
Baby Renata masih saja menangis saat ini. Rio semakin cemas saat istrinya tak kunjung kembali. Alat itu masih berbunyi dan masih jelas terlihat satu garis lurus.
"Bertahan sayang, demi Renata. Putri kita satu-satunya," ucap Rio yang tak kuasa menahan air matanya.
"Apa kamu tega melihat Renata tidak mendapatkan kasih sayang sedikit saja dari Mamanya? Apa kamu tega Reva, membiarkan anak kita bersedih," ucapnya kembali.
Tak lama kemudian Dokter datang bersama beberapa suster yang mendampinginya.
"Dok, tolong selamatkan istri saya," ucap Rio panik.
Dokter lalu segera menangani pasien.
Di tempat lainnya, Reva merasa sedang berada di sebuah taman yang indah. Dia tengah asyik bermain dengan kedua putrinya. Tiba-tiba saja Revita berlarian pergi meninggalkan Reva dan Renata. Kemudian Reva beranjak dari bangku taman.
"Nak, mau kemana? Jangan berlarian, nanti jatuh."
Revita tersenyum dan sambil melambaikan tangannya. Reva kemudian meninggalkan Renata dan mengejar Revita.
"Mama, aku mau ke sana. Mama di sini saja," ucap anak kecil yang sambil memasukkan permen ke dalam mulutnya.
"Itu permen dapat dari siapa sayang?" tanya Reva dengan lembut.
Revita hanya terdiam saja dan tidak menjawabnya.
"Mama aku mau main dulu ke sana. Mama di sini saja."
"Mau ke mana nak? Kita sedang sama-sama bermain sayang. Jangan main pergi-pergi saja."
"Pokoknya Revita sudah ada yang nungguin di sana. Mama di sini saja bersama Renata," ucapnya sambil tersenyum dan menunjuk ke arah lain.
"Nak, mau ke mana sih? Jangan bikin Mama khawatir. Mainnya jangan jauh-jauh sayang," ucap Reva sambil memeluk putrinya.
Revita lalu melepaskan pelukannya.
"Sampai berjumpa lagi Mama ...," ucapnya yang kemudian berlari meninggalkan Reva yang masih terbengong.
Di rumah sakit, Rio dan Renata masih menangis. Kezia sudah sadar dan saat ini tengah memeluk suaminya.
"Pa, anak kita," ucap Kezia yang sudah berlinang air mata.
"Anak kita tekah pergi juga meninggalkan kita," ucapnya kembali.
"Mama, kita harus ikhlas. Mungkin ini sudah menjadi takdir Allah."
__ADS_1
"Istriku belum pergi selamanya. Alat-alat rumah sakit ini pasti salah."
Dokter lalu pasrah dengan apa yang dia usahakan tapi tidak menghasilkan apa-apa.
"Maaf Pak, pasien telah pergi untuk selamanya. Anda yang sabar ya," ucap Dokter tersebut.
"Ini tidak mungkin, istriku pasti masih hidup."
"Sus, tolong bantu lepaskan semua alat-alatnya," perintah sang Dokter.
"Baik Dok."
"Jangan ada yang berani mendekati istriku," ucap Rio sambil menunjuk Dokter dan beberapa suster yang ada di ruangan tersebut.
Kedua suster itu terdiam saat Rio berbicara seperti itu.
"Ini semua gara-gara kamu datang Rio. Reva jadi pergi untuk selama-lamanya. Sini kembalikan cucuku," ucapnya yang lalu merebut Renata dari gendongan Rio.
Sekarang Renata sudah Kezia gendong.
"Mama, sudahlah jangan ribut. Ini rumah sakit," ucap Revano memberikan saran.
"Kamu lihat apa yang terjadi sama anak kita saat Rio datang? Bukannya Reva sadar tapi membikin Reva meninggal."
Rio lalu mendekati istrinya.
"Sayang, aku mohon kembali demi Renata. Aku akan mengabulkan permintaan kamu, meskipun kita harus bercerai."
"Jika itu keputusan yang kamu inginkan, aku akan mengabulkannya Reva. Tapi mohon kamu kembalilah," lirihnya sambil memeluk istrinya.
Tak lama kemudian bunyi suara alat pendeteksi detak jantung itu mulai berbunyi normal yang tandanya Reva sudah kembali lagi dan tadi hanya mengalami mati suri saja.
"Mama, Reva kembali," ucap Revano sambil menghapus air matanya.
"Papa, anak kita masih hidup," ucap Kezia tersenyum bahagia.
"Ini sebuah mukjizat, pasien bisa kembali lagi."
