
Please berikan like dulu sebelum membaca 🤗
Rio langsung pergi ke rumah orangtuanya dan akan bertanya tentang apa yang dimaksud oleh kedua mertuanya.
"Papa, Mama .....," teriak Rio saat masuk ke rumahnya.
"Papa kamu belum pulang sayang, ada apa nak?" tanya Viona kepada putranya.
"Mama, coba jelaskan apa yang terjadi sebenarnya saat dulu Mama sedang mengandungku."
"Kenapa kamu bertanya hal itu nak?"
"Mama jelaskan saja semuanya. Aku ingin tahu, aku hanya takut jika aku salah menilai Papa Revano selama ini dan aku baru saja ke rumahnya mencari istriku."
"Kamu mencari Reva ke rumah Revano?"
"Iya Mama dari pagi istriku pergi tanpa pamit dan aku mencarinya kesana kemari namun belum juga ketemu."
"Mungkin istri kamu sedang pergi ke rumah temannya nak."
"Mungkin yang Mama bicarakan ada benarnya juga. Oh iya Mama, aku ingin tahu semuanya tentang masa lalu Mama dengan Revano dan Papa Vino. Tanpa harus ada yang ditutup-tutupi. Aku ingin tahu semuanya Mama karena waktu itu hanya sebagian saja yang aku dengar dari percakapan antara Papa dan Mama."
Viona lalu menghela napas panjang.
"Sebenarnya waktu itu Mama dijebak oleh Papa kamu Vino. Jadi seolah-olah malam itu Mama tidur dengan Revano. Papa Vino minta putus sama Mama waktu itu. Akhirnya sebulan kemudian Mama hamil dan Mama mengira kamu adalah anak Mama bersama Revano. Namun kenyataannya Papa kamu Vino yang telah menghamili Mama. Tapi Revano yang bertanggung jawab menikahi Mama agar tidak malu karena hamil duluan."
"Mama, tapi kenapa namaku Rio?"
"Karena Mama dulu menghargai Revano yang selama ini telah menafkahi Mama selama mengandung kamu nak. Tidak seperti Vino yang lari dari tanggung jawab. Akhirnya Mama meminta cerai dari Revano dan lebih memilih untuk membesarkan kamu sendirian," ucap Viona menjelaskan.
"Mama, jadi Papa Revano tidak mengabaikan Mama selama ini?"
"Tidak nak. Ia juga tidak pernah terlambat mentransfer uang. Hanya satu bulanan saja ia perhatian sama Mama. Setelah itu Revano kembali ke Indonesia menemui Kezia yang saat itu juga sedang hamil Reva. Mama dulu sempat ingin bersamanya namun karena Mama tidak ingin menjadi orang ketiga maka Mama memilih mundur dan minta cerai."
"Mama, aku telah salah menduga. Aku berdosa sama Papa Revano dan terutama sama Reva Ma," ucap Rio yang tak terasa air matanya menetes.
"Apa yang terjadi sebenarnya nak?"
"Aku pikir Mama telah diabaikan oleh Papa Revano selama Mama menjadi istrinya. Dan bodohnya aku menaruh dendam dan aku balas dengan mengabaikan istriku selama 2 bulanan ini."
"Mama, aku harus gimana? Aku telah menyakiti hati istriku dengan cara berselingkuh dengan sekretarisku sendiri," ucapnya kembali.
Plak!
Viona menampar pipi anaknya karena tidak bisa berpikiran jernih dan menaruh dendam dengan Revano.
"Astaga apa yang kamu lakukan nak? Kenapa kamu melakukan hal itu?" pertanyaan memberondong langsung Viona lontarkan kepada putranya.
"Aku salah paham selama ini sama Papa Revano Ma. Makanya tadi aku ke rumahnya langsung dan Papa Revano membogem aku karena tahu aku berselingkuh."
__ADS_1
"Mama tidak habis pikir kamu bisa seperti ini nak. Dalam hal ini Papa kamu Vino yang bersalah dan ia yang selama ini telah mengabaikan Mama saat aku tengah mengandung kamu. Ia pria yang tidak bertanggung jawab dan menghilang bagaikan ditelan bumi saat itu. Hanya ada Revano yang peduli sama Mama. Maka inisial nama kamu depannya R karena Mama ingin kamu mempunyai hati yang tulus seperti Revano. Tapi Vino selalu saja cemburu jika mengingat nama kamu yang depannya menggunakan huruf R itu."
Rio sudah mengetahui semuanya dan menyesal telah menyia-nyiakan istrinya selama ini.
"Mama, aku telah bersalah sama Reva. Istriku terluka dan memecahkan kaca pada meja riasnya saat aku salah mengirimkan bunga yang seharusnya aku kirimkan ke sekretarisku namun aku salah mengirimkan alamat."
"Kenapa kamu bisa seperti ini nak? Hati wanita mana yang tidak sakit hati saat suaminya mengirimkan bunga dan ternyata bunga itu untuk perempuan lain."
"Aku telah bersalah Mama, di malam satu tahun pernikahan kita aku justru pergi ke club malam dan tidak merayakan hari ulang tahun Reva sekaligus anniversary pernikahan kita. Dia jadi merayakan ulang tahunnya di rumah sendirian. Padahal Reva telah capek-capek membuatkan dua kue sekaligus pada siang harinya."
"Mama, aku takut istriku akan meninggalkan aku. Dia pergi dari tadi pagi tanpa pamit pergi ke mana. Ponselnya juga tidak aktif," ucapnya kembali sambil menghapus air matanya.
