
Mami yang panik melihat Yesline yang mengetahui penyamarannya langsung mendorong tubuh Yesline dan langsung berlari kearah yang berlawanan. Yesline masih syok, dia baru tahu jika mami sudah keluar dari penjara. Tidak ada yang memberi tahunya.
"Mami, tunggu!!!" teriak Yesline dan berusaha mengejar Mami.
Karena terburu buru dan tidak benar benar memperhatikan jalan, Yesline kembali menabrak seseorang. Seorang pria tampan.
Yesline tidak melihat ke arah pria itu, pandangannya terlalu fokus melihat ke arah mami berlari.
"Maaf," katanya tanpa menoleh, Yesline hendak berlari kembali tapi suara pria itu menghentikannya.
"Hei, tunggu!''
Yesline berhenti dan menoleh ke sumber suara, Dia sedikit kesal, dia ingin segera mengejar mami.
"Ada apa sih? Aku sedang terburu buru." gerutunya, masih tidak melihat ke arah pria itu.
"Kamu Yesline kan? Kita bertemu lagi."
Degh!
Yesline tekejut, baru sedetik kemudian, Yesline menoleh, menatapnya. Ternyata pria itu adalah Mas Sutradara yang tempo hari memberikan tawaran kepada Yesline untuk menjadi seorang artis.
"Anda? Maaf aku benar benar tidak sengaja, aku pergi dulu. Maaf, kita bisa mengobrol lagi nanti, terima kasih!''
Yesline langsung berlari dan mencari kembali mami. Kepalanya menoleh ke segala arah, namun sosok itu entah kemana pergi.
"Argh, sialan! Kemana kamu mami? Kamu pasti punya rencana buruk datang kesini? Jika tidak, kenapa tadi mukamu ketakutan melihatku?'' racau Yesline. Sangat disayangkan dia kehilangan wanita itu. Yesline benar benar menyesal. Dia kembali melangkahkan kakinya, setelah melanjutkan pencariannya. Dia berjalan menyusuri setiap lorong dan menengok ke dalam ruangan, siapa tau ada mami di sana.
Di dekat sebuah kamar 302, Yesline melihat seseorang yang mirip dengan mami. Yesline berlari dan menepuk pundak orang itu. Orang itu menoleh, dan Iya, orang itu adalah mami.
"Lepasin Yesline!!'' sentaknya.
__ADS_1
"Mami sudah keluar dari penjara? Ngapain mami ada disini? Yesline cuma mau menyapa, kenapa mami malah ketakutan?" cecar Yesline masih kebingungan. Dia memang tidak pernah tahu menahu jika ada masalah tentang orang berbahaya itu.
"Aku terburu buru, lepaskan aku!" bentaknya lagi, matanya mengedar ke segala penjuru, takut jika tiba tiba Al lewat, semuanya bisa kacau. Tapi tangan Yesline masih memegangi pergelangan tangannya.
"Hm, kamu aneh, Mami." Yesline memberi komentar.
"Sayang, mami ada urusan dengan Mas, sayang.'' Tiba tiba sebuah suara lembut membuat Yesline kaget, dan langsung menoleh tanpa melepaskan cengkeramannya.
"Mas Al!'' pekiknya terkejut.
Mami membeku, dia benar benar merinding, hidupnya bisa selesai jika Al menangkapnya. Al berlarian kecil menghampiri Yesline, sedang Yesline terus saja memegangi mami. Dia merasa ada yang janggal.
Beberapa kali mami menyentakkan tangannya agar genggaman tangan Yesline terlepas , tapi nihil. Cengkeraman Yesline terlalu kuat. Saat Al sudah sampai disamping Yesline, dia langsung mengambil alih mami.
"Sayang, nanti mas jelaskan ya jika sudah sampai di rumah. Sekarang biarkan mas urus, urusan mas dengan wanita ini. Dia baru saja membuat ulah lagi, sayang. Ya, boleh ya?'' bujuk Al perlahan.
Mami seperti baru saja dapat penglihatan, dia punya rencana. Dia tahu mudah sekali membuat diantara salah satu mereka cemburu.
Mami gila! Tidak ada yang terlihat terkejut tidak sekarang, mendengar pengakuannya membuat Yesline terbelalak saking kagetnya.
"Apa? Tidur? Meniduri? Maksudnya apa?!" pekik Yesline. Hampir saja ia menangis pada saat itu juga.
Al kaget juga marah, dia menatap tajam ke arah mami, merasa jijik dengan wanita itu.
