Gairah Hot Sang Dokter

Gairah Hot Sang Dokter
Episode 178


__ADS_3

" Dia siapa? Suami kamu? " Pria berjas abu abu dengan dengan wajah kearab araban itu tidak menjawab pertanyaan Al, tetapi malah melontarkan pertanyaan ke Yesline yang sedang bingung harus menanggapi laki laki itu seperti apa. Takut salah ngomong atau salah gerak, yang malah akan membuat Al keluar taring. Alias marah seharian.


Yesline hanya mengangguk, sambil mengulas senyum lebar di bibirnya. " Iya, Dia suamiku. Kenalkan Mas Al, Beliau adalah seorang produser film yang pernah nawarin aku untuk jadi artis. " Yesline memperkenalkan pria itu ke Al. Bisa Yesline lihat dengan jelas, wajah Al sudah berubah.


Padahal sebelumnya, dia sudah mengatur sedemikiran rupa agar bahasanya tidak menyinggung sang suami tercinta.


Dari arah tempat mereka berkumpul tadi, Gabriel sedang bersemangat memandangi Al dan Yesline. Gabriel cekikikan.


" Dasar! Mulai kumat lagi tuh, cemburunya. " cibir Gabriel. Leni menoleh, mengikuti pandang suaminya yang nampak serius dan sesekali tersenyum sendiri. Tapi, Leni tidak menemukan siapa siapa. Hanya beberapa punggung orang orang yang ia tidak kenal.


" Gabriel lagi lihatin siapa, sih? " sungut Leni kesal dalam hatinya.


" Lagi lihatin apa sih, Mas? " Leni penasaran, tidak sabar untuk tidak menanyakannya kepada Gabriel. Kepalanya celingukan. Dari posisi Leni, dia tidak bisa melihat orang yang sedang Gabriel perhatikan.


" Seru lihatin Al yang lagi cemburu sama Yesline yang didekati pria asing, sayang. " ujar Gabriel.


Leni bangkit, dan berdiri di belakang suaminya. Dia ingin tahu siapa yang sedang mendekati Yesline. Matanya menatap pria yang nampaknya seumuran dengan Al. Leni tahu, apa yang dirasakan Yesline kini dengan raut wajah Al yang sudah merah padam seperti itu.


Leni kembali duduk di kursinya.


" Jangan diketawain, Mas. Gak baik. Kayak kamu gak cemburuan aja. Kamu tuh 11 - 12 sama Al. " Leni menimpali.


Laki laki sering lupa, saat dalam posisi seperti itu sangat tidak nyaman, berada di dekat pasangan dengan rasa cemburu yang melebihi cintanya. Semua yang dilakukan terasa serba salah.


" Kok kamu gitu sih, sayang. Masa aku disamain sama, Al. " Gabriel mencebikkan bibirnya, dia memprotes apa yang baru saja dikatakan oleh sang istri.


Mendengar Leni menegurnya, Gabriel langsung menarik perhatiannya dari Al dan Yesline. Menatap istrinya dengan tatapan sendu.


Leni menahan sekuat tenaga untuk tidak meloloskan tawa dari bibir mungilnya, saat melihat raut wajah Gabriel yang begitu lucu. Bibirnya tercebik.


" Udah, Mas. Bibirnya jangan gitu. Kamu malah lucu. " Leni mencondongkan tubuhnya, dia mengecup bibir Gabriel sekilas. Pria itu langsung tersenyum sumringah.


Hans dan Meriam sudah naik ke panggung untuk menyalami Clinton dan Clara. Meriam harus pulang lebih awal, dia tidak terbiasa di luar rumah sampai larut malam.


" Selamat ya, Bro. Doain saya biar cepat nyusul juga. " seru Hans, ia berbisik di telinga sahabatnya itu. Sambil matanya melirik ke arah Meriam. Wanita itu hanya tersenyum, tersipu. Ia tahu apa arti tatapan itu.


" Gampang itu. Saya doain kamu yang baik baik. Biar nanti geng kita ada pasangannya semua. " Clinton menimpali. Sedikit disertai tawa ringan dari bibir Clinton dan Meriam berjalan maju beberapa langkah saat Hans sudah menggeser posisinya di depan Clara.

__ADS_1


Meriam bisa melihat, dari tatapan Hans, jika dulu mereka pernah memiliki hubungan. Hanya saja Meriam tidak tahu itu hubungan seperti apa.


" Calon, Imam. Ayo buruan, sudah malam. " bisik Meriam kepada Hans, saat menyadari lelakinya itu mematung beberapa saat.


Hans terkesiap, saat Meriam menusuk nusuk pinggangnya menggunakan tas tangan yang ia bawa.


" Iya, ayo. " Hans menyahut.


*****


Yesline hanya diam dan sesekali melirik ke arah sang suami yang wajahnya begitu ditekuk. Di perjalanan, suaminya terus mengoceh perihal produser yang ditemui di pesta Clinton tadi. Dan sekarang, di rumah pun suaminya terus ngoceh.


