
"Yesline!!!!" teriak sebuah suara yang langsung menarik perhatian sang pemilik nama. Clinton baru saja hendak mengatakan sesuatu, tapi suara Leni menyela kalimatnya. Yesline tersenyum saat tahu yang memanggilnya adalah Leni, sahabatnya itu menaiki tangga dengan cepat menghampirinya. Di belakangnya ada Gabriel yang juga ikut berjalan ke arahnya. Lalu disusul Clara dan Meriam.
Yesline sedikit terkejut. Karena tiba tiba mereka semua berkumpul, hanya Hans, Callista dan Nicho yang belum nampak.
"Hai, tumben pada ngumpul, ada apa?'' tanya Yesline saat tiba tiba Leni sama Meriam juga Clara langsung memeluknya dengan erat. Sedang Gabriel dan Clinton kembali mengalihkan pandangan dari pandangan menyelidik Yesline.
Tidak ada yang menjawab. Leni dan Clara juga Meriam menarik tangan Yesline untuk menuju lantai bawah.
"Kita makan dulu ya? Aku lapar, kamu juga pasti lapar. Clara dan Meriam juga kan?" tanya Leni.
Clara dan Meriam langsung meng iyakan.
"Iya, kak Yes. Aku lapar nih," sahut Clara.
"Makan dulu ya. Tadi aku sudah masak banyak makanan dari rumah dan membawanya kesini." Meriam ikut berbicara.
Namun, terlihat jelas raut wajah Yesline nampak bingung dan penasaran akan apa yang sebenarnya terjadi. Leni dan yang lainnya berusaha pura pura tidak melihat wajah Yesline yang sudah minta di kasih pengertian. Tapi Yesline yakin teman temannya ini tidak akan memberitahunya begitu saja.
Sampai mereka tiba di meja makan.
Leni dan Meriam saling membantu menyiapkan makanan. Ia mengambilkan nasi juga lauk di piring Yesline, baru ke piring mereka.
Leni dan Meriam langsung duduk ketika semuanya sudah siap untuk makan. Mereka saling tatap, melihat Yesline yang terdiam dan menunduk. Mereka langsung menyikut lengan dengan siku mereka, bingung siapa dan bagaimana caranya untuk mencairkan suasana, dan membuat Yesline lupa dengan keberadaan Al sementara waktu.
"Yes, ayo makan. Bayi kamu butuh makan, jangan bengong saja," tegur Leni akhirnya membuat yang lainnya sedikit tenang.
Yesline mengangkat wajahnya memandangi sahabatnya satu per satu.
"Aku tidak akan makan sampai kalian memberitahuku apa yang terjadi sebenarnya. Di mana Mas Al?'' tandas Yesline membuat mereka saling pandang.
"Yes...." panggil Leni dengan suara parau.
"Makan dulu ya, Kak Yesline." Clara ikut membujuk, tapi Yesline malah membuang muka.
__ADS_1
"Kak Yes, ayolah...." bujuk Meriam yang tak ingin diam aja.
"Tidak!!!'' sentak Yesline.
Langsung membuat ketiga sahabatnya menciut.
"Kita tidak akan memberitahu kamu jika kamu tidak makan dulu, Yes." Clinton menimpali. Dia dan Gabriel sudah berdiri bersandar pada tepian pintu.
"Bagaimana aku bisa makan sementara aku tidak tahu apa apa, Mas Clinton?!'' sergah Yesline.
Clinton menghela nafasnya lalu dia menjawab, "Makanlah, Yes. Ini pesan dari Al, kami harus memastikan dirimu tetap sehat dan aman. Jangan jadikan kami lalai dalam menjalankan tugas, lakukan saja yang kami katakan, Yes. Kami tidak berniat menyembunyikan darimu. Kami akan memberitahu setelah energi tubuhmu terisi dulu." Clinton menjelaskan pelan pelan.
#####
Pagi itu, Nicho baru saja selesai melakukan olahraga lari pagi, dia sedang meneguk minumannya sambil duduk di sebuah bangku di taman. Tiba tiba ponselnya berdering, itu dari Gabriel. Nicho langsung mengangkatnya.
"Nicho, kamu kemana aja sih, enggak tahu ya apa yang sedang terjadi dengan Al? Padahal di rumah kamu ada televisi 55 inch. Parah kamu kalo sampai gak tahu." Gabriel nampak kesal.
"Eh? Emang kenapa. Sumpah, aku gak tahu apa apa ini. Seharian kemarin aku sibuk enggak sempat lihat berita atau apapun. Jangan ngeledek aku, Gabr. Bilang ke aku kenapa?" desak Nicho.
