu."
"Kita lihat saja nanti, apakah aku akan bisa mempertahankan pernikahan kita itu tergantung tindakanmu."
Sebulan telah berlalu Dean dan Sera sekarang sudah resmi menjadi suami istri. Dean dan Sera sudah berada dalam satu kamar. Ia telah membersihkan dirinya masing-masing.
"Sayang, akhirnya kita bisa menikah juga," ucapnya sambil bergelayut manja di lengan kekar suaminya.
Dean pun risih dengan sikap Sera. Ia lalu melepaskan tangan Sera dan pergi menuju kamar Lova.
"Loh beb, kok kamu kesini? Bukannya kamu tadi disuruh Papa untuk ke kamar Sera?" ucapnya sambil mengelus perutnya yang kini sudah mulai membuncit. Kehamilan Lova kini sudah berjalan 18 minggu.
"Aku sedang kangen anakku," ucap Dean sambil berbicara didepan perutnya seolah-olah berbicara dengan anaknya dan seketika anaknya menendang.
"Auwww," rintih Lova.
"Kamu kenapa beb?" ucapnya panik.
"Anak kita tahu kalau Papanya yang mengajak bicara, makanya tadi dia mulai menendang-nendang," ucapnya dengan tersenyum.
"Benarkah? Hai anak Papa. Kamu udah tidak sabar ya berbicara dengan Papa," ucapnya sambil mengelus perut Lova.
Dean juga merasakan tendangan dari anaknya.
"Dia meresponku beb," ucap Dean senang.
Lova lalu mengelus kepala Dean. Dean lebih memilih menghabiskan waktunya dengan anak dan istrinya dibandingkan dengan Sera istri kedua dari pernikahan bisnisnya.
"Kamu boleh menolakku di malam pengantin kita. Tapi lain waktu kamu akan tidur denganku," sambil memandang botol kecil yang berisi obat tidur.
Sera sudah merencanakan ini sebelum ia menikah dengan Dean. Ia ingin menjebak Dean seolah-olah tidur dengannya. Karena setelah ke rumah Dean, Sera menemui pacarnya dan melakukan hal itu dengan pacarnya. Sera tidak tahu kalau pacarannya hanya memanfaatkannya saja. Sekarang Sera sudah telat datang bulan, ia yakin dirinya sedang hamil anak pacarnya. Sera menikah dengan Dean hanya karena ingin menguasai semua hartanya dengan cara Papanya yang berinvestasi ke perusahaannya. Dia memanfaatkan kehamilannya untuk merebut semua harta Dean.
"Sebentar lagi rencanaku berhasil. Misiku sebentar lagi selesai," ucapnya sambil tertawa.
__ADS_1
"Baby, sebentar lagi kita akan bersenang-senang menikmati kekayaan Dean dengan Daddy," sambil mengelus perutnya.