Gairah Hot Sang Dokter

Gairah Hot Sang Dokter
Episode 255


__ADS_3

Callista tertidur di sofa menunggu kepulangan Nicho, wanita itu tidur dengan anggunnya sambil memeluk remote televisi. Ya, dia baru saja menonton film horor tapi malah tertidur, tv masih menyala dan lampu ruangan yang sengaja Callista matikan. Wanita itu hanya mengenakan kemeja putih longgar milik Nicho.


Ceklek


Pintu terbuka, Nicho menyembul kaget saat dia mendengar suara wanita tertawa seperti suara mak kunti. Nicho menutup pintu perlahan, suara tawa itu semakin melengking membuat buli kuduk Nicho meremang. Dia merinding.


Bagaimana tidak, ruangan begitu gelap dan seketika ada suara mengerikan seperti itu.


"Aish.... Yaelah, sekarang malam jumat lagi! Mati aku.... Pada kemana sih orang orang," Nicho menggerutu sambil melirik arlojinya. Ini memang sudah larut, jam tangannya menunjukkan jam 10 malam.


Nicho terus menyeret kakinya masuk ke dalam rumah, melewati ruang tamu, sambil tangannya merayap mencari saklar lampu.


"Nah, ketemu."


Belum sampai Nicho memencet saklarnya, dia tidak sengaja menyenggol vas bunga yang diletakkan di atas rak bunga di dekatnya.


PYARRR!!!


"Astaga! Apa tuh!'' jeritnya.


Nicho menarik tubuhnya mundur, mendekat tembok. Suara tawa tadi menghilang, sekarang berganti suara gamelan dan terdengar suara seorang wanita menyanyikan lagu lingsir wengi.


Nicho semakin merinding, dia menyentuh tengkuknya yang dingin, entah angin dari mana, tengkuknya terasa ada yang niup tadi. Nicho bergidik ngeri. Dia kembali mencari saklar lampu dan menemukannya. Setelah lampu menyala, pandangan Nicho beralih ke bawah kakinya, ternyata itu pecahan vas bunga yang baru saja ia jatuhkan.


"Oh... Hanya vas bunga. Mungkin tadi kesenggol tanganku."


Nicho baru saja hendak melangkah pergi, sebelum dia ingat kalo vas itu adalah vas kesayangan Callista yang di beli dari Paris, sewaktu dia masih jadi model dan suka keliling dunia dulu.


Nicho menepuk jidatnya.


"Mati lagi, aku." runtuknya untuk diri sendiri. Sedikit cemas kalau kalau Callista marah.


Entah sudah berapa kali dia mati malam itu.

__ADS_1


"Ah, gampang lah. Nanti bisa beli lagi." Nicho meninggalkan ruang tamu dan menuju ruang tv.


Suara gamelan itu kembali terdengar, suaranya dari ruang tv, Nicho mulai curiga, dia mengira suaranya mungkin muncul dari tv. Nicho menunduk, dia mengintip dari balik lemari penyekat sebelum dia berbelok dan sampai di ruang tv.


Dan benar, suara itu memang dari tv. Nicho menghembuskan nafasnya dengan lega.


Dia berjalan dengan percaya dirinya, mendekati tv, sampai dia melihat Callista yang tertidur di sofa dengan memamerkan pahanya yang mulus. Ya, karena dia hanya memakai kemeja Nicho. Jadi, saat dia terbaring tidur pasti otomatis kemejanya tertarik ke atas.


"Callista, bisa bisanya ya kamu nonton film horor dan malah ketiduran? Dengan posisi seksi begitu lagi." Nicho duduk di samping Callista, tak lupa dia matikan dulu televisinya. Dengan bergidik ngeri saat hantu wanitanya baru saja muncul seperti hendak keluar dari televisi. Nicho melempar remote ke sembarang arah.


Nicho mendekatkan hidungnya ke rambut Callista, menyesap aroma wangi khas istrinya yang selalu mampu membuat Nicho bergairah.


"Kamu cantik sekali, Call. Selalu cantik. Kamu ketiduran karena menunggu Mas ya?" bisik Nicho, sambil jari jemarinya membelai pipi Callista, menyibak anak rambut yang menutupi sebagian pipinya.


