Dijodohkan Dengan Cowok Manja

Dijodohkan Dengan Cowok Manja
S2 - Istri Yang Terabaikan.


__ADS_3

Kandungan Viona sudah berjalan lima bulan. Viona bahagia sudah mulai merasakan tendangan kecil anaknya. Hari ini Viona akan memeriksakan kandungannya ke rumah sakit.


"Revano, anak kita sudah bisa bergerak dalam perutku. Apakah kamu tidak merindukannya? Kamu boleh melupakan aku tapi jangan sampai melupakan anak kita," ucap Viona mengusap perutnya pelan dan tersenyum tipis melihat ke arah perutnya yang semakin bertambahnya bulan semakin membesar.


Viona merasa pernah melakukan itu dua kali, yang pertama dengan Vino dan kedua dengan Revano. Viona berasumsi bahwa anak yang dia kandung adalah anaknya Revano karena terakhir bersamanya. Lagian dia saat putus dengan Vino saat itu Vino melihatnya sedang bersama dengan Revano di apartemennya.


"Kita ke rumah sakit yuk nak. Mama sudah tidak sabar ingin melihat jenis kelaminmu. Kamu itu putri atau pangeran yang diberikan Tuhan untuk Mama."


Tak lama kemudian ada tamu yang datang. Julia, teman sekantornya datang. Semenjak hamil Viona langsung resign dari kantornya dan fokus dengan kehamilannya. Julia akan menemani Viona ke rumah sakit. Julia kasihan dengan Viona yang hamil sendiri tanpa ditemani suaminya.


"Sudah siap berangkat?"


"Iya sudah, aku tidak sabar ingin melihat jenis kelamin bayi anakku," ucap Viona sambil memegang perutnya.



"Ya sudah ayo kita berangkat sekarang. Nanti keburu antriannya banyak."


"Iya," jawabnya singkat.


Mereka lalu pergi ke rumah sakit. Setelah antri lumayan cukup lama. Akhirnya giliran Viona masuk ke ruang Dokter tersebut. Dokter mengecek kandungan Viona. Melihat layar monitor yang ada anaknya Viona matanya mulai berkaca-kaca.


"Anakku," lirihnya.


Dokternya tadi bertanya kenapa sang ayah tidak menemani saat periksa kandungan dan Viona menjawab bahwa suaminya sedang berada di luar negeri.


"Jenis kelamin bayinya apa Dokter?" tanya Viona ingin tahu jenis kelamin anaknya.


"Laki-laki, bayinya sehat dan kuat. Nanti saya resepkan obat penambah darah dan vitaminnya."


"Revano kita akan memiliki jagoan kecil." Batin Viona.


Sekarang sudah selesai pemeriksaannya. Viona kembali duduk menunggu Dokter mengambil hasil print USG anaknya. Dokter kembali duduk dan memberikan amplop kepada Viona.


"Ini hasil pemeriksaannya dan foto USG. Resep obat penambah darah dan vitaminnya nanti ditebus ya."


"Iya Dokter."


Julia hanya menunggu di luar ruangan.


"Sudah selesai?" tanya Julia sambil beranjak dari tempat duduknya.


"Iya, tinggal menebus obat penambah darah dan vitaminnya."


"Oh iya, jenis kelamin bayinya apa Viona?". tanya Julia penasaran dengan jenis kelamin bayi yang dikandung temannya.


"Laki-laki, aku akan memiliki pangeran kecil." Viona tersenyum dan mengusap perutnya perlahan.


"Wah, pasti wajahnya akan seperti ayahnya."


"Ah iya mungkin akan mirip dengan ayahnya," ucapnya tersenyum tipis sambil mengingat wajah Revano yang imut dan Viona akan segera memiliki Revano dalam versi junior.


"Ya sudah ayo aku antar menebus obat dan vitaminnya."

__ADS_1


Sekarang mereka sudah menebus obat dan vitaminnya. Seketika Viona ingin bertemu dengan mantan kekasihnya. Sebenarnya Viona masih memiliki rasa dengan Vino. Bagaimanapun Vino merupakan cinta pertamanya. Tapi dia hamil anak Revano. Viona berpikir harus mencoba untuk mencintai suaminya dan melupakan cinta pertamanya.


"Julia, aku ingin bertemu dengan mantanku."


"Untuk apa Viona? Vino kan sudah mutusin kamu? Vino sudah tidak peduli sama kamu lagi semenjak tahu kamu hamil anak Revano."


"Aku tidak tahu Julia. Aku ingin bertemu dengannya saja. Tolong bantu aku untuk bertemu dengannya. Mungkin ini yang namanya ngidam," ucap Viona dengan nada memohon.


"Kamu ini aneh sekali. Itu bayi yang sedang kamu kandung anaknya Revano tapi kenapa kamu ingin bertemu dengan Vino?" tanyanya terheran-heran.


"Aku tidak tahu kenapa. Bukannya ngidam ibu hamil memang aneh-aneh. Termasuk ingin bertemu dengan mantannya?"


"Ah iya aku lupa," ucap Julia sambil menepuk jidatnya.


"Ya sudah kalau begitu aku akan mengantarmu ke apartemennya."


"Makasih ya Julia," ucap Viona sambil memeluk Julia.


"Iya sama-sama. Kamu jangan memelukku terlalu erat. Bukannya apa-apa, ingat ada anakmu." Julia mengingatkan.


