
Please berikan jempol ๐ kalian terlebih dahulu sebelum membaca karena jempolnya semakin menghilang akhir-akhir ini ๐
Reva membawa sebuket bunga mawar dari suaminya tadi ke kamar. Reva ingin bersikap pura-pura tidak tahu menahu tentang suaminya yang tengah berselingkuh.
Reva tadi menjatuhkan amplop hasil USG dari rumah sakit. Reva ingin tahu apa reaksi suaminya nanti ketika pulang ke rumah.
Waktu berjalan begitu cepat suaminya kali ini pulang jam 9 malam. Seperti biasanya Reva sedang makan malam sendiri karena suaminya selalu makan malam di luar. Tadi ekspektasi Reva, suaminya itu akan pulang lebih cepat setelah mengetahui hasil USG kedua anaknya. Namun ternyata dugaannya salah, suaminya itu masih saja seperti biasanya.
"Assalamualaikum..."
"Wa'alaikum Salam..."
"Sayang, lagi makan apa?"
"Salad buah," jawabnya singkat sambil memasukkan potongan buah ke dalam mulutnya.
Rio lalu duduk menemani istrinya makan salad buah. Biasanya Reva selalu menawarkan apa yang sedang dia makan. Bahkan suaminya dia suapin, namun untuk kali ini tidak.
"Sayang, maaf aku pulang terlambat. Tadi ada klien penting jadi sekalian makan malam bersama."
"Hmm iya, aku tahu kok kalau kamu itu super sibuk. Bahkan waktu untuk istrinya sendiri tidak pernah ada," ucap Reva beranjak dari tempat duduknya.
"Sayang, kenapa kamu berubah?" ucap Rio menahan tangan Reva.
"Aku berubah?" tunjuk Reva pada dirinya sendiri.
"Kamu ngaca dong, selama ini siapa yang berubah?" ucapnya kembali sambil membawa salad buahnya ke dapur.
Reva sudah gak mood lagi untuk menghabiskan salad buahnya. Rio lalu mengejar istrinya ke dapur.
"Reva kenapa kamu memotong rambut panjangmu? Dan kenapa diberi cat warna seperti ini?" ucapnya sambil memegang rambut panjang istrinya dan sambil geleng-geleng kepala.
"Rambut pendek seperti ini lagi trand di sinetron ala-ala pelakor," sindir Reva.
Reva lalu pergi ke lantai atas, meninggalkan suaminya yang masih mematung. Dengan cepat Rio menyusul istrinya.
"Sayang......."
Rio terkejut saat bunga yang tadi ia kirim masih utuh. Biasanya istrinya itu meletakkan ke vas bunga seperti biasanya. Namun kali ini bahkan bunga itu masih terbungkus rapi. Terlihat Reva habis dari kamar mandi dan langsung menuju ke ranjangnya.
Rio meletakkan tasnya dan membersihkan dirinya di kamar mandi. Sedangkan Reva tidak ingin berdebat dengan suaminya dan memilih untuk tidur.
Rio sekarang sudah selesai bersih-bersih dan memakai baju tidurnya. Rio membuka tasnya dan mengambil amplop hasil USG kedua anaknya.
"Reva, kita perlu bicara..."
Reva menyibakkan selimutnya dan menoleh ke Rio.
"Ada apa lagi? Aku sudah sangat ngantuk..."
__ADS_1
"Kamu tadi kenapa tidak langsung masuk saja ke ruanganku?"
"Kamu sedang sibuk dengan rekan kerja dan aku lalu teringat saat kamu melarang aku untuk datang ke kantor. Lagian aku tahu kamu pasti malu punya istri yang gendut seperti diriku..."
"Reva, bukan maksudku melarang kamu datang ke kantor."
"Oh iya kamu tadi menjatuhkan hasil USG anak kita kan?" ucapnya kembali sambil memperlihatkan amplopnya.
"Ehm, tadi aku buru-buru karena sudah ada janji dengan temanku mengajakku ke salon kecantikan jadi amplopnya terjatuh," ucapnya berbohong.
"Sayang, kita akan punya dua anak perempuan."
Rio memeluk Reva dan dengan segera Reva mendorong tubuh suaminya pelan.
"Maaf, mataku sudah tidak tahan lagi. Aku ngantuk..."
Reva lalu menarik selimutnya dan membelakangi suaminya.
"Selamat tidur sayang," ucap Rio lirih.
Reva tidak menjawabnya. Sudah sebulan ini hubungan rumah tangganya tidak harmonis lagi. Suaminya bahkan melupakan perhatian terhadap anak-anaknya saat akan tidur.
Sekarang Rio sudah tertidur pulas. Reva belum tidur sebenarnya dan menangis dalam diam. Suaminya seolah-olah tidak menghargai perasaannya sebagai seorang istri.
