
Risa dan Luna sudah memasak. Mereka bagi tugas untuk memasak 2 masakan. Akhirnya mereka saling berbagi resep masakan. Setelah selesai masak tak lupa mereka makan bersama. Kedua bumil tersebut makan dengan lahapnya. Mereka saling memuji masakan satu sama lain. Setelah makan nanti Luna akan pergi ke kantor Evan.
"Risa, aku akan ke kantor suamiku bawain makan siang. Kamu ikut yuk, temani aku."
"Eh? aku gak enak Luna sama Evan kalau aku ikut ke kantor."
Tapi seketika Risa sadar bahwa Luna kehamilannya sudah memasuki usia 9 bulan 3 hari, kandungannya juga sudah turun. Risa jadi berpikir nanti kalau terjadi apa-apa sama Luna di jalan gimana. Soalnya bisa sewaktu-waktu Luna melahirkan.
"Gak apa-apa Risa. Ayolah temani aku, masa kamu tega sama aku. Nanti kalau aku melahirkan di jalan gimana," ucapnya sambil mengelus perutnya.
Risa jadi tidak tega melihatnya.
"Ya udah deh aku temani kamu ke kantornya Evan."
"Asyik... Makasih ya Risa. Oh iya kamu pakai dress ya, sebentar aku ambilkan."
Luna lalu masuk ke kamarnya mengambil dress yang menurutnya cocok untuk Risa.
"Risa, kamu pakai ini biar terlihat lebih anggun."
"Hahaha maksud kamu aku tidak anggun gitu kalau pakai celana?"
"Tadi kan kamu tadi naik motor sport Risa. Evan saja bilang kamu bumil bar-bar saking beraninya naik motor sport."
"Atau kamu mau aku bonceng Luna? Biar merasakan naik motor sport. Mumpung belum lahiran Luna hehehe," ucapnya sambil cengengesan.
"Kamu ini mau buat aku melahirkan di jalan Risa? Kalau aku sampai kamu bonceng naik motor sport."
"Hehehe bercanda Luna. Lagian aku tidak berani, yang ada nanti Evan ngamuk kalau kita boncengan naik motor sport."
"Oh iya ini dress-nya masih baru kok belum pernah aku pakai. Tapi sudah di cuci oleh Bibi." Sambil menyerahkan dress.
"Ok, baiklah."
Risa sudah memakai dress pemberian Luna. Risa akan mengantar Luna ke kantor suaminya. Tadinya Risa tidak mau ikut soalnya gak enak dengan Luna. Tapi akhirnya Risa mau menemani Luna karena khawatir kalau Luna tiba-tiba melahirkan. Risa yang mengemudikan mobilnya Luna.
"Mommy senang sayang, setelah sekian lama akhirnya Mommy bisa nyetir mobil lagi," ucapnya sambil mengelus perutnya.
"Emang Rey gak mengizinkan kamu naik mobil Risa?"
"Rey mengizinkan baru-baru ini sih, tapi mertuaku yang tidak mengizinkanku nyetir mobil sendiri"
Risa dan Luna sudah sampai di kantor Evan. Mereka lalu naik ke lift menuju ruangan Evan. Evan sedang mengecek berkas yang akan di tanda tangani. Seketika pintunya diketuk beberapa kali.
"Ya masuk," ucap Evan yang masih fokus dengan berkasnya.
Risa dan Luna lalu masuk ke ruangan Evan. Evan lalu melihat siapa yang masuk ke ruangannya.
"Loh sayang, kamu sama Risa kesini."
"Iya kita habis masak bareng. Di makan ya sayang," ucap Luna.
Luna membuka rantang dan menyiapkan makan siang untuk suaminya di meja dekat sofa. Evan lalu berjalan menuju sofa. Evan lalu makan siang ditemani oleh dua bumil. Mereka duduk dalam satu sofa, Luna duduk ditengah antara Evan dan Risa.
"Wah kalian para bumil hebat, enak makanannya."
