Dijodohkan Dengan Cowok Manja

Dijodohkan Dengan Cowok Manja
BAB 135 - Anak Siapa Ini?


__ADS_3

Risa terlalu nyaman dipelukan mertuanya. Mami Ana begitu sayang kepada Risa bahkan sudah menganggapnya seperti anaknya sendiri bukan lagi menantu. Karena dulu Mami Ana juga ingin punya anak perempuan namun Mami Ana hanya dikaruniai satu anak saja dalam pernikahannya dengan suaminya. Tapi Mami Ana bersyukur kini mempunyai menantu yang baik seperti Risa. Tak hanya cantik tapi juga rajin dan bisa mengurus suami dan anaknya. Meskipun menantunya masih muda namun Risa sudah berpikiran dewasa. Mungkin karena sudah memiliki anak dan suami. Mami Ana bahagia sekarang Risa sedang mengandung cucu keduanya. Mami Ana berharap cucunya berjenis kelamin laki-laki agar bisa menjadi pemimpin perusahaannya. Sekarang Risa masih menangis didalam pelukannya.


"Nak... Jangan menangis, nanti anak dalam kandungan kamu juga akan sedih kalau kamu menangis terus," ucap Mami Ana sambil membelai rambut panjang menantunya.


"Biarkan saja Mami. Ayahnya saja tidak peduli dengannya."


"Deg..........." Rey saat mendengar ucapan Risa.


"Sa-Sayang," ucap Rey terbata-bata.


Risa lalu menengok dan ada suaminya yang kini sudah berdiri tidak jauh darinya.


"Jangan mendekat!" Risa menggoyangkan jari telunjuknya agar Rey tidak mendekatinya.


Rey terdiam tidak berani melangkahkan kakinya mendekati istrinya. Kalau sedang marah begini Risa begitu menakutkan.


Mami Ana langsung menatap tajam Rey. Anaknya itu tidak mau menuruti istrinya yang lagi ngidam.


"Rey, coba kamu cari kelapa muda untuk istrimu. Risa saat ini sedang ngidam es kelapa muda."


"Tapi Mami, Risa ingin aku memanjat pohon kelapanya langsung."


"Ya sudah sana, buruan manjat pohon kelapa."


Rey melongo ternyata Maminya lebih membela menantunya bukan anaknya sendiri.


"Tapi Mami, Rey tidak bisa manjat pohon." Wajahnya sudah melas.


"Rey kalau kamu tidak mau menuruti istri kamu yang sedang ngidam untuk apa kamu kemarin menghamilinya? Laki-laki macam apa kamu, tidak mau bertanggungjawab atas apa yang telah kamu lakukan kepada istrimu!"


Rey seketika hatinya sakit seperti tertusuk pedang saat Maminya bilang seperti itu kepadanya. Rey melamun memikirkan perkataan Maminya.


"Rey apa kamu mau anak kamu ileran?"


Rey menggelengkan kepalanya lemah.


"Kamu tahu kan apa yang harus kamu lakukan sekarang?"


Rey mengangguk lemah. Pandangan Rey mengarah pada Bibi yang sedang menyapu dihalaman belakang.


"Bi...... Bi Ijah..." Panggil Rey kepada asisten rumah tangganya.


"Iya Den ada apa?" Bi Ijah mendekati Rey.


"Bi saya ingin bertanya disekitar rumah Bibi ada yang punya pohon kelapa?"


""Kebetulan Bibi punya Den di kebun belakang rumah. Emang kenapa Den?"


"Bi, Rey antar ke rumah Bibi ya. Risa sedang ngidam pengen minum es kelapa muda langsung dipetik dari pohonnya."


"Oh, kalau begitu Bibi ambil hp dulu ya Den. Biar suami Bibi yang petik kelapa mudanya dan biar segera diantar kemari."


"Tidak usah Bi. Biar Rey yang manjat pohon kelapanya sendiri," ucap Mami Ana.


"Apa Nyonya? Den Rey mau manjat pohon kelapa?" ucapnya dengan terkejut.


"Iya Bi. Menantuku ingin Rey yang mengambilkannya langsung. Risa sedang ngidam."


"Kalau begitu mari saya antar Den."


"Tunggu Bi. Aku ikut ya?" Risa langsung berdiri dari tempat duduknya.


