
Hans menarik nafas, dia tahu Meriam sedang tidak baik baik saja. Hans menyentuh punggung tangan Meriam dan mengecupnya lembut.
"Maaf, maafkan aku ya, sayang. Nanti aku ijin sama Yesline dan Al untuk pulang lebih awal, dia kan sudah keturutan ngidamnya." Hans berusaha menghibur Meriam. Senyuman terbit dari bibir mungil Meriam, dia mengusir kegalauan yang sempat mampir tadi.
Meriam menganggukkan kepala. "Iya, Mas. Tapi kita lebih lama sedikit disini biar gak menyinggung Kak Yesline. Tapi ternyata tadi aku cemburu loh, kok bisa ya, aku cemburu semudah itu, cuma gara gara kamu dilihatin Kak Yesline," gumam Yesline merasa heran.
Hans terkekeh, dia suka melihat wajah Meriam yang begitu menggemaskan.
Hans tidak menjawab, Dia hanya mendekatkan bibirnya ke bibir Meriam dan,
Cup.
Ia mengecup bibir mungil yang menggemaskan itu sedikit lebih lama. Meriam memejamkan matanya, merasai bibir Hans yang lembut.
Aku cemburu.
Harusnya wajah itu, Hanya aku yang boleh menikmati.
Harusnya, aku tidak membawamu kesini.
Harusnya, aku dan kamu kini menikmati bulan madu kita.
Tapi, Aku lupa jika ternyata hatimu hanya untukku.
######
Al keluar dari dapur dengan rambut basah, Hans yang melihat itu jadi ingin menjaili Al.
"Sudah dapat obat dosis tinggi, nih." Hans menyenggol lengan Al yang menyisir rambutnya kebelakang.
Wajah sumringah Al menoleh ke arah Hans.
"Gara gara kamu, Rambutku harus basah disiang bolong begini,'' cetus Al sambil terkekeh.
"Tapi, kamu senang kan?" balas Hans.
Meriam dan Yesline sedang di dapur, menyiapkan makan siang.
"Maaf ya, Mer. Soal tadi, Aku gak ada perasaan apa apa kok sama Hans, Kamu harus percaya, Aku cuma mau nuruti jabang bayi, nih. Maaf ya....." Yesline membuka pembicaraan sambil mengiris bawang merah dan bawang putih. Sementara Meriam memindahkan daging yang sudah di presto ke panci, mereka mau masak tongseng daging sapi.
"Iya, Kak. Aku tadi sempat cemburu sih, tapi sudah aman kok." Meriam menyalakan kompor, dan menoleh untuk melihat sebentar ke arah Yesline yang tersenyum lebar.
"Hahaha, itu tandanya kamu sudah cinta bangat sama Hans."
"Iyalah, Kak. Sama yang sudah jadi suami pasti sudah cinta," sahut Meriam sambil mengaduk masakannya.
__ADS_1
"Kamu salah, Aku awal nikah sama Mas Al belum secinta ini, masih benci dan terpaksa malahan, kalau sekarang jangan tanya. Bisa dibilang cinta mati." balas Yesline yang berdiri memberikan irisan bawang merah dan bawang putihnya untuk di tumis.
"Iya, kah?'' pekik Meriam, tidak percaya.
Yesline mengangguk sambil menyalakan kompor.
"Dulu aku terpaksa menikah sama Mas Al demi bisa bayar biaya rumah sakit ibu, panjang sih ceritanya, Mungkin kalau ditulis dalam novel sudah ada sampai season tiga, Kisah tentang Al dan Yesline ini," seloroh Yesline. Disambut tawa Meriam yang renyah.
Masak sambil ngobrol membuat keduanya tidak sadar kalau masakan sudah siap. Kedua wanita cantik itu keluar memanggil suami masing masing untuk segera makan, karena makanan sudah siap.
Mereka makan bersama, termasuk Azka yang ikut makan bereng mereka, Meriam suka dengan Azka yang nampak dingin tapi juga hangat. Bagaimana ya, menggambarkannya. Pokoknya Meriam cepat beradaptasi, dia langsung bisa akrab dengan siapa saja yang ia temui.
Setelah makan siang, Niatnya Hans dan Meriam mau pamit ke Hotel, Mereka akan mencari Hotel untuk istirahat malam ini.
"Enggak, kalian nginep aja disini," larang Yesline yang langsung menggamit lengan Meriam.
"Aku masih mau ngobrol banyak hal sama Meriam, dan Mas Al juga pasti mau ngobrol juga kan, sama Hans bahas bahas masa lalu giru," ledek Yesline, membuat Al kesal.
"Ish, ogah! Lebih baik aku tidur, lebih asyik." Al menjawab dengan ketus.
