
Mobil Viona sudah meninggalkan rumah Kenzo. Vino tersenyum sekarang Viona sudah tidak lagi menjadi istri Revano karena sekarang statusnya berubah menjadi janda. Jadi Vino punya kesempatan untuk memperbaiki hubungannya dengan Viona. Vino bertekad untuk menikahi Viona. Meskipun tadi perkataan Viona menyakitkan namun Vino akan tetap berusaha dan berjuang untuk mendapatkan Viona kembali.
"Sayang, aku yakin kamu akan kembali lagi padaku. Aku berjanji akan membuatmu bahagia jika kita bersama."
Vino langsung mengejar mobil Viona. Ternyata mobilnya menuju ke rumah sakit.
"Viona ke rumah sakit? Mau menjenguk siapa dia?" ucap Vino lirih.
Vino melihat Viona keluar dari mobilnya. Dengan cepat Vino memakai jaket, topi dan kacamata hitamnya untuk mengikuti Viona. Vino sengaja menyamar agar Viona tidak tahu bahwa Vino mengikutinya dari tadi. Vino melihat wanita yang dicintainya sedang duduk antri menunggu giliran diperiksa.
"Ternyata dia mau periksa kandungan." Batin Vino dan seketika bibirnya melengkung membentuk seperti bulan sabit.
Ingin sekali rasanya Vino menemani cek kandungan Viona. Terlebih rata-rata yang sedang antri adalah pasangan suami istri. Hanya Viona saja yang sendirian. Viona terlihat menundukkan kepalanya dan mengusap perutnya.
"Aku selalu saja sendiri untuk mengecek kandunganku. Mengharapkan Vino datang dan menemaniku periksa kandungan? Sepertinya hal yang mustahil," ucap Viona dalam hati.
Viona yang merasa sedih karena selama hamil tidak pernah ada yang mengantarkan periksa kandungan kecuali Julia sahabatnya yang saat ini berada di Korea. Viona ibu hamil disekelilingnya semua ditemani oleh suaminya. Tak lama kemudian nama Viona dipanggil dan Viona berjalan masuk ke ruangan.
"Suaminya masih diluar negeri Bu?" tanya sang Dokter karena sudah tiga kali ini Viona hanya sendirian saja.
"Iya Dokter," jawabnya singkat.
Viona bingung bulan kemarin sudah ditanya lagi kenapa suaminya tidak mengantarnya periksa kandungan dan Viona menjawab bahwa suaminya berada diluar negeri. Karena Viona tahunya sudah dua bulanan lebih ini Vino tidak menampakkan batang hidungnya. Jadi Viona tahunya Vino kembali lagi ke Korea.
"Wah, padahal ini pemeriksaan yang terakhir loh Bu. Sayang sekali sang ayah tidak bisa datang."
Viona hanya tersenyum kecut.
"Ya sudah mari saya periksa."
Saat Viona berjalan dan akan diperiksa kandungannya seketika pintu terbuka lebar. Sang Dokter, Perawat dan Viona menoleh karena seketika ada orang yang masuk.
"Maaf saya datang terlambat. Saya ayah dari sang bayi."
Viona terkejut karena tiba-tiba saja Vino datang.
"Wah Pak, Anda datang tepat waktu. Nah gitu dong sesibuk apapun pekerjaan Bapak diluar negeri tapi harus meluangkan waktu untuk melihat kondisi anaknya. Nah, kebetulan sekali istri Anda lagi mau saya periksa."
"Viona berarti mengakui bahwa aku sebagai suaminya?" Batin Vino tersenyum senang.
__ADS_1
Viona saat ini tidak bisa mengusir Vino begitu saja karena Dokter tahunya Vino adalah suaminya. Viona malu jika bilang bahwa dirinya seorang janda yang tanpa suami. Baru beberapa menit yang lalu statusnya berubah dari seorang istri menjadi seorang janda.
Dokter lalu memeriksa kandungan Viona. Vino melihat layar monitor dan matanya berbinar-binar. Vino bahagia bisa melihat anaknya untuk pertama kalinya.
"Anakku," lirihnya. Mata Vino sudah mulai berkaca-kaca saat melihat putranya.
"Sekarang saja kamu baru mengakuinya. Kemarin-kemarin kamu kemana saja Vino." Batin Viona kesal.
Seketika Vino mendengar suara aneh saat Dokter memeriksa kandungan Viona.
"Dok ini suara apa ya?" tanya Vino penasaran.
"Itu suara detak jantung bayinya Pak."
Tak terasa air matanya menetes saat mengetahui bahwa itu suara detak jantung anaknya.
"Bagaimana keadaan anak saya Dok?"
"Bayinya sehat dan kuat. Sang ibu juga rajin meminum vitaminnya."