Mendapatkan sentuhan seperti itu tentu saja membuat Callista terbangun. Dia mengerjapkan matanya, perlahan membukanya dan menatap wajah Nicho yang begitu dekat dengan wajahnya. Callista tersenyum, dia membalas meraih tengkuk Nicho dan semakin mendekatkan bibir mereka, keduanya saling berciuman. Tangan Nicho sudah membuka kancing kemeja Callista satu per satu. Malam ini mereka melakukan adegan panasnya du sofa. Keduanya berkeringat dan saling mendesah. Saling menyalurkan gairah dengan beberapa kali pelepasan.


Setelah selesai, mereka kembali memakai pakaian mereka. Ah, tidak, Nicho hanya mengenakan celananya, sementara badannya ia biarkan terekspos, sambil duduk berdempetan di atas lantai dan bersandar pada sofa. Callista menempel ke dada Nicho sambil mereka menonton drama korea yang romantis.


"Mas, besok Leni, Yesline dan Clara mau nyusul Hans ke korea. Mereka ngajakin aku buat ikut," ujar Callista memulai pembicaraan.


"Aku bilang gak bisa ikut, kamu sibuk kan besok?'' balas Callista.


Dalam hati Nicho, dia semakin kagum dengan Callista yang semakin hari semakin dewasa, memang benar wanita ini sudah seratus persen berubah, bukan Callista yang dulu.


Sedetik berlalu, Nicho mengingat Al yang pasti sekarang bertengkar dengan Yesline. Semoga mereka bisa saling mengerti dan dewasa.


Pandangan Nicho beralih ke Callista, besok dia memang sibuk, tapi kasihan melihat Callista jika dia tidak ikut berkumpul dengan teman temannya. Nicho mengecup kening Callista.


"Terima kasih sudah selalu mengerti aku, Call."


Callista menganggukkan kepala di dada Nicho.


"Kamu segalanya Nicho, aku akan berusaha untuk selalu mendahulukanmu baru yang lain," pungkas Callista membuat Nicho terharu.

__ADS_1


Nicho merengkuh pinggang Callista, dia berbalik badan dan mereka berhadapan, bibir Callista dan Nicho saling berpagutan dengan intens.


Sampai mereka tiba tiba mendengar suara pintu diketuk.


Mereka awalnya mengabaikan suara itu. Sampai ketukan Itu diulang beberapa kali. Nicho terpaksa melepas ciumannya.


"Siapa yang mengetuk malam malam begini ya?'' ujar Callista.


Nicho melirik jam tangannya, jam 11 malam tepat. Dia juga ingat malam itu malam jumat, tiba tiba dia merinding dan menarik tangan Callista yang baru saja hendak bangkit untuk membukakan pintu.


Callista menoleh dengan heran, karena Nicho tiba tiba menghentikannya.


"Ada apa, Cho?''


"Kamu mau kemana? Jangan dibuka, kalo itu bukan manusia bagaimana? Ini malam jumat loh." Nicho mengatakan dengan ketakutan.


Callista tertawa, dia tidak menyangka kalo Nicho secemen itu.


"Dasar, badan aja gede! Tapi nyali sebesar upil!'' ledek Callista, membuat Nicho mencebikkan bibirnya.


"Yaelah, Sayang. Emang kamu gak takut kalo itu hantu beneran?'' timpal Nicho yang ikut bangkit dari duduknya.


Callista menghembuskan nafasnya dengan kesal.


"Di jaman modern seperti ini, mana ada sih, Cho? Kamu ada ada aja deh. Udah aku mau buka pintu, siapa tahu tamu penting."


Callista berjalan meninggalkan Nicho, tapi Nicho ikut juga dibelakangnya.


Di luar sepertinya masih hujan, suara petir menyambar nyambar begitu keras, seperti tepat berada di atas atap rumah. Callista beberapa kali menutup telinganya karena terkejut dan takut. Melihat Callista yang kaget, Nicho langsung memeluk tubuh Callista.


"Sini, ada aku jangan takut. Aku akan selalu melindungimu, sayang. Jangan takut yah," tangan Nicho mengusap usap punggung Callista.


Wanita itu tersenyum.

__ADS_1


"Terima kasih Nicho ku yang ganteng. Meski hanya gombalan belaka, tapi aku suka."


__ADS_2