"Ah iya, ayo kita ke apartemennya Vino sekarang," ucap Viona dengan penuh semangat.


Akhirnya Julia mengantarkan Viona ke apartemennya Vino.


"Aku tunggu di mobil saja ya Viona. Aku males bertemu dengan Vino," ucap Julia.


"Tidak apa-apa. Makasih ya telah mengantarku kemana-mana. Kamu memang temanku yang baik," ucap Viona tersenyum.


"Iya sama-sama."


Ting! Pintu lift terbuka.


Viona langsung menekan tombol bel apartment Vino. Tak lama kemudian Vino membuka pintu. Vino terkejut melihat siapa yang datang karena tadi tak sempat mengeceknya.


"Viona....."


Pandangan Vino langsung ke perut Viona.


"Bayinya tumbuh dengan sehat." Batin Vino yang masih memperhatikan perut Viona.


"Untuk apa kamu kemari?" tanya Vino dingin.


"Izinkan aku masuk dulu dan nanti baru aku akan bercerita."


"Baiklah, ayo masuk."


Viona kini duduk di sofa. Vino melihat ibu hamil yang ada didepannya dengan saksama. Viona tampak kurus setelah putus dengannya.


"Apa suamimu tidak memberimu makan sehingga kamu menjadi kurus seperti itu?"


"Jangan tanyakan tantang suamiku. Aku kesini hanya ingin meminta tolong denganmu."


"Minta tolong apa?" Vino juga penasaran karena tiba-tiba Viona datang ke apartemennya.

__ADS_1


"Aku sedang ngidam. Bayiku ingin kamu mengelus dan mencium perutku."


"Kenapa tidak meminta sama ayahnya saja? Bukankah Revano ayahnya?"


"Jangan banyak bicara. Aku mohon sama kamu. Tolong bantu aku dan bayiku maunya kamu yang melakukannya. Bukankah ibu hamil ngidamnya selalu aneh-aneh dan bukan hal yang aneh bukan jika aku memintamu untuk seperti ini. Tolonglah bantu aku," ucap Viona penuh harap Vino mau menurutinya.


"Baiklah." Vino tidak ingin berdebat dengan Viona.


Vino beranjak dari tempat duduknya dan langsung duduk disamping Viona. Vino mencoba untuk mengusap perut Viona. Vino merasakan tendangan kecil dari dalam perut Viona.


"Aku merasakan tendangan kecil dari dalam perutmu," ucap Vino merasa bahagia.


"Iya bayiku sudah tiga hari ini mulai bergerak dalam perutku."


"Apa jenis kelamin bayinya?" tanya Vino ingin tahu dan masih mengusap perut Viona.


"Bayiku laki-laki, aku baru saja cek kandunganku."


"Hai jagoan, wajahmu pasti akan mirip dengan ayahmu," ucap Vino dan lalu mendaratkan kecupannya pada perut Viona.


Viona bahagia Vino mau menuruti keinginannya yang sedang ngidam. Seandainya saja bayi yang dikandungnya adalah anak dari mantan kekasihnya itu. Viona akan merasa sangat bahagia memiliki anak dari Vino, laki-laki yang masih terukir namanya dalam hatinya.


"Iya, pasti bayiku akan mirip dengan ayahnya. Apalagi Revano imut sekali. Pasti bayiku akan menggemaskan nanti saat lahir."


Vino tersenyum kecut mendengar perkataan Viona. Vino kembali merasakan tendangan kecil dari dalam perut Viona.


"Bayimu aktif sekali."


"Aku juga tidak tahu. Bukannya bayi laki-laki akan lebih aktif daripada bayi perempuan?"


"Sepertinya begitu."


"Vino, terimakasih telah membantuku. Sekarang aku lega ngidamku telah terlaksana."


"Sama-sama Viona."


"Aku pulang dulu." Viona beranjak dari tempat duduknya.


"Hati-hati ya dan jaga kesehatan kamu. Ingat kamu harus makan secara teratur. Bayimu butuh asupan gizi yang banyak."


"Kenapa kamu jadi perhatian sama bayiku?"


"Aku tidak bermaksud apa-apa, aku hanya kasihan kalau kamu terlalu kurus seperti ini. Kasihan bayimu," ucap Vino menjelaskan.


"Terimakasih. Tapi aku tidak butuh perhatianmu. Aku hanya butuh perhatian dari suamiku," ucap Viona berjalan mendekati pintu apartment.


"Tapi suamimu tidak ada kan saat kamu hamil? Kamu itu istrinya. Ya meskipun kamu menjadi istri yang terabaikan."


Viona menghembuskan napas kasar. Viona sudah memutuskan akan pulang dan tinggal menetap di Indonesia.


"Maka dari itu aku akan menyusulnya ke Indonesia. Sebulan lagi aku akan pergi ke Indonesia dan menemuinya. Mungkin aku tidak akan pernah kembali lagi ke Korea."


"Terimakasih kamu sudah pernah ada dalam hidupku. Meskipun kamu memberiku luka yang cukup mendalam tapi aku bahagia bisa mengenalmu karena dulu kita pernah saling mencintai. Selamat tinggal Vino, semoga hidupmu bahagia," ucapnya kembali dan menutup pintu.

__ADS_1


Vino lalu melihat kepergian Viona dari apartemennya melalui jendela kamarnya. Entah kenapa perkataan Viona barusan membuatnya sedih dan merasa kehilangan.


__ADS_2