
Didekat kejadian itu banyak Orang berkerumun menonton tapi tidak melakukan apa apa. Hans datang dan melihat Wanita pingsan di dekat pohon. Kepalanya berdarah dan Hans berpikir bahwa itu Leni seperti yang dikatakan Yesline tadi.
Beberapa meter dari Leni, 2 Orang laki laki dengan luka yang cukup parah terkapar di sana. Tidak jauh dari Mereka ada mobil yang terbakar. Hans bergegas dan memanggil perawat untuk membawakan bankar. Membawa Mereka satu persatu. Mereka harus segera ditangani
" Hati hati Mas .... " kata Hans ke Perawat yang mengangkat Mereka. Hans menatapnya iba dan berharap semoga lukanya bisa segera pulih.
Baru saja hendak melangkahkan kakinya, Dia tiba tiba menginjak sesuatu, Dia langsung menunduk dan melihat bahwa Dia sedang menginjak sebuah ponsel. Layar nya sudah retak tapi masih berfungsi. Hans nanti bisa mengecek ponsel itu. Dia langsung mengambilnya dan dengan cepat memasukkannya ke dalam kantong celananya.
" Hans .... ??? " panggil Yesline dari kejauhan dan melambaikan tangannya. Dia belum tau jika Nicho menjadi salah satu korban. Hans setengah berlari menghampiri Yesline dan Al.
Dua Orang perawat melewati Mereka mendorong bankar itu, Wajah Orang disana tidak kelihatan. Yesline tidak bisa melihat dan mengenalinya tapi sepertinya Al mengenali Orang yang berada diatas bankar itu.
" Nicho ???? Tapi gak mungkin .... " gumam Al.
Karena belum yakin, Dia tidak memberi tahu Yesline dulu. Dia harus memastikannya dulu sebelum membuat Yesline panik karena keadaan Leni juga sudah menjadi perhatian bagi Yesline.
" Bagaimana Leni ??? Dimana Dia sekarang ??? " tanya Yesline ke Hans karena Dia yang pertama tiba disana.
" Leni pingsan dan banyak darah yang keluar dari kepalanya. Mungkin Dia butuh beberapa jahitan dan penanganan khusus. Aku sudah meminta Perawat untuk segera menanganinya tadi. " jawab Hans.
" Kita kedalam sekarang Sayang ... Aku akan melihat keadaan Lebi di UGD. " kata Al lalu memutar dan mendorong kursi rodanya masuk kedalam.
Yesline mengangguk dan Hans juga mengikuti Mereka.
*
*
*
*
" Gimana Riz ??? Aoa semuanya sudah beres ??? " tanya Callista memastikan. Menatap tajam Laki Laki di depannya itu. Dengan santai Rizky menyeruput kopi panasnya itu. Karena Callista menelpon hari itu, Dia terpaksa harus ke Indonesia dan ada beberapa hal yang mau Rizky bicarakan juga.
" Kita tunggu laporan. Jika belum ada kabar, Aku langsung ke Rs dan memastikan langsung. " jawab Rizky tanpa melihat Callista.
" Kali ini Aku tidak mau gagal !!! Aku sudah kehabisan cara bagaimana untuk menyingkirkan Wanita itu !! " cetus Callista.
" Tenanglah, Aku masih sedikit punya cerita yang lebih menakutkan !! " kata Rizky mengalihkan pembicaraan.
Callista menoleh dan menatap Rizky dengan sedikit terkejut.
" Ini tentang kasus kematian Mama Yesline. " jawab Rizky menatap tajam Callista.
" Kenapa ??? " tanya Callista penasaran.
" Sesuai Perintahmu, Aku sudah menghilangkan barang bukti dan Aku juga sudah membunuh Pelakunya. Tapi .... Beberapa hari yang lalu Istrinya datang kerumah dengan alasan meminta sejumlah uang. Sebelum Dia oergi ternyata Dia sudah menuliskan sepucuk surat untuk Istrinya. " kata Rizky dan menyodorkan surat itu ke Callista.
Callista dengan sigap membaca isi surat itu dan didalamnya ada foto Rizky. Callista mengerutkan keningnya dan raut wajahnya seperti marah dan memikirkan sesuatu.
