
Yesline sudah menarik kopernya keluar rumah mendahului Al, Azka duduk di atas koper dan didorong oleh ART Yesline, Azka nampak senang seperti main seluncuran. Dia tertawa riang dan terbahak bahak. Sang ART mengulangi adegan itu, menarik ulur koper yang dinaiki Azka. Membuat anak itu terus tertawa. Yesline hanya menatap penuh senang. Dia juga semangat sekali, tapi Al tak kunjung turun dari kamarnya.
"Mas Al kemana sih, lama banget!'' gerutu Wanita cantik itu, bibirnya mencebik.
Kepalanya menjulur melihat ke dalam rumah lewat satu pintu utama yang terbuka.
"Mama, ayo berangkat!'' celetuk Azka yang sudah turun dari atas koper.
"Iya, Sayang. Nunggu papa nih, lama.'''
Azka berlari masuk ke dalam rumah sambil bereteriak. "Azka panggil Papa dulu ya, Ma?''
"Iya, suruh cepetan, ya papa kalau dandan,'' Yesline terkikik. Mungkin saja kan, kalau Al sedang berlama lama menyisir rambut atau melicinkan rambutnya, mungkin juga sedang bingung memilih baju biar tidak kalah keren sama Hans yang sekarang jadi Primadona dikalangan kaum wanita.
"Siiiipppp.''
Terlihat sambil berlari menjauh, Azka hanya mengacungkan jempolnya. Sambil tersenyum lebar dengan bibir tertutup rapat.
Capek berdiri, Yesline memutuskan duduk di kursi teras depan rumah. Dai melirik jam tangannya berkali kali, kepalanya melonggok ke dalam rumah lagi, kini Azka ikut tak kelihatan batang hidungnya.
Karna tak sabar, Yesline bangkit dari duduknya, hendak masuk memanggil kedua laki lakinya yang seperti mengajaknya main petak umpet. Padahal harusnya ia buru buru sampai ke Jogja.
"Assalamualaikum, Yesline. Bumil cantik,'' seru seseorang dari balik punggung Yesline yang langsung membuatnya berhenti melangkah masuk ke dalam rumah. Ia menoleh, ternyata ada Om dan Tante, Orang Tuanya Nicho dan Rizky yang datang pagi pagi sekali ke rumahnya.
Ada apa, ya?
Yesline membalas ucapan salam dari mereka. "Walaikumsalam, Om, Tante. Kok pagi pagi sekali sudah sampai kesini?'' sapa Yesline dengan ramah dan senyum, yang langsung meraih punggung tangan Om dan Tante suaminya itu untuk menyalami mereka bergantian.
Dari balik punggung Yesline, Al datang dengan menggendong Azka di atas punggungnya.
"Om, Tan. Sini masuk.'' Al langsung membuka pintu lebar lebar. Yesline memandang Al dengan sedikit kesal, kenapa baru muncul saat Om dan Tantenya datang. Azka turun dari gendongan Al dan langsung berhambur menyalami Kakek dan Neneknya itu. Lalu, dengan sedikit susah payah, Omnya menggendong Azka sambil mengeluarkan permen dari sakunya dan memberikannya untuk Azka. Azka tersenyum senang, tapi ia memiringkan kepalanya menatap ke arah Yesline berada, meminta persetujuan dari ibunya. Ia tahu makan permen tidak sehat buat kesehatan giginya.
Yesline melirik sekilas, dan menganggukkan kepalanya. Tak lupa tersenyum ramah. Permen susu gak masalah lah, ya.... sekali aja. Takut kaau ditegur nanti malah Om tersinggung.
__ADS_1
Terbit senyum Azka yang langsung membuka bungkus permen dan mengulumnya dengan lamban.
"Hmm..... Manis sekali, terima kasih, Kek,'' Azka berkata kepada kakeknya.
"Sama sama, cucu kakek yang ganteng dan pintar.'' Sanng Kakek balas tersenyum dan berjalan masuk ke dalam rumah mengikuti langkah Al. Begitu juga Tantenya yang mengamit lengan Yesline, mengajaknya masuk bersama.
Al menoleh ke belakang, Dia berkedip kepada Yesline. Tapi, Yesline yang masih jengkel, hanya tersenyum simpul. Kenapa aku merasa ada yang sekongkol disini? Tuh, kan. Aku jadi negatif thingking sama kamu, Mas. Habis kamu, sih lama enggak turun dari kamar.
"Astafirullah...'' seru Yesline dengan suara yang hampir tidak terdengar.
Mereka semua kini duduk di sofa tamu. ART Yesline sudah sigap, dengan cepat kembali dari dapur membawa minuman untuk tamu majukannya.
"Silahkan di minum Tuan dan Nyonya, Bu, Pak." katanya.
Yesline mengangguk, begitu juga Al yang duduk disamping Yesline. Sedang Azka masih bermanja manja di pangkuan Kakeknya.
