
Risa duduknya sekarang tidak terasa nyaman. Risa mengusap perutnya yang sudah membuncit. Sonya melihat gerak-gerik sahabatnya itu sepertinya tidak nyaman untuk duduk.
"Risa apa kamu tidak nyaman untuk duduk?"
"Iya Sonya," jawabnya singkat.
Seketika Risa perutnya terasa sakit. Risa mencengkeram erat tangan Rey.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Rey sambil meringis merasakan sakit pada tangannya.
"Perutku sakit sekali Rey," sambil memegang perutnya dengan tangan kirinya.
"Jangan-jangan Mommy mau melahirkan," ucap Revano.
"Hah? Melahirkan?" ucap Rey yang seketika berubah jadi panik.
"Bawa saja ke rumah sakit sekarang Rey," ucap Kenzo.
"Tapi air ketubannya belum pecah Kenzo," ucap Risa sambil menahan rasa sakitnya.
"Bisa saja nanti pecahnya. Rey cepat kamu bawa Risa ke rumah sakit."
"Iya Kenzo. Tolong setirkan mobilku ya?" ucap Rey.
"Iya ayo cepat kita bawa Risa ke rumah sakit. Pakai mobilku saja....."
Kenzo bergegas meraih kunci mobilnya dan Sonya mengikuti suaminya. Sedangkan Rey menggendong Risa.
"Sayang, sabar ya kita akan ke rumah sakit sekarang juga."
"Iya Rey, ayo cepat sudah sakit banget perutku!"
"Daddy, Mommy, kita nanti menyusul ke rumah sakitnya. Aku sama Kakak akan menyusulnya."
"Iya nak."
Rey lalu pergi keluar dari rumahnya dan segera masuk ke mobil Kenzo. Untung saja sahabatnya datang berkunjung jadi bisa membantunya untuk membawa Risa ke rumah sakit. Mobil Kenzo melaju cepat meninggalkan rumah megah tersebut.
Revano membantu istrinya untuk berdiri dari tempat duduknya. Semenjak hamil tua Kezia susah untuk jalan cepat. Revano lalu teringat sesuatu.
"Sayang, kamu tunggu di sini saja ya? Biar aku yang memberitahu Kakak kalau Mommy mau melahirkan."
"Loh emangnya kenapa sayang, kok aku gak boleh ikut ke atas?"
"Aku tidak mau kamu kecapekan naik turun tangga sayang. Kandungan kamu sudah 8 bulan dan aku cuma memberitahu kepada Kakak saja kalau Mommy Risa akan melahirkan. Jadi kamu tunggu di sini saja ya sayang," ucap Revano lalu mengecup kening istrinya.
Kezia lalu mengangguk pelan. "Baiklah, kamu saja yang memberitahu mereka. Aku menunggumu di sini."
Kezia lalu duduk kembali sambil memegang perutnya. Semenjak kehamilannya menginjak 8 bulan Kezia merasa engap untuk jalan.
__ADS_1
"Nak, Papamu sangat perhatian sekali sama Mama. Aku merasa beruntung sekali bisa punya suami seperti Revano," ucap Kezia sambil mengusap perutnya pelan.
Kezia merasakan pergerakan dalam perutnya dan anaknya merespon dengan tendangannya tapi tidak begitu kuat. Jika bersama dengan Revano anaknya menendang perutnya begitu kuat, Kezia sampai heran apakah bayinya akan lebih dekat dengan Revano lagi seperti Reva. Kezia tersenyum tipis dan sekaligus bahagia karena anaknya dapat meresponnya. Sebagai seorang ibu, Kezia bahagia jika anaknya merespon saat dirinya berbicara.
Revano sudah naik ke atas dan akan memberitahu Sandra dan juga Reno bahwa Mommy Risa akan melahirkan.
"Mommy Risa akan melahirkan? Yang benar saja adikku," ucap Reno yang tidak percaya karena biasanya Revano itu jahil dan sering ngeprank.
"Kakak, percaya atau tidak terserah deh. Pokoknya aku mau ke rumah sakit sekarang juga," ucap Revano sambil menggendong putri kesayangannya.
Revano lalu keluar dari kamar Kakaknya.
"Hubby, sepertinya Mommy Risa mau melahirkan beneran," ucap Sandra.
"Iya honey."
Sandra lalu menggendong Rendra. Reno dan Sandra lalu keluar dari kamarnya dan menuruni anak tangga.
"Tunggu adikku, kita ikut ke rumah sakit."
"Ayo, kalau begitu kita berangkat sekarang juga."
"Biarkan aku yang menyetir mobilnya. Kalian duduk dibelakang saja."
"Hmm baiklah."
Sekarang mereka semua sudah berada di dalam mobil. Reno melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Kezia lalu memegang perutnya dengan kedua tangannya agar perutnya tidak terlalu terkena guncangan. Reno lalu mengurangi kecepatan mobilnya.
"Maaf Kezia, aku tadi terlalu panik saat Revano bilang kalau Mommy Risa akan melahirkan."
"Huh, terus kamu mau buat aku melahirkan sekarang juga gitu Reno?" ucap Kezia dengan nada tinggi.
