Dijodohkan Dengan Cowok Manja

Dijodohkan Dengan Cowok Manja
BAB 109 - Bumil Bar-bar


__ADS_3

Risa sekarang bingung mau kemana. Kalau pulang ke rumah orang tuanya nanti Rey akan menyusulnya, kalau ke rumah orang tua Karin, rumah yang baru saja dibelinya nanti Rey juga pasti akan kesana. Risa sempat pusing dengan tujuannya. Sebenarnya Risa ingin ke rumah Sonya, sahabatnya itu selalu memberikan solusi yang tepat. Namun saat ini kalau ke rumah Sonya sahabatnya itu kasihan, karena Sonya lagi hamil muda. Pasti kalau pagi seperti ini akan mengalami morning sickness. Kalau ke tempat Lova sahabatnya juga Risa males soalnya di sana ada si pelakor Sera. Lagian Rey juga tahu rumah para sahabatnya. Risa lalu teringat dengan Luna dan Evan. Risa akan ke rumah Evan saja, sekalian nanti malam akan kumpul dengan club motor sportnya. Rey pasti tidak akan mengira kalau Risa ke rumah Evan. Di sepanjang jalan raya orang yang melihat Risa hanya geleng-geleng kepala. Bagaimana tidak terheran-heran, seorang ibu hamil 7 bulan naik motor sport melaju dengan kecepatan sedang, dengan perut yang sudah terlihat membuncit. Risa menggunakan helm dengan kacanya tidak tertutup, jadi semua orang masih bisa melihat wajah cantiknya. Risa lalu melajukan motornya ke rumah Evan. Rumah Evan tak jauh dengan rumah Risa karena mereka masih satu perumahan namun hanya berbeda blok saja. Terlihat pembantu Evan sedang menyapu halaman rumahnya. Bi Eli kaget saat melihat Risa menggunakan motor sportnya dan turun tepat di sampingnya.


"Non Risa." Bibi kaget melihat Risa menggunakan motor sport.


"Bi, Evan dan Luna ada di dalam?" Bibi Eli masih melamun membayangkan bagaimana bisa ibu hamil yang perutnya sudah membesar naik motor sport.


"Bi, Bi Eli? Hello..........." Risa sudah melambaikan tangannya tepat di wajah Bi Eli.


"Eh maaf Non Risa Bibi tadi sampai melamun. Bibi tidak menyangka saja Non Risa kan sedang hamil besar, kok naik motor sport kan bahaya Non."


"Bibi kaya gak tahu Risa aja."


"Ah iya Non Risa kan dari dulu memang keras kepala." Batin Bi Eli yang sudah kenal lama dengan Risa, Evan dan Risa dulu sama-sama anggota OSIS saat SMA terlebih Evan adalah ketua OSIS. Jadi Risa atau Evan mereka sama-sama sering main ke rumah. Ke rumah Risa maupun ke rumah Evan.


"Evan dan Luna ada di dalam kan Bi?"


"Ada, tadi Non Luna sedang mau masak."


Risa lalu melangkahkan kakinya ke rumah Evan.


Sedangkan Evan di dalam sedang bercanda dengan Luna.


"Sayang apa yang kamu lakukan terhadapku selama beberapa bulan ini? Kamu juga membikin aku hamil sepertimu." Evan melirik ke arah Luna.


"Hahahaha, biar kita sama-sama hamil sayang." Luna tertawa terbahak-bahak setelah mengiris bawang merah.


Evan selama menikah dengan Luna setiap malam Luna selalu makan malam sekitar jam 23.00 sampai jam 01:00. Sekitar jam-jam segitu Luna merasakan lapar. Evan harus menemaninya makan, jadi wajar saja perut Evan juga terlihat agak membesar.


"Tenang sayang, tinggal semingguan lagi kamu menemaniku makan malam. Karena Baby EL akan segera lahir," ucap Luna kembali.


Mendengar anaknya akan segera lahir Evan tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk perhatian kepada anaknya. Evan lalu mendekati Luna memeluknya dari belakang sambil mengusap perutnya.


"Aku harus gym biar tubuhku bagus lagi sayang. Biar Elena kalau sudah lahir melihat Papanya yang sudah ganteng," ucap Evan di telinga Luna sambil mengusap perut Luna.


"Tidak usah sayang. Kalau nanti kamu gym, pasti banyak cewek-cewek di kantor kamu yang suka padamu dan aku gak mau itu sampai terjadi, apalagi kalau sampai ada pelakor didalam rumah tangga kita," ucap Luna sambil mengaduk nasi goreng yang sedang dibuatnya.


"Tidak akan sayang. Tidak akan ada pelakor dalam kehidupan rumah tangga kita. Karena aku hanya mencintaimu."

__ADS_1


"Eh sayang kamu bukain pintunya terlebih dahulu deh, itu dari tadi suara belnya berbunyi terus."


"Huh, siapa sih yang pagi-pagi begini bertamu. Ganggu orang lagi bermesra-mesraan saja," gerutu Evan lalu melepaskan pelukannya.


Luna hanya terkekeh mendengar suaminya yang terlihat kesal, Luna sudah mematikan kompornya. Evan lalu berjalan ke ruang tamu.


"Iya sebentar," ucap Evan.


Evan lalu membuka pintu rumahnya. Evan terkejut melihat Risa hanya sendirian tidak bersama Rey.


"Loh Risa Rey mana? Eh ayo silahkan masuk terlebih dahulu."


Risa masih terdiam. Evan berpikir bahwa Risa dan Rey sedang bertengkar.


