
Mereka dulu memang menikah karena terpaksa karena Reno kabur, kedua keluarga tidak mau menanggung malu jika pernikahannya dibatalkan. Saat itu juga Revano yang menggantikan Reno sebagai mempelai prianya. Reno saat itu kabur dan langsung menikahi Sandra. Jadi mereka menikah di hari yang sama namun beda tempat.
Kezia tidak menyangka bahwa Revano akan berbicara seperti itu. Pernikahan mereka dulu memang terpaksa tapi seiring berjalannya waktu mereka sekarang sudah saling mencintai dan bahkan sebentar lagi buah hatinya akan hadir dan melengkapi keluarga kecilnya.
"Sayang pernikahan kita memang terpaksa. Tapi secara tidak sengaja nama kita yang tertera dalam undangan tersebut. Bukankah kita memang ditakdirkan untuk bersama?"
Revano menganggukkan kepalanya dan tersenyum bahagia dengan perkataan Kezia.
"Sayang, kamu sudah menjadi yang terbaik untukku dan juga untuk anak kita. Jadi jangan pernah berpikir bahwa kamu tidak bisa membahagiakan aku," ucap Kezia dengan senyuman dan sambil memegang kedua pipi suaminya.
Kezia lalu menghadiahkan kecupan pada bibir suaminya. Mereka sampai tidak sadar ada orang yang masuk ke ruangan tersebut. Orang tesebut membulatkan matanya karena melihat Kezia mengecup Revano dengan mesra.
"Maaf, maafkan saya," ucap sang asisten Kezia yang bicaranya sampai terbata-bata dan lalu menutup pintunya kembali.
Kezia dan Revano lalu saling berpandangan.
"Astaga sayang, tadi ada orang yang masuk," ucap Revano yang kini seketika merasa malu karena ketahuan oleh karyawan istrinya.
"Tidak apa-apa sayang, sudahlah jangan terlalu dipikirkan," jawab Kezia dengan cepat.
"Tapi mereka melihat kita tadi sedang..." Perkataan Revano tidak diteruskan.
"Biarkan saja. Lagian kita sudah menikah. Di mana letak kesalahannya?"
Kezia sikapnya memang seperti Kenzo yang tidak ingin terlalu pusing memikirkan hal yang tidak penting untuk semestinya dibahas. Revano tidak ingin bertengkar dengan istrinya. Revano lalu kepo dengan apa yang tadi dilihat istrinya.
"Sayang kamu tadi sedang melihat apa? Kok aku lihat tadi kamu tengah tersenyum sendiri saat melihat hp?"
"Ah, ini sayang. Aku tadi melihat baju bayi yang lucu-lucu," ucap Kezia sambil memperlihatkan layar hpnya kepada suaminya.
"Nanti kita akan beli yang banyak setelah kandungan kamu sudah 7 bulan," ucap Revano sambil memegang puncak kepala Kezia dan mengusapnya perlahan.
"Baiklah sayang."
"Oh iya, aku akan menyuruh asistenku untuk kemari," ucap Kezia kembali.
Kezia lalu menelepon asistennya. Tak lama kemudian asistennya datang dan mengetuk pintunya.
"Ya, masuk," ucap Kezia.
"Siang, Bu..."
"Iya siang, mana laporan penjualan bulanan ini?"
"Ini Bu," sambil menyerahkan map berwarna biru tersebut.
"Lain kali kalau mau ke ruanganku jangan main nyelonong masuk saja. Ketuk dulu pintunya!" Kezia masih membahas hal yang tadi.
"Tadi saya sudah mengetuk pintunya Bu. Saya tidak tahu kalau ada suami Ibu di sini."
"Aku tadi tidak mendengarnya. Lagian ada suamiku atau tidak juga sama saja kamu harus mengetuk pintunya beberapa kali. Besok-besok kalau ke ruanganku sebelum aku menjawabnya kamu tidak boleh masuk," ucapnya dengan ketus.
"Jelas Bu Kezia tidak mendengarnya. Bu Kezia kan sedang asyik sama suaminya." Batin sang asisten dalam hati.
"Baik Bu."
"Sayang, sudah jangan marah-marah."
"Iya sayang aku tidak marah-marah dan hanya mengingatkan saja sama asistenku," ucap Kezia dengan senyuman.
"Dasar bumi aneh, tadi sikapnya lembut banget saat mentraktir makan siang. Tapi sekarang berubah jadi galak begini saat ada suaminya." Batin sang asistennya.
"Ini sudah saya periksa laporannya. Usahakan penjualan bulan depan naik. Atur bagaimana caranya. Buat diskon potongan harga pada setiap orang yang belanja minimal lima ratus ribu. Diskonnya 10% saja dan tidak berlaku kelipatan."
"Baik Bu," jawabnya singkat.
