
Elena lalu membantu Sonya menata makannya di meja makan. Sonya akan memanggil suami dan anaknya yang masih duduk di sofa ruang tamu. Sonya melangkahkan kakinya dengan cepat menuju ke ruang tamu.
"Ayo, kita makan siang bersama. Calon menantu Mama sudah membantuku di dapur."
"Elena secepat itu bisa akrab sama Mama. Aduh, gimana ini kalau suatu saat nanti Papa dan Mama tahu jika aku dan Elena hanya berpura-pura berpacaran." Batin Keano.
"Nak, kenapa masih terdiam di situ? Ayo kita ke ruang makan."
"Iya Papa."
Keano lalu beranjak dari tempat duduknya dan menyusul Kenzo dan Sonya yang sudah melangkahkan kakinya duluan menuju ke ruang makan.
"Wah, calon menantuku sangat sudah pantas untuk dijadikan istri," ucap Kenzo yang mengkode dengan tepukan dipundak Keano.
"Kami baru jadian Om. Kita belum ingin ke jenjang yang lebih serius," jawab Elena dengan senyuman tipisnya.
"Nikahi dia nak," ucap Kenzo.
"Hah? Nikah Pa?" Keano melongo mendengar perkataan Papanya.
"Iya, untuk apa kamu pacaran lama-lama. Bahkan Kakakmu saja tidak perlu pacaran atau melakukan pendekatan dengan suaminya. Mereka langsung menikah secara dadakan."
"Itukan karena Kak Reno kabur waktu itu dan Revano yang akhirnya menikahi Kak Kezia."
"Tapi mereka kini sudah saling mencintai nak. Bahkan mereka sekarang sudah kau punya anak."
"Reno? Jadi yang menikah dengan Reno adalah Kakaknya Keano. Dunia memang sempit ternyata." Batin Elena.
Saat itu Elena tidak hadir saat acara pertunangan maupun pernikahan Reno. Elena lebih memilih untuk berdiam diri di kamarnya. Elena tidak sanggup melihat laki-laki yang dia suka bertunangan dan menikah dengan orang lain. Meskipun akhirnya Reno kabur di hari pernikahannya. Tapi sekarang Reno sudah menikah dengan wanita lain. Apalagi sekarang istrinya sedang hamil. Elena sudah mengubur rasa sukanya dengan Reno. Tapi sekarang dirinya terjebak dalam permainan bersama Keano. Alih-alih ingin mendapatkan maaf dan membantu Keano. Justru sekarang mereka terjebak disuruh untuk cepat menikah. Apalagi kedua orangtuanya ingin Keano segera melamarnya. Elena jadi merasa tindakannya salah, ingin membebaskan Keano agar tidak dijodohkan dengan kedua orangtuanya malah jadi seperti ini pada akhirnya.
"Sudah, ayo kita makan siang bersama. Itu bisa dibahas nanti lagi. Sekarang kalian cobain hasil masakan Elena," ucap Sonya dengan senyuman.
"Kamu bisa masak sayang?" tanya Keano yang seketika Kenzo tersenyum mendengar anaknya bilang sayang kepada Elena.
"Itu tadi Mama Sonya yang masak. Aku hanya membantunya menggoreng ayamnya saja kok sayang."
Sonya juga bahagia anak dan calon menantunya saling memanggil dengan sebutan sayang. Mereka tidak tahu bawa Elena dan Keano tengah berakting saja. Mereka akan mengakhiri sandiwara ini sehabis acara tujuh bulanan kehamilan Kezia. Tadi mereka berbicara sebelum turun dari mobil. Mereka lalu makan siang bersama.
"Bagaimana apakah enak?" tanya Sonya.
"Enak, pintar kamu menggorengnya calon menantuku," ucap Kenzo.
"Bagaimana nak?" tanya Sonya.
__ADS_1
"Eh, iya enak kok Mama," jawab Keano.
"Sayang, aku akan mengajari kamu memasak masakan kesukaan Keano. Nanti kita akan masak bareng lagi setelah kamu menjadi istrinya," ucap Sonya sambil tersenyum.
Elena hanya tersenyum tipis.
...*****...
Sekarang Revano sudah kembali kuliah seperti biasanya. Setelah sarapan pagi Revano kembali ke kamarnya untuk mengambil tas dan kunci mobilnya. Seperti biasa Kezia selalu mengantar suaminya sampai ke teras depan rumah. Tak lupa Revano sebelum berangkat ke kampusnya berpamitan dengan istri dan juga anak yang masih dalam kandungan Kezia.
"Sayang, aku berangkat dulu ke kampus ya?" Revano lalu mendaratkan kecupannya pada kening Kezia.
"Iya, hati-hati suamiku." Kezia meraih tangan suaminya dan lalu mengecupnya.
"Papa berangkat dulu nak," ucap Revano sambil mengusap perut Kezia pelan.
