Dijodohkan Dengan Cowok Manja

Dijodohkan Dengan Cowok Manja
BAB 114 - Membawamu Pulang


__ADS_3

Risa izin pulang ke rumah Evan untuk mandi dan berganti baju. Sedangkan Evan sudah menelepon Bi Eli untuk menyiapkan pakaiannya yang nanti akan di bawa Risa saat ke rumah sakit kembali. Papa Ferdinan sekarang sedang naik pesawat menuju Jakarta.


Sekarang Risa sudah sampai di rumah Evan kembali. Risa lalu bergegas mandi dan memakai pakaiannya yang menurutnya nyaman. Tak lupa Risa juga memakai make-up tipis agar wajahnya terlihat fresh. Risa lalu melajukan mobilnya ke rumah sakit kembali.


Di tempat lain Rey sedang membeli buah untuk menjenguk Luna. Evan tadi mengabarinya bahwa Luna sudah melahirkan anaknya.


Risa sudah sampai ke rumah sakit. Risa membawakan beberapa baju ganti untuk Evan yang telah disiapkan Bi Eli.


"Makasih ya Risa."


"Sama-sama Evan."


Evan lalu menuju ke kamar mandi untuk mandi karena badannya sudah mulai terasa lengket. Papa Alvin sudah pulang ke rumahnya. Papa Ferdinan belum datang, sekarang Papa Ferdinan sudah sampai di Bandara Soekarno-Hatta. Ia akan memesan taksi untuk ke rumah sakit.


"Luna, aku boleh gendong Baby El? Aku akan belajar menggendong bayi. Karena sebentar lagi Baby R juga akan lahir."


"Boleh saja Risa." Luna lalu menyerahkan Baby EL kepada Risa.


"Hello Baby, kamu sangat cantik sekali," ucap Risa sambil membelai wajah Elena.


"Lihat Luna dia bahkan tersenyum saat aku bilang cantik."


"Iya Risa, dia bahagia kamu gendong. Kamu sudah pantas menjadi ibu Risa. Lihatlah, kamu sudah bisa menggendong bayiku dengan benar."


"Ya karena aku tadi melihatmu menggendongnya."


Dibalik pintu ruang rawat Luna ada seorang laki-laki dengan sepasang mata yang memperhatikan situasi di dalam ruangan Luna. Senyum mengembang di wajahnya melihat wanita yang dicarinya sudah ketemu. Laki-laki itu tak lain adalah Reynaldi Wijaya. Rey bahagia akhirnya bisa menemukan Risa.


"Sayang aku akan membawamu pulang hari ini." Lirih Rey.


Risa lalu memberikan Elena kembali kepada Luna.


"Luna, aku mau cek kandunganku terlebih dahulu. Aku tinggal sebentar gak apa-apa ya?"


"iya Risa. Kamu harus mengecek kandungan kamu, aku takut terjadi sesuatu dengan Baby R karena kamu semalam habis balapan kan?"


"Hmm... Ya sudah aku kesana dulu ya?"


Luna mengangguk pelan. Risa lalu akan keluar dari ruangan Luna. Rey bergegas langsung bersembunyi agar Risa tidak melihatnya. Rey takut Risa akan menghindarinya dan pergi lagi kalau Rey menampakkan wajahnya. Setelah Risa pergi, Rey lalu masuk ke dalam ruang rawat Luna.


"Kak Luna, selamat ya atas kelahiran putrinya. Aku kesini cuma bawa buah. Kak Luna semoga cepat pulih."


"Terima kasih banyak ya Rey. Seharusnya tidak usah repot-repot, cukup datang saja aku sudah senang."


"Oh iya Evan mana Kak?"


"Lagi mandi Rey."


"Risa baru saja kesini ya Kak?"


Luna bingung harus menjawab bagaimana. Tapi dia juga kasihan dengan Rey yang sepertinya sangat merindukan Risa.


"Iya Rey, Risa sekarang lagi mau cek kandungannya."


"Ya sudah kalau begitu aku mau menemani Risa cek kandungan dulu ya Kak."


"Iya Rey."


"Semoga hubungan mereka akan baik-baik saja setelah ini," ucap Luna saat melihat Rey keluar dari kamarnya.


Rey melangkahkan kakinya menemui wanita yang dicintainya. Risa sedang menunggu gilirannya untuk dipanggil masuk ke dalam ruangan dokter.