"Loh Non di sini saja. Soalnya Non kan sudah hamil besar."


"Bi Ijah. Aku ingin melihat langsung Rey yang manjat pohon kelapanya."


"Oh bayi dalam kandungannya Non ingin melihat langsung perjuangan ayahnya mendapatkan kelapa muda."


"Iya mungkin gitu Bi. Dia ingin melihat Rey berjuang ambil kelapa muda untuknya,," ucap Risa sambil mengelus perutnya pelan.


"Ya sudah kalian segera berangkat keburu sore nanti," ucap Mami Ana.


"Iya Mami. Rey pamit dulu ya," ucapnya sambil mengecup punggung tangan Mami Ana.


Risa juga ikut mengecup punggung tangan Mami Ana.


"Iya, kalian hati-hati di jalan ya nak. Jaga menanti dan cucu Mami ya Rey."


"Iya pasti Mami. Ayo sayang kita berangkat," ucap Rey sambil menggandeng tangan Risa


Risa tersenyum akhirnya Rey mau menuruti keinginan anaknya yang masih didalam kandungan.


Beberapa menit kemudian mereka sudah sampai di rumah Bibi Ijah.


"Mari Den, Non saya antar ke kebun belakang rumah."


"Iya Bi," ucap Rey dan Risa bersamaan.


"Bi cara ambilnya gimana?" tanya Rey ketika melihat pohon kelapa.


"Kelapanya bisa diputar dengan tangan Den atau Den Rey mau memakai pisau besar atau seringkali disebut pedung."

__ADS_1


"Boleh Bi. Mana pisaunya."


"Sebentar ya Den. Bibi ambilkan di rumah."


Saat Bibi sedang mengambilkan Rey pisau. Risa menatap pohon kelapa yang tinggi itu. Risa jadi tak tega melihat Rey akan memanjat pohon kelapa.


"Sayang, kamu hati-hati ya naik pohon kelapanya."


"Iya sayang aku akan berhati-hati. Kamu tenang saja ya. Pokoknya keinginan kamu akan aku turuti meskipun aku harus naik pohon kelapa sekalipun."


"Sayang ini bukan keinginanku. Ini keinginan anak kita," ucap Risa sambil mengelus perutnya.


"Iya sayang, aku tahu anak kita yang minta."


"Nak, Daddy mau ambilkan keinginan kamu sayang," ucapnya sambil mengecup perut Risa dan mengelusnya pelan.


"Ini Den pisaunya."


"Iya Bi. Makasih ya."


Rey lalu hati-hati naik pohon kelapa. Baru naik 2 meter Rey gemetaran.


"Aku harus menghilangkan rasa takutku. Ini demi anakku," ucap Rey pelan.


Rey lalu melawan rasa takutnya untuk naik pohon kelapa. Rey mengambil 2 kelapa muda. Setelah 2 kelapa mudanya terjatuh di tanah Rey segera turun dari pohon tersebut.


Saat jarak antara pohon kelapanya sama tanah kurang dari 2 meter kaki Rey tergelincir dan akhirnya Rey terjatuh.


"Auwww..... Aduhhh...... Pinggangku......." Rey merintih kesakitan.


Risa lalu mendekati suaminya.


"Sayang kamu tidak apa-apa?" tanya Risa cemas.


"Tidak apa-apa sayang," ucap Rey agar istrinya tidak cemas.


Dengan segera Bibi membantu Rey untuk berdiri.


"Den, ini harus diurut kalau tidak bakalan sakit pinggang Den Rey. Mari ke rumah Bibi, kita obati di sana."


Rey mengangguk dan mereka akhirnya ke rumah Bi Ijah. Rey berjalan pelan-pelan memegang pinggangnya. Sedangkan Bibi membawa 2 buah kelapa muda yang baru saja Rey petik.


...*****...


Risa kini merasa bersalah saat menyuruh suaminya untuk manjat pohon. Sekarang suami Bi Ijah sedang mengurut Rey. Sedangkan Bi Ijah sedang membuatkan es kelapa muda yang Risa inginkan.


"Terima kasih ya Bi." Saat menerima es kelapa mudanya.


Risa lalu meminum es kelapa muda tersebut. Rasanya menyegarkan tenggorokan.