"Hati-hati Papa," jawab Kezia.
"Sayang, aku mau ke butik. Sudah lama sekali aku hanya mempercayakannya pada asistenku," ucapnya kembali.
"Iya sayang, nanti aku akan menjemputmu. Tunggu aku di butik ya?"
"Baiklah, hati-hati ya sayang. Jangan ngebut-ngebut bawa mobilnya..."
"Siap istriku," ucap Revano.
"Wah, nak kamu lagi buat kue?"
"Iya Mommy," jawab Kezia dengan senyuman.
"Mommy bantu ya nak?"
"Tidak usah Mommy, karena aku ingin spesial membuat kue ulang tahun ini untuk Revano."
Kezia ingin memberikan kado spesial untuk Revano.
"Baiklah nak. Nanti setelah selesai bikin kuenya jangan lupa ke kamar Mommy ya nak?"
"Baik Mommy..."
"Mommy, menyuruhku untuk ke kamarnya kira-kira Mommy mau membicarakan hal apa ya?" lirihnya.
Sandra lalu turun dari kamarnya, setelah Reno pergi ke kantor Sandra merasa kesepian. Sandra lalu berniat untuk mengajak Kezia jalan-jalan keliling perumahan. Ibu hamil harus banyak gerak, maka dari itu Sandra ingin mengajak Kezia untuk jalan-jalan pagi. Sandra melihat Kezia sedang berkutat dengan alat dapurnya. Sandra lalu berjalan mendekati Kezia.
__ADS_1
"Wah, kamu sedang bikin kue ya Kez?"
"Eh, iya Kakak ipar," ucapnya terkekeh.
"Panggil seperti biasanya saja Kez. Jangan seperti itu," ucap Sandra dengan senyuman.
"Tapi kan sekarang kamu menjadi Kakak iparku."
"Aduh, Auwww....." Sandra sambil memegang perut buncitnya.
"Sandra, apa kamu akan melahirkan sekarang?" Kezia begitu panik saat sahabat sekaligus Kakak iparnya sepertinya perutnya sakit.
"Tidak Kez, anakku barusan menendang begitu kuat dalam perutku."
Sandra lalu duduk di kursi yang ada di dekat dapur. Kezia lalu mencuci tangannya dan mendekati Sandra.
"Apa sekarang masih terasa sakit?" tanya Kezia sedikit cemas.
"Sudah agak mendingan, anakku harus diusap seperti ini jika dia sedang menendang dalam perutku. Biasanya kalau ada Reno dia kadang lebih aktif lagi," ucap Kezia sambil mengusap-usap perut buncitnya.
"Anakmu tahu kalau Reno adalah Papanya," ucap Kezia terkekeh.
"Bolehkah aku menyentuh perutmu?" tanya Kezia dengan sedikit ragu.
"Tentu saja boleh Kezia. Dia juga pasti akan meresponnya jika kamu mengusap perutku."
Kezia perlahan mengusap perut Sandra. Tendangan anak dalam kandungan Sandra memang lebih kuat daripada putrinya.
"Sandra, anak kamu begitu kencang menendang-nendang dalam perutmu," ucap Kezia saat merasakan tendangan dari dalam perut Sandra.
"Iya, mungkin karena anakku laki-laki jadi seperti ini. Pinggangku bahkan sering sakit. Untung ada Reno yang selalu memijat pinggangku."
"Reno kan Papanya. Jadi harus perhatian juga pada ibu dari anaknya. Ngomong-ngomong perutmu juga besar sekali."
"Kata Mommy Risa jika mengandung bayi laki-laki akan lebih besar perutnya daripada mengandung bayi perempuan. Soalnya bobot bayi yang akan dilahirkan juga lebih berat dan bayinya juga lebih besar saat lahir nanti," ucap Sandra menjelaskan.
Risa tahu karena saat dirinya sedang mengandung Reno, waktu itu Lova juga sedang mengandung Sandra.
"Eh, Sandra aku mau lanjutin buat kuenya dulu. Revano malam ini akan berulang tahun. Jadi aku akan memberikan kado spesial untuk Revano."
"Wah, Revano pasti bahagia saat mengetahui bahwa kuenya buatan kamu."
"Iya, aku spesial membuat kue untuknya."
__ADS_1
"Semangat Kezia. Revano pasti bangga sama kamu."
Kezia tersenyum tipis dan meneruskan untuk membuat kuenya. Sedangkan Sandra masih duduk di kursi dekat dapur. Sandra mengusap perutnya yang sudah semakin membesar. Satu bulan lagi putranya akan lahir ke dunia. Begitu bahagianya saat keluarga kecilnya akan semakin harmonis dengan lahirnya jagoan kecilnya. Maka kebahagiaan Reno dan Sandra akan semakin lengkap dengan kehadiran sang buah hatinya.