"Ibu Risa Alexander."


"Ya sus," ucap Risa sambil beranjak dari duduknya.

__ADS_1


"Mari Bu saya antar ke ruangan."


Risa dan suster tersebut masuk ke dalam ruang dokter.


"Wah ibu masih muda ternyata," ucap sang dokter.


"Iya dok, umur saya masih 20 tahun."


"Wah nikah muda itu emang lagi ngetrend ya sekarang."


Risa hanya tersenyum kecut mendengar ucapan dokter. Dirinya sebenarnya ingin menikah di usia 23 tahun setelah lulus kuliah dan bekerja. Tapi orang tuanya sudah menikahkannya dengan Rey di saat usia Risa yang masih 19 tahun.


"Oh iya Bu suaminya mana? Kok tidak menemani saat periksa?" Tanya sang dokter.


"Eh? Itu dok suami saya sedang......"


Belum sempat melanjutkan kata-katanya Rey masuk ke dalam ruang dokter kandungan tersebut.


"Maaf dok saya terlambat. Sayang, aku datang dan akan menemanimu periksa," ucap Rey yang tiba-tiba muncul dari balik pintu dengan wajahnya yang tersenyum menambah ketampanannya berkali-kali lipat.


Risa kaget saat Rey tiba-tiba tahu keberadaannya.


"Wah pasangan suami istri yang masih muda, kalian sangat serasi ganteng dan cantik. Baiklah kalau begitu mari Bu saya periksa."


Risa sedang diperiksa oleh dokter, Rey memperhatikan anaknya di layar monitor. Rey meneteskan air matanya saat melihat anaknya sudah tumbuh besar. Risa yang melihat Rey menangis pun hatinya tersentuh.


"Ini Bu, Pak bisa dilihat kondisi janinnya tumbuh dengan sehat."


"Anak saya tidak apa-apa kan dok?" Tanya Rey yang khawatir karena semalam Risa balapan motor.


Risa melihat Rey yang khawatir pun senang. Risa tersenyum tipis melihat Rey mengkhawatirkan Baby R.


"Tidak apa-apa Pak. Bahkan bayinya sehat dan sangat lincah bergerak di rahim istri Anda."


"Syukur Alhamdulillah. Sayang bayi kita sehat," ucap Rey dengan senyuman.


"Ini hasil pemeriksaan dan print USG. Saya juga memberikan resep vitaminnya. Nanti di rebus ya Pak. Oh iya jangan lupa selalu ada disamping istri Anda ya. Biasanya ibu hamil ingin selalu diperhatikan."


"Iya dok."


"Ada yang mau ditanyakan?"


"Kalau ibu hamil sering marah-marah itu bisa membahayakan kesehatan bayinya gak dok?" Rey sambil melirik ke arah Risa.


"Iya sangat berpengaruh. Karena jika ibu hamil sering marah-marah maka akan sering terganggu pikirannya. Ibu hamil tidak boleh stress. Usahakan jangan buat istri Anda marah Pak."


Risa terbengong ketika Rey menanyakan hal itu kepada dokter.


"Baiklah dok. Terima kasih."


Rey lalu menggandeng tangan Risa keluar ruangan dokter. Risa lalu melepaskan tangan Rey saat keluar dari ruangan dokter.


"Sayang apa kamu masih marah padaku?"


Risa hanya terdiam. Dirinya sekarang hanya ingin pergi menjauh dan tidak bertemu dengan Rey. Kekecewaannya masih terasa sampai sekarang. Risa bergegas melangkahkan kakinya dengan cepat. Namun Rey menahan Risa untuk pergi dengan menggenggam tangannya.


"Rey lepasin!"


"Aku tidak akan melepaskanmu sayang."


Saat Risa berhasil melepaskan tangan Rey. Rey berusaha untuk mendekati Risa.


"Kamu mau kemana sayang?"


Risa berjalan mundur sampai membentur tembok dan memegang perutnya. Rey berusaha untuk berjalan maju lebih mendekati Risa.

__ADS_1


"Mau apa kamu?" Dengan nada marah Risa bertanya.


"Aku akan membawamu pulang sayang," ucap Rey dengan lembut ditelinga Risa.


"Aku tidak akan pulang. Aku sudah terlanjur kecewa sama kamu. Aku bisa mengurus bayiku sendiri."


Rey langsung berlutut dan memeluknya. Risa kaget melihat Rey dan didepan umum lagi melakukannya.


