Dijodohkan Dengan Cowok Manja

Dijodohkan Dengan Cowok Manja
S2 - Pilihan Yang Sulit


__ADS_3

Revano dan Kezia pergi ke Bogor sesuai keinginan anaknya. Kemarin Reva sudah 2 hari terbaring di rumah sakit dan sekarang saatnya Reva ingin menenangkan diri di Kota Bogor. Menikmati kebersamaannya dengan sang buah hatinya. Reva ingin membahagiakan hari-hari terakhirnya sebelum dia pergi.


"Udaranya sejuk sekali ya Mama."


"Iya nak, pemandangannya juga indah."


Reva lalu matanya berbinar-binar saat melihat orang berjualan.


"Papa, aku sedang ngidam ingin makan kue putu itu," tunjuk Reva kepada penjual yang sedang lewat.


"Baiklah, tunggu sebentar ya sayang. Papa akan belikan untuk kamu."


"Iya Papa."


Revano lalu bergegas memanggil sang penjual kue tersebut. Sepuluh menit kemudian kue putu pesanan Reva sudah ada di depan mata.


"Wah enak nih anget-anget seperti ini," ucap Reva bahagia.


"Mama, Papa ayo kita makan bersama."


"Buat kamu saja nak. Kan kamu yang sedang ngidam sayang."


"Reva suapin ya Papa, Mama."


"Tidak usah nak," tolak Kezia.


"Iya tidak usah sayang."


"Ini mungkin ngidam terakhirku sebelum aku pergi Ma, Pa."


"Sayang, jangan berbicara seperti itu nak. Kita mau makan kue putu barang sama kamu."


Reva tersenyum tipis saat ini. Kemudian Reva lalu menyuapi Papa nya terlebih dahulu dan lalu bergantian dengan Mamanya.


"Enak kan Ma, Pa?"


"Iya enak nak," jawab Kezia.


Revano hanya mengangguk pelan dan sebenarnya Revano tidak suka dengan kue putu. Tapi karena anaknya yang sedang ngidam itu jadi ia terpaksa memakannya.


...*****...


Tak terasa kandungan Reva sudah berjalan 8 bulan lebih 3 minggu. Reva duduk disamping Papanya.


"Pa, surat gugatan cerainya apa sudah Papa siapkan?"


"Sudah nak."


Reva tersenyum kecut dan tidak menyangka bahwa pernikahannya yang baru seumur jagung itu akan kandas begitu saja. Ini murni kesalahan Rio. Jika suaminya itu tidak menduakan dirinya maka sekuat apapun Reva akan tetap untuk bertahan memperjuangkan rumah tangganya.


"Apa kamu ingin berubah pikiran nak?"


"Tidak Papa. Tekadku sudah bulat ingin berpisah. Seharusnya dulu aku tidak bersamanya. Jadi hidupku tidak akan seperti ini."


"Sabar ya nak."


Bagi Reva setia sama satu pasangan itu hal yang penting dalam hidupnya. Jika sama-sama tidak bisa untuk setia lalu untuk apa menjalin hubungan rumah tangga. Lebih baik Reva mundur dari pernikahan ini dan tidak mau sakit hati lagi. Sudah cukup luka yang Rio torehkan dua bulan ini.


Malam telah tiba, Reva menatap jendela kamarnya dan melihat ke arah luar.


"Indah sekali bintangnya malam ini."


Reva kemudian mengusap perutnya.


"Kalian tahu tidak nak Mama memberikan nama kalian itu sinar."


Reva lalu menghela napas panjang.


"Nama sinar yang Mama berikan untuk kalian agar kalian nanti bisa menjadi anak yang selalu ceria."

__ADS_1


Semakin bertambahnya bulan Reva sering merasakan perutnya yang teramat sakit. Reva menangis saat ini. Karena sebentar lagi akan berpisah dengan kedua anaknya.


"Mama hanya bisa berharap akan ada sebuah keajaiban agar kita bisa bersama nak. Maafkan Mama yang tidak bisa menyayangi kalian setelah kalian lahir nanti," ucapnya sambil mengusap perutnya yang sudah sangat besar.