"Kamu benar-benar bodoh Rio. Pantas saja Reva pergi meninggalkan kamu. Wanita mana yang kuat punya suami macam kamu itu," kesal Viona kepada putranya.
"Mama, aku tahu aku salah."
"Ya Tuhan, aku takut jika akan terjadi apa-apa dengan kandungan Reva," ucap Viona cemas.
"Mama memangnya bisa berpengaruh dengan apa yang aku lakukan dengannya?"
"Astaga Rio, apa yang telah kamu lakukan dua bulanan ini terhadap Reva itu bisa membuat istri kamu kepikiran nak. Wanita hamil tidak boleh terlalu banyak pikiran karena bisa membahayakan kandungannya. Bisa jadi hal terburuknya mengalami keguguran."
"Apa yang harus aku lakukan Mama? Aku takut terjadi sesuatu dengan anak dan istriku."
"Cari Reva sampai dapat dan perbaiki hubungan antara kamu dengannya sebelum semuanya terlambat nak."
Disaat yang bersamaan foto pernikahan Rio dan Reva terjatuh dan bingkai foto kacanya pecah.
"Astagfirullah," ucap Viona saat melihat foto pernikahan anaknya itu terjatuh.
"Firasat Mama tidak enak nak. Mungkin terjadi sesuatu dengan istri kamu saat ini."
"Aku akan mencarinya sekarang juga Mama."
Setelah pamit untuk mencari istrinya. Di rumah, Mama Viona menyuruh Bibi untuk membersihkan sisa pecahan kaca yang berserakan di lantai.
...*****...
Di ruang rahasia Reva memegang perutnya yang terasa sakit. Saat Revano dan Kezia sedang berdebat tentang ruang rahasia yang selama ini Revano sembunyikan lalu mereka mendengar suara gaduh dari dalam ruang rahasia tersebut.
Kezia dan Revano lalu khawatir anaknya kenapa-kenapa. Hal yang mereka takutkan terjadi. Terlihat vas bunga yang pecah di lantai dan dengan keadaan Reva yang sudah pingsan. Kezia membolakan matanya saat anaknya itu terlihat begitu pucat saat ini.
"Astaga Papa, Reva pendarahan."
Dengan cepat Revano menggendong anaknya dan segera membawa pergi ke rumah sakit. Kezia dan Revano cemas saat ini dan bertanya-tanya kenapa anaknya bisa tiba-tiba pendarahan.
"Bagaimana keadaan anak dan kedua cucu saya dok?" tanya Kezia cemas.
"Dok, apakah kami boleh melihatnya?" tanya Revano.
__ADS_1
"Bapak dan Ibu mari ikut ke ruangan saya. Nanti akan saya jelaskan mengenai kondisi kesehatan ibu dan kedua bayi yang ada dalam kandungannya."
"Apa ada masalah serius dengan kandungannya Dok?"
"Mari ikut saya dan nanti saya akan jelaskan secara detail."
Revano dan Kezia lalu saling melempar pandangan dan saat ini cemas dengan kondisi anaknya. Mereka lalu mengikuti Dokter bertubuh gendut dan berkacamata tersebut.
"Dokter, sebenarnya kenapa anak saya tiba-tiba bisa pendarahan?"
Dokter lalu menceritakan kondisi Reva saat ini. Revano dan Kezia terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Dokter tersebut mengenai masalah kesehatan Reva.
"Dok, apa tidak bisa dilakukan dengan hal lain? Selain menggugurkan kandungannya?"
"Iya, saya yakin anak saya tidak mau menggugurkan kandungannya, apalagi sekarang kandungannya sudah berjalan 7 bulan lebih."
"Bisa saja pasien mempertahankan bayinya namun nanti akan membahayakan bagi sang ibu."
"Apa maksudnya Dok?"
"Jika Bu Reva tetap mempertahankan kandungannya maka akan berbahaya untuk nyawanya sendiri. Kami hanya bisa menyelamatkan salah satu di antara mereka. Ibu atau bayinya yang bisa selamat saat menjelang persalinannya nanti."
"Astaga, kenapa hal ini bisa kamu alami nak."
"Ini semua gara-gara kamu. Aku sudah bilang akan menjodohkan Reva dengan anak dari teman arisan sosialitaku tapi kamu yang melarangnya dan lalu merestui hubungan Reva dengan Rio. Reva jadi terlalu banyak pikiran karena suaminya itu menduakannya. Akhirnya sekarang apa yang aku takutkan terjadi, sekarang ada gangguan dalam kesehatannya."
"Bapak dan ibu dimohon jangan berdebat. Ini rumah sakit."
"Maafkan kami Dok," ucap Revano yang tengah malu.
"Apa kami bisa menjenguknya saat ini?"
"Bisa Bu. Mohon untuk mempertimbangkan saran saya dan karena hal ini kemungkinan nanti Bu Reva bisa hamil lagi meskipun harapannya hanya 38% saja."
"Saya tidak yakin anak saya akan mau menyetujuinya Dok."
"Coba saja dulu Bu."
Revano dan Kezia lalu pergi ke ruang anaknya yang sedang dirawat. Air mata Revano dan Kezia menetes saat melihat perut Reva yang sudah membuncit itu. Tidak rela jika harus kehilangan kedua cucunya namun juga akan khawatir jika anaknya kenapa-kenapa jika tetap mempertahankan kandungannya.
Maaf, baru sempat up lagi. Karena melihat statistik sangat memprihatinkan yang membuat author sedih.
Jangan lupa tinggalkan jejak dukungan kalian untuk novel yang berpenghasilan 1 bungkus yuppy ini 😥😂
Ditunggu vote dan gift dukungannya 🤗
__ADS_1