
DI KAMAR REY
Sepulang dari kampus Risa meletakkan tasnya lalu merebahkan tubuhnya ke ranjang king size nya.
"Hmm lelah sekali hari ini. Semenjak hamil aku jadi sering lelah. Kenapa mataku ngantuk banget sih? Sayang kamu hobby banget membuat Mommy mu ini jadi sering tidur siang hehehe," ucapnya terkekeh sambil mengelus perutnya seolah-olah berbicara dengan anaknya.
Tak lama kemudian Risa terlelap dalam mimpinya. Jam menunjukkan pukul 16:26 Rey sudah pulang dari kantor dan mulai membuka pintu kamarnya. Rey melihat wajah Risa sangat teduh saat tertidur pulas dan sambil memegang perutnya. Rey tahu mungkin tadi Risa sedang mengusap-usap perutnya dan lalu ketiduran.
"Sayang kamu kelihatannya lelah sekali hari ini. Terima kasih sayang telah mau mengandung anakku," ucap Rey meskipun Risa tidak mendengarnya tapi ia lega sudah berbicara seperti itu di depan Risa.
Rey tersenyum melihat perut Risa yang semakin hari semakin membesar. Rey mendaratkan kecupannya dipipi Risa setelah itu ke perutnya. Rasa lelahnya kini terbayarkan melihat istrinya dan juga calon anaknya.
"Anak Daddy cepat tumbuh ya sayang. Daddy menunggu kehadiranmu." sambil mengusapnya pelan agar tidak menggangu istrinya yang lagi tidur.
Rey lalu ke kamar mandi untuk membersihkan badannya. Adzan Magrib Rey membangunkan Risa.
"Sayang bangun, udah Adzan Magrib. Ayo kita sholat berjamaah," ucapnya di telinga Risa sambil membenarkan anak rambutnya dan mengusap rambut panjangnya perlahan-lahan.
Risa lalu mengerjapkan matanya dan duduk lalu tersenyum saat melihat Rey sudah pulang. Tapi seketika wajahnya murung karena Risa melupakan tugasnya.
"Sayang maaf, aku tadi ketiduran jadi tidak menyambutmu saat pulang. Kamu kok gak bangunin aku sih sayang saat kamu pulang."
Risa biasanya membuatkan teh jahe untuk suaminya saat pulang dari kantor dan menyiapkan pakaian gantinya. Risa ingin menjadi istri yang baik untuk suaminya.
"Tidak usah minta maaf sayang. Aku tidak tega sayang untuk membangunkanmu yang tidurnya sangat pulas. Yuk kita sholat berjamaah."
"Aku mandi bentar ya sayang. Janji kok gak bakal lama, soalnya kita akan sholat berjamaah."
"Iya, kamu duluan aja yang ke kamar mandinya sayang. Setelah kamu mandi gantian aku akan berwudhu."
Setelah mereka sholat berjamaah lalu turun untuk makan malam bersama Papi Aldi dan Mami Ana.
...*****...
DI RUANG MAKAN
Papi Aldi dan Mami Ana tersenyum melihat anak dan menantunya berjalan ke arahnya dengan wajah yang sangat bahagia. Mami Ana senang melihat perubahan dalam diri Risa dan juga perutnya yang semakin membesar setiap bulan. Mami Ana sudah tidak sabar menunggu 6 bulan lagi untuk menimang cucunya.
"Nak makan yang banyak sayurannya ya. Bagus untuk kesehatan ibu hamil sepertimu."
__ADS_1
"Iya Papi, Risa akan makan sayurannya."
"Habis ini jangan lupa minum susu hamilnya ya sayang."
"Iya Mami," sambil tersenyum.
"Sayang buatinnya sepertiga gelas saja ya? Kalau kebanyakan rasanya eneg."
"Iya sayang, aku makin gemes deh sama kamu," ucapnya sambil mencubit pipinya.
