Gairah Hot Sang Dokter

Gairah Hot Sang Dokter
Episode 182


__ADS_3

Di rumah sakit Kasih.


Gabriel berjalan menggandeng tangan Leni. Sedang wanita itu masih bergelayut mesra di lengan suaminya. Tapi, entah kenapa kepalanya tiba tiba pusing. Bibirnya memucat dan tubuhnya terasa lemah. Leni merasakan keanehan dalam tubuhnya itu.


Rasa mual dari dalam perutnya itu mendorong sesuatu entah apa melewati tenggorokannya, seperti memaksa untuk dikeluarkan. Apa tadi ia salah makan?


Sebelum sampai di rumah sakit tadi, Gabriel mengajak Leni makan di luar dulu. Leni hanya memesan ayam goreng dengan taburan bumbu di atasnya.


Leni membekap mulutnya. Dia berlari melepaskan pegangan tangannya dari lengan suami, lalu berlari masuk ke dalam toilet. Gabriel mengekor di belakangnya. Dia mulai mengkhawatirkan keadaan istrinya. Gabriel menunggu di depan kamar mandi perempuan.


Terdengar suara orang muntah berkali kali. Gabriel hanya sabar menunggu sampai Leni keluar, pasalnya saat ia menunggu di depan pintu ini, ada saja yang menertawakannya.


Lama tak ada jawaban dari dalam, hampir satu jam Gabriel menunggu di luar. Dia sudah tidak sabar lagi. Dari balik pintu, dia sudah tidak mendengar suara apapun. Gabriel berinisiatif menggedor itu. Ia menggedor gedor dengan cukup keras dan cepat. Tidak ada sahutan dari dalam membuat Gabriel semakin cemas. Dia memegang gagang pintu lalau membukanya. Gabriel mencari Leni, matanya membulat sempurna saat melihat keadaan istrinya.


" Leni, sayang!! " pekiknya terkejut.


Dengan wajah cemas, Gabriel segera membawa Leni di bawa ke UGD. Dua orang suster berlari ke arah Gabriel untuk menyiapkan brankar untuk Leni.


Gabriel langsung memeriksa tekanan darah juga menghitung denyut nadi Leni. Gabriel sedikit mengerutkan dahinya, dan memeriksa bagian perut Leni. Senyum, sumringah muncul di bibir Gabriel sehingga membuat kedua suster yang sedang membantu Gabriel terlihat bingung.


" Alhamdulillah.... Ya, Allah. " Gabriel bersyukur. Namun lagi lagi hal itu membuat kedua suster itu semakin bingung. Istrinya sakit, tapi Dokter Gabriel terlihat senang.


Gabriel yang menyadari ada dua orang suster yang memperhatikannya, langsung menjelaskan jika kemungkinan Leni hamil. Namun, ia harus memeriksa dengan alat Ultra Sonografi atau USG.


Sekitar tiga menit berlalu, Leni sadar. Kepalanya sangat pusing dan terasa berat. Gabriel yang setia menunggu sang istri pun, langsung mendekati Leni kala tahu Leni sudah sadar.


" Sayang..... " panggil Gabriel.


" Eugh, Mas. Kepalaku sakit bangat. " lirih Leni.


" Iya, sayang. Istirahat dulu ya. Mas udah kasih kamu obat perada nyeri melalui selang infus. Jadi sebentar lagi juga hilang rasa sakitnya. Sekarang kamu istirahat dulu ya, Karena nanti mas mau ajak kamu periksa ke poli kandungan. " jawab Gabriel dengan lembut.


Leni mengerutkan keningnya. " Poli kandungan? " tanyanya.


Gabriel menganggukkan kepalanya dengan mantap dan tersenyum.


" Iya, sayang. Dari pemeriksaan mas tadi sepertinya kamu hamil. Tapi, Mas harus pastikan dulu melalu USG nanti di poli kandungan. Kamu juga nanti tes urine ya, biar lebih pasti lagi. " Jelas Gabriel yang terlihat dengan jelas di raut wajahnya.


Leni menangis bahagia. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya.

__ADS_1


" Kok, kamu nangis sayang?! " Gabriel bingung melihat perubahan wajah ekspresi Leni yang seketika langsung menangis.


" Aku bahagia sekali, Mas. Jika memang benar, aku sangat bersyukur kepada Allah masih mau menitipkan seorang nyawa yang tumbuh di perutku. Setelah penantian panjang, Allah menjawab doa doa kita, Mas. " ucap Leni terbata bata sambil sesekali mengusap air matanya.


" Iya, Alhamdulillah sayang. Allah mau mempercayakan kita jadi orang tua. " kata Gabriel.


" Mas, periksa sekarang aja yuk! Aku udah sehatan kok. Aku udah gak sabar, Mas. " rengek Leni.


Gabriel hanya tersenyum melihat Leni bersikap manja seperti itu sambil membelai rambut Leni lembut.


" Kamu udah gak sabaran bangat ya, sayang?''


Leni mengangguk dan tersenyum. " Bangat, Mas. Setidaknya penantianku tidak sia sia. " jawabnya.


