
DI RUMAH SAKIT KASIH IBU
Terlihat seorang perempuan sedang diinfus dan berbagai alat yang dipasang di tubuhnya. Rey lalu perlahan mendekati perempuan tersebut. Air mata Rey sudah membanjiri pipinya sedari tadi saat menginjakkan kakinya di Rumah Sakit. Rey menatap wajah istrinya yang cantik namun masih terlihat sedikit pucat. Dokter tadi sudah bilang bahwa pasien sudah melewati masa kritisnya. Hanya saja belum sadar sampai sekarang.
"Sayang, sadarlah anak kita baik-baik saja," ucapnya sambil mengelus perut istrinya pelan dan lalu menggenggam tangannya.
"Aku sudah bawa bukti bahwa aku tidak bersalah sayang. Aku tidak melakukan apa yang kamu tuduhkan," air matanya masih menetes melihat istrinya yang tak kunjung sadar.
"Sayang, sadarlah. Aku akan disini menunggumu."
Malam pun telah tiba. Rey dibawakan bekal dari rumah oleh Bi Ijah yang langsung membawakannya ke Rumah Sakit bersama dengan Mami Ana.
"Den, makan dulu. Dari tadi Den Rey belum makan."
"Aku tidak lapar Bi."
"Nak sayang, kamu harus makan. Badan kamu harus sehat juga saat jagain Risa. Nanti kalau Risa tahu kamu tidak makan dia akan sedih," ucap Mami Ana sambil memegang bahu kanan anak kesayangannya.
"Aku akan makan kalau Risa udah sadar Mi," ucapnya yang masih menggenggam tangan Risa dan melihat istrinya yang tak kunjung sadar.
Beberapa menit kemudian Risa mulai mengerjapkan matanya. Rey lalu berhenti menangis dan menatap wajah istrinya.
"Alhamdulillah sayang kamu sudah sadar," ucapnya dengan senyuman tangan kanannya masih menggenggam tangan Risa dan tangan kirinya mengelus rambut istrinya, tapi matanya masih terlihat sembab.
"Rey....." lirihnya.
Mami Ana senang menantunya sudah sadar. Rey akan menceritakan semuanya dengan Risa agar ia tidak salah paham dengannya.
"Sayang aku tidak bersalah, aku tidak melakukan hal itu dengan Kak Luna, aku ada buktinya kamu harus melihat videonya."
"Sudah itu nanti saja. Sekarang gimana keadaan anak kita Rey? Kemarin aku mengalami pendarahan," ucapnya lirih.
"Anak kita baik-baik saja sayang. Namun kamu habis ini harus makan dan meminum obat penguat kandungan. Karena kandungan kamu lemah."
Risa mengelus perutnya pelan ia bersyukur tidak keguguran. Risa lalu merasakan tenggorokannya kering.
"Sayang, aku haus," ucapnya sambil memegang lehernya.
Rey lalu mengambilkan air putih di sebelahnya dan membantunya meminum. Mami Ana senang anak dan menantunya sudah baikan karena Risa sudah memanggil anaknya dengan sebutan sayang.
__ADS_1
"Sayang kamu makan dulu ya? Habis itu minum obat."
Risa menganggukkan kepalanya. Rey lalu menyuapi Risa dengan bekal yang dibawa Bi Ijah. Ia menerima suapan demi suapan dari suaminya.
"Kamu sudah makan?" tanyanya kepada suaminya.
Rey hanya menggelengkan kepalanya pertanda ia belum makan.
"Rey belum makan sayang dari tadi siang, ia dari tadi menangis karena melihatmu yang belum kunjung sadar dari tadi. Oh iya Mama sama Papa kamu tadi pulang jam 3 siang. Besok pagi mereka akan datang lagi," ucap Mami Ana.
"Iya Mi," ucapnya dengan senyuman.
"Sayang kamu juga harus makan, aku tidak mau kalau kamu sampai sakit," ucap Risa dengan khawatir.
"Aku senang kamu khawatir sama aku sayang. Iya nanti aku akan makan."
"Tidak kamu harus makan sekarang."
Mereka lalu makan berdua dengan bekal yang dibawa Bi Ijah tadi. Sesudah itu Mami Ana membantu Risa untuk meminum obat penguat kandungannya dan meminum air putih.
"Makasih Mi," ucapnya.
Risa mengangguk dan tersenyum.
"Mami pulang saja sudah malam. Biar Rey yang jagain Risa."
"Ya Sudah Mami pulang dulu ya nak. Jaga menantu Mami sampai sembuh."
"Iya Mi, siap." sambil hormat kepada Maminya.
Maminya tersenyum dan mengajak Bi Ijah pulang. Rey lalu membuka saku celananya dan menyerahkan hp nya kepada Risa.
