
"Ini nona tebus resepnya di depan ya nona. Dan ini hasil pemeriksaan dan print foto hasil USG nya. Jaga kesehatan selalu ya nona. Kandungan anda sangat lemah jadi saya resepkan vitamin penguat kandungan," ucap dokter muda itu pun lalu menjabat tangan Luna.
"Terima kasih dok," lalu membalas jabat tangannya dan keluar ruangan tersebut.
Luna pun sudah menebus vitaminnya lalu berjalan keluar rumah sakit tersebut. Luna langsung masuk ke dalam mobilnya. Ia pun berfikir dengan apa yang terjadi dalam hidupnya.
"Apa yang harus aku katakan pada Evan jika ia tahu aku hamil anaknya? Nak gimana kalau papamu tidak mau mengakuimu sebagai anaknya?" ucapnya sambil mengelus perutnya yang masih rata.
Ia pun bingung apa yang harus ia katakan pada Evan saat nanti bertemu dengannya. Malam itu adalah malam yang membuatnya sekarang menjadi hamil. Malam saat anniversary yang ke 1 tahun berpacaran dengan Evan. Kejadian itu masih membayangi pikiran Luna. Dimana Evan yang memaksa Luna untuk melakukannya.
Luna pun menangis sejadi-jadinya di kamarnya. "Gimana kalau Evan tidak mau mengakui anak ini sebagai anaknya. Gimana kalau Evan meminta putus dariku setelah ia tahu aku hamil? Atau dia akan memaksaku untuk menggugurkan kandunganku," gumamnya. Ia pun langsung tertidur setelah berbagai macam pikiran yang menggangunya.
Luna pun bangun dari tidurnya. Pikiran itu yang terbayang-bayang di kepala Luna saat ini. Evan yang sedang mabuk pun langsung memaksanya. Ia pun merutuki dirinya saat bermalam bersama Evan yang menjadikannya hamil.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang. Aku benar-benar bingung" ucapnya yang masih mengelus perutnya.
Apapun yang terjadi aku akan mempertahankan bayiku. Meskipun nantinya Evan tidak mau bayi ini. Aku akan tetap membesarkan sendiri.
Sebenarnya Luna tadinya ingin menggugurkan kandungannya, namun seketika mengurungkan niatnya saat ia membayangkan layar monitor tadi. Ia pun memutuskan untuk tetap mempertahankan kandungannya.
Aku harus bicara sama Evan. Aku harus menemuinya, dia harus tahu keadaan ku. Bagaimanapun ia adalah ayah dari bayi yang sedang ku kandung. Luna pun lalu menancap gas mobilnya dan menuju ke apartment Evan.
Luna sudah sampai di apartment Evan. Ia sudah naik ke lift menuju ke lantai 24. Sesampainya di depan pintu apartment ia pun langsung menekan kode pintu apartment. Ia tahu kode pintu apartment Evan karena Luna yang membelikannya untuk Evan.
Pintu terbuka belum sempat mengatakan apapun kepada Evan Luna langsung pingsan saat membuka pintu apartment.
Evan pun sedang ngopi di ruang tamu pun terkaget saat melihat Luna yang tiba-tiba masuk dan pingsan.
"Hey, kamu kenapa?" ucapnya sambil menepuk pipi Luna.
Ia pun lalu menyambar jaketnya dan menggendong Luna dan membawanya ke rumah sakit. Di rumah sakit ia pun memanggil suster.
"Sus tolong dia pingsan," ucapnya.
Disaat itu juga dokter Yudha pun langsung menanganinya. Luna pun sudah masuk ruangan untuk diperiksa. Evan pun berjalan mondar-mandir di depan ruang ICU. Dokter muda itu lalu keluar dari ruangan. "Sus tolong pindahkan pasien ke ruang perawatan," ucapnya lalu menghampiri Evan.
__ADS_1
"Dok, apakah yang sebenarnya terjadi padanya? Dia pingsan biasa atau punya penyakit serius?" ucapnya dengan berbagai pertanyaan.
"Apakah Anda mengenal Nona Luna Hernandez? Jika ia maka ikuti saya, saya akan jelaskan mengenai kondisinya," ucapnya lalu pergi ke ruangannya dan diikuti oleh Evan.
Evan pun sudah duduk di ruang dokter muda tersebut. "Sebenarnya saya mau bertanya terlebih dahulu tentang hubungan Anda dengan pasien. Anda keluarganya atau suaminya?" ucapnya sambil membawa amplop putih.
"Saya pacarnya dok," ucapnya singkat.
"Baiklah Anda buka amplop putih ini," menyerahkan amplop putih yang berisi surat pemeriksaan Luna dan print foto janinnya.
"Maksudnya apa ini dok?"
