Dijodohkan Dengan Cowok Manja

Dijodohkan Dengan Cowok Manja
BAB 82 - Pernikahan Evan dan Luna


__ADS_3

Pagi hari yang cerah tampak seorang pria yang sedang menggunakan jasnya dengan raut wajah bahagia.


"Aku masih gak menyangka akan menikahinya hari ini dan sebentar lagi aku akan menjadi seorang ayah," ucap Evan dengan senyum bahagia.


Disisi lain Luna sudah menggunakan gaun putihnya dan lalu memandang ke perutnya.


"Sayang, Mama bahagia hari ini akan menikah dengan Papamu. Mulai nanti malam kita bisa tidur bertiga. Dulu Mama berpikir akan membesarkanmu sendirian karena dulu Papamu tidak menginginkanmu. Tapi sekarang Papamu sudah berubah nak dan bahkan dia begitu sayang padamu. Hanya kamu yang bisa membuat Papamu berubah menjadi lebih baik. Mama berharap Papamu bisa mencintai Mama. Seperti Mama yang sangat mencintai Papamu sejak dulu," ucapnya menunduk sambil mengusap-usap perutnya pelan.


Anaknya pun merespon ucapan Luna dengan tendangannya.


"Aduhh... Duhh... Auww... sayang kamu nendangnya begitu kuat diperut Mama. Anak Mama sudah tidak sabar ya ingin bertemu dengan Papamu ya nak," ucap Luna.


Tak sadar jika dari tadi Evan mendengarkan ucapan Luna dengan bayi yang sedang dikandungnya. Evan lalu memeluk Luna dari belakang dan memegang perutnya. Luna kaget saat tiba-tiba Evan memeluknya.


"Evan....."


"Aku mencintaimu Luna Hernandez. Biarkan seperti ini sebentar ya sayang," ucap Evan berbisik di telinga Luna.


Luna senang Evan sekarang sudah mencintainya. Kehadiran sang buah hatinya merupakan anugerah bagi Luna karena sekarang Evan sudah benar-benar mencintainya dan perlakuannya terhadap Luna begitu manis.


"Sayang jangan siksa Mamamu ya... Kamu boleh menendang-nendang di dalam perut Mama tapi jangan terlalu kencang dan bikin Mamamu kesakitan," ucapnya yang sudah berjongkok di depan perut Luna.


Evan seolah-olah sedang berbicara dengan anaknya sambil mengecup perut Luna dan lalu mengelusnya pelan. Anaknya merespon ucapan Evan dengan tendangan kecilnya. Evan tersenyum saat anaknya meresponnya dan Luna sudah tidak merasakan kesakitan karena anaknya sudah tidak menendang begitu kuat.


"Sepertinya anakku mendengar ucapan Papanya." sambil berdiri dan menatap wajah Luna.


"Iya, aku juga merasakan tendangannya yang sudah mulai tidak sekencang tadi. Sepertinya dia takut dengan Papanya yang galak hahaha," ucap Luna sambil tertawa terbahak-bahak.


"Apa tadi kamu bilang sayang, aku galak? Awas ya setelah kita sah kamu akan tahu betapa galaknya diriku. Nanti malam aku tidak akan melepaskanmu begitu saja sayang," ucapnya di telinga Luna.


Evan sebelumnya sudah mencari tahu dan mambaca artikel di internet dan boleh melakukannya saat di atas usia kehamilan 16 minggu untuk bisa melakukan hal itu. Sekarang usia kehamilan Luna sudah memasuki usia 22 minggu yang artinya boleh untuk melakukannya. Tapi Evan belum yakin, ia akan menanyakan langsung dengan Dokter Yudha nanti kalau ketemu.


Luna mengeryitkan dahinya. Luna masih bingung dengan ucapan Evan barusan.


