Gairah Hot Sang Dokter

Gairah Hot Sang Dokter
Episode 167


__ADS_3

" Ah! sayang sekali. Dokter melupakan awal pertemuan kita. " Rizky memasang wajah kecewa.


" Aku benar benar lupa. Aku benar benar tidak menatap wajah laki laki, biasanya aku hanya melihat sekilas saja. Jadi aku tidak mengingatmu. Tapi memoriku bilang, kita pernah bertemu. " tutur Meriam dengan gamblang.


Meski di dalam hatinya ia kembali pertemuan pertamanya dengan Hans yang tidak bisa ia lupakan. Bahkan bertahun tahun telah berlalu, dia masih ingat dengan jelas bagaimana wajah laki laki yang sudah ia pilih untuk menjadi calon imamnya itu.


" Yah, aku mengerti. Setelah kamu mengobati tanganku, aku akan menceritakan siapa aku, dan bagaimana awal kita bertemu, sampai takdir membawaku datang lagi kesini dalam keadaan terluka dan hanya kau yang bisa mengobati. " ucap Rizky. Dia sebelumnya belum pernah dekat atau mencintai wanita manapun, baru kali ini dia merasa sepenasaran ini. Rizky terus menatap ke arah Meriam. Saat Meriam menyadari tatapan itu malah sedikit membuatnya merasa canggung.


" Baiklah, Aku akan mengobati kamu. Tapi berhenti melempar pandangan ke arahku seperti itu, tidak baik buat kesehatan matamu. " seloroh Meriam membuat Rizky terpingkal pingkal.


" Tidak baik buat kesehatan mata? Hahaha dia bisa bergurau juga. " dalam hari Rizky masih terus memikirkan dan semakin penasaran. Akankah dia bisa menaklukkan hati Meriam?


Rizky melangkahkan kakinya mengikuti langkah Meriam menuju ruang tindakan. Wanita berjas putih itu mengambil alat semacam penjepit dan beberapa peralatan medis lainnya. Tak lupa ia memakai sarung tangan khusus. Rizky duduk di tepi brankar, matanya tak lepas dari wajah Meriam yang fokus mengobati lukanya.


" Apa kamu salah satu dari bidadari yang sedang mandi di sungai dan selendangmu hilang? kalau iya, syukurlah. Semoga selendangmu hilang selamanya agar kamu tidak bisa kembali lagi ke langit. " Rizky mengoceh sendiri. Meriam hanya tersenyum jenaka, mendengar lawakan basi dari laki laki di depannya itu.


" Kenapa kamu begitu berbelit - belit? Cuma mau bilang aku cantik, kan? " Meriam menimpali sambil melilitkan perban di tangan Rizky yang terluka. Laki laki di depannya itu hanya tertawa menanggapi. Dia memang ingin mengatakan itu.


Meriam juga sudah menjahit lukanya. Karena terus saja mengoceh, Rizky sampai tidak menyadari kalau dirinya habis dijahit. Entah kenapa di depan wanita itu dia jadi cerewet.

__ADS_1


Setelah mengembalikan peralatan medisnya, Meriam menuju wastafel dan mencuci kedua tangannya. Bersandar pada wastafel, dia berdiri melipat kedua tangannya menghadap Rizky.


" Sekarang bilang, kapan kita pernah bertemu. Aku tidak mau merasa penasaran dengan kamu. " kata Meriam.


Rizky tersenyum miring, dan merebahkan tubuhnya di atas permukaan brankar. Menggunakan tangannya sebagai bantal lalu menjawab pertanyaan Meriam.


" Kemarin saat kamu menolong seseorang yang kecelakaan, dan ada laki laki yang menawarkanmu untuk naik ke taksinya. Ingat? " Rizky menoleh ke arahnya. Meriam terlihat sedang mencerna perkataan Rizky. Dan akhirnya bibirnya membentuk huruf O.


" Oh, yang itu. Oke. Kamu bisa keluar, Aku mau istirahat sebentar di jam istirahat ini. " katanya mengusir Rizky.


Laki laki itu bangun dan turun dari brankar, berjalan melewati Meriam yang menunggunya di samping tembok untuk menutup pintu.


Meriam hanya menatap tajam ke arah Rizky, yang seperti mengatakan, cepat pergi gak usah seperti paranormal.


Rizky terkekeh dan berjalan keluar ruangan sembari melambaikan tangan. Sekeluarnya dia dari penjara, Papanya meminta Nicho mempercayakan beberapa jabatan lagi di Perusahaan Gunawan Group untuk Rizky. Jadi mantan napi yang sudah tobat itu bukanlah pengangguran.


Rizky berjalan menuju parkiran, dia akan langsung menuju kantornya.


****

__ADS_1


" Mama! " panggil gadis kecil itu dengan suara agak lemah dari kamarnya. Callista yang baru saja keluar dari dapur membuatkan cemilan untuk putrinya. Mendengar sang putri memanggilnya, ia langsung bergegas menuju kamar putrinya.


" Ada apa, sayang? " tanya Callista saat melihat Chloe masih rebahan di atas kasur dengan tubuhnya yang tertutupi selimut sebatas dada. Callista berjalan menghampirinya dan duduk di tepi ranjang.


" Aku pusing Ma, mulutku pahit. Hidungku mampet dan badanku panas. " adunya sama mamanya dan mengambil tangan Callista serta menaruh di keningnya. Callista terperanjat kaget saat tangannya kepanasan berada di kening Chloe.


" Ya ampun, sayang. Kamu demam, sebentar mama cek suhu badan kamu ya. "


Chloe mengangguk, melihat Callista membuka laci dan mengeluarkan kotak p3k. Membawanya kepada Chloe. Callista mengeluarkan sebuah alat pengecek suhu.


" Buka mulutnya, sayang. " Callista memegang dagu Chloe. Gadis kecil itu menurut, ia membuka rahangnya dan Callista langsung memasukkan alat itu. Beberapa menit kemudian Callista saat suhu Chloe 39 derajat.


" Ya ampun, sayang. Badan kamu panas sekali. Kita ke rumah sakit, ya? " Callista kembali menyentuh kening Chloe. Gadis kecil itu hanya mengangguk dengan lemah. Wajah Callista sangat khawatir.


" Mama telepon papa dulu ya, sayang? "


Callista berjalan ke arah balkon kamar putrinya. Berusaha menghubungi nomor Nicho, tapi tidak ada jawaban. Beberapa kali sudah Callista coba, tetap nihil.


Akhirnya Callista memutuskan membawa Chloe ke rumah sakit seorang diri. Tak lupa ia kirim pesan untuk Nicho.

__ADS_1


__ADS_2