
Jangan lupa like dulu sebelum membaca ❤️
Kezia dan Revano sedang berunding membicarakan tentang anaknya yang masih koma sampai saat ini.
"Ma, coba pikirkan kembali apa yang aku katakan tadi."
"Aku tidak setuju Papa jika kita membawa Rio ke rumah sakit untuk menemui Reva," tolak Kezia.
"Siapa tahu ada mukjizat dari Allah agar Reva kembali sadar. Kan Reva selama ini sangat mencintai Rio."
"Tapi Reva kan ingin bercerai dengan Rio dan aku rasa gak akan berpengaruh dengan keadaannya."
"Mama, kali ini saja turuti apa kemauan aku. Tidak ada salahnya kita mencoba. Siapa tahu dengan datangnya Rio dan Renata lalu Reva tersadar dari komanya."
"Terserah kamu saja," ucap Kezia sambil mendekati cucunya yang menangis.
Revano lalu menghubungi menantunya dan janjian bertemu di rumah sakit.
Rio bahagianya saat mertuanya mengizinkannya untuk menemui Reva. Revano sudah mengirimkan alamat rumah sakit.
"Pasti mereka akan membawa Renata."
Rio tersenyum bahagia saat akan bertemu anak dan istrinya. Rio tidak mau bercerai dengan Reva.
"Anak dan istriku kita akan bertemu," lirihnya sambil mengambil kunci mobilnya dan bergegas turun dari kamarnya.
"Mau ke mana kamu?" tanya Papa Vino.
Rio hanya diam saja karena masih kesal dengan Papanya. Saat Rio tahu kesalahpahaman itu, lalu hubungannya dengan Papanya semakin menjauh. Papa Vino melihat anaknya yang masih kesal dan kecewa.
"Papa memang bersalah di masa lalu nak. Maafkan Papa ..."
"Karena kesalahan Papa itu aku jadi mengabaikan istriku, menyakiti hatinya dan bahkan sampai menduakannya. Aku kecewa sama Papa."
"Nak, Maaf ....."
"Hubunganku dengan keluarganya Reva semakin renggang Papa. Sekarang bahkan rumah tanggaku berada pada ujung tanduk. Tapi aku akan berusaha memperbaikinya."
"Papa akan bantu kamu agar kamu tidak bercerai dengan Reva. Papa akan meminta maaf dengan keluarganya."
"Terserah Papa," ucapnya yang lalu pergi ke dapur karena seketika tenggorokannya terasa kering.
Rio meminum segelas air mineral yang baru saja ia ambil dari kulkas.
"Nak, kok rapi banget, mau ke mana?" tanya Mama Viona.
__ADS_1
"Aku mau menemui Renata dan Reva ke rumah sakit Mama."
"Tungguin Mama nak, Mama ikut ya? Kita sarapan dulu bersama-sama."
"Mama kan sedang masak untuk Papa. Aku tidak usah sarapan di rumah Mama."
"Nak tapi kamu harus sarapan. Mana sudah masakin kalian dan tinggal goreng ayamnya saja."
"Aku makan roti ini saja Mama. Aku takut kalau Papa Revano berubah pikiran dan tidak mengizinkan aku untuk menemui Reva," jawab Rio sambil mengambil toples kecil yang berisi selai blueberry yang ada meja.
"Ya sudah nanti Mama nyusul sama Papa ke rumah sakit. Kamu nanti kirimkan alamatnya ke ponsel Mama."
"Siap Mama, Rio pergi dulu," ucapnya yang lalu pergi meninggalkan Mamanya.
"Revano sudah mengizinkan Rio untuk menemui Reva dan Renata. Mudah-mudahan saja ini awal yang baik untuk anakku memperbaiki kesalahannya."
"Mudah-mudahan saja masih ada kesempatan kedua untuk Rio. Kasihan anakku kalau sampai senasib dengan diriku saat muda dulu," ucapnya kembali.
Viona sangat membenci yang namanya perceraian. Meskipun di masa lalunya dia pernah mengalami yang namanya perceraian.
Rio sudah sampai di rumah sakit. Ia berjalan sedikit berlari untuk mencari ruangan di mana Reva di rawat. Saat ruangan yang ia cari ketemu, Rio melihat mertuanya ada di ruangan tersebut. Mereka tidak ada ekspresi wajah bahagia saat Rio datang. Hanya mereka tadi menoleh saat Rio membuka pintu ruang rawat inap tersebut.
Sekarang terlihat istrinya masih terbaring lemah. Pandangan Reva lalu mengarah pada bayi mungil yang digendong oleh Kezia.
"Mama, bolehkah aku menggendongnya?"