"Tidak akan melepaskanku nanti malam? Maksudnya apa coba? Masa iya nanti malam akan ada malam pertama seperti pasangan pengantin baru lain pada umumnya. Sementara aku kan sedang hamil 5 bulan. Bagaimana bisa kita melakukannya saat aku sedang hamil besar." batin Luna yang masih bingung dan hal itu tidak mungkin terjadi.


Papa Alvin berjalan mendekati Luna dan seketika Luna membuyarkan lamunannya saat melihat Papanya datang.


"Papa....."


"Maafkan Papa ya nak. Kemarin Papa emosi karena kamu hamil tanpa seorang suami. Kemarin Papa bersifat seperti itu karena Papa juga tidak ingin kamu membesarkan anakmu sendiri," ucapnya yang sudah mulai berlinang air mata dan memeluknya.


"Luna sudah memaafkan Papa sejak lama." sambil membalas pelukannya.


Evan senang mertuanya sekarang sudah sadar.


"Papa tenang saja Luna akan membesarkan anaknya bersama dengan saya. Saya janji akan selalu membahagiakannya," ucap Evan.

__ADS_1


"Terima kasih ya nak."


Evan mengangguk lalu tersenyum dan memeluk Papa Alvin sebentar.


"Papa sadar sekarang kamu akan menikah dan ini yang terbaik untukmu nak. Kamu jaga cucu Papa baik-baik ya nak," ucap Papa Alvin sambil mengusap perut Luna.


Cucunya merespon dengan tendangannya.


"Cucuku bergerak-gerak nak didalam perutmu."


"Iya putriku merespon kakeknya."


"Putri? Anakmu perempuan nak?"


Luna hanya mengangguk dan tersenyum.


"Alhamdulillah, aku akan punya cucu pertama perempuan. Pasti akan cantik sepertimu putriku," ucapnya sambil memegang kedua pipi anaknya.


"Nak, penghulunya sudah datang," ucap Papa Ferdinan yang tiba-tiba datang.


"Baiklah Pa kita akan kesana."


"Ayo sayang kita kesana," ucap Evan sambil menggandeng tangan Luna.


Ferdinan dan Alvin lalu berjalan di belakangnya.


Papa Alvin senang anaknya sudah menikah ia sekarang sifatnya sudah berubah dan mulai bisa menerima cucunya yang sebentar lagi akan lahir.


Setelah acara akad nikah selesai Luna dan Evan sudah berada di pelaminan.


Risa beneran datang ke resepsi pernikahannya dengan Rey. Dokter Yudha datang bersama dengan Karin. Risa berjalan bersama Rey ke pelaminan. Risa duluan untuk menyalami kedua mempelai.


"Happy Wedding Evan. Semoga bahagia selalu, ingat sudah akan menjadi ayah dan jangan ganjen sama cewek lain," ucapnya.


"Terima kasih Risa sudah datang. Aku tidak akan berbuat seperti apa yang kamu ucapkan karena sekarang aku sudah begitu mencintai istriku," ucapnya dengan senyuman.


Rey yang mendengar ucapan Evan tersenyum Evan sudah berubah menjadi orang yang baik. Luna juga senang Evan mengatakan itu di depan Rey dan. Risa.


"Luna selamat menempuh hidup baru ya. Semoga bahagia selalu bersama Evan."


"Iya terima kasih Risa sudah datang. Aku senang sekali kamu datang."


"Gimana bayimu menendang-nendang tidak saat ini?" ucapnya pelan.


"Tidak, sepertinya putriku saat ini tahu sitkon."


"Evan selamat atas pernikahanmu. Semoga bahagia ya bersama Kak Luna."

__ADS_1


"Iya terima kasih Rey. Maafkan aku dulu yang pernah menyukai Risa."


"Sudah jangan dibahas lagi. Aku sudah memaafkanmu sejak lama."


Evan tersenyum karena Rey sudah memaafkannya.


"Kak Luna selamat ya. Semoga langgeng terus sampai kakek dan nenek."


"Aamiin. Makasih Rey sudah datang."


Sekarang giliran Dokter Yudha memberikan ucapan selamat.