Hans dan Meriam saling melirik.
Bagaimana ini?
"Sebenarnya niat kami mau menginap di hotel karena gak mau merepotkan Kak Yesline, tapi kalau Kakak maunya seperti itu, kami gak apa apa untuk menginap semalam disini." jawab Meriam.
Yesline nampak langsung senang.
"Alhamdulillah, kamu mau Mer. Jadi aku juga biar tambah puas mandangin Hans," timpal Yesline yang langsung membuat Meriam dan Al berekspresi berbeda. Yesline tergelak.
"Hahahaha.... Maaf ya, Bercanda kok. Kamu pusat perhatian disini Hans," canda Yesline.
Hans tertawa kecil dengan canggung, takut salah berekspresi.
Malam harinya.
Meriam dan Yesline mengobrol banyak hal di kamar Azka, juga menemani si ganteng main bersama.
Sedangkan Al mengajak Hans ke klub Alexiz mengunjungi Clinton, tak lupa mereka menjemput Gabriel dan Nicho juga.
Di Klub, Al yang nampak kalut, dia curhat dengan teman temannya soal Hans yang masih saja mengganggunya.
"Itu tandanya kalian berjodoh, Al." Gabriel yang langsung menanggapinya pertama, dan langsung dipukul oleh Al.
"Anjir, Amit amit deh kalau harus bertemu dia terus, cepat ubanan nanti aku."
__ADS_1
Teman temannya hanya tertawa melihat mereka berdua yang seperti kucing dan tikus, Padahal biasanya, Al dan Gabriel yang adu mulut.
"Ya ileh, Al. Aku juga ogah kalau dekatan terus sama kamu. Ini demi anak kamu biar gak ileran, aku sampai menunda honeymoonku. Kamu malah nyalahin aku," bantah Hans.
"Ya, habis kamu dengan senang hati dilihatin Yesline, Aku suruh merem malah melotot. Gimana kalau posisinya dibalik, pasti jengkel kamu. Kalau ada yang ngelihatin Meriam begitu." Al tak mau kalah.
"Enak aja, Aku itu tadi mau merem cuma lupa," jawab Hans. Yang lagi lagi dibalas timpukan sama Al.
"Peran kamu digantikan Hans sekarang, Gabriel!" celetuk Nicho.
"Iya, Nih. Pensiun aja deh kamu, Gabriel. Jadi pemain figuran aja." imbuh Clinton sambil cekikikan.
"Apa? Pemain figuran? Aku itu pemeran utama cocoknya. Lihat dong kegantengan aku," ucap Gabriel dengan percaya dirinya.
"Hueekkkk!!!''
"Anjir, ganteng katanya, wkwkwk..."
"Kalau Leni yang kamu suruh lihat, mungkin jawab iya. Tapi kalau dari kaca mata kita, kamu itu gak ganteng juga gak jelek, ibarat kata mangga nih, kamu setengah matang." cibir Clinton, semuanya langsung tertawa.
"Kaca mata kuda!'' sentak Gabriel dengan ketus.
Di tengah tawa mereka, ada pelayan yang datang membawakan minuman. Hans ijin ke toilet dulu, dia kebelet.
Sekembalinya Hans ke tempat duduk teman temannya, mereka semua sudah tidak ada di kursi mereka. Jadi Hans memutuskan pulang ke rumah, dia kira teman temannya sudah pada pulang.
Hans mau cari di ruangan lain juga tidak nyaman, jika Meriam tahu dia ke klub, pasti akan jadi masalah, bagaimana jika Kyai juga tahu. Bisa di sunat dia lagi.
Karena tidak membawa mobil sendiri, Hans pulang menggunakan taksi.
Anehnya, saat sampai di rumah Yesline, dia tidak melihat mobil Al ada di parkiran. Apa dia salah kira? Sebenarnya Al dan teman temannya belum pulang?
Hans memutuskan masuk ke dalam rumah, siapa tahu dia tahu jawabannya. Pintu terbuka, wajah Meriam yang terlihat pertama kali, istrinya itu sedikit aneh, dia langsung berhambur memeluk Hans, dengan mata yang basah. Ada apa ini? Hans langsung berpikir, kemana juga Yesline.
"Kamu kenapa?"
Meriam hanya menggeleng.
Meriam mencium punggung tangan Hans, matanya mencari seseorang. Kenapa Hans pulang sendirian, kan tadi mereka pergi bersama, lalu dimana Al?
Hans masih bingung.
Tapi, dia lebih kaget lagi saat melihat Yesline sesunggukan di ruang tamu.
Ada apa ini sebenarnya??
__ADS_1