"Ada apa pagi-pagi begini ke rumah? Kenapa kamu sendirian pakai motor sport lagi, itu kan bahaya Risa. Ingat Risa kamu itu sedang hamil, kalau kandungan kamu kenapa-kenapa gimana," ucap Evan yang juga khawatir dengan sahabatnya.


"Kamu kan tahu bayiku berjenis kelamin laki-laki dan lagian kandunganku kuat kemarin saat terakhir periksa."


"Lagian aku bawa motor sport juga atas kemauannya," ucap Risa sambil mengelus perut buncitnya.


"Dasar bumil bar-bar. Kenapa kesini sendiri Risa? Rey kemana?"


"Aku kabur dari rumah Evan."


"Hah apa?? Kabur?" Evan terkejut mendengar ucapan Risa.


Luna karena penasaran dengan tamu yang datang. Akhirnya Luna berjalan ke arah ruang tamu. Luna berjalan pelan-pelan karena kehamilannya sudah memasuki usia 9 bulan. Luna berjalan sambil tangan kirinya memegang perutnya dan tangan kanannya memegang pinggangnya yang akhir-akhir ini sering pegal-pegal.


"Ya aku kabur dari rumah. Evan izinin aku di sini sementara waktu ya? Aku tidak akan merepotkan kalian."


Risa lalu menceritakan semuanya kepada Evan.


"Astaga Rey kenapa seperti itu. Seharusnya kamu yang lebih mendapatkan perhatiannya karena kamu sedang hamil anaknya." Evan juga jadi kesal dengan Rey.


"Iya makanya dari itu Evan, aku kabur dari rumah. Makanya kamu jangan kasih tahu Rey terlebih dahulu ya? Biar Rey tahu dimana letak kesalahannya."


"Tapi Risa, tidak baik kabur dari rumah. Bukannya aku tidak mengizinkanmu untuk tinggal disini. Tapi Rey kasihan dan Rey pasti akan kebingungan mencarimu," ucap Evan.

__ADS_1


Luna mendengarkan semua percakapan Evan dan Risa. Luna lalu mendekati Evan dan Risa yang sedang duduk di ruang tamu.


"Sayang biarkan saja Risa tinggal di sini sementara waktu. Biar dia juga bisa menemaniku, kalau kamu kerja aku hanya di rumah sama Bibi. Biar Risa menemaniku ya? Aku senang kalau Risa ada disini," ucapnya dengan senyuman.


"Tapi sayang, kasihan Rey jika harus mencari Risa kesana kemari."


Luna menatap tajam suaminya. Kalau sudah seperti ini Evan harus menuruti kemauan istrinya.


"Eh, baiklah biar Risa bisa menemanimu selama aku kerja. Papa juga masih mengecek perusahaan di cabang Surabaya."


"Terima kasih sayang."


Evan hanya mengangguk. Luna lalu berjalan ke arah Risa.


"Risa, ayo kita makan bersama. Aku baru saja membuat nasi goreng."


"Wah, kamu rajin masak juga Luna. Nanti aku bantu ya kalau kamu masak lagi."


"Iya boleh Risa biar kita bisa masak bareng. Aku jadi rajin memasak mungkin karena bayiku perempuan. Tuh lihat saja Evan perutnya jadi seperti itu gara-gara menemaniku makan setiap malam."


"Hahahaha........." Risa tertawa terbahak-bahak melihat perut Evan yang sudah seperti orang hamil saja.


Evan tersenyum melihat keakraban Risa dengan istrinya.


"Sudah ayo kita sarapan bersama. Nanti nasi gorengnya keburu dingin," ucap Evan langsung menuju ruang makannya.


Luna lalu meletakkan nasi goreng di dalam piring. Risa membantu Luna membawa nasi gorengnya ke ruang makan. Mereka lalu makan bersama. Setelah selesai makan Evan lalu pergi ke kamarnya untuk mandi dan siap-siap berangkat ke kantor. Evan masih ada waktu 2 hari bekerja di kantornya. Setelah itu Evan cuti dan menemaninya istrinya yang sebentar lagi akan melahirkan. Evan sudah mandi dan memakai pakaian kantornya yang telah disiapkan Luna. Evan lalu mengambil tasnya dan keluar dari kamarnya.


"Sayang, aku berangkat terlebih dahulu ya."


"Iya sayang hati-hati ya," ucap Luna mengecup punggung tangan Evan dan Evan mengecup kening Luna.


Evan sudah berjongkok dengan wajah tepat berada di depan perut Luna. Luna lalu membelai rambut Evan.


"Papa berangkat kerja dulu ya nak, kamu sehat-sehat ya di dalam perut Mama. Seminggu lagi kita wkan bertemu nak," ucap Evan pamit kepada anaknya dengan mengelus perut Luna dan memberikan kecupan di perut Luna. Anaknya merespon dengan tendangannya.


Risa yang melihat Evan dan Luna seperti itu Risa jadi terbayang Rey. Karena mereka juga melakukan hal yang sama saat Rey akan berangkat kerja. Namun tidak mulai hari ini. Karena Risa akan menyadarkan suaminya dari kesalahannya. Risa juga sudah mencegah Evan dan Luna agar tidak memberi tahu bahwa Risa sedang berada di rumahnya. Evan sebenarnya tidak setuju karena Rey juga berhak tahu istrinya sedang berada di mana. Tapi karena Luna tadi berbicara juga akan melakukan hal yang sama jika Evan seperti Rey dan akhirnya Evan menyetujuinya. Evan tidak bisa menolak permintaan istrinya karena Evan begitu sangat mencintai Luna. Apalagi sebentar lagi akan ada anaknya yang lahir dan akan menambah kelengkapan keluarga kecilnya.

__ADS_1


__ADS_2