Gairah Hot Sang Dokter

Gairah Hot Sang Dokter
Episode 195


__ADS_3

"Nicho, tinggalkan Callista!! Jika kamu tidak mau aku menjebloskan dia ke dalam penjara" kata mami dengan sorot mata yang tajam. Wanita itu dengan beraninya menemui Nicho di kantor, tapi Nicho mengajaknya bicara di kafe. Dia membawa ancaman dan bukti bahwa Callista terlibat.


Hanya hening yang menjadi jawaban, mengirinya langkah Nicho dengan sorot mata yang tidak dipenuhi ketidakpercayaan. Dia pun kembali ke meja kerjanya, duduk bersandar dengan wajah kian kacau.


Sementara itu, waktu di kafe, Callista sengaja mengikuti Nicho, dia ingin tahu seburuk apa ancaman yang diberikan oleh mami. Dia ingin menyelamatkan pernikahannya, tapi.... sebuah isak pecah, tanpa suara dengan kedua tangan yang menutupi wajah. Jelas sakitnya bukan main, sebab salah satu rasa sakit yang paling sakit adalah dengan menangis tanpa ada seorang pun yang tahu. Menangis tanpa suara.


Setelah dari kafe, Nicho kembali ke kantornya, tapi Callista masih duduk dibangku dan tersedu. Mana bisa membayangkan Nicho akan meninggalkannya atau mami yang akan memasukkannya ke dalam penjara. Tidak ada pilihan yang bisa di pilih.

__ADS_1


Seseorang yang baru masuk ke dalam kafe tiba tiba melihat Callista yang sedang menangis. Kedua manik hitamnya langsung terbelalak, terkejut serta bingung ketika melihat Callista tengah meringkuk seraya terisak.


"Ka---kamu kenapa, Callista?" tanya wanita itu yang ternyata adalah Leni. Ia terbelalak dan langsung memeluk tubuh Callista. Kebetulan Leni sedang keluar karena dia bosan di rumah. Gabriel yang baru sampai tadi langsung ke toilet karena kebelet.


"A-aku gak apa apa, kok. Aku baik baik saja." jawab Callista dengan senyuman terpaksa, masih dengan air mata yang terus berjatuhan.


"I-iya, aku baik baik saja." Callista masih memaksakan sebuah senyuman, hanya untuk menyembunyikan sebuah kesedihan. Sebenarnya, dia bukan tidak ingin bercerita, hanya saja dia tidak berani, karena takut jika Leni yang sedang hamil akan ikut memikirkan masalahnya yang rumit. Kemungkinan besar Leni akan merasakan hal yang sama seperti apa yang Callista rasakan saat ini.

__ADS_1


Selain itu, besar kemungkinan Leni juga akan ikut lebih menderita oleh masalah ini, karena sahabat mana yang bisa melihat sahabatnya sedang bersedih hati. Akan tetapi, Leni terus mendesak Callista untuk bercerita, sebab air matanya yang saja terus berjatuhan.


"Callista! Gak ada satu pun orang yang baik baik saja ketika dia menangis! Dan tolong, berhentilah untuk berpura pura tersenyum, selagi air matamu deras berjatuhan.Udah kamu gak usah mengelak deh, cerita sama aku jangan diam dan dipendam begitu. Aku kan temanmu dan aku tidak mau kamu sedih dan kenapa kenapa. Tolong cerita samaku, ya." kata Leni yang kini juga ikut menangis.


"Tapi.... Aku beneran gak apa apa. Aku.... Aku hanya datang bulan saja. Jadi perutku rasanya perih dan sakit, hanya itu." katanya sembari memegangi perutnya dan berpura pura lagi datang bulan.


Tidak ada yang tahu bagaimana rasanya ketika bahkan kamu tidak punya pilihan selain jatuh ke dalam jurang atau mati bunuh diri.

__ADS_1


Sama sama akan kehilangan nyawa.


__ADS_2