
Revano kesal dengan istrinya yang tidak menghargai jerih payahnya bekerja. Wajar saja jika uangnya baru seberapa karena Revano masih kuliah. Namun bagi Revano uang yang ada di ATM hasil kerja kerasnya selama 3 bulan ini sudah lumayan banyak. Kezia tidak melihat dulu berapa isi yang ada ATM tersebut. Sekarang Revano sedang berangkat kuliah. Dirinya melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Sampai di kelasnya mukanya di tekuk.
"Eh bro, mukanya kenapa ditekuk gitu?"
"Istrinya kan galak, pasti Revano terkena amarah terus setiap hari," ucapnya sambil terkekeh.
"Benar juga apa katamu, kasihan temanku ini. Masa mudanya menyedihkan."
"Galak-galak tapi Revano sudah mencintainya," ucap temannya meledek Revano.
"Hahaha... Benar kan kataku kalau cinta itu datang karena terbiasa."
"Yang sabar ya bro menghadapi istri yang seperti macan," ucap teman yang satunya.
"Sudahlah! Kalian ini berisik sekali."
"Bro, gimana apa orderan lancar?"
Revano selain menjadi model kadang juga menjadi driver ojol. Mobil pemberian orang tuanya Revano manfaatkan untuk menarik orderan online. Jika ada job sebagai model baru Revano tidak menjadi driver ojol.
"Hmm lancar... Tapi aku akan menyudahinya setelah ujian akhir semester nanti."
"Kenapa bro?" Seketika temannya bingung padahal biasanya Revano semangat biarpun menjadi driver ojol jika job sebagai modelnya sedang tidak ada jadwal. Revano menjadi model iklan dan kadang model cover majalah. Kadang juga model parfum pria.
"Setelah ujian akhir semester nanti aku akan pindah kuliah."
"Mau pindah kemana? Kenapa dadakan sekali bro?"
"Aku mau pindah kuliah keluar negeri. Rencananya aku akan pindah ke Korea, negara tempat kelahiran ibuku." Sambil menghela napas panjang.
"Kok jauh banget bro pindahnya? Kenapa tidak di Indonesia saja?" Tanyanya penasaran.
"Istriku sedang marah kepadaku dan dia membenci diriku sampai saat ini. Akan lebih baik jika aku pergi darinya. Biar dia bisa bebas dengan hidupnya."
"Astaga... Apa kamu akan berpisah darinya. Ehm... Maksudnya bercerai gitu bro?"
__ADS_1
"Iya, setelah setahun pernikahan nanti, aku akan bercerai dengannya." Revano masih ingat dengan perjanjian pernikahan kontraknya dengan Kezia. Mereka berdua telah menandatangani surat perjanjian tersebut.
"Apa alasan kamu ingin pindah keluar negeri? Mengapa kamu ingin berpisah?" Tanya temannya yang baru masuk kelas.
"Istriku tidak bisa menghargai diriku. Hasil kerja kerasku selama 3 bulan ini tidak dirinya hargai. Bahkan tadi aku memberikannya kartu ATM tidak dia terima. Mungkin karena aku baru bisa bekerja sebagai model dan driver ojol. Dia kan suka dengan kemewahan. Jadi sebelum melihat isi kartu ATM punyaku dirinya lemparkan kartu ATM itu ke lantai."
"Alasan ingin berpisah sebenarnya dirinya yang ingin berpisah dariku. Sekuat apapun aku berusaha untuk mempertahankan rumah tangga ini tapi dirinya tidak menginginkan pernikahan ini. Bahkan dia juga tidak mau memiliki anak dariku," ucapnya kembali.
"Astaga, istrimu keterlaluan sekali bro. Kalau aku jadi kamu, aku tidak kuat bro menikah dengan dia lama-lama."
"Ya aku setuju denganmu bro! Lagian dia tidak menghargai jerik payah kamu selama ini," ucap temannya yang satunya.
"Sudahlah! Mending kamu move on nanti cari calon istri yang baik di luar negeri. Aku mendukung kamu berpisah dari Kezia. Lagian dia juga 3 tahun lebih tua dari kita kan? Harusnya juga dia yang menjadi istri Kakakmu."