Dokter lalu selesai memeriksa kandungan Viona. Perawat membantu Viona untuk turun dari brangkar rumah sakit. Sekarang Viona dan Vino duduk di kursi. Dokter lalu menjelaskan hasil pemeriksaannya dan memberikan print foto USG.
"Pak, sekitar 9 hari lagi Bu Viona akan melahirkan. Bapak dimohon untuk menemaninya saat melahirkan nanti. Support dari suami itu yang dibutuhkan oleh istri saat melahirkan," ucap Dokter berhijab tersebut.
"Tapi perlu diingat HPL sama kenyataannya tidak bisa dipastikan jadi bisa jadi Bu Viona melahirkan sebelum atau setelah HPL."
"HPL apaan Dok?"
"Hari Perkiraan Lahir. Anda terlalu sibuk diluar negeri sih Pak."
"Saya sudah kembali lagi di Indonesia dan akan menetap di Indonesia menemani anak dan istri saya. Saya ingin selalu ada bersamanya Dok," ucap Vino yang seketika membuat Viona terkejut.
"Bagus kalau begitu Pak. Oh, iya Bu Viona saya kasih resep untuk penambah darahnya. Nanti silakan ditebus."
"Baik Dok. Apa sudah selesai?" tanya Viona yang ingin segera keluar dari ruangan tersebut.
"Sudah Bu. Apa ada yang mau ditanyakan?"
"Tidak ada Dokter dan saya permisi dulu," ucap Viona beranjak dari tempat duduknya.
__ADS_1
Viona lalu mengambil amplop berwarna putih tersebut yang berisi hasil pemeriksaannya dan print foto USG dan keluar dari ruangan tersebut.
"Viona sayang tunggu aku," ucap Vino.
Viona menghiraukan perkataan Vino yang memanggilnya dan terus saja berjalan dengan cepat.
"Ibu hamil memang seperti itu Pak. Yang sabar ya, sebentar lagi jika sang bayi sudah lahir pasti sang ibu tidak akan seperti ini sikapnya."
"Iya dok. Kalau begitu saya permisi dulu."
Dokter menggangguk dan Vino keluar dari ruangan tersebut untuk mengejar Viona. Ternyata Viona sedang menebus obatnya. Vino meraih tangan Viona dan lalu menggenggamnya erat.
"Kamu kenapa selalu mengikuti aku Vino?"
"Karena aku ingin selalu bersamamu. Menikahlah denganku dan aku akan membahagiakan kamu," ucap Vino sambil tersenyum.
"Jangan mimpi. Aku tidak mau kembali lagi sama kamu!"
Viona lalu melepaskan tangan Vino yang menggenggam tangannya. Viona berjalan sedikit berlari meninggalkan Vino. Viona sudah sampai di parkiran rumah sakit. Dengan cepat Vino mengejar Viona dan memeluknya dari belakang.
"Kita akan segera punya anak Viona. Coba kamu pikirkan tentang anak kita. Dia harus mendapatkan kasih sayang dari ayah dan ibunya," ucap Vino sambil mengusap perut Viona.
Viona meneteskan air matanya. Memang benar anaknya butuh kasih sayang dari kedua orangtuanya.
"Sudah terlambat Vino. Kita tidak bisa bersama."
Vino lalu melepaskan pelukannya dan sekarang berjalan dan didepan Viona.
"Tatap aku. Apa kamu benar-benar tidak ingin bersamaku? Apa kamu sudah tidak mencintaiku?" tanya Vino sambil memegang kedua pipi Viona.
Viona tidak berani menatap mata Vino.
"Viona jelas-jelas kamu tidak mau menatap aku. Kamu masih mencintaiku kan?"
"Kamu percaya diri sekali Vino. Aku sudah tidak mencintaimu. Sudah terlanjur kecewa aku sama kamu dan sakit hatiku sudah terlalu dalam."
"Maafkan aku Viona dan kasih kesempatan sekali lagi kepadaku dan aku janji tidak akan pernah meninggalkan kamu. Aku akan membahagiakan kamu Viona."
"Aku tidak bisa kembali lagi sama kamu Vino. Pergilah menjauh dari hidupku." Viona lalu melepaskan tangan Vino yang memegang pipinya.
__ADS_1
"Aku akan menunggu sampai anak kita lahir. Jika kamu tidak mau kembali lagi padaku. Aku berjanji akan menjauh dan pergi dari hidupmu. Karena untuk apa aku berada di Indonesia jika wanita yang aku cintai tidak menginginkan aku."
Vino lalu berjalan meninggalkan Viona. Setelah kepergian Vino Viona meneteskan air mata. Entah mengapa Viona merasa sedih setelah Vino berbicara seperti itu.