"Ya sudah, kamu boleh keluar dari ruangan saya."
"Kalau begitu saya permisi dulu."
Sang asisten lalu keluar dari ruangan Kezia.
"Sayang, makan siang yuk?" ucap Revano yang merasa sudah lapar.
"Aku tadi sudah makan sayang bersama para karyawan."
"Temani aku yuk?"
"Baiklah ayo sayang, aku juga mau ngemil."
Mereka bergandengan tangan masuk dan keluar dari ruangan. Mereka pergi ke restoran yang ada di sebelah butiknya Kezia.
Sedangkan di butik para karyawan sedang ngerumpi membicarakan Kezia dan juga Revano.
"Mereka makin mesra ya," ucap salah satu karyawannya.
"Iya, alhamdulilah.. Bu Kezia jadi baik semenjak hamil."
"Mudah-mudahan mereka langgeng sampai maut memisahkan."
__ADS_1
"Aamiin," jawabnya bersamaan.
"Baik apanya aku tadi terkena semprot dari Bu Kezia. Karena tak sengaja melihatnya sedang bersama suaminya." Batin sang asisten yang lalu memutuskan untuk pergi ke toilet.
...*****...
Malam telah tiba. Revano sudah terlelap dalam tidurnya. Kezia berjalan keluar dari kamarnya dan menuju ke dapur. Kezia membuka kulkas dan mengambil kue ulang yahu yang telah dia buat khusus untuk suaminya tadi pagi. Kezia melangkahkan kakinya menuju ke kamarnya. Semua orang sudah tidur. Tadi Kezia memberitahu kepada Mommy Risa kalau untuk kejutan ulang tahun Revano besok saja. Karena Kezia ingin malam ini memberikan kejutan untuk suaminya sendiri. Risa pun menyetujuinya dan bilang ke semua orang. Di kamar Revano ada meja kecil dan 2 kursi sofa. Sekarang Kezia sedang meletakkan kuenya di meja kamarnya.
"Sayang, bangun....." Kezia menggoyangkan tubuh Revano.
Kezia lalu mengambil kue dan menghidupkan lilinnya yang berangka dua dan nol tersebut.
"Selamat ulang tahun suamiku," ucap Kezia berbisik ditelinga suaminya.
Revano mengerjapkan matanya dan kini Kezia sudah membawa kue di depan suaminya.
"Surprise, selamat ulang tahun sayang." Kezia mengecup pipi suaminya.
"Make a wish dulu."
Revano lalu memejamkan mata dan berdoa agar bisa selalu bersama istrinya dan hidup bahagia selamanya. Revano lalu meniup lilinnya.
"Makasih sayang," ucap Revano lalu mendaratkan kecupannya di kening Kezia.
Revano lalu melongo saat baru sadar melihat penampilan istrinya yang tidak seperti biasanya. Kezia memilih memakai pakaian yang diberikan oleh Mommy Risa. Pakaian tidur berwarna dusty pink yang jika dipakai di atas paha, berbahan satin dengan tali sejari.
"Sayang, tumben kamu berpakaian seperti ini?" Karena biasanya Kezia tidur memakai dasternya.
"Apa kamu tidak suka?" Kezia lalu mengernyitkan dahinya.
"Aku sangat suka sayang. Apa kamu sedang menggodaku?"
"Sayang, kita belum potong kuenya," ucap Kezia mengalihkan pembicaraannya.
"Tidak perlu. Potong kuenya bisa besok saja."
Kezia tengah bingung akan perkataan suaminya. Revano lalu beranjak dari ranjangnya dan meletakkan kue tersebut ke meja. Revano lalu kembali mendekati istrinya.
"Sayang, aku ingin kado spesial darimu," ucap Revano sambil tersenyum.
"Sayang kado spesial dariku itu tadi, kue ulang tahun kamu. Aku yang membuatnya sendiri. Dan malam ini aku sengaja berpenampilan seperti ini di hari ulang tahunmu."
"Sayang, kamu telah menggodaku. Kamu harus bertanggungjawab."
"Menggoda gimana? Aku tidak menggodamu."
"Maksudnya aku harus tanggungjawab yang bagaimana?"
"Aku merindukanmu," bisik Revano pada telinga Kezia.
Sekarang Kezia paham akan perkataan suaminya.
"Revano, kamu tahu kan kita tidak bisa melakukannya? Aku sedang hamil."
"Dokter sudah mengizinkan. Aku kemarin berkonsultasi dengannya."
"Hah? Aku tidak percaya, pasti itu akal-akalan kamu saja kan Revano!"
"Ini sayang. Kamu harus baca pesan WhatsApp dari Dokter Yudha."
Kezia lalu melihat layar hp suaminya. Kezia melotot saat Om Yudha mengatakan boleh.