"Nah, iya benar tuh. Jadi jika kamu bercerai darinya kamu bisa menikah lagi dengan wanita lain dan pastinya orangnya yang lebih baik dari istrimu."
"Tidak segampang itu bro melupakan orang yang dicintai. Revano pasti juga akan susah untuk melupakan istrinya."
"Iya benar. Revano sudah bucin sama istrinya. Meskipun Kezia galak banget gitu."
Revano bersyukur mempunyai teman seperti mereka. Meskipun kadang mereka meledek dan menggoda Revano tapi mereka semua orang yang baik.
"Anak-anak kita akan mulai kelasnya. Dilarang berisik selama saya menjelaskan materinya. Karena kalian sebentar lagi akan ujian akhir semester." Dosen sudah masuk dan duduk di kursinya.
"Baik Miss Chika."
Setelah kelasnya selesai, Revano hari ini kebetulan ada jadwal pemotretan jadi tidak menjadi driver ojol.
"Semangat ya bro. Aku yakin kamu di Korea juga akan menjadi model yang terkenal."
"Aamiin... Makasih ya bro selalu mensupport aku."
"Sama-sama, sesama teman harus saling menyemangati. Ya sudah aku mau ke Cafe dulu. Nanti mampir ya bro kalau sudah selesai pemotretan," ucap temannya yang juga punya pekerjaan sampingan. Namun bekerja part time di Cafe menjadi kasir.
"Siap... Nanti aku akan ke tempat Cafe tempat kamu bekerja."
__ADS_1
Mereka meskipun anak orang kaya dan keluarga yang terpandang namun mereka mandiri. Cari uang sendiri, mereka sudah merasakan betapa susahnya mencari uang. Mereka jadi bersyukur selama ini kedua orang tuanya memberikan fasilitas yang lengkap selama ini. Kartu kredit, kartu debit dan mobil. Itulah yang kedua orang tua mereka berikan untuk anak-anaknya.
Revano sekarang sudah selesai pemotretan. Dirinya melihat uang yang sudah di transfer ke rekening pribadinya. Revano tersenyum karena dirinya mendapatkan penghasilan yang lumayan. Karena tadi menjadi model 2 produk. Model parfum dan model iklan brand terkenal.
"Alhamdulillah lumayan juga penghasilanku hari ini." Sambil melihat hpnya yang baru saja ditransfer dengan ada 2 digit angka didepannya.
Uang yang ada di ATM tersebut tidak Revano tarik sama sekali selama ini. Jadi cuma terkena biaya bulanan saja berkurangnya uang di ATM.
Sekarang sudah sore. Revano mampir ke Cafe tempat temannya bekerja.
"Hai bro akhirnya kamu datang juga."
"Iya. Aku pesan seperti biasanya ya."
"Siap bro!"
Revano seperti biasa suka dengan cokelat. Jadi selalu pesan dengan cokelat panas. Karena membuatnya sedikit lebih tenang saat meminumnya.
"Ini bro pesanan kamu."
"Makasih. Kembaliannya buat kamu saja bro."
"Wah makasih ya..."
"Sama-sama, oh iya di agensiku lagi ada lowongan apa kamu mau?"
"Boleh bro. Siapa tahu aku bisa menjadi model terkenal seperti dirimu."
"Ah, biasa saja kok aku," ucapnya dengan senyuman.
Revano selalu merendahkan dirinya. Revano tidak mau terlalu dipuji.
"Kamu memang selalu merendahkan dirimu. Makanya istrimu jadi semena-mena terhadap kamu," ucapnya sambil geleng-geleng kepala.
"Biarkan saja. Sebentar lagi aku akan pergi dari hidupnya. Jadi dia akan bebas dan tidak kacau lagi hidupnya karena aku."
__ADS_1
Temannya lalu melayani pembeli lainnya. Revano duduk di kursinya sambil menyeruput minuman cokelatnya. Revano sudah tidak tahan lagi dengan sikap Kezia. Revano akan pergi dari kehidupannya. Kezia tadi terang-terangan ingin Revano pergi dari kehidupannya. Jadi Revano akan menuruti kemauan istrinya. Lagian ini juga demi kebaikan bersama.