Kezia kesal dengan sahabatnya sekaligus Kakak iparnya itu. Mereka dulu memang sering naik motor sport bareng saat masih SMA maupun kuliah. Tapi sekarang kondisinya berbeda, mereka sedang naik mobil bersama-sama dan kondisinya saat ini Kezia sedang hamil tua.
"Sayang, sudah kamu jangan marah-marah," ucap Revano.
"Kakak kamu itu menyebalkan Revano," geram Kezia.
"Kezia, kamu minum dulu biar lebih tenang," ucap Sandra yang lalu memberikan sebotol air mineral.
Kezia lalu menyambar air mineral tersebut karena tenggorokannya sudah kering. Revano lega istrinya sudah tidak marah-marah lagi setelah minum air mineral.
...*****...
Di mobil lainnya Rey mengusap keringat pada dahi Risa. Tangannya juga lalu mengusap perut buncit Risa. Tak lama kemudian mereka sampai di rumah sakit milik Keluarga Sanjaya, suami sepupunya Risa yaitu Karin. Suami Karin seorang Dokter dan rumah sakitnya adalah milik keluarganya Yudha. Mereka sekarang sampai di rumah sakit dan lalu Rey membawa Risa keluar. Risa dibaringkan ke atas brangkar. Tadi air ketuban Risa sudah pecah saat di dalam perjalanan. Para perawat lalu membawanya ke ruang bersalin. Rey sudah berganti menggunakan baju khusus rumah sakit begitu juga dengan Risa. Rey terus menggenggam tangan Risa. Rey kasihan dari tadi istrinya mengeluh kesakitan.
"Sabar sayang, sebentar lagi anak kita akan lahir dan kamu tidak akan merasakan kesakitan lagi."
__ADS_1
"Rey, tapi ini sangat sakit sekali."
Rey mengusap kepala istrinya dan membacakan doa untuknya. Dokter memberikan instruksi untuk Risa agar tarik napas dan menghembusnya perlahan-lahan. Dokter juga menyuruhnya untuk mengejan.
"Ayo Bu dorong terus."
"Sakit Dokter....."
"Sayang, kamu pasti bisa," ucap Rey menyemangati istrinya yang sedang berjuang untuk melahirkan anaknya.
"Ayo Bu sedikit lagi. Kepalanya sudah mulai terlihat," ucap Dokter muda tersebut.
Risa menyerah, sangat sulit sekali untuk melahirkan anak ketiganya. Mungkin karena umumnya yang sudah 40 tahunan jadi kesulitan untuk melahirkan anaknya. Berbeda saat dulu masih muda dengan lancar melahirkan Reno maupun Revano.
"Rey, aku sudah tidak kuat lagi."
"Kamu pasti bisa Risa. Ada aku di sini yang akan terus menemani kamu sampai anak kita lahir. Ayo semangat sayang," ucap Rey yang lalu memberikan kecupan pada kening Risa.
Perjuangan ibu melahirkan sangat luar biasa dan taruhannya adalah nyawanya sendiri. Risa takut hal itu akan terjadi dengannya.
"Sayang maafkan aku jika aku ada salah selama ini. Aku titip anak kita ya. Kamu jaga anak kita baik-baik jika aku pergi," ucap Risa matanya sudah mulai berkaca-kaca.
Air matanya lolos tanpa permisi keluar begitu saja.
"Tidak sayang, kamu jangan berbicara seperti itu dan semuanya akan baik-baik saja."
Risa berusaha sekuat tenaga untuk melahirkan buah hatinya. Risa mengikuti instruksi dari Dokter. Risa berusaha untuk mengejan dan tak lama kemudian terdengar suara bayi yang menangis. Risa melihat sekilas putranya terlahir dengan selamat dan wajahnya sangat tampan dan seperti suaminya.
"Alhamdulillah, kita punya anak laki-laki lagi sayang," ucap Rey.
"Sayang jaga putra kita baik-baik jika aku tiada, aku mencintaimu Rey," ucap Risa lirih.
Sekarang Risa wajahnya sudah pucat dan seketika tangannya terlepas dari genggaman suaminya. Rey menggelengkan kepalanya.
"Sayang, jangan tinggalkan aku," teriak Rey saat melihat kondisi istrinya yang sudah sangat pucat.
Rey menangis saat mata Risa tertutup dengan rapat.
"Risa bangun sayang. Kamu jangan tinggalkan aku. Jangan tinggalkan anak-anak kita," ucap Rey menggoyangkan tubuh istrinya.
"Pak, silakan keluar dulu. Biarkan kami yang menangani."
"Tidak Dokter, saya akan selalu disampingnya. Hidup dan mati ku akan selalu bersamanya."
Rey terus mengguncang tubuh Risa agar bangun, namun hasilnya sia-sia.
"Jangan tinggalkan aku Risa," pekik Rey.
Rey enggan untuk meninggalkan Risa. Dokter itu melihat betapa besarnya cinta Rey terhadap Risa.
__ADS_1
"Pak, mari saya antar keluar," ucap perawat.
Rey terpaksa keluar meninggalkan ruangan tersebut dengan derai air mata.