"Aku hanya ingin menggendongnya saja Ma. Tolong Ma, berikan Renata kepadaku. Nanti siapa tahu Reva sadar dengan kedatanganku dan Renata," tukas Rio.
"Mama, benar apa yang Rio katakan. Mungkin saja Reva langsung sadar dengan adanya Rio dan Renata," ucap Revano membujuk istrinya istrinya yang mempunyai sifat keras kepala.
Kezia hanya diam saja sambil menimang-nimang cucunya.
"Mama," lirih Revano.
"Hmm, iya ..."
Kezia menuruti perintah suaminya. Dia menyerahkan Renata untuk digendong oleh Rio. Matanya berbinar-binar saat Kezia mengizinkannya untuk menggendong anaknya.
"Putriku," lirihnya sambil melihat wajah bayi mungil cantik tersebut.
Rio mengecup kening dan kedua pipi anaknya. Rio kemudian mendekap anaknya dengan hangat. Memberikan kasih sayang kepada putrinya.
"Anak yang pintar dan tidak mudah menangis," ucap Rio tersenyum tipis sambil mengusap kepala anaknya.
Rio memperhatikan wajah putrinya.
__ADS_1
"Kamu sangat cantik sekali nak dan mirip dengan Mama kamu," lirihnya yang tak terasa matanya mulai berkaca-kaca.
Perlahan Rio mendekati istrinya. Ya, mereka saat ini masih berstatus suami istri. Rio merobek surat gugatan cerai dari istrinya. Ia tidak mau kehilangan Reva karena ia sudah kehilangan Revita, buah hatinya yang kini sudah bahagia di surga.
"Istriku, lihatlah siapa yang datang. Ini aku bawa Renata, putri kita yang sama cantiknya dengan kamu."
Tak terasa air matanya menetes saat melihat kondisi istrinya terbaring lemah dengan berbagai alat rumah sakit yang melekat pada tubuhnya.
"Reva, bangunlah ... Apa kamu tidak ingin melihat putri kita yang cantik ini?"
Baby Renata menggeliat saat digendong oleh Papanya. Rio jadi teringat saat istrinya itu sering seperti itu saat sedang tertidur.
"Sayang, bahkan anak kita tidurnya seperti kamu," lirihnya.
Revano dan Kezia tangannya saling menggenggam dan ingin ada keajaiban untuk anaknya.
Tak lama kemudian terdengar suara yang asing dari alat yang ada di ruangan tersebut seketika berbunyi dengan keras.
TTIIIITTTTT ...........!
Rio terkejut bukan main saat melihat layar itu menunjukkan garis lurus yang pertanda bahwa istrinya dalam keadaan tidak baik-baik saja.
Renata seketika menangis saat mendengar suara bunyi tersebut. Seperti tahu apa yang akan terjadi sebelumnya seperti saat kembarannya akan tiada.
"Reva, jangan tinggalkan aku," teriaknya yang sudah meneteskan air mata.
"Revaaaaaa," lirih Kezia yang seketika pingsan karena tidak bisa menerima kenyataan kalau anaknya juga pergi meninggalkannya seperti cucunya yang sudah bahagia di surga.
"Mama .....," pekik Revano sambil menggendong istrinya yang sudah pingsan.
Revano membaringkan istrinya di sofa yang ada di ruangan VVIP tersebut. Sedangkan Rio tengah kalang kabut saat ini. Anaknya juga menangis tak kunjung berhenti setelah mendengar suara tersebut.
"Sayang, jangan pergi. Aku sudah kehilangan Revita dan aku tidak mau kehilangan kamu."
Baby Renata terus menangis saat ini. Rio kemudian memencet tombol yang berada disampingnya agar Dokter segera datang ke ruangan tersebut.
"Sayang, aku mohon kembalilah. Aku akan menuruti semua keinginan kamu termasuk perceraian yang kamu inginkan," lirihnya.
Rio bertekad untuk berbicara seperti itu agar istrinya bisa kembali. Rio akan menuruti semua keinginan istrinya, bahkan jika Reva tetap ingin bercerai darinya maka Rio akan mengabulkannya. Meskipun ia tidak tahu kalau dengan berbicara seperti itu akan berhasil atau tidak membuat istrinya kembali. Namun tidak ada salahnya untuk mencoba.
AYO JANGAN LUPA KASIH VOTE GRATIS UNTUK NOVEL INI AGAR AUTHOR BIAR BISA CEPAT UP. HANYA DUKUNGAN KALIAN YANG BIKIN AKU SEMANGAT UNTUK UPDATE.
VOTE HANYA MUNCUL SEMINGGU SEKALI KALAU GAK DIGUNAKAN AKAN HANGUS.
DITUNGGU GUYS VOTENYA ❤️
__ADS_1