Semenjak tahu Risa hamil Rey yang selalu membuatkan susu hamil untuknya. Risa juga tidak mau orang lain yang membuatkannya. Karena rasanya jadi beda entah kenapa Risa pun juga heran. Mungkin karena Daddy-nya yang bikinin jadi akan terasa lebih enak.
Mami Ana dan Papi Aldi saling memandang dan lalu tersenyum. Papi Aldi senang sekarang tidak ada lagi pelakor dalam kehidupan rumah tangga anaknya. Sedangkan Mami Ana sangat bersyukur sekali karena sebentar lagi akan ada cucu pertamanya yang akan lahir di Keluarga Wijaya.
Malam hari Rey lagi kuliah online dan sedang mengerjakan tugasnya di laptop sambil duduk di ranjangnya. Risa sedang membuka paketan yang Risa terima pagi ini dan mengumpulkan beberapa pakaian yang besok pagi agar dicuci terlebih dahulu oleh Bi Ijah sebelum di foto untuk endorse. Risa lalu membuka lemarinya yang khusus untuk pakaian endorse dan terlihat beberapa baju endorse yang sudah dicuci oleh Bi Ijah tapi belum Risa foto. Akhirnya Risa memilih pakaian untuk Risa foto malam ini untuk di update besok pagi di akun instagramnya. Risa lalu berfoto didepan cermin bergaya sebagus mungkin, karena harus tampil yang menarik.
"Sayang kehamilanku sudah mulai terlihat kalau difoto."
"Iya sayang." Rey menjawabnya tapi masih melihat ke laptopnya.
Risa mendengus kesal saat Rey menjawabnya tapi tidak melihatnya. Risa lalu meletakkan kamera dan topinya. Lalu berjalan menuju ranjangnya dan menarik selimutnya sampai ke perutnya dan memunggungi Rey. 10 menit kemudian Rey sudah selesai mengerjakan tugas kuliahnya.
Risa tidak menjawab. Rey mulai mendekati Risa dan melihat wajahnya ternyata Risa belum tidur.
"Ada apa sih sayang? Apa kamu ngambek karena aku tadi cuma jawab iya saja? Kamu kan tahu sayang kalau aku tadi sedang kuliah online."
Risa lalu duduk dan menatap Rey.
"Aku kesal kamu tadi cuekin aku. Apa kamu punya wanita lain dibelakangku? Bilang sekarang kenapa malah bengong?" tanyanya dengan tatapan tajam.
"Tidak... Tidak sayang mana mungkin aku berani mengkhianati istriku yang sempurna ini. Bahkan Rendy saja bilang kalau kamu wanita yang seperti bidadari selain wajahnya cantik dan juga hatinya baik."
"Ah sudahlah semua laki-laki itu sama saja bisanya cuma gombal! Apa kamu ada niat untuk menduakanku seperti Dean menduakan Lova?"
"Apa?? Dean menduakan Lova?"
"Iya! Kenapa kamu kaget? Apa kamu juga menduakan aku di luaran sana hah??"
"Hadehh kenapa semenjak kehamilannya memasuki usia 3 bulan kok Risa jadi galak begini dan sifatnya berubah 180°. Moodnya jadi sering berubah-ubah. Hmm sabar, Rey sabar... Ini hanya sementara sampai anakku lahir. Setelah baby R lahir sifat Risa akan kembali baik seperti semula." batin Rey.
__ADS_1
"Sayang aku kan cuma nanya, bukan berarti aku seperti Dean. Memangnya Dean ketahuan selingkuh punya pacar lagi dibelakang Lova?"
"Dean sudah menikah lagi!" dengan nada yang tinggi.
"Apa???" Rey kaget mendengar ucapan Risa.
"Kenapa kaget? Apa kamu ada niat untuk menikah lagi? Aku gak mau dimadu ya Rey kalau sampai kamu ada niat untuk menikah lagi lebih baik kita berpisah. Aku bukan wanita seperti Lova yang hanya diam saja membiarkan suaminya menikah lagi," ucapnya dengan penuh ancaman.