"Iya kita habis berbagi resep masakan," ucap Luna.
"Seharusnya Rey juga ada di sini." Evan memancing agar tahu Risa masih kesal tidak dengan suaminya.
"Jangan bicarakan Rey Evan. Aku masih kesal dengannya."
Mereka langsung terdiam. Setelah Evan selesai makan, Risa akan meminta izin Evan menemaninya ke mall untuk beli baju.
__ADS_1
"Evan, bolehkah aku mengajak Luna ke mall? Aku akan beli beberapa baju selama tinggal di rumah kalian."
"Boleh saja Risa. Tapi kalian naik lift mall saja jangan naik eskalator. Soalnya lift lebih cepat sampai ke toko yang kalian tuju."
"Baiklah Evan kita akan langsung ke mall, yuk Luna kita jalan-jalan. Bagus untuk bumil seperti kita buat sering jalan."
"Iya Risa."
"Sayang aku ke mall dulu ya," ucap Luna kepada Evan.
"Hati-hati ya sayang. Jaga anak kita baik-baik."
"Iya pasti sayang aku akan menjaga anak kita dengan baik. Kamu juga harus jaga mata saat di kantor."
"Aku gak mau ada wanita ke dua, ke tiga dan bahkan seterusnya dalam rumah tangga kita," ucap Luna kembali.
"Hanya ada dua wanita yang akan mengisi hidupku. Wanita-wanita tersebut sangat berpengaruh dalam hidupku."
"Dua??" Luna membolakan matanya. Risa juga terkejut mendengarnya.
"Iya dua wanita itu adalah kamu dan anak kita," ucap Evan dengan senyuman.
Luna hatinya lega. Luna tadinya sempat berpikir bahwa Evan masih menyimpan rasa kepada Risa. Ternyata dirinya salah, justru wanita tersebut adalah dirinya sendiri dan anaknya. Luna dan Risa lalu keluar ruangan Evan. Risa melajukan mobilnya ke arah mall. Mereka langsung menuju ke toko pakaian wanita hamil. Risa memilih beberapa dress yang pas dalam tubuhnya. Tak lupa Risa juga membeli celana panjang dan juga baju untuk acara nanti malam. Risa berencana untuk hadir kembali dalam club' motor sportnya.
"Luna ayo kamu pilih baju atau dress yang kamu suka. Nanti biar aku yang bayar sekalian."
"Gak usah Risa." Luna merasa tidak enak saja dengan Risa.
Risa lalu memilih dress untuk Luna.
"Ini cocok untuk kamu Luna. Kamu mau ya nanti pakai pemberian dariku."
"Baiklah Risa. Itu motifnya juga bagus yang kamu pilihkan."
Risa lalu membayar semuanya dengan black card. Setelah itu mereka pulang ke rumah.
...*****...
Malam telah tiba. Evan sudah bersiap-siap untuk ke cafe di mana club' motornya berkumpul.
"Sayang aku pergi sebentar ya. Kamu di rumah baik-baik ya sayang. Kalau ada apa-apa telepon, aku takutnya kamu akan melahirkan."
"Iya sayang, kamu hati-hati ya. Masih seminggu lagi sayang kalau sesuai HPL."
Saat akan berjalan keluar rumah. Risa sudah berpakaian rapi dan lalu mengejar Evan.
"Evan tunggu, aku ikut."
"Risa kamu di rumah saja ya."
"Tidak Evan bayiku ingin bertemu dengan teman-teman club motor kita. Lagian sudah lama sekali aku tidak ikut kumpul dengan mereka."
Evan menatap wajah Luna. Luna memberikan kode anggukan.
"Baiklah, kita akan ke club motor bareng."
"Tapi ingat ya Risa kamu naik motornya jangan ngebut-ngebut. Kamu sedang hamil, aku takut nanti kamu kenapa-kenapa," ucap Luna.
"Siap..."
