
DI KEDIAMAN PRATAMA
Setelah Luna pulang bersama Rey. Papa Ferdinan masih di ruang tamu bersama Evan.
"Terima kasih nak kamu mau bertanggung jawab atas perbuatanmu." Ferdinan tersenyum.
"Iya, terima kasih ya Pa. Papa dan Rey telah menyadarkanku.
"Kamu bahagiakan Luna ya nak."
"Pasti Pa. Evan baru sadar bahwa perasaan Evan pada Risa itu salah. Evan sudah membuka hati Evan untuk Luna. Evan juga menyayanginya."
"Papa bangga sama kamu nak. Jadilah ayah yang baik untuk anakmu dan jadilah suami yang baik untuk istrimu. Mama kamu disurga pasti senang melihat anaknya akan menikah."
"Iya Pa. Evan ke kamar dulu ya Pa," ucapnya sambil tersenyum.
Papa Ferdinan hanya mengangguk.
...*****...
DI KAMAR EVAN
Evan sudah sampai kamarnya dan merebahkan tubuhnya di atas ranjangnya. Ia menatap langit-langit kamarnya. Evan tidak menyangka bentar lagi akan menjadi seorang ayah. Evan masih membayangkan betapa aktifnya anaknya tadi di perut Luna yang sudah mulai membesar.
FLASHBACK ON
Evan masuk rumahnya dan sudah di tunggu Papa Ferdinan di ruang tamu.
"Papa, kenapa menyuruh Evan pulang cepat? Padahal kan Papa tahu kalau Evan lagi ada pekerjaan di luar kota."
Tidak ada jawaban dari Papanya. Ferdinan berjalan mendekati Evan dan menamparnya.
"PLAKKK........." Satu tamparan keras mendarat di pipi Evan.
"Papa kenapa menamparku? Evan salah apa Pa?" ucapnya bingung karena pulang-pulang langsung terkena tamparan dari Papanya.
"Kamu sudah menghamili anak orang. Segera kamu nikahi dia."
"Evan tidak mau Pa."
"PLAKKK..........." Evan sudah dua kali mendapat tamparan dari Papanya.
"Apa kamu tidak memikirkan bagaimana anakmu kalau lahir tanpa seorang ayah?"
Evan terdiam sejenak, masih memikirkan perkataan Papanya.
"Evan baru pulang dan masih capek. Nanti kita bicarakan lagi masalah ini ya Pa," ucapnya sambil naik ke lantai atas dan membawa kopernya ke kamarnya.
"Huh, anak itu susah sekali untuk diatur," ucapnya sambil memijit pelipisnya.
FLASHBACK OFF
"Luna maafkan sikapku yang kasar selama beberapa bulan ini. Dulu aku tidak menginginkan anak itu. Tapi tadi setelah aku merasakan tendangannya di dalam perutmu, aku menjadi menginginkannya dan akan menunggunya sampai anak kita lahir," ucapnya dengan tak sadar air matanya menetes.
"Aku sudah mengubur rasa cintaku dengan Risa. Aku sudah mulai mencintaimu. Aku berjanjin akan membahagiakanmu setelah kita menikah," ucapnya kembali.
__ADS_1
Seketika perasaan Evan tidak enak. Ia terus kepikiran dengan Luna dan bayi yang ada dalam kandungannya.
"Ada apa ini? Aku jadi kepikiran Luna terus. Apa terjadi sesuatu hal dengannya? Aku harus mengeceknya sendiri ke rumahnya."
Evan lalu bergegas mengambil kunci mobilnya dan berjalan keluar kamar. Papanya masih menyeruput kopi di ruang tamu.
"Kamu mau kemana nak, kok buru-buru?"
"Perasaanku tidak enak Pa. Aku akan ke rumah Luna sekarang."
"Iya nak. Papanya sangat tidak suka dengan bayi yang sedang Luna kandung. Papanya menginginkan Luna agar mau meminum obat penggugur kandungan. Selamatkan cucu Papa beserta ibunya nak."
"Apa???" Evan tidak percaya bahwa Alvin bisa setega itu dengan anaknya sendiri.
"Kamu lihat video ini." sambil menyerahkan hpnya.
Evan membolakan matanya saat tahu siapa yang mengirimkan videonya adalah Papanya Risa, Kevino Putra Alexander.
"Evan pergi dulu ya Pa."
"Hati-hati nak."
Evan mengangguk dan langsung pergi.
...*****...
Luna langsung masuk ke dalam kamarnya. Luna duduk di ranjangnya sambil sedang mengamati hasil USG terbarunya yang saat itu dengan Rey ke Rumah Sakit.
"Sayang kamu sehat-sehat ya di dalam perut Mama. Sebentar lagi kita akan bahagia bertiga," ucapnya sambil mengelus perutnya dan anaknya merespon dengan tendangannya.
"Kamu sudah tidak sabar ya sayang bertemu dengan Papamu lagi. Sabar ya nak seminggu lagi kita akan tinggal bersama dengan Papa," ucapnya kembali.
Luna membayangkan betapa bahagianya akan memiliki keluarga kecilnya bersama Evan. Di saat Luna sedang asyik bercanda dengan anaknya. Papanya langsung masuk ke kamarnya dengan aura kemarahan.
"BRAKKK......." Terdengar suara pintu terbuka.
"Papa....." ucapnya kaget.
Luna langsung memegang perutnya dengan kedua tangannya dan lalu mencari bantal untuk menutupi perutnya. Luna takut dengan Papanya yang akan berbuat nekat.
"Kamu telah menghancurkan bisnis Papa!"
"Maksudnya apa Pa?" Luna juga bingung dengan ucapan Papanya.
"Apa yang telah kamu lakukan kemarin telah menghancurkan bisnis Papa! Kamu masih belum ngaku juga!!"