"Maaf ya Bi, kita jadi merepotkan Bibi dan suami Bibi."


"Tidak merepotkan kok Non. Sudah jangan sungkan sama Bibi."


Karin tersenyum, tak lama kemudian suaminya datang dan masih memegang pinggangnya yang baru saja diurut sama suaminya Bi Ijah.


"Sayang, maafkan aku ya. Gara-gara aku, kamu jadi jatuh dari pohon kelapa."


"Tidak apa-apa sayang."


"Pinggangnya apa masih sakit?" tanya Risa.


"Masih sedikit, tapi sudah agak mendingan kok sayang setelah dipijat oleh suaminya Bi Ijah."


"Sayang minumlah es kelapa mudanya. Sangat segar sekali," ucap Risa menyodorkan satu gelas es kelapa muda yang masih utuh.


Rey langsung meminumnya sampai habis.


"Benar-benar segar sekali sayang."


Setelah meminum es kelapa lalu mereka pulang ke rumah bersama Bi Ijah.


...*****...


Rey saat ini sedang mandi. Risa geleng-geleng kepala saat melihat anaknya tertidur. Posisi tidur Reno seperti Rey saat tidur tengkurap.


Risa lalu memegang perutnya dan perlahan-lahan akan duduk membangunkan Reno. Risa saat sudah duduk lalu perlahan membuka kain yang menutupi kepala anaknya.


"Anak siapa ini? Tidurnya kok bisa seperti ini," ucap Risa sambil mengelus kepala Reno dengan penuh kasih sayang.


"Ya anak kitalah sayang. Menurutmu anak siapa lagi kalau bukan anak kita," ucap Rey saat sudah keluar dari kamar mandi.


Risa menengok kearah Rey dan suaminya kini tersenyum.


"Lebih tepatnya anak kamu Rey. Lihatlah kelakuannya seperti kamu saat sedang tidur."


Rey hanya terkekeh mendengar perkataan Risa dan memang benar memang seperti itu kenyataannya.


Risa sedang menyiapkan air untuk anaknya mandi. Tak lupa Risa menyiapkan mainan berbentuk bebek berwarna kuning di bathtub. Kalau tidak ada mainannya Reno tidak mau mandi.


"Reno sayang, bangun... Saatnya kamu mandi nak." Risa mengelus rambut anaknya pelan.

__ADS_1


"Mom..." Reno mulai duduk dan menguap.


"Sayang, mandi yuk. Mommy sudah siapkan air buat kamu mandi."


"Eyuk uyu Mommy." [Peluk dulu Mommy.]


"Hadehh... Manjanya seperti kamu Rey."


Rey terkekeh mendengar ucapan istrinya dan Risa lalu memeluk anaknya dengan penuh kasih sayang.


"Mommy, adik Eno dah becal." [Mommy adik Reno sudah besar.] ucap Reno sambil menunjuk perut Risa.


"Iya sayang. Adik Reno sudah bisa main bola diperut Mommy." Risa lalu mengelus perutnya pelan dan anaknya merespon dengan tendangannya.


Risa lalu meraih tangan Reno agar merasakan tendangan adiknya yang masih didalam kandungannya. Reno bahagia saat merasakan tendangan adiknya diperut Mommy Risa.


"Acik... Nti au adik Eno dah becal ica Eno jak main ola dong Mommy." [Asyik... Nanti kalau adik Reno sudah besar bisa Reno ajak main bola dong Mommy.]


"Iya sayang, sekarang Reno mandi dulu ya biar segar kaya Daddy Rey."


"Iap Mommy Risa." [Siap Mommy Risa.] ucapnya sambil hormat.


"Anak Mommy yang pintar." Lalu Risa menuntun Reno berjalan ke kamar mandi.


"Kalau pintar baru diakui anaknya," ucap Rey saat sudah berpakaian rapi.


"Apa kamu bilang?"


"Eh? Tidak sayang aku tidak bilang apa-apa."


"Waduh bisa gawat nih kalau Risa sampai mendengarnya." Batin Rey.


"Rey aku masih dengar ya kamu tadi bilang apa. Nanti malam kamu pokoknya tidur di kamar tamu."


"Huft......." Rey mendengus kesal karena tadi dirinya keceplosan, mau tak mau Rey nanti tidur di kamar tamu malam ini.