"Pacar Anda saat ini sedang mengandung, usia kehamilannya jalan 5 minggu," ucapnya menjelaskan.
"Apa?" Evan lalu menjatuhkan kertas pemeriksaan dan foto USG yang ada ditangannya. Ia pun terkaget atas perkataan dokter muda tersebut.
"Iya Nona Luna tadi pagi sudah datang kesini untuk periksa. Kandungannya sangatlah lemah. Saya lihat ia juga kelelahan. Maka dari itu saya tadi berikan vitamin penguat kandungan dan saya periksa barusan ia sepertinya belum makan dari semalam. Karena tubuhnya sangat lemas dan dia mengalami dehidrasi," ucapnya menjelaskan.
"Saran saya sebaiknya Anda segera untuk menikahinya. Dia butuh perhatian Anda saat mengandung apalagi nanti kalau dia mengalami nyidam dan juga bayi dalam kandungannya butuh seorang ayah," ucapnya kembali.
"Baik dok," Evan pun lalu keluar ruangan dokter Yudha dan membawa amplop putih dan lalu menuju ke ruangan Luna.
"Apa yang harus aku lakukan? Aku sangat mencintai Risa dan aku ingin merebutnya dari Rey. Tetapi disisi lain Luna hamil anakku dan dia juga membutuhkanku untuk saat ini," batin.
Beberapa menit kemudian ia pun mengerjapkan matanya. "Evan, aku di mana?" ucapnya pelan.
"Kamu di rumah sakit, apa kamu hamil?" ucapnya seraya pura-pura tidak tahu.
"Nanti setelah pulang aku akan menjelaskan padamu," ucapnya sambil memegang keningnya.
"Baiklah, kamu punya hutang penjelasan padaku," ucap Evan seraya menatap Luna.
Setelah beberapa jam di rumah sakit akhirnya Evan pun membawa Luna pulang karena kondisinya sudah mulai membaik. Sampai rumah ia pun meminta penjelasan kepada Luna.
"Kenapa kamu bisa hamil? Padahal aku sudah kasih kamu obat penunda kehamilan bukan?" tanyanya dengan nada keras dengan amarah.
__ADS_1
"Aku lupa untuk meminumnya," ucapnya pelan.
"Aku sebenarnya tidak lupa untuk meminumnya. Tetapi aku tidak mau kau meninggalkanku setelah apa yang kau lakukan kepadaku begitu saja" gumam Luna dalam hati.
Evan pun tak habis pikir kalau dia akan menjadi seorang ayah di usia yang masih terbilang sangat muda. Karena usianya saat ini 19 tahun.
"Aku bingung, untuk saat ini aku belum siap untuk menjadi ayah, lebih baik kamu gugurkan saja!" ucapnya sambil melihat ke luar ruangan.
"Aku tidak akan pernah melakukannya. Aku tahu kamu tidak mau bertanggung jawab atas apa yang kamu lakukan padaku" ucapnya.
"Tapi perlu kamu ingat jangan harap kamu bisa menemuiku dan menemui anakku lagi!" ucapnya kembali.
Evan pun tak menyangka dengan apa yang dikatakan Luna. Dia tidak menyangka Luna akan bertindak senekat itu.
"Menjadi ibu tunggal apa kamu sanggup? Apa kamu tidak malu?" pertanyaan itu pun lolos dari mulut Evan.
"Sudahlah aku muak denganmu. Pulanglah!" ucapnya ketus.
Evan pun lalu pulang menggunakan taksi online. Karena ia tadi saat ke rumah sakit menggunakan mobil Luna.
Saat Evan sudah pulang Luna pun lalu mengambil hp nya. Ia pun lapar kemudian memesan makanan online.
Saat makanan nya sampai ia pun membuka pintunya. Luna terkejut melihat siapa ojol yang berada di depannya.
"Loh Rey kamu sekarang jadi ojol?" Luna bertanya.
"Iya Lun lumayan untuk kesibukan dari pada di rumah aja, aku kan tinggal menunggu ijazah ku keluar. Eh udah lama ya aku gak ketemu kamu semenjak lulus SMP saat itu kamu pindah rumah" ucapnya.
Luna adalah teman Evan dari kecil. Ia kakak kelasnya. Usianya 19 tahun sama dengan Evan dan Risa.
"Eh iya. Yuk masuk dulu Rey" ucapnya sambil mengambil pesanannya.
"Terima kasih, tapi aku buru-buru mau jemput" ucap Rey saat mau menggunakan helmnya..
"Tapi kapan-kapan mampir ya Rey. Nomor kamu yang ada di aplikasi ini kan?" ucap Luna kembali.
__ADS_1
"Insya'allah, Iya itu tadi nomor hp ku."
Lalu Rey pun bergegas pergi menuju ke tempat pemotretan istrinya.