"Luna gak ngerti maksud Papa." sambil menggelengkan kepalanya.
"PLAKKK........." satu tamparan keras mendarat di pipi Luna.
"Papa tunggu di bawah. Kita bicara disana," ucapnya sambil keluar dari kamar Luna.
Luna matanya berkaca-kaca setelah ditampar Papanya. Luna lalu keluar kamarnya dan berjalan berhati-hati. Papanya sudah menunggunya di sofa ruang tamu.
"Kamu lihat apa yang kamu lakukan." sambil menyerahkan hpnya kepada Luna.
__ADS_1
Luna melihat video saat waktu cek kandungannya bersama Rey di ruang Dokter Yudha. Luna membolakan matanya saat mengetahui siapa pengirimnya yang dulu pernah mengancamnya kalau berbuat nekad dengan Keluarga Wijaya. Ia adalah Aldi Wijaya Papinya Rey. Sekarang Luna paham bahwa ancamannya Papinya Rey tidak main-main dan berimbas ke bisnis Papanya.
"Pa....." lirihnya.
"Gara-gara kamu, sekarang Papa harus kehilangan investor besar seperti Aldi Wijaya dan kedua rekannya. Bisnis pembangunan hotel Papa terpaksa harus berhenti. Papa rugi miliaran rupiah karena kamu."
"Papa jangan salahin Luna. Kan Papa yang minta Luna untuk datang ke kantor buat meyakinkan Rey kalau anak yang Luna kandung adalah anaknya. Rey sempat percaya kepadaku Pa. Tapi saat itu perut Luna kram dan Rey panik lalu membawa Luna ke Rumah Sakit untuk mengecek kandungan Luna. Disitulah Luna ketahuan saat kandungan Luna sudah memasuki usia 5 bulan dan anak yang ada dalam kandungan Luna bukan anaknya Rey," ucap Luna sambil menangis.
"Intinya semua ini gara-gara kehamilan kamu yang diluar nikah itu membikin hidup kita menjadi sial. Kamu mau menggugurkannya atau tidak? Papa gak mau terkena sial lagi atas kehamilan kamu!"
"Tidak.... Luna tidak mau menggugurkan kandungan Luna," ucapnya sambil memohon kepada Papanya dan bersimpuh di kakinya.
"Kalau kamu tidak mau menggugurkan kandungan kamu. Terpaksa kamu harus angkat kaki dari rumah ini. Papa tidak mau menanggung malu. Bibi cepat bereskan semua barang-barang Luna dan masukkan kedalam koper."
Beberapa menit kemudian Bibi datang membawakan koper yang berisi semua pakaian Luna.
"Pa, Luna mohon jangan usir Luna dari sini. Luna mau tinggal dimana Pa?"
"Bukan urusanku. Kamu anak tidak tahu diuntung! Kalau saja kamu mau menggugurkan kandungan kamu dari awal saat tahu kamu hamil. Pasti Papa tidak akan ada rencana untuk menjebak Rey dan akibatnya sekarang berimbas ke perusahaan Papa yang rugi miliaran rupiah."
Diluar Evan mendengarkan semua percakapan Luna dan Papanya. Evan tersentuh hatinya saat Luna akan melakukan apa saja dan berusaha mempertahankan kandungannya.
"Cepat pergi dari rumah ini!" Alvin mendorong Luna untuk keluar dari rumahnya.
Saat itu juga Evan berusaha menangkap tubuh Luna agar tidak terjatuh karena bisa membahayakan kandungannya.
"Om, jangan berbuat nekat. Bisa bahaya apa yang telah Om lakukan kalau Luna sampai terjatuh." sambil membantu Luna berdiri.
"Memang itu yang saya inginkan. Agar anaknya keguguran. Karena anaknya pembawa sial. Perusahaan saya terancam bangkrut semenjak Luna hamil di luar nikah. Saya rugi miliaran rupiah dan Keluarga Wijaya sekarang membenciku."
"Jangan pernah bicara bahwa anak yang sedang Luna kandung pembawa sial Om."
"Memang benar kenyataannya seperti itu. Kamu emangnya siapa beraninya ikut campur dengan urusan keluargaku dan mau apa kamu datang kemari?" ucapnya dengan nada tinggi.
"Saya adalah ayah dari bayi yang sedang Luna kandung."
Alvin kaget dengan ucapan Evan.
"Jadi kamu lelaki brengsek yang telah membikin anakku hamil di luar nikah dan membuat hidupku sengsara," ucapnya sambil meraih kerah baju Evan dan lalu membogemnya..
Evan lalu tersungkur di lantai dan bibirnya sedikit mengeluarkan darah.
"Papa cukup, jangan sakiti Evan." Luna lalu membantu Evan berdiri.
"Kamu membela laki-laki brengsek ini yang telah menghamili kamu yang tidak mau bertanggung jawab atas perbuatannya. Kamu telah dibutakan oleh cinta Luna. Sadarlah! Kehidupan kamu masih panjang dan akan cerah kalau kamu mau menuruti semua keinginan Papa."
"Saya akan segera menikahinya seminggu lagi Om. Saya datang kesini untuk meminta restu kepada Om. Agar mau menjadi wali nikah di pernikahan saya dengan Luna."
"Baguslah kalau begitu. Saya tidak akan menerimanya kembali ke rumah ini jika dia belum menikah."
"Pulanglah. Kamu boleh bawa dia pergi," ucap Alvin kembali.
"Kalau begitu saya permisi Om. Assalamualaikum."
Hanya Bibinya yang menjawab salam dari Evan. Evan lalu memegang bahu Luna dan menuntunnya untuk masuk kedalam mobilnya dan Bibi sudah memasukkan koper Luna ke mobil Evan.
__ADS_1