
Beberapa bulan kemudian.
Perut Kezia maupun Risa sudah semakin terlihat membesar. Kandungan Risa sudah berjalan 5 bulan lebih satu minggu. Sedangkan Kezia baru 4 bulan. Rey dan Revano sekarang menjadi suami siaga yang selalu menjaga istrinya selama hamil. Revano tidak pernah menyangka bahwa akan punya adik lagi.
Risa sedang duduk di sofa kamarnya sambil mengusap perutnya pelan. Risa tak menyangka akan membesarkan anaknya. Risa memang keras kepala orangnya. Mungkin saja jika kemarin Kezia tidak sanggup untuk hamil dalam waktu dekat, mungkin saja Risa akan menggugurkan kandungannya karena malu sudah berkepala empat tapi masih saja hamil. Jika ada temannya kan gak terlalu malu menurut Risa.
Risa tidak jadi keluar dari grup arisannya. Teman-temannya melarang untuk Risa keluar dari grup, katanya tidak seru jika Risa tidak ada dalam grup. Teman-temannya juga tidak ada yang mengejeknya, justru mendukung dan mensupport Risa agar tetap mempertahankan kandungannya sampai tiba waktunya melahirkan nanti. Risa melihat ke perutnya yang semakin membesar. Matanya mulai berkaca-kaca.
"Nak, Mommy tidak menyangka bahwa akan membesarkan kamu. Maafkan Mommy ya sayang, kemarin Mommy sempat tidak menerima kamu karena usia Mommy yang tidak muda lagi," ucap Risa sambil memegang perutnya.
Tak lama kemudian Risa merasakan tendangan kecil dari dalam perutnya. Matanya berbinar-binar, karena ini merupakan ketiga kalinya anaknya menendang dalam perutnya. Ternyata anaknya merespon bicaranya dengan tendangan kecilnya.
"Rey...... Reynaldi......." Teriak Risa memanggil suaminya.
Mendengar teriakannya istrinya Rey langsung berlari ke kamarnya.
"Sayang ada apa?" tanya Rey yang ngos-ngosan mengatur napasnya.
"Anak kita baru saja bergerak-gerak lagi," ucap Risa tersenyum bahagia.
"Benarkah?" Rey tak kalah bahagianya mendengar perkataan Risa.
"Iya, sini sayang. Aku ingin kamu menyapanya."
Rey lalu berjalan mendekati istrinya. Rey duduk disamping sofa. Rey perlahan mengusap perut Risa dan mengajak anaknya berbicara.
"Hallo nak. Ini Daddy sayang."
"Kok dia gak bergerak?" tanya Rey sambil mengernyitkan dahinya.
"Mungkin belum sayang," ucap Risa.
Risa lalu ikut memegang perutnya. Tak lama kemudian anaknya mulai bergerak lagi dari dalam perutnya.
"Sayang, apa kamu bisa merasakannya?" tanya Risa lirih.
"Iya sayang, aku bisa merasakannya."
Rey lalu mengecup perut Risa.
"Nak, sehat-sehat ya di dalam perut Mommy. Daddy and Mommy tidak sabar menunggu kamu lahir sayang," ucap Rey yang lalu mendaratkan satu kecupan lagi pada perut Risa.
"Iya Daddy," jawab Risa menirukan suara anak kecil.
__ADS_1
"Sayang, kamu menggemaskan sekali," ucap Rey mencubit pipi istrinya.
"Rey, ini kehamilanku yang terakhir kalinya. Aku sudah tidak bisa memberikan kamu anak lagi. Tiga anak cukup kan?" ucap Risa menatap wajah suaminya.
"Cukup sayang. Makasih ya sayang kamu telah membesarkan anak-anak kita dan sekarang kamu mau untuk mempertahankan kandungan kamu," Rey lalu mengecup kening Risa sejenak.
"Sama-sama suamiku."
"Sayang, kamu masih ingat tidak waktu kita pertama kali bertemu?" tanya Rey.
"Masih ingat dong. Saat kamu mau MOS kan saat itu?"
"Ehehe, kamu ternyata masih ingat sayang," ucap Rey menoel hidung Risa.
Rey lalu merebahkan kepalanya pada pangkuan istrinya. Risa mengusap rambut suaminya. Rey lalu menempelkan wajahnya pada perut Risa.
"Sayang, kamu ngapain?"
"Aku lagi mendengarkan anak kita sedang apa di dalam perutmu."
"Haha, kamu ada-ada saja kamu sayang."
"Oh iya sebulan lagi kandungan Kezia sudah 5 bulan dan berarti ngidam yang selama ini aku inginkan akan segera tercapai."