"Sayang jangan bicara seperti ini. Aku tersiksa dalam keadaan seperti ini. Aku minta maaf, sayang pulanglah bersamaku. Aku berjanji akan mengabulkan semua keinginanmu."


"Aku mau pulang, tapi aku punya satu syarat. Namun aku tidak yakin kamu akan menerima persyaratanku."


"Katakanlah, aku akan melakukannya apapun syarat itu." Rey sudah berdiri tepat di depan Risa dan melihat wajah cantik istrinya.


"Kamu sudah menerima hadiah motor hasil balapanku?"


"Sudah sayang, aku kaget kamu ikut balapan. Aku tadinya takut terjadi apa-apa sama kamu dan anak kita."


"Bayiku sehat-sehat saja kan? Bahkan tadi kamu bisa lihat sendiri Baby R sehat-sehat saja setelah semalam aku mengajaknya naik motor sport."


Rey hanya mengangguk pelan.


"Sekarang gini aku akan mau ikut kamu pulang asalkan kamu mau naik motor sport bersamaku. Hadiah motor balapan itu aku berikan padamu. Gimana? Apa kamu setuju?"


"Tapi sayang........"


"Sudah kuduga, kamu tak akan mau menuruti perkataanku. Sudahlah lebih baik kamu pulang saja. Urusin tuh kucing kesayanganmu. Dia kan yang lebih kamu perhatikan dari pada istri dan anakmu? Ingat, jangan pernah menemuiku lagi. Aku bisa menjaga dan membesarkan anakku sendiri."


"Deg..............." Rey hatinya langsung sakit mendengar ucapan Risa yang bergitu menyanyat hatinya.


Risa lalu pergi begitu saja meninggalkan Rey yang masih mematung mendengar perkataan Risa. Rey seketika air matanya lolos begitu saja membasahi pipinya. Rey tak mau kehilangan Risa. Rey lalu berjalan menuju kamar Luna. Risa lalu mencari tasnya dan akan pergi. Risa akan pergi dari rumah sakit saat ini juga. Rey lalu masuk ke dalam ruang rawat Luna.


"Sayang, maafkan aku. Aku janji tidak akan mengulanginya lagi." Kali ini Rey sudah bersimpuh di kakinya.


"Rey bangun! Kamu jangan seperti ini."


"Aku tidak akan bangun, sebelum kamu memaafkanku."


Luna, Evan dan Papa Ferdinan pun terkejut dengan apa yang dilihatnya.


"Risa, maafkanlah Rey," ucap Luna.


"Iya Risa, bayimu juga butuh ayahnya."


"Kamu tidak bisa menuruti keinginanku. Untuk apa aku masih bersamamu?" ucap Risa yang sudah mulai berkaca-kaca.


"Baiklah aku akan turuti keinginan kamu tadi, asalkan kamu mau pulang bersamaku."


"Kamu janji?"


"Iya aku janji," ucap Rey sambil mendongakkan kepalanya.


"Baiklah, aku memaafkanmu dan sekarang bangunlah."


Rey lalu berdiri dan secepatnya menghapus air mata Risa. Rey lalu memeluk Risa.


"Terima kasih sayang."


Semua yang berada di ruangan tersebut pun tersenyum saat Risa dan Rey sudah berbaikan. Saat Rey dan Risa masih berpelukan Baby EL menangis. Risa langsung melepaskan pelukannya.


"Kak Luna, bolehkah aku mencoba menggendong dan menenangkannya?" ucap Rey.


Luna lalu menyerahkan bayinya kepada Rey. Dengan hati-hati Rey menerimanya.


"Baby EL, jangan nangis ya? Cup... cup...." Rey sambil mengayun-ayunkannya dan menepuk-nepuk pelan paha Baby EL dan sesekali membenarkan rambut Elena.

__ADS_1


"Mungkin Elena kegerahan," ucap Rey sambil meniup rambutnya.


Elena berhenti menangis saat digendongan Rey. Risa tersenyum senang Rey begitu telaten menenangkan Elena yang sedang menangis. Rey sepertinya bisa diajak kerjasama nantinya untuk mengurus Baby R. Rey sudah menebus vitamin untuk Risa. Akhirnya hari ini Rey bisa membawa pulang Risa lagi ke rumahnya. Sesuai dengan janjinya Rey akan naik motor sport bersama istrinya nanti.


__ADS_2