" Kenapa bisa begini ???? Jika ada yang tau, Habis Kita !!!! " cetus Callista menatap Rizky dengan ekspresi menyalahkan. Rizky yang melihat ekspresi itu tidak menyukainya karena tidak masu disalahkan. Itu diluar dugaan, Rizky sudah melakukan semua yang Callista perintahkan. Jika terjadi apa apa, Dia tidak mau ikut terseret.
" Jangan menatapku seperti itu !!! " bentak Rizky.
" Kamu harus melenyapkan Istrinya juga !!! " cetus Callista sudah gila.
" Aku juga berniat begitu. Tapi lampu rumah tiba tiba mati. Disaat Aku kembali saat menyalakan meteran, Wanita itu sudah tidak ada. Aku sudah melukai tangannya, Tapi .... "
" Tunggu .... " kata Callista memotong karena merasa ada yang janggal.
" Kenapa ??? " tanya Rizky menatapnya.
" Kenapa Dia dengan mudah bisa keluar dari rumahmu ??? Bukannya mati lampu ?? dan pintu Kamu kunci kan ??? "
Rizky diam dan mengingat sesuatu.
" Aku tidak sempat memikirkan itu dan nanti Aku selidiki lagi. "
" Kita harus bermain aman, Rizky. Jika semua terbongkar, Aku akan kehilangan semuanya. Begitu juga dengan Kamu. Bunuh dan singkirkan semua yang menghalangi jalan karena Kamu sudah jago dalam hal itu. Aku ada pemotretan satu jam lagi, Jadi tidak bisa lama lama. Nanti kabari Aku lagi. " kata Callista berdiri dan menenteng tasnya.
Dres mini yang dikenakan Callista membuah tubuh indahnya semakin gemulai ditambah rambutnya yang terurai membuatnya semakin cantik. Tapi sayang ... Dia bukan tipe Rizky.
__ADS_1
*
*
*
*
Siang itu Papa Al mendapat undangan dari Erwin untuk main golf. Om Callista itu memang memiliki lapangan golf yang lumayan luas.
" Saya dengar Kamu menyukai golf dan pandai memainkannya. Saya tunggu Kamu suang ini di tempat Saya. " kata Erwin menelpon dengan beralasan. Papa Al sudah tau pasti ada sesuatu dibalik itu.
Jika menolak undangan akan terlalu mencolok, Tanpa menjawab Papa Al mematikan panggilannya.
" Ini kopinya, Pa. " kata Istrinya itu membawakan secangkir kopi. Suaminya itu tidak memperhatikan kedatangannya. Istrinya duduk bersila disamping Suaminya itu.
" Ada apa Pa ??? " tanyanya penasaran dan melihat ponselnya diletakkan di meja.
" Tidak apa apa. " jawabnya datar.
" Baiklah. Mama mau bicara sesuatu. "
" Iya. Ada apa Ma ??? " jawabnya sambil melirik Istrinya itu dengan sedikit tidak bersemangat karena Dia tau apa yang akan dibahas.
" Masih soal Al dan Yesline ??? " tanyanya sebelum Istrinya itu mulai bicara. Dia langsung berdiri dan membelakangi Istrinya itu sambil melipat tangannya kebelakang.
" Iya. Mama pikir perlu membahas soal ini sekali lagi dengan Papa. "
" Al tidak memiliki ambisi seperti Papa. Dia melakukan apa yang Dia anggap benar. Bukan maksud Dia untuk tidak berbakti, Pa. Dia hanya ingin memperjuangkan apa sudah layak untuk diperjuangkan. Yesline Wanita yang baik, Mama rasa Papa juga tau akan hal itu. Mama sangat kaget bahkan setelah penembakan itu, Papa masih ngotot untuk menolak perceraian Al dan Callista ???? "
" Mama tau Alasan Papa melakukan itu. " jawab Suaminya itu dengan tidak menatap Istrinya.