"Iya sayang, kita harus berterimakasih sama Revano dan juga Kezia. Mereka sebenarnya tidak ingin punya anak secepat ini. Mereka padahal ingin menunda beberapa tahun lagi untuk punya anak."
"Iya, ini semua salahku. Jika saja aku tidak hamil. Maka aku tidak akan menyusahkan menantuku."
"Sayang, jangan berbicara seperti itu. Anak adalah anugerah dari Allah yang harus kita jaga dan kita terima dengan penuh kasih sayang," ucap Rey sambil memegang perut Risa.
"Iya sayang. Maaf ya, aku kemarin tidak bersyukur atas apa yang Allah berikan," ucap Risa menunduk sambil mengusap perutnya.
"Kamu ibu yang baik dan hebat sayang. Aku bangga mempunyai istri seperti kamu."
"Rey, tapi aku takut untuk melahirkan," ucap Risa dengan wajah sendu.
"Sayang, kamu gak perlu khawatir dan akan ada aku yang selalu disisi kamu."
"Tapi Rey, kita kan tidak muda lagi. Aku hanya takut saja jika nanti saat melahirkan aku akan," perkataannya tidak Risa teruskan dan Rey sudah paham apa yang dimaksud oleh istrinya.
"Ssssttttttt...... Jangan berpikiran yang tidak-tidak sayang. Kamu tidak akan kenapa-kenapa kok dan percayalah padaku."
"Aamiin, mudah-mudahan saja nanti lancar-lancar saat melahirkan."
__ADS_1
"Aamiin Ya Allah..."
Risa dan Rey sepakat tidak ingin tahu jenis kelamin anaknya. Karena agar surprise saat melahirkan nanti.
...*****...
Risa melihat perut Kezia semakin membesar. Risa lalu menggenggam tangan menantunya.
"Nak, terimakasih kamu telah mengabulkan permintaan Mommy."
"Sama-sama Mommy."
"Sayang, Mommy tidak sabar menunggu pergerakan dari dalam perutmu. Maafkan Mommy yang ngidamnya terlalu aneh ini ya nak."
"Mommy tidak perlu minta maaf. Karena cepat atau lambat Kezia dan Revano akan memberikan adik buat Reva. Jadi mau hamil sekarang atau nanti sama saja," ucap Kezia terkekeh.
"Iya benar juga apa yang kamu katakan nak. Oh iya bolehkah Mommy memegang perut kamu?"
"Boleh saja Mommy. Kapanpun Mommy mau tinggal pegang saja."
"Kan harus izin dulu nak."
"Mommy Risa ini jangan terlalu berlebihan deh. Kan kita adalah keluarga masa harus izin terlebih dahulu."
Risa bahagia menantunya itu selalu baik padanya. Kezia maupun Sandra tidak pernah melawan perkataannya.
...*****...
Di tempat lain.
Seorang wanita sedang hamil muda. Usia kandungan baru 1 bulan. Suaminya semakin menyayanginya dan hubungan rumah tangganya semakin harmonis sejak anak keduanya telah hadir. Pasangan suami istri tersebut adalah Viona dan Vino. Viona akhirnya hamil lagi setelah mereka berusaha selama beberapa bulan ini. Mereka kembali romantis seperti dulu dan ucapan kata sayang sekarang sudah menjadi hal yang biasa. Sekarang Viona sedang ngidam rujak buah mangga dan kedondong.
"Sayang, ayo makan lagi rujaknya," ucap Viona menyuapi Vino dengan mangga muda.
"Rasanya terlalu asam sayang. Aku tidak suka."
"Ya sudah kalau gitu buah kedondongnya saja ya ini," ucap Viona sambil menyodorkan buah kedondong yang sudah berbalut dengan bumbu rujak.
Mau tidak mau Vino harus memakan rujak tersebut.
"Gimana enak kan?"
"Iya enak sayang," ucap Vino tersenyum tipis.
__ADS_1
Vino baru kali ini menemani Viona ngidam. Vino menyesal dulu mengapa tidak ia nikahi saja Viona saat itu dan justru membiarkan Revano yang menikahi Viona. Vino bahagia akhirnya bisa menemani istrinya yang sedang ngidam. Ternyata indahnya menjalani rumah tangga bersama Viona baru ia rasakan beberapa bulan ini. Kini Viona sudah kembali lagi seperti dulu lagi. Viona sudah benar-benar mencintainya. Alangkah bahagianya Vino saat ini ketika Mama Vera sudah sembuh dari penyakitnya dan ditambah istrinya sedang hamil.