Reva berusaha untuk tetap tegar menghadapi ujian rumah tangganya. Sekarang yang terpenting adalah kesehatannya dan fokus terhadap kedua anaknya.
...*****...
Mentari pagi bersinar terang. Hanya saat sarapan pagi saja mereka makan bersama. Tidak seperti dulu entah sarapan, makan siang dan makan malam selalu bersama-sama. Rumah tangganya semakin bertambahnya bulan semakin retak. Seperti biasa, Reva seolah-olah tidak tahu hubungan antara suaminya dan sekretarisnya di kantor. Hanya saja jika Reva sudah tidak tahan lagi akan menyerah.
"Sayang, apa kamu hari ini sibuk di kantor?"
"Tidak terlalu kok sayang. Nanti malam mungkin aku pulang jam 8."
"Owh..."
"Kenapa sayang?"
"Ah tidak apa-apa..."
"Bahkan kamu melupakan Anniversary 1 tahun pernikahan kita dan ulang tahunku." Batin Reva sakit hati.
Mereka dulu sepakat menikah saat ulang tahun Reva. Kata Rio biar bisa merayakannya barengan. Namun suaminya melupakan hal sepenting itu.
"Ah aku harus berpikir positif dulu. Mungkin saja Rio akan memberikan kejutan untukku dan berpura-pura lupa." Batin Reva.
Rio sudah selesai sarapannya. Tidak ada hal seromantis dulu. Sejak Rio pulang malam sejak dua bulanan yang lalu. Sekarang Rio jadi keseringan pulang malam.
"Sayang, aku berangkat ke kantor dulu ya?"
"Iya hati-hati..."
__ADS_1
Setelah suaminya pergi hari ini adalah jadwalnya Reva untuk cek kandungannya. Namun Reva akan menundanya besok dan berharap suaminya akan mengantarkannya ke rumah sakit.
Reva mengusap perut buncitnya. Sudah 7 bulan usia kehamilannya.
"Nak, ayo kita buat kue. Nanti malam kita makan sama-sama dengan Papa ya nak," ucap Reva tersenyum tipis.
Bibi membereskan piring sarapannya majikannya. Sedangkan Reva langsung menggunakan celemek dapurnya untuk siap membuat kue.
"Nyonya, saya bantu ya?"
"Tidak usah Bibi. Karena ini aku buat spesial."
"Astaga, Bibi baru ingat kalau besok Nyonya ulang tahun dan sekaligus 1 tahun pernikahan Nyonya."
"Bibi saja ingat. Masa kamu gak ingat hal sepenting itu Rio?" Batin Reva kecewa.
"Hehe iya Bibi..."
"Mudah-mudahan rumah tangga Nyonya semakin langgeng. Apalagi sebentar lagi si kecil lahir, pasti akan semakin harmonis rumah tangga Nyonya."
"Aamiin Bibi... Makasih ya."
"Kalau begitu Bibi mau nyuci dulu Non."
"Iya Bibi....."
Setelah Bibi pergi, Reva lalu menyelesaikan membuat kuenya. Reva membuat 2 kue. Yang kecil berbentuk kotak untuk ulang tahunnya dan yang besar berbentuk bulat untuk Anniversary pernikahannya yang ke 1.
Suaminya itu sangat suka dengan topping coklat. Maka dari itu Reva membuat kue kesukaan suaminya. Setelah berkutat selama hampir 3 jam di dapur akhirnya dua kue selesai Reva buat.
Kuenya masih panas karena baru saja keluar dari oven. Tinggal menunggu dingin dan lalu menghiasinya.
Setelah menunggu satu jam lamanya dan memastikan kuenya sudah dingin lalu Reva hias sesuai apa yang dia inginkan. Reva tersenyum bahagia saat dua kuenya terlihat enak meskipun Reva belum mencicipinya. Yang satu topping coklat dan strawberry. Yang satunya lagi topping keju dan dihiasi buah cherry.
"Wah, Nyonya hebat. Saat sedang hamil bisa membuat kue 2 sekaligus."
"Bibi bisa aja. Nanti malam kita makan bersama-sama ya Bi."
"Ah Bibi tidak enak sama Tuan. Mending sisain besok pagi saja buat Bibi."
"Baiklah Bibi....."
Setelah selesai menghias kuenya lalu Reva letakkan kuenya ke dalam kulkas. Reva tidak sabar menunggu nanti malam suaminya pulang dan memberikan hadiah ulang tahunnya sekaligus anniversary pernikahannya.
Dukung author dengan memberikan vote gratis (tanpa mengurangi poin)
Vote hanya muncul seminggu sekali.
Readers kesayangan sambil menunggu cerita selanjutnya jangan lupa tinggalkan jejak kalian biar author semakin semangat bikin ceritanya๐๐ค
__ADS_1