"Sebenarnya ada apa, Om. Tumben kesini pagi pagi?'' tanya Al mengawali pembicaraan.
"Ish, udah gede juga masih minta anter tuh si Rizky. Kayak bocah!'' celetuk Al yang langsung disenggol Yesline lengannya. Suaminya itu kadang suka gak dijaga kalau bercanda. Yesline tersenyum canggung menatap Tante dan Om nya bergantian.
"Maaf ya, Tan. Mas Al ini kadang suka asal ngomong,'' ujar Yesline.
Tantenya itu malah tersenyum, sedangkan Om nya digandengan tangannya sama Azka, diajak ke depan TV untuk main berdua.
"Enggak apa apa, Yes. Al memang begitu. Kamu santai aja. Rizky memang bukan bocah lagi, Al. Tapi gak apa apa sekali sekali kita natar dia sebelum nanti dia nikah dan sudah gak bisa manja manjaan lagi, kami hanya ingin membuat dia merasa bahwa kami juga sangat menyayanginya. Agar tobatnya dia juga langgeng, gak terkontaminasi sama omongan sumbang orang orang,'' papar Tantenya lagi.
Al hanya manggung manggut mengerti.
"Iya, Tan. Yesline mengerti, kok. Sekarang RIzky jauh lebih baik, meski kita belum bisa sepenuhnya akrab karena sesuatu hal.''
"Enggak apa apa, Yes. Kami juga mengerti. Yang penting kalian doain Rizky agar tambah baik dan istiqomah jadi orang baik.''
Yesline mengangguk.
__ADS_1
Sang Kakek yang ingat kalau di depan rumah tadi ada banyak koper, dia jadi ingin bertanya.
"Apa kalian mau pergi jauh? Om lihat tadi ada beberapa koper di luar.''
Al menepuk jidatnya, dia melirik jam tangannya, sekarang sudah pukul 9 pagi.
"Iya Om, mau ke Jogja. Yesline ngidam tuh mau ketemu si Hans.''
"Bukannya Yesline kandungannya masih muda? Enggak baik kan pergi jauh jauh dulu, apalagi naik pesawat. Diundur dulu aja, Yes.'' Tantenya menyentuh punggung tangan Yesline.
Bingung mau berekspresi seperti apa, akhirnya Yesline cuma tersenyum simpul saja.
"Ngidam emangnya bisa dipending, Tan? Ada ada aja deh,'' protes Al seperti mewakili pertanyaan Al.
"Bisa, Cuma ya harus sedikit maksa. Emang rasanya enggak enak, Yes. Tapi ini demi kebaikan kandungan kamu. Kan kamu punya riwayat kandungan lemah juga. Nanti kalau sudah masuk trimester ke dua boleh deh, kamu kemana mana untuk habisin uang Al,'' terang Tantenya sambil terkekeh pelan.
Yesline masih diam, tak berkomentar.
"Kamu kan Dokter, Al. Harusnya lebih waspada sama kondisi istri kamu.'' Om nya ikut berbicara juga.
"Aku gak bisa lihat Yesline sedih, Om. Kasihan kalau dilarang,'' Al masih membela Yesline.
"Tante dan Om disini berbicara mewakili ibu kamu, pasti dai juga akan berbicara hal yang sama . Jangan tersinggung ya, Yes. Kami cuma mengkhawatirkan kondisi kamu.'' Tantenya menyentuh pundak Yesline, seperti tahu perubahan raut wajah wanita di depannya.
Yesline buru buru tersenyum dan menggeleng cepat, Dia baik baik saja. Dia sudah sebatang kara, tentu akan tambah bahagia diperhatikan seperti itu. Meski memang tidak enak rasanya kalau harus menahan rasa inginnya yang terlanjur menguasai hati dan pikirannya.
Yesline menarik nafas dengan sedikit berat dan menghembuskannya lagi.
"Yesline berterima kasih kepada Om dan Tante yang sudah perhatian sekali sama Yesline. Yang Om dan Tante katakan memang benar, Yesline akan menurut.'' Yesline mengatakannya dengan senyuman di bibirnya yang terlihat tulus, dia memang tidak sedang berpura pura kali ini. Meski rasanya jauh dari lega. Al tersenyum memandangi Yesline, istrinya itu memang berhati malaikat. Dia tidak egois dan lebih mementingkan perasaan orang lain. Al semakin tidak bisa untuk tidak mengagumi Yesline.
Mutiara, meski jatuh dan tertanam di dalam dasar lumpur, ia akan tetap menawan dan indah ketika diangkat ke daratan. Bukan darimana kamu berasa; dan tumbuh, tapi bagaimana cara kamu memanusiakan manusia lainnya.
Ingat? Di mana pertemuan awal antara Al dan Yesline? Bagaimana kejadian awal pertemuan mereka? Jangan pandang sebelah mata, karena mungkin itu cara untuk mengangkat sang mutiara ke tenpat yang lebih layak.
__ADS_1