"Sayang hey tatap aku. Aku tidak seperti Dean sayang. Aku tidak ada niat untuk selingkuh darimu apalagi sampai menikah lagi. Aku sangat mencintaimu sayang." Rey lalu tangannya memegang pipi Risa dan agar menatap wajahnya.
"Kamu tahu Dean juga begitu mencintai Lova bahkan saat ini Lova sedang hamil anaknya. Tapi kenyataanya Dean tetap menikah lagi kan? Dan apa jadinya kalau kejadian seperti di kantor waktu itu aku tidak datang. Pasti kamu sudah menikah lagi dengan Luna. Kamu sempat percaya kan bahwa anak yang di dalam kandungan Luna adalah anakmu? Kamu sempat kena jebakannya kan?" Risa masih mengingat saat Rey memegang perut Luna.
"Iya. Maafkan aku sayang. Tapi aku sudah membuktikan bahwa aku tidak bersalah dan aku bisa menjaminnya bahwa tidak akan ada lagi kesalahpahaman diantara kita," ucapnya meyakinkan.
"Hmm awas saja kalau sampai kamu ketahuan punya wanita lain dibelakangku atau bahkan sampai kamu menikahinya seperti Dean menikahi Sera. Aku tidak akan pernah mengizinkanmu menemui anakku," ucapnya mengancam lalu menaikkan selimutnya dan memunggungi Rey.
Rey mendengus kesal karena Dean yang menikah lagi tapi Rey yang terkena semprot dari istrinya.
"Ini semua gara-gara Dean yang menikah lagi. Risa pikirannya jadi yang tidak-tidak terhadapku." batin Rey kesal.
Rey lalu membalikkan tubuh Risa agar menghadap kearahnya.
"Sayang dengarkan aku dan tatap wajahku. Aku berjanji akan setia dan sehidup semati bersamamu. Hanya kamu Risa Alexander yang akan menjadi istriku satu-satunya," ucap Rey dengan penuh keyakinan.
Risa yang mendengar ucapan Rey seperti itu lalu duduk dan melihat mata Rey tidak ada kebohongan disana dan langsung memeluknya. Rey membalas pelukannya sambil mengusap punggungnya.
"Sudah sayang saatnya kita tidur, sudah malam," ucap Rey sambil membenarkan anak rambut istrinya dan mengecup keningnya.
Rey senang Risa sudah tidak marah-marah lagi dengannya. Mood ibu hamil sering berubah-ubah. Sebentar marah dan sebentar sudah kembali membaik, Rey sampai terheran-heran.
"Baby kita juga pengen dipeluk juga sayang," ucap Risa tersenyum dan melepaskan pelukannya.
"Hmm... Anakku lagi kangen Daddy ya sayang? Maafkan Daddy ya sayang karena beberapa hari ini Daddy terlalu sibuk dengan tugas kuliah dan pekerjaan di kantor. Daddy janji setiap hari akan meluangkan waktu Daddy untuk memperhatikanmu," ucapnya sambil mengecup perut Risa dua kali lalu memeluknya dan sesekali mengusap-usap perutnya.
"Sayang terima kasih kamu selalu sabar denganku. Kamu telah menjadi suami dan ayah yang baik."
"Kamu jangan berterima kasih seperti itu sayang. Ini sudah menjadi tugasku sebagai seorang suami dan ayah yang baik untuk anak kita dan aku akan selalu berusaha untuk membahagiakan kalian."
Risa tersenyum sambil tangan kanannya diletakkan untuk menopang tubuhnya di ranjang sedangkan tangan kirinya mengelus kepala Rey yang masih memeluk perutnya. Ada rasa nyaman ketika Rey mengusap-usap perutnya, mungkin karena anaknya yang menginginkan perhatian dari Daddy-nya. Rasa bahagia muncul begitu saja yang Risa rasakan saat ini. Memiliki keluarga kecil yang sebentar lagi akan lengkap dengan kehadiran sang buah hatinya yang sudah dinanti-nanti akan kehadirannya.
__ADS_1