"Aishh! Sialan kamu ya, apa kamu bilang? meniduri? kalau aku mau, aku tidak akan memakai kamu, wanita setengah tua! Di luar sana masih banyak yang cantik cantik dan seksi, gila apa jika aku tergoda sama kamu! Ngimpii!!!" maki Al, entahlah dia sangat geram.
Mami hanya tersenyum puas, dia tahu betul watak Yesline seperti apa. Kini pun, sudah nampak jelas sorot mata Yesline yang tajam namun berlinangan air mata.
Ada kalimat yang Al ucapkan yang salah. Dan bisa membuat Yesline salah menyimpulkan. Sayang, laki laki itu tidak menyadarinya.
"A-apa kamu bilang, Mas? jika kamu mau? ada yang lebih seksi? dan cantik? dari aku? di matamu? Dan ya, kamu bilang jika kamu mau, berarti kamu pernah memikirkan hal itu?!" sentak Yesline. Dia perlahan mendekat, mengikis jaraknya dengan Al, menatap Al dengan mata basah, suaranya sendi dan parau. Dia tidak sabar, ia sudah melepaskan cengkeraman tangannya pada tangan mami.
__ADS_1
Al bingung, dia tahu Yesline sudah salah paham. Dia tidak suka Yesline menatap marah ke arahnya. Al langsung menatap Yesline ke dalam pelukannya. Mendekap di dadanya. Yesline sudah terisak, tubuhnya berguncang. Al semakin panik.
"Sayang, mana mungkin mas seperti itu. Itu hanya kata kata pembelaan dari mas, dan kata kata hinaan buat dia, tidak ada hubungan sama kamu, sayang. Kamu tahu, kan. Mas tidak bisa lepas dari aroma tubuhmu dan tubuhmu yang begitu indah, aku sudah sangat ketagihan denganmu, sayang. Aku juga tidak pernah kepikiran, tidak akan pernah bisa ke lain hati. Kamu sedang dipermainkan oleh mami. Lihat, kamu tidak sadar dia sudah lari sekarang.'' papar Al panjang lebar, matanya menatap ke arah mami yang berlari pergi meninggalkan mereka.
Yesline kaget dan menoleh. Benar, mami sedang berlari menjauh. Yesline ingin berlari mengejarnya, namun perasaannya masih kacau.
Al janji di dalam hatinya, dia akan memasukkan mami kembali ke dalam penjara, kalau bisa wanita itu dihukum mati sekalian.
"Berani beraninya dia mengusik keluargaku lagi!!''
Yesline masih menangis.
"Kamu yang paling seksi dan menggairahkan buat, Mas, Percayalah. Kamu tau sendiri bagaimana mas tidak bisa lepas dari mengagumi dan menikmati setiap lekuk tubuh indahmu. Dan paling cantik. Percaya, ya?"
Ya, hanya Al yang tahu seindah apa tubuh Yesline, walau dulu dia bekerja di klub malam, tapi bisa dipastikan memang itu kebenarannya.
*******
Tengah malam, tepatnya pukul tiga pagi. Suasana pondok sudah ramai oleh santri yang bersiap untuk melakukan sholat tahajud. Hans terbangun dan ikut bersiap. Setelah siap, dia berjalan keluar asrama. Matanya mengedar, jarak dua atau tiga rumah dari asramanya. Dia melihat Meriam berdiri berhadapan dengan Wisnu sedang mengobrol. Jarak mereka tidak terlalu dekat, tapi Hans tidak suka melihat Meriam berbicara dengan Wisnu.
"Apa yang mereka lakukan?'' gumam Hans.
"Bukankah, Wisnu sedang dihukum? Setelah kejadian kemarin seharusnya Meriam membenci laki laki itu. Tapi ini kenapa masih berinteraksi?''
Hans melangkahkan kakinya dengan cepat untuk menghampiri Meriam dan Wisnu.
Meriam yang berdiri memunggungi Hans, tidak melihat kedatangan laki laki itu. Wisnu yang pertama melihatnya.
"Ngapain kalian berdua disini?''
Meriam seperti mengenali suara itu, Ia terkejut dan langsung membalikkan badan. Air matanya meluruh begitu saja, bukan airmata sedih melainkan airmata kebahagiaan. Jika dia lupa antara batasan wanita dan laki laki, kini dia sudah pasti akan berlari ke dalam pelukan Hans.
__ADS_1
"Kamu tidak kenapa napa, Mas?'' isaknya dalam hati.