
"Kamu masih hidup toh?'' celetuk Wisnu, membuat Hans mengerutkan dahinya.
"Memangnya kamu kira aku sudah mati? Kenapa kamu bisa berpikir seperti itu?" timpal Hans yang masih dengan penasaran dan heran, tapi juga jengkel dengan celetukan Wisnu. Laki laki itu seenaknya saja kalau ngomong.
Wisnu malah ketawa.
"Apa yang lucu?'' pikir Hans. Kini matanya beralih menatap Meriam yang menangis tanpa suara, dia menekuk kedua lututnya. Hans ikut berjongkok dan memandangi wanitanya yang cantik jelita itu.
"Hei, kamu kenapa? Kenapa nangis? Sayang....,'' panggil Hans dengan lembut.
Mendengar panggilan sayang, Meriam langsung mengangkat kepalanya untuk menatap Hans. Dia benar - benar bahagia, sangat lega melihat Hans kini berada di depannya, masih tampan, tidak kurang suatu apapun.
Meriam masih berjongkok, dia menatap Hans penuh haru. "Aku senang kamu baik baik aja." ucap Meriam disela sela tangisnya.
Hans mengernyit. "Emang kamu kira Mas kenapa? Hm? Kenapa sampai nangis gitu?''
"Duh males bangat sih, Lihat kalian, sok manis. Aku masuk dulu deh!'' lama kelamaan Wisnu jengkel melihat drama di depannya, dia berjalan masuk ke dalam asramanya.
"Ada berita di televisi, katanya pesawat penerbangan dari jakarta - jogja mengalami kecelakaan, Mas. Kamu tau kan apa yang aku pikirkan setelah mendengar berita itu?" jelas Meriam, dia mengelap matanya yang basah dengan ujung jilbabnya.
Hans terkekeh, tapi juga sedikit merasa bersalah.
"Maafin mas, ya. Mas lupa ngabarin kamu kalau mas berangkat dari jakarta pakai mobil bukan pesawat. Karena ada kabar buruk dari klien mas, Jadi mas harus mengurus kasusnya dulu sampai mas ketinggalan pesawat. Waktu perjalanan kesini, mobil mas mogok dan ponsel mati. Demi kamu, Mas lari untuk sampai kesini." Hans menjelaskan dengan pelan, dia sedikit senang melihat Meriam yang begitu mengkhawatirkannya.
Sungguh bahagia sekali jika senyum itu dan wajah itu bisa di lihat setiap hari, dari bangun tidur sampai tidur lagi.
Hans jadi memikirkan sesuatu yang sebelumnya belum ia yakini, tapi tiba tiba kini merasa begitu yakin 1000 persen.
Mendengar penjelasan Hans, Meriam tersenyum lebar.
__ADS_1
"Bukannya aku bahagia di atas penderitaanmu, Mas. Tapi aku senang karena kamu menganggap ku penting dalam hidupmu. Sampai rela jalan dan lari untuk sampai kesini. Andai laki laki seperti itu kelak menemaniku hingga tua, pasti hidupku dipenuhi kebahagiaan." sindir Meriam.
Hans tahu apa maksudnya. Dia memang sudah menerima taaruf tapi mereka tetap belum halal satu sama lain, masih bisa ada orang lain yang datang untuk memisahkan hubungan yang belum di sah kan ini.
"Ayah, ada di rumah kan?" tanya Hans tiba tiba.
"Ada Mas. Kenapa?'' Meriam balik bertanya.
"Gak apa apa. Kamu pulang gih, Mas mau pergi dulu sebentar ada urusan. Da-dah." ucap Hans sembari melambaikan tangan dan pergi meninggalkan Meriam yang masih kebingungan dengan sikap Hans.
*******
Clinton berjalan menuju apartemennya dengan penuh senyum. Dia tidak sabar untuk bertemu sang istri tercinta. Ini hari kesekian setelah dirinya resmi berstatus suami istri dengan Clara. Clinton mengeluarkan kartu akses untuk masuk ke apartemennya.
Seperti biasa, saat pintu terbuka, Clinton akan melihat Clara sudah berdiri di balik pintu dengan menyunggingkan senyuman termanisnya. Dia akan berdandan cantik dan menggunakan pakaian terbaiknya. Entah dia belajar dari mana semua kebaikan untuk memanjakan mata suaminya itu, yang jelas, Clinton sangat menyukainya. Dia akan langsung memeluk Clara dan berkata. ''Aku mencintaimu, Ay."