Gabriel pun menuruti keinginan Leni, untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut ke poli kandungan. Gabriel membawa Leni ke poli kandungan dengan kursi roda untuk melanjutkan pemeriksaan.


******


Tadi malam Al terpaksa tidur di ruang tamu karena usahanya tidak berhasil untuk merayu Yesline. Semalam Al berusaha merayu Yesline lewat Azka, namun sayang nasibnya sedikit sial karena Azka sudah tertidur. Bahkan pagi ini, Ia masih melihat wajah sang istri tercinta masih dalam keadaan tertekuk.


" Pagi, sayang. " sapa Al masih mengenakan setelan santai rumahan. Yesline menoleh dan sedikit mengerutkan keningnya. Padahal ini sudah jam tujuh pagi, tetapi Al masih memakai pakaian seperti itu dan masih bersantai. Sebenarnya ia masih tidak ingin bicara, Namun melihat keadaan suami yang seperti itu membuat dia membatalkan rencananya untuk menahan bicara dengan Al.


" Makasih sayang udah perhatian sama aku. Hari ini aku sengaja gak ke rumah sakit karena mau temani kamu berkegiatan hari ini. " ucap Al sembari tersenyum menunjukkan gigi putihnya.


Yesline hanya menggelengkan kepalanya mendengar ucapan sang suami.


" Papa yakin, mau nemanin mama berkegiatan hari ini? " tanya Azka.


" Yakin dong, sayang. Hari ini papa akan menemani mama kemana aja! " jawab Al dengan semangat dan bangga.


" Jadi kamu masih gak percaya samaku, Mas? Dan sekarang bahkan kamu mau jadi penguntit atau bodyguard aku, Mas? " tanya Yesline dengan sedikit kesal.


" Bukan begitu, sayang. Maksudnya Mas mau temanin kamu seharian, karena mas mau berada di dekat kamu terus, sayang. " sela Al.


" Alasan aja kamu! " ucap Yesline kesal.


Sementara Azka hanya tersenyum melihat tingkah kedua orang tuanya.


" Bukannya bagus, kalau papa nemanin mama biar ada yang gantiin temanin mama buat nonton drama korea. " oceh Azka.

__ADS_1


" Wah, Betul juga kamu, Nak!! " ucap Yesline tersenyum licik.


Berbeda dengan mereka, Al justru terlihat sedikit curiga dengan istri dan anaknya. Namun rasa curiganya dibuyarkan oleh nada dering ponselnya.


******


Terlihat tiga orang tengah berada di ruangan bernuansa modern klasik. Ruangan kerja milik Clinton. Di sana sudah ada Al dan Hans. Kedua pria itu terlihat bimbang. Hans sudah menceritakan apa yang sebenarnya terjadi kepada Al. Kini, giliran mereka berdua yang akan menceritakan semua kebenaran yang ada kepada Clinton.


Bisa Al tebak, kalau Clinton pasti tengah menahan rasa penasarannya. Terbukti dari kening pria itu yang terus berkerut dengan mata tajam menelisik keduanya. Hans yang paling gugup disini. Ia bingung harus menjelaskan bagaimana. Hans yakin seratus persen kalau Clinton pasti menolak keinginan yang akan disampaikan nantinya.


Ehkm.


Clinton berdehem lumayan kuat.


Ia sudah muak untuk menunggu keduanya untuk bicara. Sudah hampir dua puluh menit ia membuang waktu berharganya ini hanya gara gara para sahabat laknatnya itu.


" Kalau gak ada yang mau kalian sampaikan, lebih baik kamu berdua pergi aja. " usir Clinton.


" Saya sibuk. " tambahnya.


Clinton sungguh tidak tahu apa yang sebenarnya mau Al dan Hans sampaikan sampai mau bersusah payah datang ke tempatnya begini. Dasar! Kurang kerjaan.


" Sebentar, Bro. Ada yang mau kami sampaikan. " ucap Hans sambil melirik ke arah Al. Al mengangguk kecil memberikan sebuah isyarat.


" Ada apa?! Kalian ini terlalu bertele tele. " Clinton menghembuskan nafas kasar.


" Sabar, Bro. Hans harus tarik nafas dulu. " timpal Al.


Al pun menyuruh Hans untuk menarik nafas perlahan. Menepuk nepuk pelan sambil berusaha menyemangati pria itu. Hans hanya memutar bola matanya malas. Dasar Al! Seharusnya pria itu saja yang menyampaikan, bukan dirinya.


Meski kesal dengan Al, Hans pun memulai menarik nafas lalu menghembuskannya perlahan seperti yang Al bilang tadi.


" Cih! Kalian ini benar benar! " sinis Clinton.


Kehadiran Al dan Hans diwaktu yang tidak tepat begini membuat pekerjaannya yang seharusnya sudah selesai malah menjadi menumpuk. Sialan memang!


" Buruan! " Clinton sudah tidak sabar lagi.


" Begini, Clinton. Tempo lalu kami bertemu sama mami. " Hans memejamkan matanya.

__ADS_1


" Apa??? " pekik Clinton kaget.


__ADS_2