
Al yang tampan, dan baik, kini menjadi sosok yang berbeda. Dia berubah menakutkan. Semua bukan tanpa sebab. Yang dilakukan wanita ini terlalu mengusiknya. Dia secara sadar tidak akan melakukan hal kotor ini, apalagi jika ini semua akan berakibat buruk untuk keluarganya, entah apa yang bisa dia lakukan kepada wanita ini. Al yang rela melakukan apapun demi menjaga mata Yesline tetap kering, bisa melakukan apapun juga kepada orang yang tega membuat Yesline menangis.
"Apa tujuan dari rencana ini? Cepat, katakan!'' sentaknya masih dengan suara yang menakutkan, matanya laksana malaikat maut yang siap mencabut nyawa kapan pun.
Wanita itu tergagap. Dia tidak pernah membayangkan jika malam yang seharusnya membuatnya bahagia karena mendapat banyak bayaran, malah menempatkannya di ujung maut.
Jika kamu lebih memilih untuk menutu mulut, baiklah. Lebih baik aku buat bisu sekalian seumur hidup!'' gertak Al, bukan dengan suara lantang, nyaris seperti bisikan, tapi malah mampu membuat wanita ini semakin ketakutan.
"Baiklah, Pak. Saya akan katakan semuanya.'' wanita itu berlutut memohon di bawah kaki Al, dia lebih memilih nyawanya tetap aman daripada hanya lembaran uang.
"Cepat!''
"Mami membayar kami mahal untuk bisa membuat istri anda semua marah marah dan cemburu. Kami diminta membuka pakaian kalian, lalu berfoto mesra seperti telah melakukan hubungan badan lalu mengirim foto itu ke ponsel istri kalian. Intinya, Mami ingin membuat para istri kalian marah karena menganggap kalian semua selingkuh di belakang mereka.''
Plak!
Plak!
__ADS_1
Tangan Al melayang menampar pipi mulus itu beberapa kali. Membuat wanita itu menangis sesunggukan. Al sudah tidak peduli. Dia berani mengusik harta paling berharga dalam hidupnya. Tangannya mencenngkeram dagu wanita itu dengan kuat.
"Dimana Mami sekarang?!'' hardik Al.
Dia kira mami tidak akan bertindak sejauh ini, dia sudah salah menganggap remeh orang ini, harusnya dia sudah memutus pergerakan wanita ini sedari awal. Penjara tidak membuat Mami kapok. Mungkin dia rindu tempat itu lagi, sampai buru buru mencari perkara baru.
"Mu---mungkin masih di luar, Pak.'' gagapnya lagi.
Al menyeret wanita itu keluar dari ruangan. Matanya berapi api. Dia akan membuat perhitungan. Dibelakang diikuti Clinton, Gabriel dan Nicho yang berjalan mengikuti Al menyeret para wanita itu.
"Kita akan buat perhitungan dengan Mami.'' kata Al mengompaki.
"Iya, tapi harus kasih pelajaran yang lebih sadis dulu sebelum lempar dia ke kandangnya lagi,'' Al menimpalil.
"Terserah kamu deh, Al. Mau kamu bedah kek, kamu ambil jantungnya kek, Aku gak peduli. Aku lagi pusing mikirin si Leni, Gimana ekspresinya pas lihat foto itu, apes bangat sih aku malam ini,'' gerutu Gabriel.
"Kamu mendingan, Lah Yesline? Bisa ngambek mogok setoran aku, Ck-- sialan, semua ini karena ulah si Mami,'' lagi lagi Al mengumpat.
__ADS_1
"Clara aku pasti marah marah nih, entahlah, aku pusing!'' kesal Clinton frustasi.
Mereka berjalan meyeret para wanita itu, dengan pikiran mereka yang kacau, memikirkan nasib mereka saat pulang ke rumah nanti, bagaimana mereka harus menjinakkan singa yang ngamuk?
########
"Mami!!!!" teriak Leni saat melihat mami dengan seorang pria sedang saling bersulang ria.
Wanita yang dipanggil itu menoleh ke sumber suara.
"Leni!'' pekik Mami terkejut, dia baru saja mau lari saat Leni mengayunkan satu kakinya dan menendang wanita di depannya hingga terjatuh.
"Kurang ajar kamu, Mi! Pasti kamu yang mengatur semuanya kan?''
"Aku hajar kamu!!''
Belum sepenuhnya mami berdiri, dia brus berusaha, tapi Leni sudah menarik kerah bajunya dan mendorong tubuh itu dengan kuat hingga menabrak kursi. Kini kegaduhan terjadi, beberapa pengunjung yang masih ada di sana menatap ke arah mereka yang menjadi pusat perhatian.
__ADS_1
"Leni! Aaa, sakit! Sialan kamu! Kenapa kamu kesetanan dan melampiaskan ke aku?" sentak Mami, dai bangkit dengan berpegangan pada kursi. Langkah kaki Leni terus bergerak maju. Matanya berkilat penuh amarah. Sebelah tangannya menyambar sebuah vas bunga yang berada di dekatnya, langkahnya semakin mengikis jarak mereka. Tapi, Mami menarik mundur langkahnya dengan penuh waspada dan ketakutan.