
" Kenapa wajah kalian kaget saat melihatku? Kangen, ya? " beo seorang wanita dengan penampilan glamornya. Tanpa canggung wanita itu mengambil tempat duduk di samping Nicho. Tangannya meraih gelas milik Nicho dan meneguk isinya sampai habis.
Sementara Hans dan Nicho masih saling tatap. Mereka belum bisa menyembunyikan keterkejutannya atas kehadiran wanita yang tidak diharapkan sama sekali kedatangannya itu.
" Kenapa sih, jadi pada bengong? " Wanita itu masih nampak senang, menahan senyum di wajahnya yang awet muda, Dia puas dengan kejutan yang ia berikan, membuat kedua pria itu terkejut.
Nicho membuang mukanya ke arah lain.
" Ada hantu yang datang, gimana gak terkejut? " Nicho menimpali, memutar bola matanya dengan malas. Dia memunggungi wanita itu. Hans juga malas melihatnya.
" Lagian, ngapain sih kamu muncul disini? Jauh jauh sana! " Hans menggerak gerakkan tangannya, seperti layaknya mengusir sesuatu.
Wanita itu cemberut. Menatap kesal ke arah Nicho berada.
" Oh, gitu. Kamu menganggapku hantu? Terus hidup kamu enak enakan sama si Callista? Kamu ngebiarin saya sendirian di penjara? Hah?! " suara wanita itu meninggi. Reflek, Nicho membungkam mulut wanita itu, mendengar kata penjara, beberapa pengunjung kafe langsung menatap tajam ke arah mereka.
" Kamu kalau ngomong bisa dipelanin dikit gak, sih?!!" geram Nicho setengah berbisik di dekat wanita itu.
__ADS_1
Hans berdecak kesal. " Hei, Mami. Bukannya kamu harusnya masih menjalani hukuman? Kenapa sudah keluar?" akhirnya Hans membuka suara. Dengan intonasi yang tidak terlalu keras, tapi cukup tegas.
Mami menarik tangan Nicho dari mulutnya. Dia kesal, Dia yang selalu disudutkan, membuatnya harus hidup didalam penjara yang membuatnya sangat tersiksa. Siapa yang mau berlama lama di dalam sana? Meski 5 tahun berlalu, meski sudah selama itu, jika ada kesempatan untuk bebas, dia akan menerimanya, daripada lebih lama berada di dalam sel?
" Emangnya kenapa? Kalian berdua memang gak senang kalau saya bebas. Padahal disini bukan saya yang jahat, saya cuma ngebantuin si Callista. Eh, dalangnya malah bebas berkeliaran. " kesalnya, kata kata itu terlontar begitu saja, membuat Nicho langsung merubah raut wajahnya.
Nicho tidak suka mengingat masa lalu itu, ketika istrinya sudah benar benar bertobat. Jika seperti ini, Mengulik kembali kesalahannya di masa lalu, Callista memang yang paling bersalah. Dia dalang segalanya, Nicho tidak lupa. Dia hanya ingin tidak mau mengingatnya lagi.
" Bukannya dibiarkan bebas berkeliaran, dia melakukan sesuatu yang membuat Al mengampuninya, dan dia sudah kehilangan banyak hal untuk menjadi penebusnya. " Nicho menjawab, memberi pembelaan untuk wanita yang kini telah menjadi ibu dari anaknya.
Mami mendelik kaget. " Kamu, gampang bangat ya ngomongnya? Penebusan dosa apa yang dia lakukan? Aku hanya membantu Rizky untuk mengecoh kalian, dan aku mendapatkan hukuman seberat itu? Aku juga kehilangan sumber pekerjaanku. Apa itu tidak lebih dari cukup jadi penebusan dosa?! " sergahnya marah.
" Kamu itu sudah di godok di penjara lima tahun juga masih gak berubah! " tandas Hans, menatap Mami dengan muak.
" Kenapa emangnya? Aku masih kesal dengan kalian semua! " tegasnya.
" Cih! Pupuk lagi tuh rasa benci dan ingin balas dendam, nanti juga jatuhnya ke penjara lagi. Silahkan deh, kami udah gak peduli. Saya pulang dulu ya? Ayo, Hans! " Nicho hendak bangkit, berada disitu lama lama bikin jengah.
__ADS_1
Nicho tidak suka Callista disalah salahkan terus atas hal di masa lalu yang pernah ia lakukan. Hans ikut bangkit, tapi kata kata mami setelahnya membuat mereka duduk kembali.
" Kalau kamu bantu aku dapatin klub alexiz lagi, Aku gak akan melaporkan Callista ke polisi, tapi kalau kamu gak mau bantu aku, terpaksa aku laporkan dia."
Nicho menarik kursinya lagi, Dia duduk menghadap mami. Menatap wanita itu dengan tajam.
" Terserah kamu ya mau apa! Saya gak mau ada sangkut pautnya sama kamu lagi! " tandas Nicho.
" Hanya saran aja, Setelah lima tahun kamu bebas, pergunakan untuk melakukan hal hal baik saja. Ikhlaskan yang sudah sudah. Pengalaman, dendam tidak akan membawa ketenangan hati. Kamu nikmati saja sisa hidup kamu. " Hans membuka kultumnya sore itu.
Mami semakin geram, nampak dari raut wajahnya yang memerah. Dia ingin klub alexiz nya kembali, karena itu dia sedang berusaha mengancam Nicho. Dia tidak tahu harus minta bantuan siapa lagi. Dia hanya memegang kartu As milik Callista.
" Kalian sekarang mengabaikan aku, lihat saja nanti, kamu yang akan menderita Nicho jika kamu gak sampai bantu aku. Anak kamu gak akan bisa bersama ibunya lagi. Kamu akan kehilangan istri tercintamu!! " ancamnya.
Mata Nicho melotot marah, dia menggebrak meja di depan mami, tidak peduli lagi dengan tatapan orang orang.
" Apa kamu bilang?! Berani kamu sentuh keluarga saya, habis kamu sama saya! " gertak Nicho penuh emosi, tangannya terangkat, sudah siap memukul muka mami, tapi ditarik oleh Hans karena banyak orang yang sedang memperhatikan mereka.
__ADS_1
" Sudah, kita pergi saja. Tangan kamu nanti kotor kalau mukul dia. " lerai Hans, menarik tubuh Nicho menjauhi mami yang masih melindungi wajahnya dengan kedua lengannya.
Nicho menahan emosi di dadanya. Dia tidak akan membiarkan hal buruk mengancam keluarganya.