
Setelah kejadian ledakan itu, Al tetap ijin untuk pulang kepada Ibu dan Ayahnya Meriam. Tentunya setelah membersihkan beberapa kekacauan tadi.
Selama perjalanan dari bandara dengan menggunakan jet pribadi milik Gabriel, mereka kembali ke rumah masing masing. Kecuali Al, yang langsung membawa Yesline ke rumah sakit. Sedangkan Azka yang awalnya ingin dimomong sama Leni tapi Yesline keberatan karena takut merepotkan ibu hamil yang satu ini. Akhirnya Azka memilih ikut dengan Callista, atas ajakan dari Chloe juga tentunya.
Yesline sedang berbaring di atas brankar. Dia menatap ke arah Al yabg sedang berbincang dengan Dokter Bimo di kursinya.
"Iya, Anda benar, Pak Al. Bu Yesline memang sedang hamil. Dia harus lebih banyak beristirahat dan juga menjaga diri, Pak. Karena menurut riwayat sebelumnya, kandungan Ibu Yesline juga lemah.
"Mau baby kembar aku, boleh ya?" bisik Yesline di telinga Al.
"Boleh, mau langsung selusin juga boleh." Al tertawa. Yesline memukul perutnya pelan.
"Ya, udah. Aku urus pembayarannya dulu ya?" Al bangkit dari duduknya, dia mengecup kening Yesline lagi. Meski pemilik rumah sakit tapi Al menetapkan bahwa dia maupun keluarganya akan tetap membayar biaya tagihan dari rumah sakit.
Yesline mengelus perutnya dan berbicara seolah olah memang sedang menimang nimang bayinya.
"Aku tunggu kelahiranmu, Nak."
******
Malam itu rumah Al sangat ramai. Al sedang mengadakan syukuran besar besaran dia untuk menyambut hari bahagianya.
Entah kenapa semenjak dari rumah Hans dan Meriam mereka terbawa suasana islami. Yesline terlihat duduk di ruangan tengah yang sudah di gelar banyak tikar.
Sudah banyak tamu yang datang. Termasuk Callista yang baru saja datang mengantarkan Azka. Chloe kecil cantik memakai jilbab, Yesline sempat melihat Azka mengganggunya.
"Duh, gusti. Mereka memang keluarga harmonis. Lihat tuh putranya ganteng bangat." celetuk salah seorang tetangga yang ikut tahlilan.
"Kamu kesandung batu dan kepalamu kepentok kursi?''
"Emang kenapa, Kak? Aku gak amnesia kok, aku sehat."
__ADS_1
"Oh, cuma wajahmu kelihatan rada aneh," celetuk Azka menahan ketawanya sekuat tenaga. Padahal maksud Azka adalah Chloe cantik memakai jilbab.
"Kenapa emang dengan wajahku, kak?'' Chloe mendelik terkejut.
Tidak menjawab pertanyaan Chloe, malah Azka berlari memeluk sang ibu dan terakhir sebelum Azka sampai ke ibunya, dia menjulurkan lidahnya mengejek Chloe.
Chloe menghentak hentakkan kakinya tandanya kesal.
Acara pengajian malam itu selesai dengan khidmat dan lancar. Yesline yang ikut menyalami banyak tamu, sedikit pasti dia sangat lelah. Yesline merebahkan dirinya di tempat tidurnya, dia butuh istirahat.
Al yang membacakan cerita untuk Azka.
"Hai, siput." kata kancil dengan sombong.
"Apakah kamu berani adu cepat denganku?''
Mendengar pertanyaan itu, siput tentu saja terkejut. Ia merasa diejek oleh kancil. Walaupun begitu, siput menerima ajakan kancil.
"Baiklah, kancil." kata siput yang menerima ajakan kancil. "Aku terima ajakanmu. Tapi jangan malu ya, kalau nanti justru kamu yang kalah sendiri."
Mendengar hal itu, bukannya membatalkan ajakan si kancil, siput justru menantang ajakan si kancil. "Baik. Tentukan saja kita kan berlomba kapan!''
"Hari minggu besok, disini." kata kancil. "Pasti akan ada yang melihatku memenangkan lomba. Catat itu." kancil lalu bergegas pergi dan ketawa.
Azka dengan tenang memeluk Al dan mendengarkan cerita yang Al bacakan dengan seksama, sampai ketiduran. Al menutup buku ceritanya kembali. Dan menata ulang posisi tidur Azka yang masih memeluknya.
"Selamat tidur jagoan, Papa. Mimpi indah ya?,'' Al mengecup kening Azka.
Al berjalan meninggalkan kamar putranya tapi tiba tiba ada telepon. Al merogoh saku bajunya, dan melihat di layar utama Gabriel menelpon.
Al langsung mengangkatnya, meski jika ada Gabriel, percekcokan tak luput dari antara mereka berdua.
__ADS_1
"Assalamualaikum, Pak Ustad...."
Tuh, kan. Baru juga dibayangin, minta di getok palu nih anak.
"Walaikumsalam muridnya, Ustad." jawab Al dengan nada meledek juga.
Dari seberang terdengar Gabriel tertawa.
"Kamu kesambet setan islami di rumah Hans dan Meriam ya kemarin, kok jadi aneh gitu?" timpal Gabriel.
"Kamu yang kesambet, aku tutup teleponnya, ya. Gak jelas bangat kamu nelpon malam malam. Aku udah ditunggu Yesline buat ehem ehem. Dah assalamualaikum!'' ketus Al yang langsung menutup telepon.
*****
Yesline menggeliat, alarm ponselnya sudah berbunyi, ini sudah pukul empat pagi. Yesline membuka perlahan matanya dan melihat Al memeluknya dengan begitu erat. Dia mengelus punggung Al dan meringkuk membalas pelukannya.
Tapi.
Tiba tiba Yesline merasakan keanehan yang mendalam. Bagaimana tidak, tiba tiba hatinya merasa rindu dengan Hans, dia ingin sekali ketemu dengan laki laki itu. Dia ingin memandangi wajah Hans dari jarak dekat.
"Apa aku lagi ngidam? Ah, gawat ini, bisa ngamuk nanti Mas Al! Yesline, tarik nafas, kamu gak boleh aneh aneh! Sayangku, calon buah hatiku, Mama kasih tau ya, Papamu itu pernah berantem sama Om Hans, jadi mana mungkin Papa ngebolehin mama lihatin Om Hans, Bisa dibedah hidup hidup nanti Mama."
"Gak mungkin, kan Papa sayang bangat sama Mama."
Sebuah suara saling berbicara di dalam hati Yesline.
Yesline tidak tenang. Dia membangunkan suaminya.
"Mas.... Bangun."
"Heeem...." sahut Al, masih enggan membuka matanya.
__ADS_1
"Sayang, kita ke Jogja lagi yuk. Aku tiba tiba pengen lihat Hans, Mas."
"Apa!!!!!'' Al langsung terbangun, duduk menatap Yesline dengan kesal.