"Buruan datang ke rumah Al nanti aku kasih tahu!'' tandas Gabriel dan langsung menutup teleponnya.
"Gabr!'' teriak Nicho.
Nicho sedikit kesal karena Gabriel langsung mematikan ponsel tanpa menunggu penjelasannya.
"Bagaimana aku bisa langsung ke rumah Al? Aku lagi di luar kota nih."
Ya. Sepulang Callista dari kantor Nicho, Callista langsung menuju rumah sakit, dia tahu Nicho akan berangkat ke luar kota guna meeting dengan klien karena itu dia tidak memberi tahu Nicho terlebih dahulu. Sampai pagi itu, Nicho masih di luar kota, dan setelah jadwal meeting siang nanti dia baru bisa kembali ke Jakarta.
Flashback Hans.
Setelah menyusuri begitu banyak alamat yang diberikan Al untuk menemukan seseorang. Hans mendapati alamat yang diberikan Al sebenarnya adalah alamat lama pasien yang meninggal sekitar dua atau tiga hari yang lalu dari rumah sakit Al. Ya, Al memberikan setidaknya lima alamat pasien yang meninggal setelah beberapa hari melakukan transplantasi jantung.
__ADS_1
Kasus malapraktik yang dituduhkan adalah mengarah ke salah satu pasien itu. Ada salah satu pendemo yang berteriak pasien yang meninggal adalah pasien yang baru saja melakukan tranplantasi jantung. Al menemukan beberapa dalam hari ini. Dan kebetulan memang Al yang menangani operasi mereka. Tapi menurut catatan Al dia sudah memberikan pengobatan sesuai prosedur, tidak ada yang salah, entah siapa yang mengadu mengatakan bahwa kematian pasien itu karena malapraktik yang dia lakukan.
Hans berhasil menemukan alamat itu, dia sampai meminta ijin kepada keluarga korban untuk membongkar makam mereka, harus dilakukan otopsi baru akan diketahui kenapa mereka meninggal, karena malapraktik atau bukan. Tapi semua pihak keluarga korban menolak. Dan mereka bilang akan mengadukan kepada pelindung mereka yang membantu mereka melakukan protes dan meminta hak mereka adalah Adi.
Hari itu Hans sadar, dia harus berhenti dulu untuk melakukan teknik selanjutnya. Hans terkejut, dia sempat memberitahu Al tentang hal itu tapi saat dalam perjalanan pulang dia dan menuju rumah sakit, dia belum bisa menghubungi Al lagi, sampai dia melihat berita pagi itu, baru dia tahu kenapa alasannya.
Hans langsung menancap gas dan menuju ke rumah Yesline. Menyusul teman temannya.
********
Flashback Clinton.
"Maaf, Pak. Beliau sakit apa? Kenapa nampak begitu lemah?" tanya Clinton melihat wanita di atas dipan kayu.
Pak tua yang duduk di depannya menoleh untuk melihat sang istri sebentar lalu menatap ke arah Clinton lagi. Pria itu menangis dan menceritakan jika istrinya kurang dilayani dengan baik saat berada di rumah sakit Al, padahal dia sudah menjual tanah untuk membiayai pengobatan sang istri di kota. Tapi para dokter tidak kompeten itu salah melakukan diagnosa sehingga obat yang dikonsumsi istrinya selama melakukan pengobatan adalah memberikan obat yang salah.
Clinton sedikit tercengang mendengar kesaksian yang bapak itu berikan. Tangan Clinton sampai bergetar saat memegangi tape rekorder. Kasus yang dituduhkan nampak jelas di mata Clinton bahwa itu mengada ngada, pasti ada yang memanipulatif semuanya. Tapi siapa? Mungkinkah orang dalam?
"Untung ada orang baik yang datang mencari kami para korban dan menawarkan bantuan untuk menuntut hak kami."
Clinton kembali memulihkan kesadarannya dan bertanya, "Siapa orang baik itu, Pak?''
"Saya tidak tahu namanya. Tapi dia orang kaya, dan saya melihat dia masuk di berita televisi saat siaran live tadi siang."
Setelah meminta sisa botol obat yang dikonsumsi oleh sang istri, Clinton meminta undur diri, dia berpura pura berjanji untuk membantu menangkap sang pelaku. Ya, Clinton memang akan menangkap pelakunya tapi jelas itu bukan Al.
Flashback Off.
Clinton langsung menuju rumah sakit dan naasnya pagi itu saat baru sampai di rumah sakit dia melihat hal buruk terjadi kepada Al.
"Al!!!!" Clinton memekik dengan kencang sambil berlari mendekati sahabatnya itu.
Waktu sedang tidak bersahabat dengan mereka.
__ADS_1
Semoga ada keajaiban yang terjadi.