"Dokter, coba cek kondisinya."
Dokter tersebut lalu mengecek keadaan Reva.
"Ini tak terduga, semuanya normal dan kemungkinan besar pasien akan segera sadar."
__ADS_1
"Alhamdulillah ......"
Dokter itu lalu tersenyum.
"Mungkin cinta sejati yang membawanya kembali. Pasien sangat mencintai Anda Pak. Beruntung sekali Anda punya istri seperti Bu Reva yang cintanya begitu tulus dan begitu besar untuk Anda. Saya harap kalian akan langgeng," ucap sang Dokter yang seketika membuat hati Rio hancur karena mengingat semua apa kesalahannya.
Kesalahan Rio memang fatal, bersikap cuek dan tidak perhatian kepada anak dan istrinya selama beberapa bulan. Lebih parahnya saat hari ulang tahun Reva dan bertepatan dengan ulang tahun pernikahannya. Rio tidak datang dan justru pergi ke club dan menertawakan istrinya yang tengah merayakan ulang tahun sendirian di rumah.
Saat itu Reva pagi hari sebelum pergi dari rumah, sempat membuatkan sarapan untuk suaminya dan pakaiannya untuk ke kantor. Waktu itu Rio belum tahu kebenarannya.
Rio masih mengingat hal, ia merasa bersalah kepada istrinya dan tak pantas bersanding dengan wanita sebaik Reva. Rio kemudian duduk di kursi.
"Sadarlah sayang, aku akan menuruti semua keinginan kamu," ucap Rio sambil menggenggam tangan Reva dengan kedua tangannya.
Tak lupa Rio sesekali mengecup punggung tangan istrinya. Dokter dan suster lalu pergi saat kondisi pasien baik-baik saja dan bahkan sudah stabil. Tinggal menunggunya untuk kembali sadar.
'Aku menyesal telah menyia-nyiakan wanita sebaik kamu. Bahkan Dokter saja bisa tahu bahwa cintamu begitu besar untukku. Aku hanya bisa berkata maaf atas semua kesalahan yang telah aku lakukan,' batin Rio bersedih mengingat masa lalu yang menyakiti hati istrinya.
Kezia mendekati anaknya dan berharap anaknya segera sadar. Renata berhasil Kezia tenangkan dan sudah tidak menangis saat ini.
"Nak, Mama sedang menggendong anak kamu sayang. Sadarlah nak, kita semua ada di sini," lirih Kezia sambil mengusap kepala anaknya.
Tak lama kemudian Reva mulai mengerjapkan matanya. Revano, Kezia dan juga Rio bahagia saat melihat Reva tengah sadar. Dengan cepat Rio melepaskan tangannya yang menggenggam tangan istrinya, takutnya Reva akan marah jika Rio menggenggam tangannya. Rio juga beranjak dari tempat duduknya dan agak menjauh dari sang istri. Rio tahu kalau saat sadar nanti yang akan dicari Reva adalah anaknya dan keluarganya. Kali ini tebakannya benar.
"Mama, Papa," lirihnya sambil tersenyum tipis saat ini.
"Alhamdulillah," ucap Rio dan Revano bersamaan.
"Alhamdulillah kamu sudah sadar nak," ucap Kezia.
Reva bahagia saat Mamanya menggendong bayi, dia yakin bayi itu adalah anaknya.
"Ini anakku yang siapa Mama?" tanyanya penasaran.
"Ini Renata sayang," jawab Kezia sambil memperlihatkan wajah cucunya.
"Imut sekali Mama. Ya Allah sekarang aku tak menyangka sudah menjadi seorang ibu dari dua anak. Sepertinya mereka baru saja masih ada dalam kandunganku," ucap Reva yang seketika membuat raut wajah mereka semua berubah menjadi bersedih.
Reva lalu mengecup kening dan pipi anaknya. Karena haus lalu Revano membantu Reva untuk minum.
"Aku mau menggendongnya Mama."
Kezia lalu menyerahkan cucunya untuk digendong oleh anaknya. Reva mendekap anaknya dengan erat dan lalu mengecup kening dan pipi Renata lagi. Rio tersenyum tipis saat melihat istrinya bahagia menggendong anaknya.
__ADS_1
"Akhirnya aku bisa memeluk kamu nak. Mama dulu tidak yakin bisa bertahan hidup dan menggendong kamu. Allah maha baik dan memberikan kesempatan untuk aku agar bisa bertahan hidup dan memberikan kasih sayang untuk kamu," lirihnya yang membuat hati Rio semakin bedesir saat mendengar perkataan istrinya.