"Kamu tanya sama Om Yudha mengenai hal seperti itu? Sangat memalukan!"
"Memalukan gimana? Om Yudha kan memang profesinya sebagai Dokter Kandungan jadi ia tahu akan hal ini."
"Aku malu jika bertemu dengan Om Yudha. Karena kamu tanya tentang hal itu lewat WhatsApp."
"Sayang kita coba saja yuk," ucap Revano berusaha mengajak Kezia.
"Apa kamu masih tidak percaya padaku? Kalau begitu kita tanya ke Dokter lainnya."
"Aku percaya padamu," ucap Kezia dengan senyuman manisnya.
"Jadi bagaimana?" tanya Revano yang sepertinya Kezia masih enggan ragu untuk melakukannya.
"Iya, kita akan mencobanya."
"Makasih sayang. Ulang tahunku kali ini bakal jadi ulang tahun terindah yang pernah aku lalui bersamamu. Di usiaku yang masih terbilang muda, aku akan punya anak darimu."
"Kamu akan menjadi Papa muda sayang," ucap Kezia terkekeh.
"Aku meminta hadiah spesialnya sekarang sayang," ucap Revano.
"Hmm baiklah..."
Revano lalu membaca doa dan mulai mengecup kening istrinya. Kezia lalu memberikan hadiah spesial untuk Revano. Mereka kini memadu kasih dengan di antara keduanya sudah sama-sama saling mencintai. Berbeda diwaktu dulu, mereka masih terikat pernikahan kontrak dan tidak ada kata cinta dari keduanya.
...*****...
__ADS_1
Pagi hari Kezia mengusap perutnya yang semakin bergantinya bulan semakin membesar. Kezia tidak sabar menantikan sang buah hatinya lahir melihat dunia.
"Sayang, kamu cepat tumbuh besar ya dalam perut Mama. Aku sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengan kamu nak," ucapnya sambil mengusap perutnya.
"Nak, mudah-mudahan sifat Papa kamu menurun ke kamu. Mama ingin sekali kamu seperti dirinya," ucapnya kembali.
Kezia tersenyum saat anaknya merespon dengan tendangannya. Alangkah bahagianya menjadi seorang ibu. Kezia kini menyesal dulu mau menggugurkan kandungannya. Kezia kini menyayangi anak dalam kandungannya dengan sepenuh hati. Berbeda saat dulu dia tahu kalau hamil anak Revano. Saat itu Kezia marah dan kesal. Karena Kezia dulu masih membenci Revano dan masih menginginkan Reno yang entah pergi kemana karena tiba-tiba saja hilang tanpa jejak.
Saat itu Kezia tidak tahu bahwa Reno juga menikahi Sandra di hari yang sama seperti pernikahan Revano dan Kezia. Tapi Kezia kini bersyukur mendapatkan laki-laki baik yang menjadi suaminya, mungkin memang Reno bukanlah jodohnya. Kezia berpikir bahwa kesalahan dalam cetak undangan pernikahan itu adalah memang sebenarnya jodoh Revano dan bukan Reno. Sekarang Kezia mencintai dan menyayangi suaminya dengan tulus. Berbeda di waktu mereka saat masih baru awal-awal menikah. Mereka bersikap mesra hanya karena ada kedua orangtua mereka saja. Namun kini Kezia dan Revano bisa bersikap mesra karena saking mencintai dengan tulus.
Revano membuka pintu kamarnya pelan dan melihat istrinya sedang duduk di sofa sambil mengusap perutnya. Ada rasa bahagia ketika istrinya sedang seperti ini. Sikap Kezia memang sudah berubah. Sekarang menjadi penyayang dan keibuan. Revano berjalan mendekati istrinya dan duduk disampingnya.
"Sayang, ini untukmu," ucap Revano sambil memberikan segelas sufor untuk ibu hamil tersebut.
"Makasih sayang." Kezia meraih gelas tersebut dan meminumnya hingga habis dan meletakkan gelasnya di meja.
"Sama-sama istriku," ucap Revano dengan senyuman manisnya.
Semenjak Revano pulang dari Korea, Revano yang selalu membuat sufor untuk istrinya. Kezia yang meminta Revano untuk membuatkannya. Entah kenapa jika orang lain yang membuatnya rasanya berbeda. Kezia lalu berpikir bahwa mungkin saja anak dalam kandungannya ingin Papanya yang membuatkan sufor untuknya.
"Kamu gemesin deh sayang. Ini wajah kamu kenapa bisa imut begitu?" ucap Kezia sambil mencubit pipi suaminya dengan gemas.
"Haha, Daddy kan wajahnya memang imut dan aku yang mewarisinya, aku dulu lihat album fotonya waktu Daddy menikah sama Mommy, Daddy ganteng banget sayang."