"Ternyata Kak Luna sedang mengandung anak Evan, teman Kakak," Rey langsung berbicara seperti itu dan memperlihatkan video yang dikirimkan Dokter Yudha.
Risa melihat video dari hp Rey. Benar, Luna mengakui bahwa ia sedang mengandung anak Evan. Luna menjebak Rey dan melakukannya dengan terpaksa karena Papanya mengancam Luna untuk meminum obat penggugur kandungan sebab Papanya malu karena Luna hamil diluar nikah. Seketika Risa menjadi kasihan dengan nasib Luna. Luna sekarang sedang hamil 5 bulan dan ditinggalkan oleh Evan begitu saja. Evan tidak mau menikahinya ketika tahu Luna hamil. Seketika Risa setuju dengan usul Rey bahwa Evan harus segera menikahi Luna. Risa lalu menyerahkan hpnya kepada Rey. Risa matanya sudah mulai berkaca-kaca.
"Sayang, kenapa kamu menangis. Jangan menangis sayang, nanti anak kita juga akan sedih," ucapnya sambil menghapus air mata istri tercintanya.
"Maafkan aku Rey," ucapnya yang masih menangis.
__ADS_1
"Sayang kamu gak perlu minta maaf.
Kamu gak salah sayang," ucapnya dengan senyuman.
"Maafkan aku Rey. Aku sudah salah paham sama kamu sayang. Aku sudah menampar kamu kemarin di kantor, padahal kamu tidak salah," ucapnya sambil memegang pipi Rey dan menatapnya.
"Tidak apa-apa sayang. Aku sudah memaafkanmu."
"Terima kasih suamiku."
Rey mengangguk dan tersenyum.
"Sayang tadi Papa Kevin bilang besok Evan akan pulang kerumahnya. Ferdinan ayah Evan meminta tolong kepadaku untuk membawa Luna ke rumah Evan. Papanya akan memaksa Evan untuk menikahi Luna. Gimana menurutmu sayang? Apakah kamu akan mengizinkanku untuk menjemput Luna dan membawanya ke rumah Evan?" tanyanya dengan serius.
"Iya sayang, aku mengizinkanmu. Kasihan Luna, bagaimana-pun juga Evan harus bertanggung jawab atas perbuatannya. Luna sudah hamil 5 bulan dan selama ini Evan tidak ada disampingnya, anaknya juga pasti membutuhkan perhatian dari ayahnya."
"Bolehkah aku ikut ke rumah Evan sayang?" ucapnya kembali.
"Jangan sayang, kamu baru saja sadar dari kritis. Kandungan kamu juga lemah. Aku tidak ingin terjadi apa-apa dengan kamu dan juga anak kita. Aku menghawatirkanmu sayang," ucapnya sambil mengelus perut Risa.
"Baiklah sayang, tapi kamu harus hati-hati ya. Aku khawatir kepadamu. Aku takut Evan berbuat macam-macam kalau kamu datang ke rumahnya," ucapnya sambil memegang tangan Rey yang berada di atas perutnya.
"Tenang saja sayang. Papi Aldi sudah siapkan pengawal yang nanti akan mengawasiku selama di rumah Evan."
"Kalau begitu aku tidak akan khawatir terhadap mu sayang. Tapi kamu tetap harus hati-hati ya sayang," ucap Risa yang masih khawatir dengan Rey.
"Iya sayang, aku akan berhati-hati. Semoga saja rencananya besok berhasil. Agar Evan mau menikahi Luna. Kasihan juga Luna kalau hamil tanpa suami."
Rey jadi kasihan terhadap Luna ia memikirkan bagaimana kalau misalkan Luna sedang ngidam di tengah malam diusia kandungannya sudah 5 bulan dimana Papanya tidak peduli padanya, pasti Luna kewalahan sendiri yang mencari makanan yang mau ia makan. Kalau ada suaminya kan bisa minta tolong buat mencarikan apa yang ia mau. Lagian ibu hamil juga perlu seorang yang selalu ada didekatnya. Meski-pun hanya sekedar mengusap perutnya dan menemani makan saat ngidam. Ia harus selalu didekat sang suami.
"Sayang aku mau jeruknya." sambil menunjuk ke arah keranjang buah yang dibawa Mami Ana tadi.
Rey lalu mengupas jeruknya untuk Risa.
"Enak sayang, kamu cobain deh!"
"Gak mau yang. Aku kan sukanya di bikin jus, gak langsung di makan begini."
"Sayang ku mohon," ucap Risa yang mulai air matanya menetes.
__ADS_1
Rey tak tega melihat istrinya menangis. Semenjak hamil Risa jadi sensitif dan sering menangis. Rey lalu memakan buah jeruk ke dalam mulutnya. Rasanya sedikit manis namun lebih dominan dengan rasa asamnya. Pantas saja Risa bilang enak. Ibu hamil suka yang asam-asam.