"Kamu mandi dulu ya, sudah aku siapkan air hangatnya. Nanti kita langsung makan, Okey?" tutur Clara dengan lembut. Dia akan bersikap semanis setiap saat kepada Clinton. Hanya satu yang belum bisa ia lakukan dengan terus menerus, yaitu hubungan suami istri. Clara belum siap memiliki anak. Jadi ia memberikan jadwal kepada Clinton, hanya ada hari hari di saat dia sedang tidak dalam masa suburnya. Clara sudah berkonsultasi dengan dokter ahli kandungan sebelum mereka resmi menikah. Bisa juga menggunakan alat kontrasepsi atau pengaman. Tapi Clara belum bisa jika setiap hari harus minum pil.
Clinton sedang memikirkan cara untuk bisa mendapatkan malam keduanya. Dia ingin melakukan hubungan itu dengan Clara dalam keadaan sadar sesadar sadarnya. Yang Pertama dulu dalam pengaruh obat perangsang.
Kini Clinton sudah membawa kejutan untuk Clara. Semoga istrinya suka.
Wajah Clinton menerbitkan rasa bahagia yang sesungguhnya. Dia mandi dengan penuh riang. Bibirnya menyenandungkan lagu cinta. Clara sedang di dapur, menghangatkan masakannya. Clinton suka masakan yang masih hangat. Sebelum hari pernikahan tiba, Clara sudah belajar memasak dengan sang ibu, meski dia baru bisa membuat masakan yang simpel simpel, tapi itu sudah lebih dari cukup untuk membuat dirinya merasa bangga karena bisa masak.
Clinton berjalan keluar dari kamarnya, menghampiri Clara dan memeluk istrinya dari belakang.
"Aku suka wangi parfum kamu, Ay." bisik Clinton lirih, membuat Clara mengulum senyum.
"Kalau kamu suka, aku akan terus memakainya. Sebenarnya aku mau ganti wangi baru, tapi kalau kamu suka, aku mau pakai ini aja. Nanti aku kasih ke ibu aja yang baru." kata Clara dengan tersenyum.
__ADS_1
Clinton memutar tubuh Clara untuk menghadapnya. Sebelah tangan Clinton membetulkan letak rambut Clara, menyisir anak rambutnya yang jatuh menjuntai di pipi.
Clinton hanya menikmati wajah itu, tanpa melakukan apa apa.
Clara meraih lengan Clinton dan mengajaknya untuk duduk, Clinton harus makan tepat waktu. Clara berusaha melakukan yang terbaik yang dia bias, karena Clinton juga begitu baik, sudah selalu mengerti keadaannya.
"Makan yang banyak, biar sehat. Kalau kamu sehat, aku merasa sudah sukses menjagamu dengan baik." Clara menatap Clinton dengan tersenyum lebar, dengan bibir tertutup rapat.
Clinton menuruti dan mulai melahap makanannya.
"Masakanmu enak, Ay. Oh ya kamu gak capek kan malam ini?" selidik Clinton, ketika sudah selesai makan. Dan sedang mencuci tangan.
Clara mengerutkan kedua dahinya. ''Memangnya kenapa, Ay? Kamu mau mijitin aku, ya?'' jawab Clara, polos.
Clinton terkekeh. Dia berbalik badan, berjalan menghampiri Clara lalu meraih lengan Clara dan mengangkat tubuh Clara ke dalam bopongannya.
"Boleh, Aku mau mijitin kamu. Dari kaki sampai ke atas, ke atas lagi dan terus keatas." goda Clinton.
Membuat Clara tersipu malu, dia mencubit pinggang Clinton dengan gemas, Clinton mangaduh.
"Kamu mah sukanya modus. Mesum aja mikirnya." Clara nyerocos begitu saja, saat Clinton sudah mendudukkannya di tepi kasur. Clinton berlutut di depannya. Dengan tatapan penuh harapan.
"Modusin istri sendiri malah dapat pahala tahu, bukan sesuatu hal yang salah juga kan, Ay?" sanggah Clinton.
"Iya, Boleh. Tapi ini masih tanggal suburku. Takutnya nanti aku hamil gimana?" Clara manyun, dia memang takut hamil. Bukan takut gemuk, bukan. Dia hanya takut jika kehadiran seorang anak bisa menghambat dirinya untuk meraih kesuksesan.
Clinton mencondongkan tubuhnya tepat di depan Clara, dia membisikkan sesuatu di telinga wanita itu yang berbunyi. ''Aku sudah beli alat kontrasepsi." katanya.
"Apa?!!" pekik Clara.
__ADS_1