Mengandung dua anak sekaligus tidaklah mudah. Apalagi dengan kondisi kesehatan Reva yang semakin kian menurun akhir-akhir ini. Pinggangnya sering mengalami sakit yang sangat luar biasa, rasanya seperti mau patah.


"Apa karena aku ingin bercerai dari Rio. Maka perutku bisa sangat sakit seperti ini? Apakah anak-anak mencegahku untuk berpisah dari Papanya?" batin Reva.


Semakin lama perutnya semakin terasa sakitnya.


"Arghhh Papa, perutku sakit sekali," teriak Reva saat merasakan kontraksi lagi pada perutnya.


Revano segera bangun dari tidurnya dan berlari saat mendengar Reva berteriak.


"Papa," lirihnya.


"Nak kita ke rumah sakit sekarang."


Dengan cepat Revano menggendong Reva. Saat ini Kezia sedang di Jakarta. Seperti biasa putra bungsunya yang bernama Reza itu selalu lengket dengan sang Mama.


Revano lalu mengemudikan mobilnya.


"Papa, perutku sakit sekali," keluh Reva sambil memegang perutnya.


"Bertahanlah sayang, sebentar lagi kita akan segera sampai di rumah sakit."


"Papa berjanjilah untuk menyelamatkan kedua anakku."


Revano hanya terdiam saat ini. Pilihan yang sulit baginya untuk memilih siapa yang akan ia selamatkan.


"Arghhh Pa sakit," pekik Reva.


"Papa, Kedua cucu Papa harus tetap hidup. Berjanjilah untuk menyelamatkan anak-anakku," pinta Reva.


"Iya nak."


Reva lalu akan diberikan penanganan. Tadi Reva sudah mengkode ke Revano agar yang harus diselamatkan oleh Dokter adalah kedua anaknya bukan dirinya.


"Bagaimana Pak? Siapa yang ingin Anda selamatkan? Ibu atau bayinya?"


Suatu pilihan yang sulit bagi Revano. Namun ia harus bisa mengambil keputusan ini karena sudah janji dengan anaknya.


"Utamakan bayinya Dokter," ucap Revano sambil menghapus air matanya.


"Kalau begitu silakan Anda menandatangani surat ini dan kami akan mengambil tindakan."


Revano dengan cepat menandatangani surat tersebut agar Dokter segera mengambil tindakan.


"Kalau bisa dua-duanya bisa selamat Dok, saya mohon. Saya akan bayar berapa saja asalkan anak saya juga selamat," pinta Revano.


Dokter hanya menggelengkan kepalanya pelan dan lalu masuk ke ruang operasi setelah Revano menandatangani suratnya.


Revano tak kuasa menahan tangisannya karena bisa jadi hari ini adalah terakhir kalinya bertemu dengan anaknya. Tubuhnya langsung merosot setelah pintu ruang operasi tertutup dengan rapat.


"Ya Allah, selamatkan anakku," lirihnya.


Revano lalu menghapus air matanya.


"Aku gak boleh lemah, aku masih punya Allah," ucap Revano yang lalu pergi ke mushola yang ada di rumah sakit.


Revano lalu sholat dan berdoa, meminta keajaiban untuk anaknya agar bisa selamat.


...*****...


Di tempat yang berbeda Rio merasakan perutnya seketika merasa mulas. Mau buang air besar tidak bisa.


"Aneh kenapa aku bisa sakit perut seperti ini? Tidak seperti biasanya aku seperti ini."


Sudah sebulan lebih lamanya istrinya tidak ia temukan.

__ADS_1


"Sayang, kamu di mana? Aku sangat merindukan kamu," ucapnya sambil memeluk bantal yang biasanya istrinya gunakan.


Rio lalu melihat ke cermin meja rias Reva yang sudah pecah. Ia semakin merasa bersalah dengan sang istri


"Aku telah bersalah sama kamu sayang. Maafkan aku yang bodoh ini. Maafkan aku," lirihnya dan matanya sudah mulai berkaca-kaca.