"Untung saja wajah imutnya Daddy menurun ke aku dan bukan ke Kak Reno."
"Memang kenapa kalau menurun ke Reno?" tanya Kezia penasaran.
"Nanti kamu susah move on darinya."
"Haha, sayang aku baru menyadari bahwa kamu lebih ganteng dari Reno dan mana mungkin aku akan menyia-nyiakan kamu?"
"Buktinya dulu," ucap Revano.
"Dulu, karena aku tidak terima saat Reno digantikan dengan kamu saat kita menikah."
"Tapi sekarang aku bersyukur bahwa kamu memang yang terbaik untukku. Makasih sayang sudah sabar selama ini menghadapi aku," ucapnya kembali dan menghadiahkan sebuah kecupan manis pada bibir suaminya.
"Iya sayang," Revano mengangguk dan tersenyum.
"Sayang, kurang! Pipi kanan dan kiri belum nih," ucap Revano sambil menunjuk kedua pipinya secara bergantian.
"Kebiasaan selalu ingin nambah," ucap Kezia terkekeh.
Kezia lalu mengecup pipi suaminya secara bergantian. Revano bahagia istrinya semakin sayang kepadanya.
"Sayang, perutmu semakin membesar."
"Iya, dia tumbuh dengan cepat dalam perutku. Tidak terasa ya sayang pernikahan kita hampir setahun."
"Nanti pas anniversary pernikahan kita insya'allah anak kita sudah lahir," Revano mengecup perut istrinya.
"Iya benar sayang. Mungkin putri kita sudah lahir kalau menurut HPL."
Revano kini masih betah dan memeluk perut istrinya. Kezia mengusap kepala suaminya. Entah kenapa Kezia merasa bahagia saat suaminya memeluk perutnya.
"Aku semakin bahagia kamu semakin hari semakin terlihat aura keibuannya." Revano sambil memegang pipi kanan Kezia.
"Sayang, aku mencintaimu. Jangan pernah tinggalkan aku lagi," ucap Kezia lalu memeluk suaminya.
Entah kenapa Kezia merasa takut jika suaminya pergi lagi dari hidupnya. Kezia sekarang sudah sangat mencintai suaminya dan tidak ingin Revano pergi dari hidupnya. Entah perasaan khawatir selalu datang belakangan ini.
"Tidak mungkin aku akan meninggalkan kamu lagi sayang, aku bahkan sangat mencintai," ucap Revano yang kini mengusap punggung istrinya.
"Tapi kenapa perasaanku ini selalu saja takut jika kamu akan meninggalkan aku? Aku sangat takut akan hal itu Revano." Kezia kini matanya mulai berkaca-kaca.
"Sayang, apa yang kamu takutkan? Aku tidak akan pergi kemana-mana," ucapnya sambil melepaskan pelukannya dan kini memegang kedua pipi istrinya.
"Sayang, kamu jangan khawatir ya," ucapnya kembali sambil mengusap air mata Kezia.
"Janji kalau kamu tidak akan pernah pergi meninggalkan aku?"
"Iya aku janji sayang. Hanya kamu yang aku cintai di dunia ini dan mana mungkin aku akan meninggalkan kamu. Apalagi kita akan punya anak," ucap Revano yang kini tangannya beralih memegang perut istrinya.
Kezia tersenyum dan sekarang mereka menyatukan keningnya. Kezia dan Revano menunduk dan memegang perut Kezia bersama-sama. Ada rasa bahagia di antara mereka ketika anaknya bergerak dalam perut Kezia.
"Sayang, kamu tahu tidak sebenarnya dulu semenjak kita sering bertengkar aku sudah memiliki perasaan sama kamu. Tapi waktu itu aku belum menyadarinya," ucap Revano.
"Entah kenapa dulu ketika kita bertemu ada saja hal yang membuat kita jadi ribut. Kamu masih ingat tidak saat aku menjewer telinga kamu dan akhirnya kamu menangis. Aku bingung waktu itu kalau ketahuan Mommy Risa karena membuat kamu menangis. Saat itu juga aku baru pertama kali memeluk laki-laki selain Papaku."
"Sayang aku jadi malu jika mengingat hal itu."
"Iya karena kamu dulu masih sangat manja sayang. Bahkan kalau Mommy Risa sedang bertengkar sama Daddy, kamu selalu bahagia karena akhirnya Mommy Risa menemanimu tidur," ucap Kezia terkekeh.
"Dulu mungkin aku manjanya sama Mommy. Tapi sekarang kan sudah ada kamu sebagai istriku. Sayang aku bahagia kamu memanjakan aku semalam. Makasih ya," ucap Revano yang lalu mengecup kening istrinya.
"Ah, aku jadi malu Revano. Jangan bahas hal itu."
Revano lalu terkekeh saat mengingat kejadian semalam.
__ADS_1