
" Yesline awas !!!!! "
Al mendengar jeritan Mamanya, langsung menghentikan langkah kakinya dan berlari ke arah sumber suara itu.
Yesline masih mematung di tengah tengah tangga, dengan kedua tangannya berpegangan pada pegangan tangga. Jantungnya seperti mau copot. Al terlihat berlari dari arah garasi. Melihat Yesline yang masih kaget, dan Mamanya yang memegang dadanya, syok. Al langsung berlari ke dapur dan mengambilkan air minum dan langsung memberikan ke Mamanya dan Yesline.
" Minum dulu, Sayang ..... "
Yesline duduk di tangga meminum air yang dikasih Al dengan perlahan. Dia masih syok.
" Terima kasih, Mas. " kata Yesline sambil memberikan kembali gelas itu ke Al.
" Lain kali, jangan terburu buru. Kamu harus perhatikan keselamatanmu dan bayimu. Jangan seperti tadi lagi, Untung tidak terjadi apa apa. " kata Al mengomel dengan nada pelan, tapi Yesline tau bahwa Al sangat serius dan khawatir.
Yesline mengangguk. Dia menyesal. Dia juga tidak mau sesuatu hal buruk terjadi padanya dan bayinya. Al mengulurkan tangannya untuk membantu Yesline berdiri dan perlahan menuruni anak tangga.
" Hati hati ya, Yes .... Jantung Mama hampir mau copot tadi. Mama masih syok. " kata Mamanya saat Al dan Yesline sudah di depannya. Mertuanya itu menyentuh Pipi Yesline.
" Maafin Yesline ya, Ma. .... " kata Yesline menyesal dan Mamanya mengangguk pelan.
" Kami berangkat dulu ya, Ma. " kata Al.
" Iya. Kalian hati hati ya .... "
Al masih melingkarkan tangannya di pinggang Yesline, Seperti takut jika Wanita di sampingnya itu celaka lagi. Terkadang Yesline begitu ceroboh dan mengundang masalah mendekat. Semoga Dia selalu beruntung dan baik baik saja.
Al mengecup kepalanya dengan lembut yang menempelkan kepalanya di dada Al. Al membukakan pintu mobil dan Yesline masuk.
*******
Nicho duduk di kursi tunggu, Dia juga hari ini balik ke Singapura. Disampingnya ada koper kecil yang Dia bawa. Dia tidak membawa banyak barangnya karena sudah ada juga di Singapura. Jadi setiap Dia ke Jakarta atau Singapura, Dia tidak akan membawa barang barangnya. Nicho sedang asyik memainkan ponselnya saat tiba tiba ada yang menyapanya.
" Dimana pun selalau ketemu sama Kamu !!! Bosan jadinya !!! " celetuk Seseorang yang tiba tiba menurunkan kopernya dan duduk di sebelah Nicho.
Nicho menoleh,
" Kamu ??? Jadi ke Amerika hari ini ???? '' tanyanya sedikit terkejut.
" Iya. Lebih cepat lebih baik. "
__ADS_1
Wanita itu tidak menatap ke arah Nicho. Matanya menatap jauh ke depan. Ada sesak yang mengganjal di hatinya. Entah Dia merasa benar benar baikan setelah meninggalkan Indonesia. Ataukah akan semakin merindukan moment moment itu.
" Callista .... Callista .... Jangan memasang muka sedih seperti itu, Gak cocok sama Kamu. Callista itu selalu kuat dan tegar, juga judes. " sindir Nicho membuat Callista geram.
" Apasih Cho ??? Sok tau deh Kamu !!! " bentaknya.
" Apa Kamu memberi tahu Yesline, kalau Kamu berangkat hari ini ??? " tanya Nicho penasaran.
" Aku sengaja tidak memberi tahunya. Aku tidak bisa berpura pura bahagia lagi di depannya, Karena hatiku benar benar berat untuk pergi. Tapi keadaan membuatku harus menjauh. Sebenarnya Dia sempat bilang mau ikut ngantar. " kata Callista.
" Aku juga tidak memberi tahunya, males ketemu Al. Bisa bisa kena bogem lagi kalau salah sikap. Padahal Aku sempat ingin pamit, karena tidak tau kapan bisa bertemu Yesline lagi. Argghhh !!!! Sial. Hatiku masih belum move on. " kata Nicho mengusap mukanya kasar.
" Apa lagi Aku ??? "
Callista cemberut, menghela nafasnya berat.