Risa dan Evan sudah melajukan motornya keluar gerbang. Sekarang Luna di rumah hanya tinggal dengan Bibi Eli. Luna lebih memilih untuk masuk ke dalam kamarnya. Dia merebahkan tubuhnya ke ranjang. Luna lalu bercanda dengan anaknya yang masih di dalam kandungan. Anaknya merespon dengan baik dengan tendangannya.
Evan dan Risa sudah sampai di cafe. Mereka semua sudah berkumpul.
__ADS_1
"Wah bumil baru nongol nih, setelah sekian lama tidak gabung."
"Kamu tahu sendiri kan Papa dan suamiku melarangku untuk tidak datang ke club motor."
"Kita besok malam minggu akan balapan. Waktunya untuk menentukan siapa calon ketua club' motor kita yang baru. Kamu besok datang ya Risa."
"Kenapa kita tidak malam ini saja balapannya," ucap teman yang lainnya.
"Iya sekarang saja yuk. Mumpung ada Risa, kalau besok nanti Risa tidak diizinkan oleh suaminya atau Papanya."
"Iya setuju," ucap mereka bersamaan.
"Siapa disini yang akan melawan ketua club motor kita? Nanti yang menang akan menjadi ketua club yang baru."
"Risa bagaimana jika kamu yang melawan Evan? Kamu belum pernah ikut balapan kan?"
"Evan jadi ketua clubnya sekarang?" Tanya Risa.
"Iya, Evan menggantikan posisi Jerry. Sudah 3 kali Evan menang balapan."
"Jangan Risa yang melawanku untuk menjadi ketua club yang baru. Kamu tidak lihat bahwa Risa sedang hamil?"
"Tapi hanya dia yang belum pernah balapan di club kita Evan."
"Begini saja kalau Risa mau ikut balapan dan menang balapan, nanti aku berikan Risa motor sport keluaran terbaru," ucap Jerry dengan serius.
"Baiklah aku akan melawan Evan. Aku akan memenangkan balapan ini."
"Risa kamu jangan nekat. Kamu sedang hamil," ucap Evan.
"Aku serius Evan. Kamu siap-siap akan aku kalahkan."
"Risa bisa kita bicara sebentar?"
Risa mengangguk lalu Evan mengajak Risa menjauh sebentar dari club motornya.
"Risa kamu jangan aneh-aneh apalagi ikut balapan."
"Aku serius Evan ingin memenangkan balapan ini. Aku ingin motor baru itu untuk Rey. Biar aku dan Rey bisa naik motor sport bareng."
"Baiklah kalau begitu aku ada rencana."
Evan lalu berbisik ke telinga Risa.
"Aku setuju Evan," ucap Risa dengan senyuman.
"Ya sudah ayo kita kembali ke teman-teman kita. Nanti mereka curiga lagi."
Risa dan Evan sudah kembali berkumpul dengan teman-temannya.
"Gimana Risa apa kamu sudah menerima tantanganku?" Tanya Jerry dengan serius.
"Iya aku terima tantanganmu. Aku akan mengalahkan Evan."
"Bagus Risa. Aku percaya kamu pasti akan menang," ucap Jerry dengan senyuman.
Jerry hanya ingin Evan tidak lagi menjadi ketua clubnya. Jerry lebih senang orang lain yang menjadi ketuanya. Jerry tidak suka dengan Evan karena Evan sudah mengalahkannya 3 kali.
"Risa kamu jangan nekat, ingat ada bayi yang sedang kamu kandung," ucap Vivi.
"Tenang Vivi aku akan hati-hati naik motornya. Lagian bayiku laki-laki dan pasti akan senang aku ajak balapan motor."
Vivi hanya geleng-geleng kepala, Risa tidak bisa dicegah. Sifat keras kepalanya sudah mendarah daging sejak dahulu. Risa yakin akan menang balapan. Biasanya mereka balapan tidak ada acara taruhan. Hanya yang mampu mengalahkan ketuanya dia akan menjadi menjadi ketua selanjutnya.
__ADS_1