"Reno nanti malam tidur sama Daddy ya nak?" ucap Rey dengan nada memohon.


Reno lalu menatap wajah Mommy Risa dan Daddy Rey secara bergantian.


"Ga au! Eno au idur sama Mommy an dik Eno."


[Gak mau! Reno mau tidur sama Mommy dan adik Reno.]


"Bagus nak. Besok Mommy Risa bikinin kue yang enak buat Reno."


"Acik..." [Asyik...] Reno kegirangan lalu memeluk Risa.


Rey mendengus kesal karena anaknya tidak mau menemaninya tidur malam ini.


Malam telah tiba kini Rey tidak jadi tidur di kamar tamu melainkan Rey memilih tidur disofa di ruang keluarga.


Risa malam hari merasakan lapar lalu saat mau berjalan ke dapur, Risa melihat suaminya tidur di ruang keluarga. Rey tertidur pulas, Risa nanti akan menyuruh Rey pindah ke kamarnya. Risa lalu berjalan ke dapur membikin nasi goreng.


Aroma harum masakan Risa tercium sampai hidung Rey. Akhirnya Rey terbangun dari tidurnya, Rey melihat jam menunjukkan pukul 23:28 wib. Rey tahu pasti Risa sedang masak. Semenjak hamil biasanya Risa lapar saat malam hari dan Rey yang menemaninya. Perlahan Rey berjalan menuju ke ruang makan dan meminum air mineral dari dalam kulkas. Risa sedang menata nasi gorengnya ke piring.


"Sayang, makan yuk." Risa meletakkan dua sendok dalam satu piring nasi gorengnya di meja makan.


"Buat kamu saja sayang." Rey menutup kulkasnya kembali.


"Ayolah Rey, temani aku makan," ucapnya dengan nada memohon.


"Baiklah sayang." Rey lalu menemani Risa makan.


Setelah sudah selesai makan mereka menggosok gigi bersama. Saat Rey mau keluar kamarnya Risa lalu berbicara.


"Sayang, tidurlah di kamar."


"Apa aku tidak salah dengar sayang?" Rey berbalik badan melihat wajah istrinya.


"Aku hanya bilang sekali ya Rey." Risa lalu berjalan ke ranjang dan merebahkan tubuhnya didekat Reno.


Saat malam hari terkadang Reno tidur dengan orang tuanya.


"Baiklah sayang, aku akan tidur di kamar."


Rey bahagia akhirnya malam ini bisa tidur di kamarnya bersama anak dan istrinya.


"Sayang, sepertinya kita harus bikin kamar buat Reno. Nanti kalau adik Reno sudah lahir kan tidurnya sama kita."


"Hmm.. Iya juga ya sayang. Besok kita bicarakan lagi sama Mami dan Papi. Ini sudah malam aku sudah ngantuk Rey."


"Baiklah sayang, kita bahasnya besok saja."


Risa mengangguk pelan. Reno sudah tertidur pulas di tengah-tengah mereka.


"Selamat tidur sayang." Rey mengecup kening istrinya.


"Selamat tidur juga sayang," ucap Risa sambil menaikkan selimutnya.


Risa membaca doa tidur lalu mulai memejamkan matanya. Tinggal Rey saja yang belum tertidur. Kandungan Risa kini sudah jalan 7 bulan, baru kemarin mereka melakukan acara 7 bulanan dengan adat jawa. Meskipun mereka tidak USG jenis kelamin bayinya. Namun saat tradisi 7 bulanan kemarin, saat Risa membuat rujak serutnya dengan 7 macam buah dan Risa sendiri yang harus meracik bumbu rujak serutnya didampingi Rey. Rujak serutnya rasanya kurang enak dan berarti anak didalam kandungannya berjenis kelamin laki-laki. Karena saat hamil Reno kemarin juga seperti itu, padahal saat hamil Reno kemarin Risa USG jenis kelamin bayinya. Karena apabila rasa rujaknya enak berarti anaknya akan lahir perempuan. Sementara para tamu akan antri membeli dengan uang pecahan jaman dahulu yang terbuat dari tanah liat. Prosesi tradisi ini bermaksud agar sang anak yang dilahirkan nanti akan mendapat rezeki yang berlimpah.

__ADS_1


__ADS_2