" Jika Papa terus begini, Papa akan kehilangan Orang Orang yang menyayangi Papa. Tapi tolong jangan buat Mama akan kehilangan Al juga, Pa. Dia anak Mama satu satunya. Dari Dia kecil, Papa sudah begitu sibuk sampai tidak punya waktu untuk sekedar hanya pengambilan raportnya saja. Disaat Dia dapat penghargaaan disekolah, Papa tidak hadir bahkan Papa berada di rumah. Papa bahkan tidak pernah menemaninya bermain sekalipun. Papa yang membuat jurang itu semakin lebar, sesekali lakukanlah sesuatu untuk Anakmu, Pa. Sekali saja .... Buat apa Kamu perjuangankan Posisi yang bahkan Anakmu tidak menginginkannya ??? " kata Istrinya itu sedikit geram melihat keegoisan Suaminya.
Suaminya tidak menjawab dan diam.
" Papa mau pergi dulu ada janji. Nanti Kita bahas lagi. " menatap Istrinya yang sudah itu sesaat sebelum pergi.
Pria paruh baya itu mengusap butiran airmata yang hampir tejatuh dari kelopak matanya. Dia ingi pergi karena tidak mau Istrinya melihat itu. Dadanya kembali sesak karena yang dikatakan Istrinya itu benar.
Dia tidak rela jika hasil keringat yang bersusah payah itu harus dimiliki Orang jahat. Papa Al sudah berjanji di makam Ayahnya untuk mengambilnya kembali.
******
Diruang UGD, Dokter masih sibuk menangani Orang Orang tadi yang terkena luka bakar itu.
" Bagaimana kondisinya ??? " tanya Al ke Dokter yang menangani Nicho.
" Lukanya tidak begitu dalam. Untungnya masih hanya luka yang tidak telalu parah. Saya akan mengoleskan anti biotik karena sudah dibersihkan supaya tidak ada infeksi. Saya akan memberikan obat penghilang rasa nyeri karena lukanya sesikit lebar jadi membutuhkan waktu yang sedikit lama agar lukanya kering. Dia pingsan karena mungkin syok saja. " jawab Dokter itu.
" Baiklah. Syukurlah kalau tidak parah. setelah dipindahkan ke ruang perawatan kabari Saya. " kata Al menepuk pundak Dokter itu dan pergi dari ruang UGD.
Al masih tidak habis pikir, kenapa Nicho bisa ada disana.
" Apa Dia dalangnya ?? Tapi untuk apa ??? Tidak mungkin Dia ingin mencelakai Yesline. Oh ... Atau Dia ingin membalas dendam denganku ??? Biasanya Orang yang ditolak cintanya akan melakukan hal kejam termasuk membunuhnya karena Dia tidak ingin dimiliki Orang lain. "
Al mulai berpikir kemana mana karena saking tidak tau apa yang harus Dia lakukan dan apa yang sebenarnya terjadi.
Saat Dia hendak ke ruangan Yesline, Ada suster yang menemuinya.
Al beberapa hari lalu meminta Suster untuk melaporkan perkembangan kesehatan Yesline.
" Siang Pak. Tadi Saya cari bapak diruangan tidak ada. Makanya Saya kesini. " kata Suster itu sambil memberikan apa yang Al minta.
" Tidak apa apa. Terima kasih Sus."
Al memperhatikan perkembangan kesehatan Yesline saat Suster itu sudah pergi. Al bersyukur karena kesehatannya sudah membaik dan sudah diperbolehkan untuk pulang.
Al sangat lega melihat laporan itu. Al menutup map laporan itu dan menuju ruangan Leni karena ternyata Yesline berada disana.
Hans dan Yesline secara bersamaan melihat kearah pintu karena ada seseorang yang membukanya dari luar dan itu Al.
__ADS_1
Al senyum ke Yesline dan berjalan menghampirinya dan mencium keningnya. Tidak ada Clinton, Hans menjadi Orang yang menemani Yesline.
Al meilhat kondisi Leni. Wanita tangguh itu kini terlihat lemas dan pucat.
" Bagaimana keadaanmu Len ??? " tanya Al yang masih melingkarkan tangannya di keher Yesline dan berdiri dibelakangnya.
" Alhamdulillah .... Sedikit sakit Pak. " jawab Leni sedikit bercanda dan mencairkan suasana.
" Cepat pulih iya. Musuhnya masih berkeliaran. Aku akan membawa Yesline pulang dan akan menyewa beberapa pengawal sampai Kamu benar benar sembuh untuk memperketat pengamanan di Apartemen. " jawab Al sembari senyum.
