
Panggilan berakhir. Al mendesah, Dia tidak yakin kemana harus mencari Azka, Dia hanya tidak ingin membiarkan Leni melakukan semuanya sendiri. Jadi Dia memutuskan menyusul Leni ke rumah Gabriel.
Hans sudah masuk ke dalam mobil begitu juga Al. Hans menyetir mobil dengan kecepatan standart. Pikirannya juga tidak terlalu fokus seperti biasanya. Ada sedikit jarak antara Dirinya dan Clinton.
Mungkin sedikit lucu, karena semua itu terjadi hanya karena Wanita. Mau dikatakan berkali kali pun, Jika Mereka siap bersaing, tatap saja hati Mereka sama sama merasakan sakit karena cemburu ketika Clara dekat dengan salah satu diantara Mereka, bukan ???
Hari hari ini Al bisa merasakan kegalauan kedua sahabatnya itu. Membuat Al berpikir untuk sedikit membicarakan masalah itu.
" Hans ??? "
" Iya ??? " Hans menoleh dengan raut wajah yang masih sama. Tidak ada semangat dan gairah yang sama.
" Maaf jika Aku harus mengatakan ini. Aku tau, Saat ini Kamu dan Clinton sedang ada sedikit jarak. Aku tidak akan meminta salah satu dari Kalian untuk mundur atau mengalah. Aku hanya ingin mengatakan jangan sampai hubungan Kalian renggang hanya karena itu. "
Hans mendesah pelan, menyandarkan punggungnya ke jok.
" Aku juga tidak nyaman jika harus seperti ini, Al. Tapi ...... Susah untuk dikendalikan. Semoga Kami tetap bisa seprofesional mungkin saat bekerja. "
__ADS_1
" Baiklah. Aku percaya sama Kalian berdua. "
*********
" Kamu ada dimana ??? "
" Maaf Tuan mudah, Saya tidak bisa menolak perintah Tuan besar. " jawab Laki Laki yang menjawab panggilan Gabriel di seberang sana. Menjelaskan dengan seksama membuat Gabriel mengerti.
" Tidak apa apa. Kirim lokasimu sekarang, Aku akan kesana. "
Terlihat Gabriel sedang berbicara dengan Seseorang melalui telepon. Gabriel langsung memasuki mobil miliknya yang terparkir di garasi. Dia terlihat tergesa gesa. Dengan mengendap endap Leni berhasil masuk kedalam bagasi mobil milik Gabriel. Dia harus tahu kemana Gabriel harus pergi.
Dalam perjalanan menuju lokasi yang telah dikirimkan oleh Orang yang Dia hubungi tadi, Gabriel masih terus mengingat kata kata Leni, yang mengatainya sebagai Laki Laki pengecut yang pernah dikenalnya.
Gabriel akan membuktikan bahwa dirinya bukan seorang pengecut.
" Maaf, Ayah. Bukan Aku tidak berbakti, Aku hanya ingin bayi itu selamat. Aku janji sebagai gantinya Aku akan berhasil mengambil seluruh harta Mereka. " gumam Gabriel.
__ADS_1
Lalu pikirannya yang lain, mengingatkan kenangannya bersama Erwin saat pertama kali mengirimnya ke Luar Negeri.
" Kami adalah Anakku, Penerusku dan satu satunya Keluarga yang Aku miliki. Belajarlah dengan baik, Kamu harus menjadi Dokter handal. Karena kelak, Pasti Aku akan membutuhkanmu. "
Entah sebenarnya Pikirannya berpihak sama siapa karena sedetik kemudian Dia berpikir sama Leni dan perkataan Leni.
" Jika Aku jadi Kamu, Aku akan dengan bangga mengambil jalanku sendiri meski Aku harus kehilangan semuanya. "
Gabriel terkekeh mengingat Leni yang langsung menghajarnya hanya karena mencuri ciuman pertamanya. Dia suka cewek jagoan dan berpendirian kuat seperti Leni.
Benar benar idaman dan tipenya bangat makanya saat Leni menghinanya seperti itu hatinya benar benar sakit dan sesakit sakitnya karena Dia bukanlah seperti itu, Ditambah Orang yang mengatakan ke Dia itu benar benar Orang yang dicintainya.
Dilema disaat seperti ini Dia benar benar tidak tau harus bagaimana. Harus memilih siapa dan Dia bingung, benar benar bingung.
Tapi Dia selalu terbayang dan terkekeh setiap mengingat Leni.
" Wanita baik ... " gumamnya.
__ADS_1