Rio lalu melihat ponselnya dan ada wallpaper bersama Reva saat mereka menikah. Wallpaper itu tak pernah Rio ganti semenjak menikah dengan Reva.


"Sayang, kamu berada di mana? Jangan membuat aku khawatir seperti ini. Aku kangen kamu, aku juga kangen dengan anak-anak kita," ucapnya yang kini tak kuasa menahan air matanya.


"Aku menyesal telah menyia-nyiakan kamu selama ini. Pulanglah sayang aku sangat merindukan kamu," ucapnya kembali.


Biasanya malam hari seperti ini, dulu Reva dan Rio membicarakan tentang perkembangan soal anaknya.


Flashback On


Beberapa bulan yang lalu Reva dan Rio sangat bahagia saat kedua anaknya mulai bisa bergerak dengan aktif dan bisa merespon ucapan mereka. Padahal kandungan Reva saat itu baru akan berjalan 5 bulan kurang 3 hari.


"Sayang, coba rasakan pergerakan mereka yang semakin aktif dibandingkan minggu lalu," ucap Reva sambil meraih tangan suaminya dan meletakkannya pada perutnya.


Rio merasakan tendangan kecil dari dalam perut istrinya.


"Iya, mereka mulai aktif sayang."


Rio lalu mengecup dua kali perut istrinya.


"Hallo anak-anak, ini Papa nak. Papa dan Mama menyayangi kalian. Cepatlah tumbuh besar agar kita bisa segera bertemu," ucap Ricko sambil mengusap perut istrinya.


"Masih lama sayang," lirihnya.


Rio dan Reva lalu saling memandang saat mereka sama-sama merasakan tendangan kecil dari anaknya.


"Mereka merespon aku sayang."


"Iya, rasanya geli kalau mereka sedang menendang perutku."


"Aku bersyukur program hamil yang kita lakukan berhasil. Makasih ya sayang, kamu calon ibu sekaligus istri yang baik yang mau menuruti aku untuk punya anak kembar."


"Apa saja akan aku lakukan untuk kamu. Karena aku hanya mencintaimu. Bahkan aku rela untuk pergi jika itu akan membuat kamu bahagia."


"Sayang kamu jangan berbicara seperti itu. Aku tidak akan membiarkan kamu pergi dari hidupku."


"Aku tidak tahu apa yang akan terjadi bulan depan atau bulan-bulan berikutnya. Bisa saja kamu tertarik dengan wanita yang lebih cantik dan menarik di luaran sana."


"Aku bukan laki-laki yang seperti itu. Kamu jangan terlalu cemas ya sayang."


"Jika sampai ada orang ketiga di antara kita dan saat itu juga aku tidak akan percaya lagi sama kamu."


"Sayang, tidak mungkin aku akan menduakan kamu."


"Aku hanya ingin kamu membuktikannya. Apakah kamu memang tulus mencintai aku atau tidak."


"Percayalah, cintaku tulus padamu."


Flashback Off


Rio lalu menyesal telah menduakan istrinya. Dendam salah alamat itu membuatnya menyakiti hati istrinya. Sekarang terbukti Reva telah pergi meninggalkannya karena adanya orang ketiga.


Rio meneteskan air matanya lagi saat mengingat masa-masa indah bersama istrinya. Malam hari biasanya ia meluangkan waktunya untuk bercanda dan menyapa kedua anaknya. Pelukan hangat selalu ia berikan setiap saat.


"Nak, Papa rindu sama kalian. Maafkan Papa yang telah menyakiti hati Mama kalian," ucapnya yang lalu semakin mempererat bantal yang biasa istrinya gunakan.


Rio lalu mengusap air matanya.


"Dua mingguan lagi Reva akan melahirkan. Aku harus segera menemukannya. Aku ingin menemaninya saat melahirkan kedua anakku."


Rio tidak tahu saat ini istrinya sedang berjuang antara hidup dan matinya melahirkan kedua anaknya di rumah sakit.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2