Gairah Hot Sang Dokter

Gairah Hot Sang Dokter
Episode 126


__ADS_3

Seorang Perawat meminta kembali bayi itu dan berat hati Al memberikannya.Lalu bayi itu kembali diletakkan diatas dada Ibunya untuk melakukan inisiasi dini.


Al mengecup kening Yesline sedikit lebih lama.


" Terima kasih Sayang. Terima kasih untuk kado terindahnya. Terima kasih, Aku sangat mencintaimu dan Anak Kita. " bisiknya ditelinga Yesline.


Dengan lemas Yesline tersenyum.


" Sama sama Mas. " jawab Yesline sembari tangannya mendekap tubuh bayi yang meringkuk di atas dadanya.


Bibir mungil itu mencari cari ****** Yesline dan berusaha menyedotnya. Seorang Perawat menjepit ****** Yesline dengan jarinya, membantu si bayi untuk mendapatkan ASI pertamanya.


Gabriel berdiri disamping Yesline dan memgucapkan selamat.


" Bayinya Laki Laki, selamat. Semoga Dia jadi Laki Laki yang baik, tidak seperti ..... " Gabriel melirik ke arah Al dan sengaja memberi jeda untuk perkataannya. Sifat songongnya kambuh lagi. Sontak mata bergerak menatapnya dengan tajam.


" Terima kasih atas bantuannya, Dok. Saya yakin Dia akan tumbuh menjadi Anak yang baik, juga tampan seperti Papanya. " jawab Yesline tersenyum.


Al tersenyum puas melihat muka Gabriel yang terlihat tidak senang dengan jawaban Yesline.


" Iya, tentu. Saya permisi dulu. " kata Gabriel sambil berlalu meninggalkan Yesline. Mamanya langsung masuk ke dalam kamar untuk melihat cucunya itu. Dia sudah tidak sabar diminta untuk menunggu diluar sendirian. Dia berharap cucunya adalah Perempuan sama seperti yang di mimpinya itu. Dia akan menyayanginya sepenuh hati.


*****


Leni, Hans dan Clinton sedang berada di tempat yang berbeda. Tapi secara bersamaan, Mereka tengah membuka ponsel Mereka dan melihat lihat status whattsapp di kontak ponsel masing masing. Sampai melihat foto Al mnggendong bayi, di foto itu juga terlihat wajah pucat dan lelah Yesline yang tengah tersenyum bahagia.


" Yesline sudah lahiran ??? " pekik Mereka secara bersamaan di tempat masing masing.


Leni menyeka tetesan bening yang menggelantung di pelupuk matanya. Dia mengingat semua masalah dan rintangan yang sudah Yesline lalui sampai akhirnya Dia bisa melahirkan bayi dengan selamat.


" Kamu memang Wanita, Yes ... " kata Leni. Katanya mengelus foto Yesline yang tersenyum bahagia dengan penuh haru.


" Aku punya keponakan ganteng ... " serunya.


Mukanya tiba tiba berubah masam ketika melihat sekeliling, Dia masih terjebak di bengkel gara gara Dokter sialan itu. Dia tiba tiba pergi tanpa mengatakan apa apa. Leni memutar otaknya, apa mungkin kepergiannya tadi ada hubungannya dengan pesalinan Yesline.

__ADS_1


" Mungkin iya. " Dia menjawab pikirannya sendiri.


Lalu ada masuk panggilan vidio call dari Clinton. Leni langsung mengangkatnya. Ternyata Hans ada juga di dalam panggilan itu.


" Hei, Ada apa ??? Tumben kompak ??? " kata Leni memulai percakapan.


" Mau ikut ke Rumah Sakit gak ??? Mau jenguk Ponakan baru .... " jawab Clinton.


" Iya. Kita barengan ajah datangnya. Kalau kesana biasanya bawa apa ??? " kata Hans menimpali.


" Bawa apa ya ??? Anak sultan mah biasanya sudah punya semuanya. " jawab Leni berseloroh.


" Iya udahlah. Gak usah bawa apa apa. " jawab Clinton dengan enteng.


" Gak sopan Kalian. Kita belikan mainan ajah, Gimana ??? Mainan yang banyak, biar gak dibilang Om dan Tantenya pelit. " sergah Clinton.


" Oke, deh. Bawa hadiahnya nanti saja kalau Yesline sudah pulang ke rumah. Kita ke Rumah Sakit buat jenguk ajah dulu. " jawab Leni menengahi.


Hans dan Clinton setuju. Tiba tiba pandangan Hans menelisik ke belakang Leni, keningnya mengerut dalam.