" Baik Pak. Bagaimana kondisi 3 Orang Preman itu Pak ??? " tanya Leni yang berharap Mereka juga baik baik saja agar bisa dimintai keterangan.
" Aku masih belum bertemu Mereka. Dan aku lihat sekilas Mereka belum sadar. " jawa Al. Al ingin menanyakan Nicho tapi Dia urungkan niatnya karena tidak ingin Yesline tau.
Hans yang dari tadi mendengar perkataan Al tiba tiba sedikit kaget karena getaran di kantongnya. Tangannya merogoh dan menraih ponsel yang diambilnya tadi. Ada panggilan masuk dan bernama Bos.
" Mungkin ini ponsel dari salah satu Mereka. " gumam Hans.
Dengan buru buru Dia memberi tahu Al.
" Al ... " Hans menarik lengan Al.
" Ada apa ?? " tanya Al melihatnya sedikit kaget.
" Aku menemukan ponsel ini tadi di dekat Mereka. Sekarang Bos nya nelpon. " jawab Hans berbisik di telinga Al.
Dia langsung memberikan ponsel itu dan diterima Al.
Dia langsung menjauh sedikit diikuti Hans.
Al langsung menerima panggilan itu dan memberi isyarat untuk Mereka agar tidak berbicara dan berisik dan Dia menekan Speakernya agar Mereka semua mendengarnya.
Al diam dan menunggu si Penelpon berbicara terlebih dahulu dan Dia akan mencoba mengenali suara itu.
" Bagaimana ??? Beres ???? "
Orang yang menelpon itu benar benar cerdik Dia sengaja menyamarkan suaranya hingga Al tidak bisa mengenalinya. Al masih tidak bicara dan setelah beberala lama panggilan itu dimatikan yang menelpon itu.
" Sial !!!! " maki Al dengan marah.
" Mereka semua ingi mempermainkanku !!! "
Al langsung membuka ponsel itu dan melihat satu nomor yang beberapa jam lalu saling mengirim pesan dan teleponan. Al langsung screnshoot semua yang ada disana dan menyinpannya di ponselnya.
Dia mencoba menghubungi nomor itu lagi.
" Pinjam ponsel Kamu Hans ... " kata Al. Hans langsung memberikan ponselnya. Saat Mereka sibuk melihat ponsel itu, Tiba tiba Seseorang mendekat.
" Bang Al ... Dari tadi aku cariin ternyata disini ... "
Al sangat kaget dan melihat ternyata Rizky. Anak ini memang sangat suka mengikutinya dari dulu. Mata Al menatap layar ponselnya. Dia harus tau siapa bos itu.
" Ngapain Kamu nyariin Aku ??? " tanya Al ketus tanpa melihatnya. Dia sibuk menekan ponsel itu dan menghubungi nomor tadi.
*
*
*
*
Leni harus mendapatkan beberapa jahitan dikepalanya sehingga Dia harus digundul habis dan benar benar botak. Yesline yang melihatnya sangat merasa bersalah karena itu semua terjadi kerena Dia.
" Maafkan Aku Len ... " kata Yesline memegang tangan Leni.
" Tidak apa apa Bu. agak usah sedih gitu, Aku baik baik saja kok. Saya senang bisa melakukan tugas Saya dengan baik meski taruhannya adalah nyawa. Masalah rambut, Nanti juga akan tumbuh lagi. " jawab Leni tertawa padahal Yesline sudah sangat merasa bersalah dan hampir menangis. Karena Dia dari kecil tidak mau kalau rambutnya harus dipotong begitu pendek dan bagaimana Dia harus melihat Leni yang harus dibotaki karena menolongnya, Dia ingin menangis melihatnya.
Ponsel Yesline tiba tiba berdering.
" Aku angkat telepon dulu. " katanya sama Leni. Dia sedikit mengerutkan keningnya karena yang menelpon itu nomor baru dan Dia tidak tau itu nomor siapa.
__ADS_1
Yesline melempar senyum ke Leni yang dari tadi memperhatikannya. Yesline menghela nafasnya dan menerima panggilan itu.
" Hallo .... "