"Happy Wedding, Semoga menjadi keluarga yang sakinah mawadah warahmah ya Pak Evan."


"Aamiin. Terima kasih Dokter Yudha. Oh iya dok saya mau nanya apakah nanti malam saya boleh melakukannya?"


Dokter Yudha langsung paham dengan ucapan Evan. Yudha mengernyitkan dahinya, bisa-bisanya lagi resepsi pernikahannya begini dan langsung menanyakan hal seperti itu padanya.


"Boleh saja karena usia kandungannya sudah 22 minggu dan dari hasil pemeriksaan kemarin janinnya sehat dan kuat. Usahakan jangan menindih bagian perut ya."


Evan mengangguk paham. Luna pun mendengar semua pembicaraan Evan dengan Dokter Yudha. Luna tak habis pikir Evan akan menanyakan hal seperti itu di resepsi pernikahannya. Karin kesal di acara resepsi pernikahan seperti ini kok malah Evan konsultasi mengenai masalah hubungan suami istri. Rey masih mendengar ucapan Yudha dengan Evan, ia akan menanyakan untuk hal yang lebih jelasnya lagi dengan Yudha nanti. Setelah mereka semua selesai bersalaman akhirnya tibalah saatnya acara yang di tunggu-tunggu untuk pelemparan buket bunga. Kali ini yang dapat menangkap buket bunga itu adalah Yudha.


"Cieee.... Yang dapat Kak Yudha. Bentar lagi kalian akan nyusul ke pelaminan nih," ucap Risa menggoda Karin dengan menyenggol tangannya.


"Apa sih Kak Risa masih lama kali."


"Kalau ada niat baik gak boleh ditunda ya gak Kak? Segera halalin Karin nanti Kak setelah lulus SMA. Entar keburu diambil orang lain loh," ucap Rey sambil menepuk pundak Yudha.


"Iya nanti segera Rey kalau Karin sudah mau dibujuk," ucapnya dengan senyuman.


Yudha berpikir memang benar masih ada yang mengejar Karin adalah Dion sahabat Rey sendiri. Namun Rey lebih mendukung Yudha dengan Karin. Yudha tersenyum dan memberikan buket bunga tersebut kepada Karin. Karin tersipu malu menerima buket bunga tersebut karena diledekin Rey dan Risa.


Mereka akhirnya menikmati makan. Disela-sela acara Rey akan menanyakan hal tadi dengan Yudha. Mereka duduk bersama secara bersebelahan dengan posisi Karin, Yudha, Rey dan lalu Risa. Rey kalau selain di Rumah Sakit memanggil Yudha dengan sebutan Kakak.


"Kak, emang boleh melakukan hubungan suami istri saat istrinya sedang hamil?" tanyanya penasaran.


Risa yang mendengar ucapan Rey pun matanya terbelalak. Bisa-bisanya Rey bertanya seperti itu saat sedang makan.


"Rey kenapa tanya seperti itu sih? Kaya tidak tahu tempat saja. Apa dia juga akan melakukannya saat aku sedang hamil?" batin Risa yang mulai bergerdik ngeri.


"Boleh saja asalkan usia kandungannya di atas 16 minggu dan yang terpenting janinnya harus kuat. Tapi harus melakukan pemeriksaan terlebih dahulu ya untuk mengetahui janinnya kuat atau tidak."


Rey mengangguk paham.


"Sekarang usia kandungan Risa baru 14 minggu berarti 3 mingguan lagi aku boleh melakukannya. Tapi Risa mau gak ya? Hmm atau yang ada nanti malah Risa ngambek dan tidur di kamar tamu lagi kalau aku nanyain itu." Batin Rey.


Risa pura-pura tidak mendengar obrolan Rey dan Dokter Yudha. Sedangkan Karin tak habis pikir dengan Rey juga yang menanyakan hal tersebut dengan Dokter Yudha.

__ADS_1


__ADS_2