" Tadi pagi gak sengaja nabrak mobil Orang sampai penyok. "


" Gila, Kamu !! " pekik Hans.


" Namanya juga gak sengaja. "


" Len, berhubung Aku sama Hans lagi sibuk, Kamu bisa kan ngegantiin Kita nyelidiki Dokter Gabriel ??? Hans curiga karena Dia sepertinya pernah melihat Dokter itu mengunjungi Rutan. " kata Clinton tiba tiba mengalihkan pembicaraan. Leni mencoba mencermati perkataan Clinton barusan.


" Apa yang dimaksud Clinton adalah Dokter yang berantam bersama Al kemarin ??? Berarti Laki Laki tadi dong ??? " gumam Leni terkejut.


" Oke deh. Kalian tenang saja. Nanti kalau mau ke Rumah Sakit, jemput Aku ya ??? " ujar Leni.


Masalah menyelidiki mah gampang, Mereka akan sering bertemu setelah kejadian ini.


" Iya. Nanti Aku jemput. " jawab Hans menawarkan diri.

__ADS_1


" Soalnya Aku mau ngajak Clara." Clinton menimpali sembari nyengir. Sorot mata Hans berubah aneh, Leni bisa melihatnya meski tidak tahu apa persis artinya dan maksud sorot matanya itu.


Mereka menyudahi obrolan Mereka dan langsung menyudahi dan langsung menutup telepon masing masing.


******


" Sudah siap, Cal ??? " tanya Nicho pada Callista yang masih mengemasi barang barangnya ke dalam koper.


" Sudah kok. Hayuk berangkat. " jawab Callista mengangguk.


Setelah di rayu Nicho dengan rayuan maut, akhirnya Callista mau diajak ke Indonesia. Bagaimana pun juga Nicho harus memberi tahu Orang Tuanya perihal rencananya untuk Menikahi Callista.


Callista berjalan keluar kamar dengan menarik kopernya. Nicho menunggu di dekat pintu Apartemennya. Mereka bergandengan tangan keluar, sudah seperti sepasang sejoli yang dimabuk oleh cinta.


Sejujurnya tidak tahu dengan pasti apakah diantara Mereka ada cinta atau tidak, Mereka hanya sama sama merasa nyaman ketika bersama.


Nicho memanggil taksi untuk mengantar Mereka ke Bandara. Pesawat Mereka akan berangkat sore sehabis magrib, Mereka harus bergegas. Selama perjalanan Callista hanya menyenderkan kepalanya di dada Nicho.


Sembari mengobrol banyak hal, membahas tentang lagu yang Nicho lagi buat dan tentang Callista yang ada kemajuan dalam hal memasak, Dia sudah bisa membuat telor mata sapi, Itu sudah sangat membuatnya senang. Dengan telaten Nicho mengajarinya.


*****


Callista mengcengkeram ujung dressny, Dia benar benar gugup.


Membayangkan bagaimana reaksi Orang Tua Nicho saat melihatnya??? Bagaimana Mereka memandangnya nanti ??? Mantan Istri dari Anak Kerabatnya yang kemudian menggoda Anaknya ??? Tidak !!! Callista tidak menggoda siapapun. Hanya takdir yang menarik hidupnya berputar putar di tengah Keluarga Gunawan.


Callista semakin kuat mencengkeram dressnya, seperti merasa mendapatkan kekuatan disana. Matanya menunduk menatap lantai. Mereka sedang berdiri di depan rumah Nicho. Menunggu kedua Orang Tuanya atau pekerja rumahnya membukakan pintu.


Kali ini berbeda dengan pengalamannya dulu ketika datang pertama kalinya kerumah Al. Papa dan Mamanya Al menyambutnya dengan hangat. Karena memang ini adalah menantu yang diinginkan, sampai terjadi tragedi balas dendam itu.


Callista terkesiap saat jari jari Nicho tiba tiba menggenggam jari jarinya yang terasa dingin. Entah kenapa tanpa Callista berbicara dulu atau bersusah payah menjelaskan, Nicho sudah tau bagaimana dan apa yang Calista rasakan. Itu membuatnya berbeda dari Laki Laki sebelumnya.


" Kamu gugup ???? Aku tahu. Tenang, Ada Aku disini. " kedua sudut bibir Nicho mengulas senyum yang menenangkan hati Callista yang sedang gundah.


Ya. Keberadaan Nicho sudah cukup membuatnya tenang dan tenang. Meski semuanya tidak akan berjalan dengan mulus seperti yang Dia harapkan.

__ADS_1


__ADS_2