" Lumaya Kamu masih sempat merasakan kebersamaan bersama Al, Meski terbilang singkat. Lah, Aku ??? Cuma ngiler liatin ajah. Nasib cinta tak terbalas. "
" Nasib yang malang .... " Callista menimpali.
Kedua Orang itu saling meluapkan emosi dan kekesalannya. Mereka tidak sadar jika takdir selalu mempertemukan Mereka, menempatkan Mereka pada rasa sakit yang sama dan berbagi kesedihan bersama. Mungkinkah sebenarnya Mereka berjodoh ??? Atau hanya menjaga jodoh Orang Lain ???
******
Al menatap heran Istrinya, kenapa Dia begitu cepat peduli dengan Callista atas apa yang sudah terjadi.
" Iya iya. " jawab Al dan kembali membuka ponselnya untuk mengecek jadwal keberangkatan Callista.
" Masih ada waktu kurang lebih 30 menit lagi, Sayang. " kata Al.
" Syukurlah. " jawab Yesline.
Mata Mereka melihat ke segala arah untuk mencari Callista.
" Dia memakai kaos putih Mas. " kata Yesline yang masih menggandeng tangan Al.
" Disini banyak yang pakai kos putih, Sayang ... "
" Iya iya. " jawab Yesline tersenyum malu saat menyadari di Bandara itu memang banyak yang memakai baju warna putih.
__ADS_1
" Dimana Callista ??? "
Dia melihat kursi di ruang tunggu dan Yesline melihat disana ada Callista dan Nicho. Yesline langsung melepas pegangan tangannya, sedikit berlari menghampiri Mereka. Seperti sudah lama Mereka tidak bertemu.
" Hai, Callista, Nicho .... " panggil Yesline dengan suara keras. Dia meninggalkan Al di belakang.
Yang dipanggil langsung menoleh dengan ekspresi kaget. Tapi Nicho langsung sumringah saat tidak melihat Al di belakang Yesline. Berbeda dengan Callista yang gelagapan mengusap ujung matanya dan berusaha tersenyum.
Nicho spontan merentangkan kedua tangannya untuk memeluk Yesline, Tapi Yesline berjalan melewatinya dan memeluk Callista. Nicho mencebikkan bibirnya memeluk kedua tangannya, Iri melihat Yesline yang memeluk Callista.
" Aduh ... Duh .... !!! " rintihnya kesakitan saat tiba tiba ada tangan yang menjewer telinganya. Nicho menoleh, ternyata Al sudah berada disampingnya. Nicho kira, Al tidak ikut. Walau Yesline tidak mungkin datang sendiri, Jika bukan Al pasti ada Leni atau Clinton yang menemani.
" Aish .... Itu tangan perlu dijaga !! Kalau mau masih lengkap !!! " gertak Al, menatap tajam ke Nicho.
Nicho menatap Al dengan tatapan bahwa Dia selalu apes kalau ada Sepupunya itu. Tubuhnya sudah berkali kali menjadi sasaran kekerasan Dokter gila itu. Nicho mengelus elus telinganya yang memerah karena Al menjewernya dengan keras.
" Kamu tega !! Masa mau berangkat gak bilang bilang ??? Kan Aku sudah bilang mau ikut mengantar Kamu. " kata Yesline.
" Aku takut mengganggu Kalian, dan Kamu pasti masih capek. Sebenarnya gak usah ikut mengantar juga gak apa apa, Yes. " jawab Callista.
" Gak apa apa. Gak ganggu dan gak capek kok.''
" Kamu juga, Cho. Kenapa gak pamit ??? "
" Takit dimarahai sama Suami Kamu yang galaknya bukan main. " cetus Nicho sembari memegang telinganya.
" Mau lagi ??? " sergah Al.
Nicho menarik tubunya menjauhi Al membuat Yesline tertawa.
Nicho meraih kopernya, Dia sudah waktunya mau berangkat. Dia haru menuju gate untuk penerbangan ke Singapura.
" 15 menit lagi, Aku mau berangkat. Aku pamit ya Yes, Al. " kata Nicho sambil melambaikan tangannya, Dibalas lambaian tangan dari Yesline juga.
Al hanya menggerakkan tangannya layaknya seperti mengusir. " Hus .... hus ... sana... "
Begitu juga Callista Meraih kopernya dan pamitan sama Yesline dan Al.
" Hati hati, ya Callista. Jangan lupa untuk kasih kabar... " kata Yesline senyum.
__ADS_1
Callista melambaikan tangannya lalu pergi menyusul Nicho. Dan Mereka akan berpisah saat berada di gate masing masing.