Mendengarnya, Yesline sedikit kesal. Suaminya itu terlalu berlebihan. Padahal, ia sudah menolak tawaran produser tersebut. Seharusnya suaminya tidak usah mempermasalahkannya bukan?


Kupingnya sedari tadi sakit mendengarkan omelan Al yang melebihi ibu ibu saja.


" Sayang, seharusnya tadi kamu gak usah nanggepin produser itu. " kata Al yang masih setia mengikuti langkah sang istri.


Yesline masih diam. Perempuan cantik itu sepertinya begitu enggan untuk membuka mulut.


Yesline terus melangkahkan kakinya hingga akhirnya ia pun memutuskan untuk duduk di sofa. Badannya terasa lelah. Mungkin karena seharian harus ikut menyambut para tamu.


Huh! Yesline menghembuskan nafas kasar. Rasa lelah dan kesal bercampur menjadi satu. Sedangkan Al yang tadinya berjalan di belakang memutuskan untuk langsung duduk di samping sang istri. Masih dengan wajah yang ditekuk.


" Mas, stop deh. Aku pusing tahu karena kamu terus mengoceh dan ngomel ngomel begitu. " Akhirnya Yesline buka suara.


Yesline tahu kalau sang suami khawatir akan dirinya. Namun, bukan begini juga caranya. Yesline juga tahu kalau sang suami mempunyai trauma tentang artis.


" Sayang, kamu itu ya. Aku takut terjadi sesuatu. Produser itu mungkin punya niat buruk sama kamu. "


Huh! Lagi lagi Yesline menghembuskan nafa kasar. Kenapa suaminya kini menjadi orang yang selalu berprasangka buruk terhadap orang lain begini?


" Mas, aku mohon. Sudahlah. Tidak perlu membahas itu lagi. " pinta Yesline lembut.


Namun, tampaknya Al tak bisa diajak kerja sama saat ini. Pria itu kembali mengoceh.


" Seharusnya kamu tadi tidak mengobrol dan tersenyum dengannya. "

__ADS_1


" Maaf, Mas. Aku refleks. "


" Huh! Senyum dan wajah cantikmu hanya untukku seorang. Harusnya kita lebih baik di rumah saja saling bertukar keringat ketimbang pergi ke pesta sialan itu! "


Al tahu kalau sang istri menerima kartu nama produser itu. Bagi Al, jika menolak seharusnya Yesline tidak perlu sampai begitu. Dengan menerima, sama aja Yesline memberi harapan kepada sang produser yang sampai kapan pun tidak akan pernah Al setujui.


" Kamu ya, Mas. Terlalu berlebih lebihan. Kamu itu cemburuan bangat. " Yesline memandang suaminya lekat.


Mendengarnya, Al tampak tidak terima. Pria tampan itu mulai beradu mengoceh kembali. Akhirnya pasangan suami istri mulai beradu mulut karena sama sama kesal. Al yang kesal karena Yesline yang terlalu ramah dengan orang baru, dan Yesline yang kesal karena Al yang posesifnya semakin parah saja.


Lima menit berlalu.


Tidak ada lagi terdengar suara orang yang berdebat seperti tadi. Yesline seketika bangkit dari duduknya. Ia menatap sang suami intens.


" Malam ini kamu tidur di luar, Mas. Gak ada jatah sama sekali. Kamu selalu bikin aku kesal. " jelas Yesline.


Deg.


Kedua mata Al membola sempurna. Astaga! Ia melupakan fakta ini.


" Eh, sayang. Mas, cuma kebawa suasana aja, kok. Mas minta maaf ya. Tarik kembali ucapanmu perihal tidur di luar dan tidak mendapat jatah ya. " bujuk Al.


Ia mana tahan tidak menyentuh sang istri sekali saja. Yesline adalah candu untuknya.


" Tidak! Kamu tetap tidur di luar. Awas kalau sampai kamu masuk diam diam. " ancam Yesline.


Yesline pun segera bergegas pergi dari sana untuk menuju kamarnya. Meninggalkan sosok Al sendirian yang tampak menggigit jari. Al sudah salah mengambil langkah. Seharusnya ia tidak boleh membuat sang istri kesal karena akan berakibat fatal seperti ini.


" Nasibku yang malang! " gerutunya.


Tahu begitu, ia tadi pasti akan diam saja. Dasar mulut sialannya itu.


Tidak!


Ia tidak boleh tidur di luar dan tidak mendapatkan jatah. Bisa tersiksa habis batinnya ini.


" Ayo, Al. Pikirkan cara untuk membujuk istrimu itu. " kata Al kepada dirinya sendiri. Hingga Al tersenyum senang saat sebuah ide terlintas di kepalanya.

__ADS_1


" Baiklah. Semoga saja ini berhasil. " doanya dalam hati.


Al pun mulai beranjak dari posisinya. Ia tidak akan pantang menyerah begitu saja. Kakinya perlahan mulai melangkah. Melangkah untuk menemui sang istri tercinta yang berada di kamar.


__ADS_2